Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Memberikan pengertian


__ADS_3

"Lalu kenapa kamu diam saja dari tadi?" tanya Rendi penasaran.


"Tidak ada apa-apa kak."


Rendi menatap Amel serius. "Apa ini ada hubungannya dengan Friska menelponku tadi? Apa kau cemburu dengannya?" tanya Rendi dengan wajah serius.


Amel menatap wajah Rendi. "Apa Friska menerima saat Kakak membatalkan pertunangan kalian?" Amel mengajukan pertanyaan tanpa menjawab pertanyaan Rendi.


Rendi meneliti wajah Amel sejenal. Dia merasa sikap Amel sedikit aneh. "Dia tidak setuju dan tidak mau melepasku. Kau tahu sendiri dia tidak akan menyerah dengan mudah."


Wajah Amel seketika murung. "Apa Kakak yakin tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Friska? Bagaimanapun dia sangat mirip dengan Kila," ujar Amel dengan suara lemah.


Rendi tidak mengerti kenapa Amel tiba-tiba bertanya seperti itu. Dia kemudian meraih dagu Amel supaya bisa bertatapan dengannya. "Untuk apa aku bersusah payah menikahimu jika aku mencintai orang lain. Apa belum cukup pengorbananku selama ini untuk meyakinkanmu kalau aku hanya mencintaimu? Jadilah milikku Mel agar kau tahu kalau aku sangat mencintaimu."


"Aku hanya takut Kakak akan berpaling dariku nanti. Bagaimanapun Kila adalah cinta pertama Kakak, pasti sulit untuk menghilangkan perasaan Kakak terhadapanya. Seperti halnya aku yang tidak pernah bisa berpaling dan melupakan Kakak. Apalagi Friska sangat mirip dengan Kila. Bisa saja perasaan Kakak mulai tumbuh untuk Friska karena kemiripan mereka."


Saat Rendi akan menjawab pertanyaan Amel, ada telpon masuk lagi dari ponselnya. Rendi berdiri lalu mengangkat telponnya. Dia berjalan menjauh dari Amel. Wajah Rendi berubah menjadi tegang saat sedang berbicara di telpon, kemudian dia menoleh pada Amel yang tampak sedang menatapnya dengan tatapan menyelidik.


Rendi kembali berjalan mendekati Amel setelah menutup telponnya. “Mel, aku harus pergi. Kau tunggulah di sini sampai Devan menjemputmu,” ucap Rendi sambil berjalan mendekati lemari pakaian kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Beberapa menit kemudian dia keluar lagi dari kamar mandi setelah berganti pakaian. Ada gurat kecemasan tergambar di wajahnya. “Kakak mau kemana?” tanya Amel saat melihat Rendi sedang memegang ponselnya sambil duduk di tepi tempat tidur.


Rendi menatap Amel sekilas lalu kembali fokus pasa ponselnya. “Aku harus menemui Friska, nanti aku akan menghubungimu lagi,” ucap Rendi sambil berjalan dan mengambil kunci mobil.


“Kalau aku melarang Kakak untuk menemuinya, apa Kakak masih akan pergi?” tanya Amel sambil menatap ke arah Rendi.


Ucapan Amel membuat langkah Rendi berhenti. “Apa maksudmu?” Rendi berbalik lalu menatap heran pada Amel.


"Aku melarang Kakak untuk menemuinya." Amel berdiri lalu mendekati Rendi yang sudah berada di dekat pintu dengan wajah serius.


Dahi Rendi mengerut. “Mel, aku harus menemuinya. Saat ini dia sedang membutuhkan aku,” ucap Rendi sambil memegang tangan Amel.

__ADS_1


“Apa Kakak menyesal telah membatalkan pertunangan kalian? Apa Kakak baru menyadari kalau Kakak mencintainya dan tidak mau melepasnya?” tanya Amel dengan suara bergetar.


Rendi menatap mata Amel secara bergantian. "Aku memang menyayangi Friska, tapi tidak seperti yang kau pikirkan. Maaf Mel, aku akan tetap pergi walaupun kau melarangku."


Seluruh badan Amel menegang, badannya terasa kaku dan matanya berkaca-kaca saat mendengar perkataan Rendi. "Jadi Kakak lebih memilih menemuinya walaupun aku sudah melarang Kakak? Kenapa Kakak tidak bilang dari awal kalau Kakak menyayanginya?" tanya Amel dengan suara bergetar.


"Dari dulu hanya dia yang selalu ada di saat aku terpuruk. Mulai dari kematian Kila dan saat kau memutuskan hubungan kita. Aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja, Mel. Selama ini aku sudah bersikap buruk padanya, padahal orang yang paling berjasa dalam hidupku adalah dia. Aku sudah menorehkan luka yang dalam padanya, jadi aku tidak bisa mengabaikannya lagi kali ini. Aku harus menemuinya. Aku akan menjelaskan padamu nanti apa yang terjadi sebenarnya. Aku harus pergi sekarang, Mel."


Amel berusaha sekuat tenaga untuk menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Amel tidak menyangka kalau Rendi menyayangi Friska. Dia berpikir kalau perasaan Rendi masih untuknya, walaupun Amel sempat meragukannya, tapi setelah mendengar perkataan Rendi yang barusan membuatnya yakin kalau perasaan Rendi sudah terbagi.


Amel meraih tangan Rendi saat dia akan keluar dari kamar. “Tunggu!” ucap Amel dengan suara dingin.


Rendi menoleh pada Amel. “Kalau Kakak memang memilih untuk pergi menemuinya, meskipun aku sudah melarang Kakak. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu pergilah. Temui dia, tapi jangan harap kali ini aku akan kembali padamu, Kak. Aku akan menerima lamaran kak Evans saat ini juga kalau kau pergi untuk menemuinya,” ucap Amel dingin.


Rendi sangat terkejut mendengar perkataan Amel. Dia kemudian membalikkan badannya menghadap Amel dan menatap tidak percaya padanya. “Maafkan aku Mel, tapi aku benar-benar harus pergi. Aku tahu saat ini kau sedang emosi, jadi kau berkata seperti itu. Setelah aku menemui Friska kita bicarakan lagi.”


“Maaf Kak, tapi aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita lagi. Kau bisa menikahi Friska kalau kau mau. Aku yang akan pergi dari hidupmu.” Amel berdiri lalu berjalan meninggalkan Rendi.


Amel mencoba melepaskan tangannya dari Rendi. “Lepas, Kak. Biarkan aku pergi!” ucap Amel dengan suara tinggi.


“Aku tidak akan melepaskanmu. Kamu salah paham, Mel. Aku...”


“Ting...tong.” Terdengar suara bel kamar berbunyi. Rendi mengalihkan pandangannya ke arah pintu lalu berdiri di depan Amel. “Kamu tunggu di sini. Aku akan buka pintu dulu. Nanti akan kujelaskan, kau hanya salah paham,” ucap Rendi sambil melepaskan tangannya dari Amel.


Rendi membuka pintu, terlihat 2 orang dari bagian room service sedang membawa makanan yang di pesan oleh Rendi. “Langsung letakkan saja di meja,” ucap Rendi sambil membuka pintu lebar.


Setelah 2 orang itu masuk dengan mendorong troli yang berisikan berbagai jenis makanan, Amel langsung berjalan keluar setelah melihat pintu masih terbuka. Rendi yang menyadari Amel sudah pergi langsung mengejar Amel.


“Mel, tunggu!” teriak Rendi.


Rendi terus memanggil Amel, tapi Amel tidak merespon panggilannya. Dia terus berjalan sambil mengusap air matanya. “Apa kau tidak dengar kalau aku memanggilmu dari tadi? Bukankah aku sudah menyuruhmu tunggu di dalam!” Dengan wajah marah Rendi menahan lengan Amel saat dia tidak menghiraukan panggilannya.

__ADS_1


Amel tak hanya diam, dia mencoba melepaskan tangannya. “Lepas Kak!” ucap Amel ketika Rendi menariknya tangannya untuk masuk ke dalam kamarnya lagi. “Aku bilang lepaskan aku Rendi,” teriak Amel lagi setelah mereka sudah berada di dalam kamar Rendi. Amel terus memberontak dan ingin berjalan keluar lagi dari kamar.


Rendi terkejut saat mendengar Amel memanggil hanya menggunakan namanya tanpa embel-embel kak di depannya. Selama ini semarah apapun Amel, dia tidak pernah memanggil namanya langsung. Melihat Amel terus memberontak, Rendi langsung memeluk erat Amel supaya dia tidak bisa memberontak lagi.


“Apa kau tidak mendengarku?” Amel berucap dengan suara dingin.


“Tinggalkan saja di situ, kalian cepat keluar!” ucap Rendi saat melihat pelayan itu belum selesai menata makanan di atas meja.


Mereka langsung berjalan keluar dan meninggalkan troli makanan di dalam kamar dan berjalan keluar lalu menutup pintu kamar Rendi.


“Lepaskan aku! Aku mau pergi!”


“Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu tenang dan mau mendengarkan penjelasanku.” Amel tidak menjawab perkataan Rendi dan hanya menangis dengan suara pelan.


Rendi mengelus kepala Amel dengan lembut saat Amel tidak memberontak lagi. “Kamu salah paham, Mel. Aku menyayangi Friska seperti adikku. Aku hanya tidak mau menjauhinya seperti dulu, mengingat apa yang sudah dia lakukan selama ini kepadaku. Dia sudah cukup menderita karena aku menjauhinya dulu. Aku akan memberikan pengertian kepadanya pelan-pelan. Apa kau tahu, dia hampir mati saat aku memutuskan pertunanganku dengannya. Dia mencoba bunuh diri dengan cara mengiris urat nadinya dengan pisau. Saat ini dia masih di rumah sakit, Mel. Dia sedang menungguku,” Rendi berusaha untuk memberikan pengertian kepada Amel.


Amel menghentikan tangisnya lalu mendongakkan kepalanya pada Rendi. “Friska mencoba bunuh diri?” tanya Amel pelan.


Rendi mengangguk. “Saat kau menyuruhku untuk menjauhimu. Aku langsung menemuinya dan memutuskan pertunaganku dengannya. Karena tidak terima dengan keputusanku, Friska yang marah dan langsung mengiris pergelangan tangannya. Aku sudah mencoba menghentikannya, tapi terlambat. Saat itulah orang tuaku marah denganku. Mereka menyuruhku meninggalkan semua yang aku punya jika aku tetap membatalkan petunangaku dengan Friska. Dia sudah sangat menderita Mel karena perlakuanku padanya. Harusnya aku memberikan pengertian dengan cara yang lembut, bukan malah menjauhi dan tidak memperdulikannya.”


Amel melepaskan pelukan Rendi. “Pergilah. Friska pasti sangat membutuhkanmu.” Amel merasa bersalah setelah mendengar penjelasan Rendi.


“Aku akan menghubungimu nanti.” ucap Rendi setelah mengecup kening Amel lalu berjalan keluar. Amel hanya diam sambil menatap ke arah pintu kamar yang sudah tertutup.


Amel memutuskan untuk menghubungi Devan untuk segera menjemputnya, setelah itu dia meraih tasnya dan berjalan keluar dari kamar Rendi. Tubuhnya terasa berat, kepalanya pusing karena dia belum memakan apapun dari pagi. Amel berjalan menuju loby hotel setelah pintu lift terbuka.


Amel menunggu di sofa yang ada di loby sambil menyandarkan tubuhnya. Dia mencoba memejamkan matanya sejenak. Hatinya mulai goyah saat mendengar perkataan Rendi tentang Friska. Secara tidak langsung dia yang membuat Friska mencoba bunuh diri. Jika saja dia bisa merelakan Rendi, mungkin saja mereka sudah hidup bahagia. Friska tidak mungkin mencoba untuk bunuh diri.


Amel merasa kalau perasaan Friska jauh lebih besar daripada perasaannya pada Rendi. Setelah dia berpikir lagi. Friskalah yang lebih pantas untuk bersama Rendi. Amel merasa kalau dia hanya penghalang untuk hubungan Rendi dan Friska.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2