Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Permintaan


__ADS_3

Mata Rendi terbuka, saat medengar suara Amel, seketika dia tersadar. Dia langsung menjauhkan tubuhnya dari Amel. “Maaf Mel.. Maaf, maafkan aku,” ucap Rendi seraya bangun dan duduk di tepi ranjang.


“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk menyentuhmu. Aku benar-benar tidak sadar. Maafkan aku. Tolong jangan marah padaku,” ucap Rendi dengan nada penuh penyesalan. Amel bangun dari tidurnya.


“Iyaa kak. Aku tahu kakak tidak sadar melakukannya. Mungkin karena kakak masih terpengaruh alkohol, wajah kakak juga masih pucat." Amel memegang wajah Rendi sambil tersenyum.


Rendi kemudian meraih tubuh Amel. “Aku benar-benar minta maaf Mel, ini tidak akan terjadi lagi, aku janji padamu. Maafkan aku Mel,” ucap Rendi panik.


Dia takut kalau Amel akan marah padanya dan tidak mau memaafkannya, padahal dia baru saja berbaikan dengan Amel. 


Amel melepaskan pelukannya Rendi, lalu menatapnya lekat matanya. “Aku tidak marah, Kak, aku sudah memaafkanmu. Aku juga terbawa suasana tadi, itu bukan salahmu,” ucap Amel dengan lembut.


“Terima kasih Mel, aku berjanji tidak akan menyentuhmu sebelum kita menikah,” ucap Rendi bersungguh-sungguh.


“Iyaa Kak. Terima kasih karena dari dulu Kakak selalu menjagaku,” ucap Amel tulus. “Bisakah Kakak berhenti merokok dan berhenti minum? Aku sedih melihat kakak seperti tadi,” lanjut Amel lagi dengan wajah sendu.


Rendi mengalihkan pandangannya ke samping menghindari tatapan Amel. “Aku akan berhenti kalau kau mau kembali padaku, jika tidak, aku akan menghabiskan hidupku dengan minuman itu."


Amel terdiam sesaat. “Kalau aku kembali pada Kakak, bagaimana dengan Friska?” tanya Amel dengan pelan.


Rendi langsung mengalihkan pandangannya pada Amel lalu memegang kedua tangannya. “Aku sudah membatalkan pertunanganku dengannya. Aku juga sudah menelpon orang tuanya. Aku berniat menemui orang tuanya nanti karena orang tuanya masih di luar negeri,” jelas Rendi cepat.


”Aku juga tidak mencintainyax Mel. Kenan pasti sudah menceritakannya padamu tentang Friska dan Kila. Aku memang pernah mencintai Kila, tapi itu dulu. Sekarang orang yang aku cintai cuma kamu Mel, meskipun Friska mirip dengan Kila, tetapi aku benar-benar tidak mempunyai perasaan cinta padanya. Aku hanya menyayanginya seperti adikku Mel,” lanjut Rendi lagi meyakinkan Amel.


Amel menunduk. “Apa Kakak sudah tidak marah lagi denganku?”


Alis Rendi bertautan. “Marah kenapa?”


“Aku sudah bersikap jahat dengan Kakak waktu itu? Kata-kataku sangat menyakitkan. Aku bahkan selalu mengabaikan Kakak berhari-hari dan tidak mau mendengar penjelasan Kakak dulu. Aku pikir Kakak pasti sangat membenciku karena sudah bersikap jahat pada Kakak, apalagi saat itu Kakak sedang sakit. Kakak bahkan tidak memperdulikan kesehatan Kakak sendiri hanya untuk menemuiku untuk menjelaskan semuanya. Aku sungguh menyesal, Kak,” ucap Amel dengan suara bergetar, matanya sudah berkaca-kaca.


Setiap Amel mengingat kejadian itu, dia selalu diliputi rasa bersalah yang sangat besar. Dia sangat menyesal karena sudah memperlakukan Rendi begitu kejam.


Rendi meraih dagu Amel lalu mengangkatnya. Melihat mata Amel sudah berair Rendi kembali memeluk Amel. “Aku tidak pernah marah denganmu, Mel. Walaupun kau menyakitiku berkali-kali, aku tidak akan pernah bisa membencimu. Justru aku merasa bersalah denganmu karena tidak menceritakan dari awal sehingga kau jadi salah paham.”


“Harusnya aku mendengarkan pen....”


“Sudah cukup, lupakanlah. Aku tidak marah. Jangan menyalahkan dirimu, aku sangat mencintaimu, Mel,” ucap Rendi sambil mengelus kepala Amel dengan lembut.


Amel mulai terisak. “Terima kasih, Kak. Aku juga sangat mencintamu, Kak,” ucap Amel mempererat pelukannya.

__ADS_1


Jantung Rendi berdebar kencang, sudah lama dia tidak merasakan perasaan seperti ini. Dia sempat berpikir kalau dia tidak pernah bisa berbaikan lagi dengan Amel.


“Menikahlah denganku, Mel. Aku janji tidak akan pernah menyakiktimu! Aku akan membuatmu bahagia,” ujar Rendi bersungguh-sungguh.


“Apa Kakak yakin denganku?”


“Tentu saja. Aku tidak berniat untuk menikahi orang lain selain dirimu, Mel,” ucap Rendi mantap. Melihat Amel tampak diam saja Rendi berbicara lagi, “Apa kau tidak mau menikah denganku Mel? Apa kau ragu denganku?”


Amel menggeleng kuat. “Tidak, Kak. Aku hanya butuh waktu, ini terlalu mendadak.”


Rendi menggenggam tangan Amel. “Kita bisa bertunangan dulu Mel. Aku akan mengurus dulu semua urusanku, setelah itu kita baru menikah. Aku tidak bisa menunggu lama Mel. Aku tidak mau kalau sampai kau berpaling pada orang lain nanti,” ucapnya.


Rendi tidak mau kalau Amel sampai berubah pikiran nantinya. Dia juga takut kalau Amel akan tertarik dengan orang lain, terutama dengan Devan dan Raka.


“Tetapi aku harus berbicara dengan Kak Evans dulu, Kak,” ucap Amel pelan.


Rendi melepaskan tangan Amel lalu menatap dalam mata Amel. “Apa kau masih mencintainya?” Ada perasaan takut di dalam hati Rendi kalau Amel lebih mencintai Devan dari pada dirinya.


Amel menggeleng kuat. “Tidak Kak, aku tidak pernah mencintai kak Evans. Dari dulu hingga sekarang rasa cintaku hanya untukmu kak. Aku menyayanginya seperti Kakakku. Bagaimanapun dia adalah orang yang paling berjasa dalam hidupku, selain Raka. Dia selalu menghiburku saat aku terpuruk setelah kepergianmu. Dia juga selalu menemaniku, hidupku lebih banyak aku habiskan dengannya. Apalagi dia sudah pernah melamarku. Aku harus menjelaskan padanya pelan-pelan. Agar dia bisa mengerti.”


Rendi menatap Amel dengan wajah serius. “Bagaimana kalau dia tidak mau melepaskanmu?”


Rendi yakin, tidak akan mudah untuk menyakinkan Devan. Apalagi dulu, dia pernah mengatakan langsung padanya, kalau dia akan mengambil Amel darinya, jika terbukti Rendi menyakiti Amel.


Rendi menghela napas. “Kita harus bertunangan dulu. Aku beri waktu 3 bulan untuk meyakinkan dia, kalau dia tidak mau melepasmu juga, aku tidak peduli. Aku akan tetap menikahimu tanpa persetujuannya, yang terpenting adalah restu dari ibumu. Kali ini aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi, apalagi untuk laki-laki lain Mel,” ucap Rendi dengan wajah serius.


“Tapi apa keluarga Kakak setuju denganku? Bukankah keluarga Kakak marah denganku, karena kejadian dulu? Apalagi aku sudah membuat Kakak menderita selama ini,” ucap Amel pelan dengan wajah sedih.


Rendi memegang kedua bahu Amel dan menatapnya. “Aku akan berusaha meyakinkan orang tuaku,” ucap Rendi lembut. ”Tapi kalau seandainya aku tidak memilki apa-apa, apa kau masih mau menikah denganku?”


Dahi Amel mengerut. “Maksud Kakak?”


“Sebenarnya oranng tuaku marah denganku karena aku tiba-tiba membatalkan pertunanganku dengan Friska, apalagi saat mereka tahu kalau aku membatalkan pertunangannku karenamu. Mereka masih salah paham padamu dengan kajadian dulu. Kalaupun nanti mereka tidak merestui kita, aku akan tetap menikahimu dan meninggalkan semua yang aku milki sekarang kemudian memulai hidup baru denganmu.”


Rendi meneliti wajah Amel dengan perasaan was-was. Dia takut kalau Amel tidak mau menikah dengannya, saat Rendi tidak mempunyai segalanya seperti sekarang ini.


“Maafkan aku, Kak. Semua karena salahku,” ucap Amel dengan suara lirih.


“Aku tidak masalah sama sekali kalau kakak tidak memiliki apa-apa. Kita bisa memulai dari awal lagi. Aku akan menerima kakak apa adanya karena aku mencintai kakak bukan karena harta dan status yang kakak miliki. Aku hanya tidak ingin kakak menjadi anak yang durhaka dan tidak berbakti kepada orang tua kakak. Kita harus berjuang untuk mendapatkan restu dari mereka.”

__ADS_1


Rendi langsung meraih tubuh Amel lagi lalu memeluknya. “Terima kasih Mel karena kamu sudah mau mengerti keadaanku. Kalaupun seandainya mereka tidak juga mau merestui kita dan memintaku meninggalkan semuanya. Aku tidak keberatan asalkan aku bisa hidup bersamamu. Kau tenang saja, walaupun aku meninggalkan semuanya. Aku akan tetap bertanggung jawab denganmu. Aku tidak akan membuatmu hidup susah. Aku memiliki tabungan yang lebih dari cukup untuk membiayai hidup kita dan untuk membiayai anak-anak kita nanti. Aku juga memiliki perusahaan sendiri di luar negri. Aku tidak akan membuatmu kesulitan ketika hidup denganku,” ucap Rendi penuh keyakinan.


Amel mendongakkan kepalanya, dia masih berada di pelukan Rendi. “Terima kasih kak, karena telah memberikan cinta yang begitu besar untukku. Aku sangat beruntung dicintai olehmu. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan dan tidak akan pernah menyakitmu lagi.”


"Cup." Rendi mengecup singkat bibir Amel. “Akulah yang beruntung karena kau telah memilihku dan tetap mencintaiku sampai sekarang!” ucap Rendi sambil menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Amel.


“Tidurlah sayang, ini sudah mau pagi! Aku tidak mau kau sakit,” ucap Rendi sambil berdiri dan menicum pucuk kepala dan kening Amel.


“Kakak mau kemana?” tanya Amel saat melihat Rendi berbalik dan ingin melangkah.


Rendi menoleh dan berjalan mendekati Amel lagi lalu duduk di tepi ranjang menghadap Amel. “Aku akan tidur di sofa,” jawab Rendi tersenyum.


“Tidak akan nyaman kalau Kakak tidur di sofa. Kakak tidak akan bisa tidur nyenyak di sofa itu. Tidurlah di sini, kita bisa membuat pembatas di tengah menggunakan bantal,” ucap Amel seraya menepuk pelan tempat kosong di sebelahya.


Rendi menggeleng pelan seraya mengelus lembut pipi Amel sambil tersenyum. “Tidak, aku takut tidak bisa mengendalikan diriku nanti. Aku merasa masih sedikit mabuk,”


“Tapi, Kak....”


“Tidurlah. Aku hanya takut lepas kendali, Mel. Aku masih terpengaruh alkohol. Aku tidak berani tidur satu ranjang dengamu saat ini. Aku akan tidur di kamar orang tuaku, kalau kau mengkhawatirkan aku tidak bisa tidur di sofa.”


Amel terdiam sesaat. “Baiklah,” ucap Amel dengan ragu. “Tapi aku harus mengobati luka Kakak dulu." Amel memegang wajah Rendi dan sudut bibir Rendi yang terluka.


Rendi menangkap tangan Amel yang masih berada di sudut bibirnya. “Besok saja. Aku masih bisa menahannya. Kau harus segera beristirahat. Aku tidak mau kamu sakit gara-gara aku. Aku akan merasa sangat bersalah nanti.”


Amel meraih jari kelingking Rendi. “Berjanjilah padaku, jangan pernah menutupi apapun dariku, termasuk kalau Kakak sakit. Apapun yang terjadi pada Kakak, Kakak harus menceritakan padaku. Kakak harus jujur dan tidak boleh berbohong padaku.” Amel tidak mau kejadian dulu terulang lagi, saat dia tidak tahu apa-apa tentang penyakit dan masa lalu pahit Rendi.


Rendi tersenyum, lalu mengaitkan jari kelingking mereka. “Iyaaa, aku janji,” ucap Rendi sambil mengelus pipi putih Amel.


“Kakak harus ingat, aku tidak akan pernah meninggalkan Kakak apapun yang terjadi nanti. Selagi Kakak masih mencintaiku, aku akan tetap berada di samping Kakak, jadi jangan pernah meragukan aku,” ujar Amel lembut.


“Terima kasih, Mel. Kau tidak perlu khawatir, selamanya aku akan terus mencintaimu apapun yang terjadi.” Amel mengangguk pelan.


“Tidurlah. Aku akan pergi ke kamar orang tuaku setelah kau tertidur,” ucap Rendi sambil mengusap lembut kepala Amel.


Amel mengangguk lagi dan mulai merebahkan tubuhnya. “Setelah aku tertidur, Kakak juga harus langsung tidur,” pinta Amel.


Rendi mengangguk, kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur. Waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Tidak butuh waktu lama Amelpun tertidur. Setelah Rendi mendengar napas teratur dari Amel dan melihatnya tidak bergerak lagi,


Rendi kemudian menarik selimut dan mencium kening Amel dengan singkat lalu mengecup singkat bibir Amel. “Selamat tidur sayang, mimpi indah, aku sangat mencintaimu Mel,” ucap Rendi sebelum dia keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Rendi memutuskan untuk tidur di kamar yang biasa dipakai oleh orang tuanya. Rendi menoleh sebentar untuk terkahir kalinya sebelum menutup pintu kamarnya.


Bersambung....


__ADS_2