
Amel dibuat terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya. Dia merasa sedikit sesak. Sementara Jhon hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah wanita yang dikenalnya itu.
“Heey, Apa kau tidak merindukan aku sama sekali?” ucap wanita cantik itu sambil melepas pelukannya.
Dia kemudian melepas kacamata hitamnya dan meletakkan di dalam tasnya. Sorot mata tajam langsung menatap Amel yang sedang berdiri di samping Rendi dengan wajah terkejut.
“Tidak,” jawab Rendi singkat.
“Kau ini kenapa dingin sekali padaku. Aku bahkan langsung terbang ke sini saat mendengarmu jatuh pingsan. Aku baru saja tiba dan langsung ke sini.” ucap wanita itu sambil mencubit pipi Rendi dengan gemas.
“Berhenti menyentuhku. Nanti pacarku akan marah!” ucap Rendi menatap tajam pada wanita itu.
Wanita itu langsung menoleh ke Amel. “Apa dia pacarmu?” tunjuk wanita itu pada Amel, yang terlihat hanya menunduk.
“Iyaa, kenalkan namanya Amel,” ucap Rendi menarik tangan Amel agar lebih dekat dengannya.
Amel merasa sedikit terkejut dan tidak percaya diri saat Rendi mengenalkannya pada Bianca.
“Aku Bianca, tunangan Rendi,” ucap wanita bernama Bianca sambil mengulurkan tangannya.
Mata Amel membelalak saat mendengar perkataan Bianca. Dia tidak langsung mengulurkan tangan. Dia merasa tubuhnya langsung lemas, tangannya terasa kaku dan mati rasa saat ingin mengulurkan tangannya.
“Berhenti menggodanya, Kak. Dia bisa salah paham nanti,” ujar Rendi dengan kesal saat Bianca mengerjai Amel.
Rendi menoleh pada Amel yang terlihat diam saja. “Dia adalah kakak sepupuku. Kakak dari kenan. Dia Dokter Spesialis Bedah Syaraf.”
Amel langsung menoleh dengan cepat saat Rendi menjelaskan pada Amel. “Maaf kak, namaku Amel.” Amel menyambut uluran tangan Bianca.
“Cantik, tapi masih cantikan aku,” ucapnya bercanda dan disambut tatapan tajam oleh Rendi.
“Kau itu jangan menatapku seperti itu, membuatku hatiku terluka tahu. Aku bahkan menempuh perjalanan dari Amerika ke sini hampir 24 jam hanya untuk bertemu denganmu.”
“Aku tidak menyurumu datang ke sini. Apa kau habis diputuskan lagi oleh pacar bulemu itu?” tanya Rendi dengan wajah datar.
“Jangan mengejekku. Aku ini sedang jomblo sekarang," ucap Bianca dengan wajah kesal. "Kenapa kau selalu saja menampakkan wajah seperti itu? Kau ini sama saja dengan Jhon selalu saja menampakkan ekperesi datar dan dingin padaku. Aku itu mengkhawatirkanmu, harusnya kau bersikap baik padaku. "
Bianca menatap tajam Rendi sambil duduk di sampingnya yang bersebrangan dengan Amel dan dokter Jhon, sementara Kenan berdiri di depan ranjang Rendi.
“Benarkah kau datang hanya karena mengkhawatirkan aku? Bukankah kau datang ke sini karena ingin menemui Jhon juga?” ucap Rendi enteng sambil melirik ke dokter Jhon.
“Hheeem.” Dokter Jhon yang mendengar namanya disebut langsung berdehem.
“Lidah ini masih saja tajam seperti dulu,” ucap Bianca saat melihat Dokter Jhon yang tampak tidak nyaman.
“Kau tidak perlu menutupinya lagi. Aku tahu kau itu suka dengan Jhon dari dulu,” ucap Rendi acuh.
“Kau ini. Apa Ellenia juga tahu kalau kau punya pacar? Kau tidak mencoba menyembunyikan pacarmu dari Ellenkan? Apa pacarmu juga tahu tentang Ellen?” tanya Bianca lalu melirik pada Amel yang terlihat pucat saat mendengar perkataannya.
“Aku permisi dulu. Kalian silahkan melajutkan pembicaraan kalian,” pamit dokter Jhon saat mendengar perseteruan Bianca dan Rendi.
Dokter Jhon kemudian berjalan keluar saat semuanya mengangguk. Dia tidak ingin terlibat lebih jauh dengan pembicaraan mereka.
“Apa kau sedang membalasku sekarang,” ujar Rendi saat melihat dokter Jhon sudah keluar dari ruangannya.
__ADS_1
“Jawab dulu pertanyaanku tadi? Apa Ellen tahu soal Amel?” tanya Bianca dengan penuh selidik.
Rendi menghela napas panjang. “Sudah.”
Bianca mendekati Rendi, dia memajukan badan kemudian membungkuk. “Kau harus memilih 1 di antara mereka Ren. Kau tidak bisa menjaga 2 hati sekaligus,” bisik Bianca tanpa didengar oleh siapapun.
“Apa kau tidak penasaran siapa Ellen, Mel?” tanya Bianca yang sudah menjauhkan tubuhnya dari Rendi sambil menatap Amel dengan senyum simpulnya.
“Kak, berhenti ikut campur urusanku!” ucap Rendi dengan suara keras.
“Siapa suruh kau mempermalukan aku di depan Jhon tadi,” ucap Bianca acuh tak acuh.
“Aku hanya membantumu. Kau harusnya berterima kasih denganku. Dari pada adikmu hanya diam saja tidak membantu apa-apa untukmu. Lebih baik kau buang saja adikmu yang tidak berguna itu,” ucap Rendi enteng.
“Heey, siapa yang kau sebut tidak berguna? Aku juga tahu kalau dia menyukai Jhon. Aku hanya tidak mau ikut campur urusannya,” ujar Kenan kesal.
“Dari mana kalian tahu kalau aku menyukai Jhon?” tanya Bianca penasaran. Dia menatap Rendi dan kenan secara bergantian.
“Apa kau tidak menyadari bagaimana wajahmu saat memandangi Jhon? Di wajahmu terpampang jelas kalau kau itu menyukai Jhon,” ujar Kenan dengan wajah malas.
“Benarkah? Apa terlihat jelas dari wajahku? Apa Jhon juga menyadarinya?”
“Kau pikir saja sendiri, Kak,” ujar Rendi acuh tak acuh.
“Heey, kenapa kau tidak pernah bilang padaku! Aku jadi malu untuk bertemu dengannya lagi,” ujar Bianca kesal.
“Kau saja yang bodoh, Kak,” timpal Kenan.
“Kau memang bodoh, Kak. Dari dulu hanya berani memandang jhon dari jauh. Kau bahkan tidak berani mengungkapkan perasaanmu kepada Jhon.”
“Itu karena aku takut dia menolakku. Dia selalu saja bersikap dingin kepadaku, bahkan saat kuliah di luar negri bersamanya. Dia bersikap dingin kepadaku. Dia akan bersikap peduli, jika ada yang mencoba menggangguku saja. Selain dari itu, dia akan cuek lagi denganku, yang dia lakukan hanyalah menjagaku, seperti pengawal pribadiku saja. Dia jarang sekali berbicara denganku. Dia tidak pernah memperlakukanku layaknya wanita pada umumnya.”
“Kak, kau pikir kenapa selama di luar negeri dia selalu menjagamu dari laki-laki yang berniat buruk padamu Dia bahkan tidak segan-segan menghajahar pria yang menyakitimu.”
“Itu karena papa menitipkan aku padanyasupaya selalu menjagaku di sana.”
Kenan menggelengkan kepalanya. “Karena kebodohanmu inilah, Kak, aku tidak pernah membantumu dan memilih untuk diam saja. Kau harusnya tahu kalau Jhon itu menyukaimu! Kau memang pintar dibidang akademis dan pekerjaanmu, tapi kau sangat bodoh dalam urusan cinta.”
Rendi tertawa lebar saat mendengar perkataan kenan. Amel hanya diam dan memperhatikan perdebatan mereka.
“Heyy ... Berhenti mengatakan kalau aku ini bodoh!” teriak Bianca.
“Kau ini, harusnya tidak mengatakan Kakakmu bodoh, walaupun kenyataannya dia memang bodoh,” timpal Rendi enteng.
“Kalian berdua! Sepertinya sudah bosan hidup ya? Jangan memancing kemarahanku,” ujar Bianca dengan tatapan tajam pada kenan dan Rendi.
“Kau jangan marah padaku, Kak. Kau tahu, kan aku sangat dekat dengan Jhon? Aku akan membantumu untuk mendekati Jhon, bagaimana?”
“Benarkah?”
“Tentu saja, kau harus bergerak cepat. Apa kau tidak takut jika Jhon akan bosan denganmu dan tertarik dengan wanita lain? Aku dengar di rumah sakit ini ada beberapa dokter cantik yang menyukainya. Dia itu populer di sini. Bahkan mama selalu saja berusaha menjodohkan dengan anak temannya. Untungnya dia selalu menolak. Bagaimana jika nanti dia bertemu dengan wanita yang bisa menggetarkan hatinya.”
“Tapi apa benar dia menyukaiku juga?” tanya Bianca dengan wajah cerah.
__ADS_1
“Melihat bagaimana dia memperlakukanmu selama ini, aku yakin dia menyukaimu, tetapi kau tahu sendiri bagaimana sifatnya. Dia tidak mungkin mengungkapkan perasaannya dengan mudah. Dia selalu memperhitungkan matang-matang sebelum bertindak. Apalagi melihat status sosial kalian sangatlah jauh. Walaupun dia sudah diangkat anak oleh mamaku, tetapi tetap saja dia selalu merasa tidak percaya diri dengan dirinya. Aku rasa dia minder padamu karena kau berasal dari kalangan atas, sementara dirinya hanyalah anak yatim.”
“Benarkah alasannya karena dia merasa minder padaku? Tapi aku tidak berniat untuk meneruskan perusahaan papa. Aku sudah mengatakan untuk menyerahkannya pada Kenan. Aku tidak ingin terlibat dalam urusan perusahaan. Aku ingin berdiri di kakiku sendiri.”
“Tetap saja, Kak. Kau bukan berasal dari kalangan biasa yang bisa dengan mudah untuk didekati,” jelas Rendi.
“Apa aku harus berubah jadi miskin dulu, baru dia mau denganku?”
Kenan tertawa mengejek saat mendengar perkataan kakaknya. “Tadinya aku pikir kau itu hanya bodoh saja, Kak, tetapi ternyata kau sangatlah bodoh.”
Bianca menggeram, dia mengalihkan pandangannya ke kenan dan memberikan tatapan menghunus kepada adiknya. “Jika kau terus mengejekku, aku pastikan kau tidak akan dapat apa-apa saat pembagian warisan nanti. Kau jangan lupa, aku adalah pewaris pertama di keluarga kita,” ancam Bianca.
Wajah kenan langsung memucat. “Baik ... baik ... Maafkan aku, Kak. Aku hanya bercanda."
Kenan berusaha menenangkan kakaknya. Dia tidak mau menjadi gembel nanti, jika benar-benar kakaknya melakukan apa yang dia katakan tadi.
“Sudaahlah, kenapa jadi membahas masalah pribadiku? Aku sampai lupa tujuanku ke sini,” ucap Bianca sambil mengibaskan rambut panjangnya ke belakang.
“Memangnya apa tujuanmu kemari?” tanya Rendi saat melihat Bianca menatapnya.
“Aku ke sini untuk menjemputmu,” jawab Bianca dengan wajah serius.
“Apa maksudmu?” tanya Rendi heran.
“Papamu memintaku untuk datang ke sini dan membawamu segera ke Amerika.”
Amel langsung menoleh ke Rendi. “Amerika? Bukankah Kakak akan kuliah di Inggris? Kenapa jadi Amerika?” tanya Amel dengan wajah terkejut.
Bianca menoleh ke Amel. “Siapa bilang aku menjemputnya untuk kuliah? Aku mejemputnya ke sini untuk....”
“Kak,” panggil Rendi dengan cepat. Dia mencoba menghentikan ucapan Bianca.
Bianca langsung terdiam saat melihat Rendi memberikan isyarat pada Bianca untuk tidak melanjutkan ucapannya.
“Maksudnya, aku ke sini untuk membawanya untuk melihat perusahaan papanya yang ada di Amerika,” ralat Bianca tersenyum kaku pada Amel.
“Kau tidak perlu sedih, Mel. Kalau Rendi pergi, masih ada aku di sini,” ucap kenan sambil tersenyum pada Amel.
“Kau jangan coba-coba dekati pacarku. Apa kau ingin berbaring di ranjang pasien bersamaku?” ancam Rendi saat melihat Kenan berusaha menggoda Amel.
“Aku hanya ingin berteman dengannya. Kau jangan terlalu mengekangnya atau kau takut dia akan tertarik padaku dan meninggalkanmu?” tanya Kenan dengan tatapan meremehkan.
“Kau lebih baik buang jauh-jauh pikiranmu itu. Amel nggak akan tertarik pada laki-laki playboy sepertimu.”
“Benarkah kau tidak tertarik sedikitpun denganku? Padahal aku sedikit tertarik denganmu saat pertama kali kita bertemu di pesta waktu itu. Sangat disayangkan kau sudah menjadi pacar Rendi saat itu,” ujar Kenan yang sudah menatap wajah Amel yang terlihat sedikit salah tingkah.
“Kau jangan memancing emosiku Kenan. Aku bisa saja menghajarmu saat ini di depan kakakmu, jika kau terus memprovokasiku,” tatap Rendi dengan tajam.
“Sudaahlah, jangan bertengkar lagi. Kenapa kalian menyukai gadis yang sama lagi? Apa kalian akan berkelahi lagi seperti dulu?” Bianca berusaha menengahi perdebatan mereka saat merasa hawa di ruangan berubah jadi panas.
Amel sesari tadi hanya diam, dia sudah tidak fokus lagi saat mendengar perkataan Bianca barusan. Terlalu banyak hal yang dia tidak tahu tentang Rendi. Amel berusaha menenangkan pikirannnya. Dia tidak boleh terpancing emosi saat ini.
Bersambung...
__ADS_1