Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Ruang ICU


__ADS_3

“Kenapa kakak tidak boleh menaiki wahana ekstrim?” tanya Amel heran.


“Tidak apa-apa, Dokter melarangku untuk menaiki wahana ekstrim,” ucap Rendi.


Amel tpak diam, dia tampak berpikir. “Kalau begitu kakak tunggu aku di sini. Aku akan naik sendirian,” ucap Amel sambil berjalan menuju pintu masuk.


“Tunggu. Aku akan menemanimu kalau begitu.” ucap Rendi sambil menahan tangan Amel. Dia tidak tega membiarkan Amel menaiki wahana itu sendirian.


“Tidak kak Aku berani naik sendirian, kakak tunggu saja di sini, nggak akan lama. Aku tidak mau kakak kenapa-napa nantinya,” ucap Amel meyakinkan Rendi.


“Aku akan menemanimu.” Rendi menarik Amel memasuki pintu wahana itu.


Selama menaiki wahana tersebut, tampak Amel berteriak dengan kencang, sementara Rendi tampak diam saja.


Wahana tornado adalah salah satu wahana ektrim yang ada di wahana permainan itu. Para penumpang akan duduk dengan posisi terbalik ke bawah. Para penumpang yang duduk berjejer dan saling membelakangi akan di jungkir balik-balikkan di atas udara.


“Apa kakak sakit? Kenapa wajah kakak pucat sekali ” Amel memapah Rendi, yang terlihat seperti berjalan tidak seimbang, dia seperti menahan sakit, dia mengerjapkan matanya berkali-kali, napasnya tidak beraturan.


Rendi berhenti sejenak. “Aku tidak apa-apa. Aku hanya perlu duduk sebentar,” Rendi tampak tersenyum paksa. Dia tidak mau Amel khawatir dengannya.


Amel membawa Rendi ke tempat duduk yang tidak jauh dari sana. “Kakak tunggu di sini!” ucap Amel dengan wajah panik.


“Kau mau ke mana?” Rendi menarik baju Amel, saat melihat Amel akan pergi meninggalkannya.


Amel berbalik, dia berdiri dihadapan Rendi sambil membungkuk dan menatap mata Rendi. “Aku akan membeli minuman dulu! Kakak tunggu sebentar di sini!” Amel langsung berlari meninggalkan Rendi tanpa menunggu jawaban dari Rendi.


Rendi menyandarkan punggungnya ke kursi panjang itu, dia terlihat beberapa kali memegang kepalanya. Dia memegang ponselnya dan menghubungi seseorang. Rendi terlihat memasukkan lagi ponsel ke saku celananya.


Rendi melihat Amel berlari dengan terburu-buru menghampirinya. “Kenapa kau berlari secepat itu? Kau bisa tersandung nanti,” ucap Rendi saat Amel sudah sudah duduk di sebelahnya sambil mengatur napasnya.


“Aku takut kakak menunggu aku terlalu lama,” ujar Amel saat Rendi mengusap keringat yang ada di dahi Amel.


“Kakak minum dulu,” ucap Amel setelah dia membuka tutup minum lalu memberikan kepada Rendi.


Rendi meneguk habis minuman di botol itu. “Kenapa badan kakak jadi dingin?” tanya Amel saat dirinya memegang lengan Rendi.

__ADS_1


“Tidak apa-apa, aku hanya sedikit lelah,” jawan Rendi dengan wajah pucat.


“Bagaimana kalau kita istirahat di mobil saja?” saran Amel.


Rendi menggeleng. “Tidak perlu. Istirahat sebentar juga sudah baikan.”


 


“Aku tadi membeli roti juga, kakak makanlah sedikit.” Amel menyerahkan bungkusan plastik kepada Rendi.


Rendi memandang Amel sebentar. “Tolong suapi aku, aku merasa sedikit pusing.”


Tanpa menunggu lama, Amel langsung membuka bungkus plastik roti itu. Dia menyuapi Rendi sampai roti itu habis. Rendi merasa senang, saat melihat Amel dengan sabar menyuapinya. Setelah roti habis, Rendi beristirahat sebentar.


“Kita akan naik apalagi?” tanya Rendi sambil berdiri.


Amel menggeleng. “Kita pulang saja kak. Aku nggak mau terjadi apa-apa dengan kakak.”


Rendi meraih tangan Amel saat dia melihat Amel tampak tidak bergerak dari duduknya. “Kau bilang akan menaiki semua wahana hari ini. Aku akan menemanimu menaiki semua. Aku takut tidak punya kesempatan lagi untuk menemanimu lain  kali.” Rendi menatap penuh arti pada Amel.


“Hhhmm,” gumam Rendi sambil mengangguk.


Amel kemudian berdiri dan mengikuti Rendi. “Aku mau naik wahana kicir-kicir.” Rendi tersenyum dan membawa Amel ke wahana kici-kicir biasa disebut power surge.


Wahana ini akan membawa pembawa pengunjung untuk berputar 360 derajat, melintir sambil  meluncur. Saat selesai maniki permainan, Rendi kembali di papah oleh Amel, kali ini wajah Rendi terlihat sangat pucat. Keringat dingin mengalir di wajah tampannya. Rendi sudah tidak bisa berdiri dengan tegak, badannya tidak seimbang.


“Aku sudah bilang dengan kakak tadi, untuk pulang saja! kenapa kakak bersikeras menemaniku!” ucap Amel saat dia memapah Rendi menuju tempat duduk.


Rendi terus memegang kepalanya. Dia beberapa kali mengerjapkan mata dan menggelengkan kepala untuk mengembalikan kesadarannya. “Aku harus ke rumah sakit Mel. Telpon dokter Jhon sekarang dengan ponselku, suruh dia ke sini,” ucap Rendi dengan suara lirih.


Amel berhenti sejenak sebelum mencapai tempat duduk, Amel mengambil ponsel Rendi dengan tangan gemetar lalu buru-buru menghubungi dokter Jhon. Setelah selesai menghubungi dokter Jhon, Amel memasukkan ponsel Rendi ke tasnya.


“Apa yang sebenarnya yang terjadi dengan kakak? Kenapa kakak terlihat pucat sekali?” ucap Amel yang sudah mulai mengeluarkan airmatanya.


“Aku tidak apa-apa, tolong bantu aku mencari tempat duduk. Ingat, kalau nanti ada yang bertanya padamu, apa yang terjadi padaku, jangan katakan apa-apa. Jangan katakan aku menaiki wahana ekstrim, terutama dengan keluargaku. Kau hanya perlu bilang tidak tahu. Kalau mereka mendesakmu, bilang saja kita habis jalan-jalan ke mall,” tutur Rendi yang mulai berjalan dibantu oleh Amel

__ADS_1


“Tapi kenapa keluargamu tidak boleh tahu?”


“Kalau kau masih ingin bertemu denganku, kau harus menuruti perkataanku. Orangtuaku akan melarangmu untuk bertemu denganku lagi kalau mereka tahu aku menaiki wahana ektrim bersamamu.” Ucap Rendi dengan suara pelan sambil terus berjalan.


“Baik kak.”


Rendi berhenti tiba-tiba, terlihat memejamkan mata sebentar. Dia menoleh ke Amel. “Aku mencintaimu Mel, kau harus tahu itu.” Dia berusaha menggapai wajah Amel, tapi terlambat. Setelah selesai berbicara, tubuh Rendi Ambruk.


“Kakaaaaakk,” teriak Amel saat melihat Rendi pingsan. Amel kemudian meraih tubuh Rendi dan menyandarkan kepala Rendi dipangkauannya. Terlihat beberapa orang mulai berkumpul. Mereka mendekati Amel dan Rendi.


Mereka pun menawarkan untuk mengantarkan Rendi ke rumah sakit. Tapi Amel menggeleng, dan mengatakan dia sudah menghubungi dokter keluarganya untuk segera datang. Amel tidak berani memindahkan tubuh Rendi, dia takut terjadi apa-apa, jadi dia hanya mensejajarkan tubuh Rendi.


Tampak beberapa pengunjung menemani Amel yang terlihat terus menangis, dan berusaha menyadarkan Rendi dengan menepuk wajah Rendi dengan pelan. Bunyi sirine terdengar nyaring, Amel menoleh saat melihat beberapa orang yang berpakain putih turun dari Ambulance, diikuti oleh dokter jhon di belakangnya.


Dokter Jhon berlari mendekati Amel. “Kita harus segera membawanya ke rumah sakit,” ucap dokter Jhon saat berada di dekat Amel. Tubuh Rendi diangkat menuju ambulance.


Doter Jhon dan Amel ikut menaiki ambulance. Selama di perjalanan Amel hanya menangis sambil terus memegang tangan Rendi. Rendi terlihat sangat pucat dan harus menggunakan alat bantu pernapasan. Dokter Jhon tampak sibuk dengan ponselnya. Dia terlihat menghubungi beberapa orang.


Setelah sampai rumah sakit Rendi langsung di bawa ke ruang ICU. Terlihat beberapa dokter spesialis sudah menunggu di depan ruang ICU dengan wajah panik. Meraka langsung menghampiri tubuh Rendi yang terbaring di ranjang pasien yang sedang di dorong oleh beberapa perawat dan diikuti Amel dan dokter Jhon di belakangnya.


Setelah tubuh Rendi memasuki ruang ICU, seluruh dokter ikut memasuki ruang ICU dan menutupnya. Untuk sementara, ruang ICU ditutup untuk umum. Itulah adalah instruksi langsung dari Direktur rumah sakit, setelah mengetahui apa yang terjadi dengan anak pemilik rumah sakit itu. Dokter Jhon menelponnya tadi saat dalam perjalanan ke rumah sakit.


Amel hanya bisa berdiri di depan ruang ICU sambil terus menangis. Dia tidak menyangka, kalau acara jalan-jalannya akan membawa petaka untuk Rendi. Tidak lama kemudian terlihat Lilian, Sofi dan Friska berjalan cepat ke ruang ICU.


“Apa yang terjadi dengan Rendi Mel? Kenapa dia bisa tiba-tiba pingsan? Selama ini dia tidak pernah pingsan lagi, pasti ada yang memicu sehingga dia bisa sampai pingsan.” cecar Lilian saat sudah berada di depan ruang ICU.


Amel menghapus air matanya, “Amel juga tidak tahu tante, Rendi tiba-tiba saja pingsan,” jawab Amel dengan suara bergetar.


“Maaa, tenang Ma. Kita tunggu saja dokter selesai menagani kak Rendi,” ujar Sofi menenangkan mamanya, saat melihat kepanikan di mata mamanya.


“Bagaiman bisa mama tenang! Bahkan mereka belum juga keluar dari ruang ICU. Pasti terjadi hal buruk dengan Rendi.”


Lilian terus berjalan mondar-mandir sambil meremas kedua tangannya sambil terus menatap ke pintu ruang ICU.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2