
Rendi menghempaskan tangan Kenan. “Kau sudah bosan hidup? Apa kau pikir aku sudah gila?” tanya Rendi dengan tatapan tajam.
Kenan berjalan kembali ke tempat duduknya semula. “Kau tidak gila. Aku yang gila karena terus saja menuruti permintaan bodohmu,” ucap Kenan dengan wajah kesal.
“Hentikan omong kosongmu. Berikan nomor ponselnya padaku? Cepat,” perintah Rendi tidak sabar.
Kenan menatap Rendi malas lalu menyodorkan ponselnya pada Rendi. “Cari sendiri.”
Rendi menatap tajam Kenan. “Kau sudah bosan hidup ya? Cepat sebutkan.”
Kenan menarik lagi ponsel yang ada di tangannya. “Mana aku tahu kau meminta nomor ponsel siapa? Kau bahkan tidak menyebutkan namanya. Kau pikir aku paranormal,” ucap Kenan acuh tak acuh.
“Tentu saja nomor ponsel Amel. Siapa lagi?”
“Kau harus memintanya sendiri.”
Rendi merapikan jasnya lalu menyilangkan kakinya dan menatap Kenan dengan santai. “Baiklah, panggilkan dia. Aku akan memintanya langsung.”
“Heeeyyy!! Apa kau tidak punya kaki??” teriak Kenan dengan wajah kesal. “Kau bisa berjalan sendiri ke sana dan memanggilnya. Kau hanya perlu berjalan beberapa meter saja, bukan mendaki gunung dan menyebrang launtan. Membuatku kesal saja.” Kenan benar-benar dibuat emosi dengan tingkah Rendi.
“Dia adalah sekertarismu jadi kau yang harus memanggilnya,” ucap Rendi acuh tak acuh sambil menatap fokus ke layar ponselnya.
Kenan menggaruk kepalanya dengan kasar. “Tapi kau yang perlu dengannya, bukan aku. Kau ingin aku mati muda ya? Membuatku marah terus.”
Rendi melirik sekilas pada Kenan. “Kau tinggal menelponnya untuk menyuruhnya kemari. Kau tidak perlu berjalan untuk memanggilnya. Itulah gunanya telpon kantor Kenan,” ucap Rendi santai.
Kenan mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. “Rendi Sapta Wijaya. Aku juga tahu kegunaakan telpon kantor, tapi kau juga bisa melakukannya sendiri, kenapa harus menyuruhku?” Kenan sedang berusaha menahan emosinya. Dia sudah tidak sanggup lagi berdebat dengan Rendi.
“Jangan buang waktuku, cepat panggil dia. Kita juga akan rapat sebentar lagi,” ucap Rendi tanpa menoleh pada Kenan. Dia sedang subuk dengan ponselnya.
“Kauu.” Kenan tidak melanjutkan lagi ucapannya. Dia memilih untuk berjalan ke meja kerjanya dan menelpon Amel dengan telpon kantor.
Terdengar suara ketukan. “Masuk," teriak Kenan sambil duduk di kursinya. Dia masih kesal karena tingkah Rendi.
Pintu terbuka, terlihat Amel berjalan menuju meja Kenan.
“Ada apa?” tanya Amel saat sudah berada di depan Kenan.
__ADS_1
“Dia yang memanggilmu, bukan aku,” tunjuk Kenan pada Rendi yang terlihat tidak bergeming walaupun namanya sudah di sebut Kenan.
Amel menoleh dengan dahi mengerut. “Lebih baik kau ke sana dan tanyakan langsung padanya. Aku sudah tidak sanggup lagi menghadapinya Mel. Kalau bisa, kau bawa dia pergi dari bumi ini. Bawa jauh-jauh dari hidupku agar dia tidak menggangguku lagi,” ucap Kenan frustasi.
Amel menoleh pada Kenan. Dia ingin tertawa saat mendengar perkataan Kenan tadi apalagi saat melihat ekpresi putus asa dari Kenan. Amel mengangguk lalu berjalan mendekati Rendi.
Amel berdiri di dekat Rendi lalu sedikit menunduk menatap Rendi yang sedang fokus pada ponselnya. “Kata Kenan Kakak yang memanggilku?” tanyanya.
Rendi mendongak saat mendengar suara Amel. “Duduklah,” ucap Rendi sambil mengarahkan tangannya pada tempat duduk di depannya.
Amel mengangguk lalu duduk di depan Rendi. “Berapa nomor ponselmu?” tanya Rendi langsung.
Amel terkejut, alisnya bertautan sesaat. Amel heran kenapa Rendi tiba-tiba meminta nomor ponselnya, tetapi dia juga senang karena Rendi meminta nomornya. Amel kemudian menyebutkan nomor ponselnya.
Rendi tampak mengetik dilayar ponselnya, setelah itu mendekatkan benda pipih itu ke telinganya. Terdengar suara getaran ponsel. Amel mengeluarkan ponsel dari saku roknya. Dia menatap ada panggilan masuk dari nomor baru.
"Simpan nomorku," perintah Rendi.
Amel mendongak lalu menatap Rendi sambil mengangguk. Amel kemudian mengetik sesuatu di ponselnya.
Rendi menatap Amel yang sudah selesai mengetik. "Coba lihat." Rendi menyodorkan tangannya untuk meminta ponsel Amel.
Amel tersenyum, dulu Rendi juga pernah melakukan ini padanya. Amel merasa seperti kembali ke masalalu. Amel memajukan sedikit tubuhnya lalu meletakkan ponselnya di tangan Rendi.
"Apa ini? Kau tidak kreatif sekali," protes Rendi saat melihat nomornya di simpan dengan nama "Kak Rendi" Dia kemudian mengganti nama kontaknya menjadi "Cintaku".
Setelah itu mengclose kontak Amel, Rendi hendak menyerahkan ponselnya pada Amel, tapi terhenti saat dia tidak sengaja melihat wallpaper Amel. Dia sangat terkejut. "Dari mana kau dapat foto ini?" Rendi mengangkat kepalanya sambil menunjuk wallpaper pada ponsel Amel.
Amel tersenyum malu. "Aku memotretmya saat Kakak sedang tidur," akunya.
Dahi Rendi mengerut. "Bagaimana bisa? Apa kau masuk ke kamarku saat aku sedang tidur lalu mengambilnya diam-diam?" tanya Rendi dengan wajah penuh tanya.
Amel terkekeh. "Tidak Kak, waktu itu aku sedang menemanimu tidur di kamarmu. Kau yang memintanya."
Mata Rendi melebar. "Kita sudah pernah tidur berdua? Apa hubungan kita sudah sejauh itu?" tanya Rendi dengan wajah terkejut.
Amel menggeleng cepat. "Kakak jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku hanya menunggu Kakak tidur. Kita tidak pernah melakukan hal yang diluar batas. Dulu kakak sulit tidur. Biasanya Kakak selalu menggenggam tanganku supaya bisa tidur nyenyak," jelas Amel.
__ADS_1
Rendi menghela napas. Dia menyerahkan kembali ponsel Amel. "Maaf, aku kira..."
"Kau kira apa?" sahut Kenan yang sudah berjalan dan duduk di samping Rendi.
Rendi melirik tajam pada Kenan. "Kenapa kau masih di sini? Pergi sana! menggangguku saja."
Kenan menatap acuh pada Rendi. "Kau tidak lihat ini sudah jam berapa? Kita harus pergi ke ruang rapat," ucap Kenan sambil memperlihat jam tangannya pada Rendi.
Rendi menatap tidak suka pada Kenan. Dia merapihkan jasnya lalu berdiri. "Baiklah, Ayo kita pergi rapat," ucap Rendi sambil berjalan keluar dari ruangan Kenan, karena sudah mau jam 10, mereka harus bergegas ke ruangan rapat.
Amel dan Kenan mengikuti langkah Rendi dari belakang. terlihat Fadil sudah mengikuti Rendi dan membawa data untuk rapat nanti. Karena Amel baru saja menjadi sekertaris, jadi sementara Fadil yang menyiapkan semua berkas yang di perlukan untuk rapat.
Selama rapat berjalan, pandangan Amel terus tertuju pada Rendi. Dia bisa tidak fokus pada rapat kali ini, hanya sesekali dia menangkap pembicaraan yang ada di dalam rapat. Rendi sudah mengalihkan dunia Amel.
Amel dibuat kagum dengan cara Rendi memimpin rapat. Rendi terlihat sangat tegas, berwibawa dan berwawasan luas. Berbeda sekali dengan sikapnya yang selama ini Amel lihat, tidak hanya Amel, Kenan juga terpaku dengan cara Rendi memberikan argument, sanggahan, masukan, dan solusi.
Hanya Fadil yang mengerti dan benar-benar bisa mengikuti jalannya rapat. Rendi duduk di tengah sebagai pemimpin rapat, sementara sisi sebelah kanan Rendi diisi oleh Kenan, Amel dan Fadil, dan beberapa orang lainnnya sementara barisan sisi sebelah kiri Rendi diisi oleh Dewan Komisaris dan Direksi.
Amel tidak henti menatap lurus pada Rendi, tanpa sadar Amel bertatapan mata dengan Rendi. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. Wajahnya memerah.
Amel yang dari tadi tidak fokus dengan jalannya rapat, tidak sadar kalau Rendi sudah berada di belakangnya dan sedang membungkuk dengan satu tangan menyangka di meja, jika dilihat dari sisi lain, Rendi terlihat seperti sedang memeluk Amel dari belakang.
Rendi lalu berbisik pada Amel, "Apa kau sangat menyukaiku sehingga dari tadi kau terus menatapku?"
Tubuh Amel menegang saat mendengar suara yang menggelitik di telinganya. Dia baru menyadari kalau Rendi sudah berada di belakangnya, dengan jarak tubuh yang sangat dekat. Amel langsung menoleh pada Rendi yang terlihat sedang menatap ke wajahnya dengan senyum seringai di bibirnya.
Melihat wajah Amel yang tampak terkejut Rendi berbisik lagi, "Aku akan memberikan kesempatan untukmu memandangi wajahku dengan puas, setelah rapat selesai nanti. Kau juga bisa menyentuhnya secara lansung jika mau."
Rendi menjauhkan tubuhnya saat menyadari kegugupan dari Amel karena perkataannya itu. Amel dibuat merinding oleh tingkah Rendi, karena Rendi berbisik dengan jarak yang sangat dekat, bibirnya nyaris menyentuh cuping telinga Amel. Seketika telinganya langsung memerah saat itu juga.
Rendi berjalan ke tempat duduknya lagi, melanjutkan rapat. Tidak ada yang memperhatikan dengan jelas tindakan Rendi tadi, karena semua orang di dalam ruangan itu sedang fokus pada salah satu Direksi yang sedang berbicara dengan serius.
Rapat selesai pada pukul 2 siang, dijeda makan siang dan istirahat selama 1 jam. Satu persatu orang di dalam ruangan itu mulai keluar. Hanya tersisa Fadil dan Kenan di sana, yang terlihat saling pandang saat melihat Rendi menarik Amel keluar dari ruang rapat tanpa berkatan apapun.
"Ikut aku." Rendi langsung menarik tangan Amel setelah semua Dewan Komisaris dan Direksi keluar dari ruang rapat.
"Kita mau ke mana?" Amel berusaha mengimbangin langkah Rendi.
__ADS_1
Bersambung...