Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Hidup selamanya bersamaku


__ADS_3

Amel sedang berdiri di depan sekolah bersama Raka. Amel sedang menunggu kedatangan Sofi, setelah Rendi mengirim pesan kepada Amel untuk menunggu adiknya. Rendi meminta adiknya sekalian menjemput Amel, karena sekolah mereka searah.


Hari ini Amel merasa lega, karena melewati hari tanpa hambatan sama sekali. Dia berusaha menghindar, saat tadi melihat Devan tampak berjalan ke arahnya. Dia berjalan cepat menuju kelasnya. Dia harus membatasi pertemuan sekecil mungkin dengan Devan.


“Kak Amel uda lama nunggunya?” Sofi keluar dari mobil menghampiri Amel yang sedang berdiri bersama Raka.


“Lamaa bangeet, sampe jamuran malah” Raka melirik dan menjawab dengan ketus sebelum Amel membuka suara. Raka mengetahui kalau adiknya Rendi yang akan menjemput ketika Amel menolak saat dia menawarkan mengantarkan ke rumah Rendi.


Sofi melemparkan tatapan tidak suka pada Raka “Gue ngomong sama kak Amel, bukan sama ondel-ondel. Lagian siapa yang nyuruh lo nunggu di sini," ujar Sofi tidak kalah ketus saat mendengar perkataan musuh kakaknya. Dia masih sebal saat mengingat Raka pernah memukul kakaknya.


Raka menampilkan wajah datar. “Heh anak kecil ... kalau bukan karena Amel, gue juga ogah nungguin lo di sini.” Raka membuang pandanganya ke samping setelah selesai bicara.


Sofi melotot dengan tangan dilipat di depan dadanya lalu berkata, “Siapa yang lo panggil anak kecil?” tanya Sofi marah.


“Kambing ... Yaaa, lo lah siapa lagi,” ucap Raka enteng.


Amel hanya mengelengkan kepala, saat mendengar perdebatan mereka. Amel sedikit terkejut dengan sikap Raka terhadap Sofi. Pasalnya, selama ini Raka tidak pernah berbicara ketus kepada cewek manapun.


“Mata lo juling ya? Nggak lihat badan gue setinggi ini?” Sofi melemparkan tatapan permusuhan kepada Raka.


“Udah buruan pergi sana. Sakit mata gue lama-lama ngeliat lo,” usir Raka sambil mengibaskan-ngibaskan tangannya ke arah Sofi.


Sofi menampilkan wajah sinisnya. “Asal lo tahu, gue juga ogah lama-lama dekat sama lo. Entar muka gue nggak cantik lagi gara-gara kelamaan dilihat sama lo." Sofi nampak masih marah selama ini dia tidak pernah memuji wajahnya sendiri di depan orang lain. Dia terpancing emosi saat Raka mengejeknya.


Raka melirik sekilas ke arah Sofi. “Nggak usah sok cantik. Menurut gue biasa aja muka lo itu. Masih cantikan Amel ke mana-mana." Padahal semua juga tahu jika melihat Sofi mereka seperti melihat Rendi versi cewek.


"Udaaah ... udah. Jangan pada ribut. Nggak malu dilihat banyak orang.” Amel menghentikan perdebatan mereka. Saat melihat beberapa siswa tampak menatap mereka dengan penuh tanya sambil berbisik-bisik.


“Ayook kak, kita pergi sekarang. Sofi males ngeladenin orang yang nggak waras.” Sofi meleparkan wajah sinis dan menarik lengan Amel menjauh dari Raka.


“Dasar anak kecil,” teriak Raka. “Kakak sama adik sama aja, sama-sama ngeselin,” gumam Raka dengan suara kecil.

__ADS_1


*****


Rendi mengerutkan dahinya, saat melihat Sofi masuk dengan wajah yang di tekuk. Dia berjalan masuk tanpa menyapa kakaknya. “Sofi kenapa?” tanya Rendi saat melihat Amel turun dari mobil dan berjalan ke arahnya.


Amel tersenyum saat mengingat kejadian perdebatan antara Sofi dan Raka tadi. Amel berjalan mengampiri Rendi yang terlihat sedang menunggunya di depan pintu. “Habis debat sama Raka." Amel berjalan masuk ke rumah beriringan dengan Rendi.


Amel mengikuti Rendi yang terlihat menaiki tangga berjalan ke kamarnya. “Kamu cuci muka dulu, terus ganti baju,” tital Rendi saat dia sudah duduk di sofa panjang kamarnya.


Amel meletakkan tasnya dan duduk di samping Rendi. “Kakak uda makan? Bukannya menanggapi perkataan Rendi, Amel justru bertanya hal lain.


“Belum. Aku sengaja nunggu kamu. Kita makan bareng setelah kamu ganti baju. Aku akan minta baju Sofi dulu.” Rendi berdiri tanpa mendengar jawaban dari Amel.


Amel berjalan ke kamar mandi, setelah melihat Rendi sudah keluar dari kamarnya. Setelah selesai mencuci muka. Amel mengganti pakaiannya dengan pakaian santai milik Sofi. Amel mengenakan celana pendek dan baju kaos warna hitam. Mereka kemudian makan siang bertiga dengan Sofi, tidak ada pembicaraan selama mereka makan.


“Kak Amel, nanti berenang yuuk?” ajak Sofi setelah selesai mengisi perutnya.


Amel mengelap sudut bibirnya dengan tisu. “ Tapi kak Amel nggak begitu bisa berenang,” jawab Amel menatap Sofi.


“Nggak apa-apa. Nanti Sofi ajarin. Gimana?” usul Sofi.


“Sofi punya banyak, nanti kak Amel pilih sendiri di kamar Sofi.”


“Kamu ngapain sih ngajak-ngajak pacar kakak? Dia ke sini buat nemenin kakak, bukan nemenin kamu berenang. Ajak aja orang lain sana." Rendi menatap tidak suka pada adiknya.


“Sofi butuh mendinginkan otak Sofi Kak dengan berenang. Mood Sofi lagi nggak bagus hari ini,” ujar Sofi dengan wajah malas. “Kakak nanti ikutan aja,” sambung Sofi.


“Ogaah, kamu aja.”


“Kak Amel nanti kita berenang jam 4 sore ya? Sekarang masih panas soalnya.”


Amel menggangguk.

__ADS_1


*****


Rendi sedang menyandarkan tubuhnya di sofa kamarnya, bersebelahan dengan Amel. Setelah selesai, dia kembali ke kamar bersama dengan Amel. Sementar Sofi kembali ke kamarnya sendiri.


“Kak, ini kartu Kakak yang waktu itu. Amel lupa ngembaliin sama, Kakak.” Amel menyodorkan kartu itu kepada Rendi, setelah tadi dia mencari-cari di dalam tasnya.


“Kamu pegang saja dulu. Aku belum perlu.” Rendi menoleh dengan malas.


“Kalau tiba-tiba ingin membeli sesuatu, gimana?”


“Aku masih ada kartu lain.”


“Tapi kak, Amel takut menghilangkannya nanti.”


“Kau harus menyimpannya baik-baik. Mulai sekarang kamu harus membawa kartu itu kemanapun kamu pergi. Kau bisa menggunakannya untuk membeli sesuatu yang kamu butuhkan. Kau juga bisa menggunakan untuk keperluan yang mendesak.”


Amel menggeleng. “Tidak perlu Kak. Amel bisa menggunakan uang Amel sendiri. Lagian, apa kata orang tua Kakak nanti kalau tahu aku pake uang Kakak? ]ereka pasti akan marah.”


“Mereka nggak akan marah. Itu adalah uang pribadiku.”


“Tapi tetap saja uang itu berasal dari orang tua Kakak. Aku tetap nggak berhak memakainya.”


“Uang itu bukan dari mereka. Oma dan opaku memberikan hotel dan resort mereka yang ada di Jepang kepadaku. Untuk sementara mereka yang membantu aku mengelolanya sampai umurku genap 25 tahun. Dari situlah uang itu berasal.


“Selama ini, aku nggak pernah gunain uang di kartu itu. Aku cuma gunain kartu yang di kasih oleh papa.”


Amel tampak terkejut mendengar penuturan Rendi. “Apa Kakak tidak takutnkalau aku menghabiskan uang yang di kartu ini?” Amel mengarahkan kartu itu kepada Rendi.


Rendi tersenyum. “Habisin aja kalau kamu mau. Itiu artinya kau harus hidup selamanya bersamaku.”


Amel menggeleng kuat. “Aku tidak mau.”

__ADS_1


Rendi terkejut saat mendengar perkataan Amel. “Kamu nggak ingin menikah denganku?”


Bersambung....


__ADS_2