
Amel langsung berjalan masuk ke rumah Raka dengan langkah cepat, setelah Rendi masuk ke dalam mobilnya. Air mata yang sedari tadi dia tahan, mengalir sudah di pipi pucatnya. Sudah beberapa hari ini semenjak Rendi tidak menampakkan wajahnya di rumah Raka, membuat Amel gelisah. Ada rasa khawatir saat dia tidak mengetahui kabar tentang Rendi.
“Kenapa kau menyiksa dirimu sendiri? Kalau kau masih mencintainya, kenapa kau bersikap seperti itu padanya?” tanya Raka saat melihat Amel sedang duduk di tepi ranjang sambil menangis. Raka masuk ke kamar Amel setelah melihatnya tampak terpukul setelah pertemuannya dengan Rendi.
“Aku hanya butuh waktu untuk melupakannya bang!” ucap Amel dengan suara serak bercampur suara isak tangis.
“Baiklah, istirahatlah! Jangan tidur malam-malam!” ucap Raka sambil mengelus kepala Amel kemudian berjalan keluar kamar Amel setelah melihat anggukan dari Amel.
Setelah kepergian Raka, Amel membaringkan tubuhnya ranjang. Dia mendekap erat jaket Rendi seperti sedang memeluk pemilik jaket tersebut sambil menangis dengan keras. Suara tangisnya terdengar pilu.
Setelah kejadian pertengkarannya dengan Rendi, Amel sudah tidak pernah lagi bertemu dengan Devan, sudah beberapa hari Amel ijin tidak masuk sekolah, karena tidak ingin bertemu dengan Rendi dulu.
Sementara Devan sendiri sudah mencoba untuk beberapa kali menghubungi Amel tetapi tidak pernah direspon. Dia bahkan bertanya kepada ketiga sahabat Amel tentang kabarnya. Devan sangat khawatir dengan Amel. Dia sudah mencoba mendatangi kos Amel saat mengetahui alamat kosnya dari ketiga temannya. Devan benar-benar dibuat panik karena tidak bisa menghubungi Amel.
Devan bahkan meminta beberapa orang untuk mencari keberadaan Amel. Dia takut terjadi apa-apa dengan Amel. Segala macam cara sudah dia lakukan untuk mencari keberadaan Amel, tetapi dia belum juga menemukannya.
******
Keesokan harinya..
“Kamu uda siap?” Amel menoleh pada Raka yang sedang berdiri sambil bersandar pada pintu.
__ADS_1
Amel mengangguk lemah. “Uda bang!”
Raka berjalan masuk mendekati Amel yang sedang duduk di tepi tempat tidurnya. “Kenapa wajahmu pucat sekali?” ucap Raka sambil memegang wajah Amel yang tampak terlihat putih pucat.
Amel menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. “Amel nggak apa-apa bang!”
Sudah beberapa hari ini Amel tidak pernah menjaga pola makanannya dengan benar, tepatnya setelah pertengkarannya dengan Rendi. Terkadang dia hanya memakan beberapa sendok, itupun atas paksaan Raka.
Raka bahkan pernah membentaknya karena dia tidak mau makan seharian dan mengurung diri di kamarnya. Apalagi, semenjak Rendi tidak datang menemui Amel di rumah Raka karena dikurung ibunya, Amel merasa gelisah. Pikirannya terus saja memikirkan keadaan Rendi, sehingga dia tidak pernah melakukan apa-apa selain berdiam diri di kamar.
Raka sedikit menunduk menatap wajah Amel. “Apa kau yakin untuk menemuinya sekarang? Apa kamu sudah siap untuk bertemu dengannya setelah kejadian kemarin?”
Amel menatap Raka dengan tatapan sedih. “Bagaimapun Amel harus menemuinya bang untuk mengembalikan ini! Amel tidak ingin menyimpan barang pemberiannya yang akan mengingatkan Amel padanya! Amel hanya takut tidak bisa melupakannya.”
“Baiklah, kita sarapan dulu, setelah itu kita baru ke rumah sakit!” ajak Raka sambil berdiri dan diikuti Amel di belakangnya.
Setelah sarapan mereka bergegas ke rumah sakit, karena hari ini hari minggu sehingga jalanan ibu kota tampak lengang. Waktu menunjukkan pukul 10 pagi. Amel sudah berada di dalam mobil bersama dengan Raka yang sedang melaju dengan kecepatan sedang.
Tepat pukul 11 mereka sampai di rumah sakit tempat Rendi di rawat. Amel segera bergegas menuju kamar perawatan Rendi. Betapa terkejutnya Amel saat melihat kamar yang Rendi tempati dengan keadaan kosong. Amel berjalan dengan cepat menuju meja perawat yang berada di lantai tersebut. Amel langsung berjalan cepat diikuti Raka di belakang, setelah mengetahui kalau Rendi sudah keluar dari rumah sakit pukul 7 pagi tadi.
“Bang, anterin Amel ke rumah Rendi ya?” pinta Amel saat mereka sudah berada di parkiran mobil. Amel sedikit gelisah saat mengetahui Rendi sudah keluar dari rumah sakit. Perasaannya tidak menentu entah mengapa.
__ADS_1
Raka mengangguk dan langsung masuk ke dalam mobil yang di susul oleh Amel. Raka melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah sakit menuju kediaman Rendi. Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih 45 menit, Mereka sampai di depan kediaman Rendi.
Mobil Raka memarkirkan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Rendi yang tertutup rapat. Amel langsung turun dari mobil dan berjalan menuju pintu gerbang dekat dengan pos keamanan rumah Rendi. Dahi Amel mengeryit saat melihat kondisi rumah Rendi terlihat sepi, tidak ada aktifitas apapun saat Amel mengintip lewat celah pintu gerbang.
Raka menyusul Amel saat melihat Amel memencet bel berkali-kali tetapi tidak ada satupun yang keluar. Setelah menunggu selama 10 menit, terlihat pak Iyan keluar dari halaman samping dengan terburu-buru. Dia adalah supir yang biasa mengantar Rendi kemanapun dia pergi.
“Non Amel, ada keperluan apa ke sini?” tanya pak Iyan dengan wajah terkejut saat melihat keberadaan Amel di rumah Rendi.
“Mau ketemu kak Rendi pak Iyan!” jawab Amel sopan. “Kak Rendinya ada pak?” tanya Amel lagi saat melihat pak Iyan tampak kebingungan.
Pak Iyan membuka pintu gerbang setelah mendengar pertanyaan Amel. “Looh, emangnya den Rendi tidak memberitahu non Amel kalau dia akan pergi hari ini?” tanya pak Iyan sambil menatap Amel dengan penuh tanda tanya.
Amel mendekati pak Iyan setelah pintu gerbang dibuka. “Kalau boleh tahu, pergi kemana ya pak? Soalnya tadi Amel ke rumah sakit, kata perawatnya kak Rendi sudah pulang sejak tadi pagi.”
“Den Rendi memang sudah pulang tadi pagi, tapi kemari cuma mau mengambil barang-barang, setelah itu mereka semua langsung ke bandara non,” jelas pak Iyan.
Amel mulai panik. “Bandara? Memangnya mereka semua mau ke mana pak?” Ada perasaan tidak enak saat mendengar kata bandara.
Pak Iyan tampak ragu-ragu menjawab pertanyaan Amel. “Mereka semua akan pergi keluar negri non. Mereka akan pindah dan akan menetap di sana. Mereka tidak akan kembali lagi ke sini! Rumah ini juga sudah dijual.”
Amel langsung lemas saat mendengar perkataan pak Iyan, lututnya gemetar. Raka langsung menangkap tubuh Amel, saat melihat Amel tampak sempoyongan. Seketika air matanya sudah mengalir di pipi pucat Amel.
__ADS_1
Bersambung