Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Bulan Madu Part 2


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 22.34 WITA. Amel tampak mulai membuka matanya. Dia merasa tubuhnya sangat lelah, apalagi setelah menempuh perjalanan dari Jakarta ke Bali. Dia lalu menoleh dan melihat Rendi sedang duduk bersandar sambil menatap serius pada layar ponselnya.


Rendi terlihat sibuk dengan ponselnya. Jari-jari tangannya bergerak naik turun mengusap layar ponselnya dan tidak menyadari kalau Amel sudah bangun dari tidurnya. Dia merasa badannya tidak lelah lagi setelah tidur selama lebih dari 3 jam.


Amel menatap wajah suaminya sambil tersenyum.


Terkadang dia merasa seperti mimpi bisa menikah dengan laki-laki yang dicintainya. Laki-laki yang menjadi cinta pertamanya. Kalau menelisik kebelakang, kisah cintanya penuh liku untuk bisa sampai ke tahap pernikahan. Tidak pernah terbayangkan olehnya kalau saat dia bangun tidur bisa langsung menatap wajah tampan suaminya yang sedang terlelap sambil memeluk erat tubuhnya.


Siswa paling populer dan paling tampan di sekolahnya, yang banyak digilai banyak siswi karena ketampanan dan kecerdasannya kini sudah resmi menjadi suaminya. Laki-laki yang dulu terkenal cuek dan dingin tampak berbeda dengan Rendi yang dia kenal saat ini.Rendi selalu bersikap lembut padanya.


Amel masih terus menatap wajah suaminya tanpa berkedip. Rendi tiba-tiba menoleh pada Amel. “Kau sudah bangun sayang?” Rendi menunduk sambil mencium kening Amel. “Kenapa kau memandangku seperti itu sayang? Apa ada yang aneh dengan wajahku?” tanya Rendi ketika melihat Amel yang sedari tadi menatapnya terus.


Lamunan Amel buyar ketika mendengar pertanyaan Rendi. “Tidak, Kakak sangat tampan,” jawab Amel polos. Dia tidak bisa memikirkan jawaban lainnya. Hanya itu yang terlintas dipikirannya saat dia tertangkap basah sedang menatap wajah suaminya.


Rendi tersenyum tipis. “Apa kau sedang menggodaku sayang?” Rendi meletakkan ponselnya di atas nakas lalu memeluk tubuhnya istrinya.


Amel langsung menyembuyikan wajah merahnya. “Aku hanya bilang Kakak tampan. Apanya yang menggoda?”


Rendi meraih dagu istrinya agar bisa menatap matanya. “Tentu saja, kau tidak pernah mengatakan kalau aku tampan? Rasanya sangat senang mendengarnya langsung dari mulutmu.” Terkadang Rendi merasa tidak percaya diri karena Amel tidak pernah sekalipun memujinya.


“Bukankah Kakak sudah sering mendengar orang lain mengatakan Kakak tampan?”


Amel merasa heran kenapa Rendi begitu senang hanya karena dia memuji ketampanannya, padahal tanpa dipuji pun semua orang tahu kalau suaminya itu laki-laki yang sangat tampan.


“Iyaa, tetapi terasa spesial kalau kau yang mengucapkannya. Aku baru merasa diriku tampan kalau kau yang memujiku. Terkadang aku tidak percaya diri dengan diriku karena kau tidak pernah mengatakan kalau aku tampan.”


Amel terkekeh mendengar penuturan Rendi yang menurutnya konyol. Begitu banyak wanita yang tergila-gila padanya, bahkan selalu memuji ketampanannya tetapi dia hanya bersikap biasa saja. Dia menyangka kalau Rendi malah menunggu ucapan itu keluar dari mulutnya.

__ADS_1


“Kak, alasan kenapa aku tidak pernah menyebutmu tampan karena aku takut kau bosan mendengarnya. Aku yakin sudah ratusan wanita yang memuji ketampananmu. Tanpa aku katakan pun seharusnya kakak sudah tahu kalau kakak itu sangat tampan.”


“Tapi aku tidak pernah merasa seperti itu karena kau tidak pernah bilang aku tampan.”


Entah apa yang ada dipikiran Rendi saat ini, bisa-bisanya dia tidak percaya diri dengan ketampanan dirinya. Padahal sudah jelas-jelas wajahnya itu mendekati kata sempurna.


Amel memeluk tubuh suaminya sambil menatap wajah Rendi. “Baiklah. Aku akan mengatakannya setiap hari.”


Rendi buru-buru melepaskan pelukan Amel saat merasa tubuhnya kembali bereaksi saat kulitnya mereka saling menempel. Rendi memang belum memakai baju. Dia hanya memakai celana saja.


“Sayang, lebih baik kau makan dulu. Ini sudah malam.” Rendi turun dari tempat tidur. Dia takut akan kembali melahap tubuh istrinya jika terus berdekatan dengan Amel dengan tubuh yang masih polos.


Rendi memungut pakaian Amel dan memberikan pada istrinya. “Pakai bajumu dulu. Aku akan menghangatkan makanannya karena sudah dingin.”


Amel langsung mengangguk sambil menerima baju yang diberikan oleh suaminya. Rendi berjalan keluar kamar dengan bertelanjang dada, dia hanya mengenakan celana santai saja. Beruntung vila itu menyediakan microwave sehingga dia bisa menghangatkan makanan yang sudah dingin.


Rendi mulai menghangatkan makannya satu persatu. Tidak lama kemudian Amel keluar dari kamar. “Kak, pakai bajumu dulu.” Rendi langsung menoleh ketika medengar suara istrinya.


“Biar aku saja kak yang kerjakan sisanya.”


Amel menggeser tubuh suaminya. Dia mengambil alih tugas Rendi untuk menghangatkan makanan. Rendi kemudian berdiri di belakang Amel lalu melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya.


“Aku sangat bahagia sayang bisa menghabiskan waktu berdua seperti ini denganmu.” Rendi sedikit membungkuk lalu meletakkan kepalanya di bahu istrinya.


Amel tersenyum lalu sedikit menoleh pada suaminya. “Aku juga sangat bahagia kak. Aku harap rumah tangga kita selalu dipenuhi kebahagian.”


“Aku pasti akan selalu bahagia, selama kau ada di sisiku sayang.”

__ADS_1


...******...


Amel terbangun dengan tubuh yang segar. Dia menatap wajah suaminya yang masih terlelap. Dengan perlahan dia turun dari tempat tidur. Semalam setelah mereka makan malam dan mengobrol sebentar, Rendi langsung mengajak istrinya untuk segera tidur. Amel mulai membongkar kopernya dan meletakkan beberapa pakaian miliknya dan milik suaminya di dalam lemari.


Setelah itu, dia berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajah dan menggosok giginya. Amel kembali berjongkok di depan kopernya karena sedang mencari baju renang miliknya yang dia beli bersama dengan para sahabatnya sebelum mereka ke Bali. Setelah menemukannya Amel segera memakai baju renangnya.


Sebelum dia melangkah keluar kamar, dia membuka tirai kamarnya agar cahaya matahari bisa masuk ke dalam kamarnya. Matahari sudah menampakkan sinarnya karena saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Amel membuka pintu yang menghubungkan kamarnya dengan kolam renang yang ada di luar kamarnya. Udara pagi langsung masuk ke dalam kamarnya..


Dengan langkah pelan Amel berjalan mendekati kolam renang. Dia menatap jauh ke bawah. Dari tempat Amel berdiri saat ini bisa langsung melihat pemandangan laut lepas. Amel tersenyum senang melihat pemandangan indah di depannya.


Sebelum masuk ke dalam kolam renang, terlebih dahulu Amel melakukan pemanasan. Amel sudah bisa berenang sekarang. Dia sudah mengobati rasa traumanya akibat hampir tenggelam waktu kecil. Dia berusaha keras untuk menghilangkan traumanya dengan terus berlatih berenang.


Dia belajar berenang dengan seorang pelatih profesional. Perlahan tapi pasti Amel mulai tidak takut dengan kolam atau pantai yang dalam. Saat ini rasa trauma sudah berangsur hilang, itulah sebabnya dia berani untuk berenang sendiri pagi ini.


Perlahan Amel melangkah kaki masuk ke dalam kolam renang. Hawa dingin langsung menyergap kakinya, saat kakinya sudah berada di dalam air, tetapi dengan adanya sinar matahari yang menyinari kolam renang tersebut membuat tubuhnya hangat disaat bersamaan.


Setelah tubuhnya masuk ke dalam air, perlahan Amel melangkah menuju ujung kolam renang. Dia berdiri lalu meletakkan kedua tangannya pinggiran kolam renang. Amel tampak sedang menikmati sinar matahari pagi sambil menatap lurus pemadangan laut yang ada di depannya.



Rendi meraba tempat tidurnya dengan mata terpejam. Dia langsung mengedarkan padangannya setelah membuka mata dan tidak melihat keberadaan istrinya di dalam kamar. Dia kemudian melangkah turun dari tempat tidur. Matanya tidak sengaja menangkap sosok yang dia cari.


Rendi kemudian berdiri di depan dinding kaca transparan yang memperlihatkan pemandangan di luar kamarnya. Dia bisa melihat Amel sedang berada di dalam kolam renang sambil berdiri menatap lurus ke depan dengan wajah bahagia.


Rendi berjan keluar kamar. Dia berniat untuk menyusul istrinya masuk ke dalam kolam renang. Rendi berjalan dengan perlahan. Dia ingin mengejutkan istrinya.


Sebelum masuk ke dalam kolam renang, Rendi terlebih dahulu melepaskan bajunya, menyisakan celana santai. Rendi menatap sejenak istrinya. Rendi bisa melihat bayangan lekuk tubuh istrinya yang membuatnya bergairah pagi ini. Amel hanya mengenakan pakaian renang one piece berwarna merah.

__ADS_1


Perlahan Rendi mulai masuk ke dalam air. Amel belum juga menyadari kehadiran Rendi sampai Rendi tiba-tiba memeluknya dari belakang. “Selamat pagi sayang.” Rendi memberikan kecupan ringan di punggung dan bahu putih istrinya.


Bersambung...


__ADS_2