
Sesampainya di rumah Raka, terlihat Raka sudah menunggunya di depan pintu sambil melipat kedua tangannya di dada. Raka tersenyum saat melihat Amel turun dari mobil.
"Abang ngapain berdiri di depan pintu?" tanya Amel saat tiba di depan Raka.
"Nunggu tetangga sebelah lewat. Yaa nunggu kamu lah, pakai nanya lagi." Raka merangkul pundak Amel lalu berjalan memasuki rumah.
"Ameel, kamu kok baru main ke sini lagi."
Terlihat ibu Raka menghampiri Amel keemudian memeluknya sebentar. Tamara adalah ibu Raka, walaupun umurnya sudah tidak muda lagi, tapi masih terlihat cantik, seperti umur 35-an. Padahal, usianya sudah di atas 50, tetapi masih terlihat awet muda.
"Maaf Ma, Amel baru sempet datang sekarang. Lagi banyak tugas di sekolah," ucap Amel tersenyum.
Tamara memang meminta Amel untuk memanggilnya dengan sebutan mama. Dia ingin merasakan panggan mama dari anak perempuan. Mereka sangat dekat seperti ibu dan anak. Karena Raka sering kali menolak jima diajak ibunya pergi sehingga Tamara kerap menghabiskan waktu bersama dengan Amel.
Terkadang Mama Raka menjemputnya di sekolah untuk berjalan-jalan, shopping, ke salon atau sekedar makan siang di restoran. Bahkan Tamara kerap mengajak Amel ke acara arisan sosialitanya dan mengenalkan Amel sebagai anak perempuannya.
"Iyaa, mama kangen banget sama kamu. Rumah ini sepi kalau kamu nggam ke sini, soalnya Raka jarang ada di rumah, selalu pergi," jelas Ibu Raka.
"Mama kenapa nggak nelpon Amel?" Mereka berjalan menuju ruangan bersantai dekat ruangan makan.
"Kata Raka kamu lagi sibuk jadi Mama takut ganggu kamu." Ibu Raka mengajak Amel duduk di sampingnya, sementara Raka duduk di depan mereka.
"Kalau Mama kesepian, Mama telpon Amel aja. Amel akan usahain buat temenin Mama," ucap Amel.
"Ini baru anak mama, nggak seperti Raka yang selalu sibuk sama urusannya sendiri."
"Bukan gitu Ma. Kalau Mama ngajak Raka ke salon atau shopping pokoknya yang berhubungan dengan urusan wanita, Raka malulah Ma, nggak cocok kalau Mama ngajak Raka."
Tamara menggerutu. "Terus mama harus ajak siapa? Anak mama kan cuma kamu." ujar Ibu Raka dengan kesal.
"Ajak Amel lah. Biasanya juga Mama selalu ngajak Amel kalau mau ke mana-mana," jawab Raka cuek.
"Kamu kira kerjaan Amel cuma nemenin ama doang apa? Dia kan juga punya urusan lain." Tamara melemparkan bantal sofa ke Raka.
"Awww, sakit Ma," ujar Raka berbohong ketika dia terkena lemparan bantal dari mamanya.
__ADS_1
"Siapa suruh kamu bandel. Kamu bisa-bisanya bonyok begini Raka. Mama heran apa yang membuat kamu jadi seperti ini. Jangan-jangan kamu habis tawuran ya?"
Tamara dibuat syok saat melihat Raka pulang dengan keadaan banyak luka di tubuh dan wajahnya. Raka memang tidak memberitahu penyebabnya karena takut Amel akan disalahkan nantinya.
"Ini urusan laki-laki Ma. kayak gini mah biasa untuk remaja kayak Raka. Jiwa muda masih menggelora," ujar Raka samb tersenyum bangga.
"Amel, tolong kamu nasehatin Raka. Dia kalau mama kasih tahu tidak pernah mau dengar."
"Iyaa, Ma."
"Kalau dia nggak mau dengar juga, pukul saja kepalanya biar otaknya bisa dipakai untuk berpikir," ujar Tamara sambil berdiri.
"Mama kok jahat banget malah nyuruh Amel mukul Raka? Emangnya yang anak Mama itu Raka atau Amel?" Raka menampilkan wajah masamnya.
"Amel, kamu itu cuma pajangan doang. Selama ini juga yang sering nemenin mama kan Amel." Tamara berjalan ke dapur meninggalkan mereka berdua dengan wajah acuh tak acuh.
Amel cekikikan mendengar Raka yang diomeli oleh mamanya. "Kamu seneng banget Mel lihat abang menderita."
"Iyaalah, kapan lagi bisa liat abang diomelin sama mama." Amel tersenyum lebar setelah melirik sekilas pada Raka.
"Jangan kepedean bang. Lihat dulu sana muka uda kayak apa? Muka Abang yang ganteng itu uda berubah jadi ancur." Amel menutup mulutnya dengan jari sambil tertawa cekikikan.
"Ini semua gara-gara Rendi." Raka membuang muka dengan wajah kesal.
"Kan kakak duluan yang mukul kak Rendi," cetus Amel
Raka kemudian bangun dari duduknya, kemudian menarik tangan Amel. "Ikut abang, kamu harus jelasin masalah waktu itu."
"Kita mau ke mana, Bang?" Amel menahan tangannya Raka agar tidak menyeretnya.
"Ke taman belakang. Mama bisa dengar kalau kita bicara di sini."
Mereka lalu berjalan ke taman belakang dan duduk di gazebo.
"Sekarang jelasin semuanya, jangan ada yang ditutupin." Mereka duduk berhadapan dengan wajah serius.
__ADS_1
"Tunggu bentar, Bang." Amel membuka tasnya, mencari sesuatu lalh mengambil ponselnya yang layarnya mati. Amel mencoba untuk menghidupkan, tapi tidak bisa karena sudah mati total karena kehabisan batrai.
"Amel pinjem charger dong, Bang, handphone Amel mati."
"Kamu jelasin dulu semua, baru nanti abang ambilkan chargernya." Raka tidak mau menunda lagi.
"Iyaa, tapi Abang harus dengar dulu semua penjelasan Amel sampai selesai. Abang nggak boleh memotong waktu Amel bicara."
Raka mengangguk cepat. "Oke."
Amel mulai menjelaskan semuanya dari awal dia janjian dengan Rendi di gerbang sekolah, insiden hampir tertabrak, ke cafe, lalu diajak pergi ke ulang tahun mamanya sampai dia bisa menginap dan tidur di kamar hotel Rendi. Tentunya ada yang tidak Amel ceritakan, masalah dia pura-pura pacaran dengan Rendi dan insiden ciuman itu.
Setelah mendengar cerita Amel sampai selesai, ada rasa lega di hati Raka. Ternyata dia hanya salah paham, tapi dia juga kecewa saat mengetahui kalau Amel berpacaran dengan Rendi. Padahal, dia sudah lama sekali menyukai Amel. Hanya saja tidak berani mengungkapkan perasaannya karena takut Amel akan menjauhinya.
Raka sudah sering mencoba untuk berpacaran dengan orang lain supaya bisa menghilangkan perasaannya pada Amel, tapi tetap saja, pikirannya selalu tertuju kepada Amel. Di hatinya tidak bisa digantikan oleh orang lain.
Dia akhirnya memutuskan berada di samping Amel sebagai kakaknya supaya tetap bisa menjaganya. Dia berniat langsung melamar Amel ketika dia sudah siap dari segi mental maupun finansial.
"Abang harus minta maaf sama Rendi karena sudah salah paham sama dia, apalagi Abang mukul dia sampe babak belur," pinta Amel yang sedang menatap Raka yang masih terdiam.
"Abang nggak mau. Dia juga sudah memukul abang, jadi kita sudah impas." Raka membuang mukanya ke samping.
"Kan Wbang duluan yang mukul Rendi," ucap Amel sewot.
"Jangan mentang-mentang dia pacar kamu, jadi kamu belain dia, Mel," ucap Raka marah. Dia semakin tidak mau meminta maaf karena saat melihat Amel nampak sangat membela Rendi.
"Bukan gitu Bang. Abang emang yang salah"
"Sebagai abang kamu, abang berhak marah kalau dia macem-macem sama kamu."
Amel menghela napas panjang saat melihat sikap keras kepala Raka. Ini pertama kalinya dia melihat sikap Raka yanh seperti itu. "Amel kan uda jelasin bang kalau cuma salah paham."
"Lagian, abang juga nggak setuju kamu pacaran sama dia. Kamu kan belum lama kenal sama dia," ujar Raka dengan wajah tidak suka.
Bersambung....
__ADS_1