Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Kebenaran Yang Terungkap


__ADS_3

“Apa kau impoten?” tanya Dokter Jhon setelah melihat Rendi sudah duduk di depannya.


“Kau menyumpahiku atau meremehkan aku?” tanya Rendi dengan wajah kesal.


Amel menahan senyumnya saat mendengar pertanyaan Dokter Jhon pada Rendi.


“Kalau kau tidak impoten. Bagaimana mungkin kau bisa yakin Amel bisa hamil anakmu?"


Rendi terlihat mengerutkan keninganya karena tidak mengerti maksud dari perkataan dokter Jhon. "Jadi Amel tidak hamil?"


Dokter Jhon menatap acuh tak acuh pada Rendi. "Dia bahkan masih perawan. Selaput darahnya masih utuh. Tidak ada tanda-tanda dia pernah melakukan hubungan seksual,” jelas dokter Jhon dengan tatapan kesal.


“Aku sudah menduganya kalau kau pasti berbohong padaku. Kau tidak mungkin menghamilinya. Kau lihat hasil pemeriksaan USG Amel, tidak ada apa-apa di perutnya.” lanjut dokter Jhon sambil melemparkan foto hasil USG Amel di meja.


“Mak-maksudmu Amel masih virgin? Dia tidak pernah disentuh siapapun?” tanya Rendi dengan wajah terkejut.


“Apa belum cukup jelas ucapanku barusan? Kau sudah membuatku malu. Clarisa bahkan menertawakanku tadi,” ucap dokter Jhon dengan raut wajah kesal.


Rendi langsung menoleh pada Amel. “Jadi Devan belum menyentuhmu? Kau tidak hamil? Dia berbohong padaku?” tanya Rendi dengan wajah senang.


Amel menghela napas lembut. “Bukankah sudah kubilang kalau aku tidak mungkin hamil, Kak. Aku saja belum pernah tidur dengan siapapun, bagaimana bisa aku hamil?” Amel berucap dengan pelan karena malu karena masih ada dokter Jhon yang sedang menatap aneh pada mereka.


“Lebih baik kalian pergi. Jangan menampilkan kemesraan kalian di sini,” ucap dokter Jhon saat melihat Rendi memeluk Amel dengan wajah bahagia di depannya.


Rendi menoleh pada dokter Jhon. “Terima kasih, Jhon. Aku bahagia sekali saat ini." Rendi tersenyum sangat lebar.


“Pergilah. Jangan menggangguku dengan leluconmu. Aku sedang sibuk.”


Rendi dan Amel berdiri. “Kami pulang dulu. Jangan lupa, persiapakan pesta pernikahan yang paling megah untukku. Aku ingin pesta pernikahan yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku,” ujar Rendi dengan wajah bersemangat.


“Kau ini merepotkanku saja,” ucap dokter Jhon dengan wajah kesal.


"Itu sudah menjadi tugasmu sebagai Kakakku." Rendi tersenyum penuh kemenangan kemudian mengajak Amel keluar dari ruangan dokter Jhon. Dia kembali melajukan mobilnya menuju hotelnya.


Rendi langsung mengajak Amel masuk ke kamarnya karena dia mempunyai banyak pertanyaan pada Amel. Rendi mengajak Amel duduk bersebelahan dengannya. Rendi merubah posisi duduknya berhadapan dengan Amel sebelum membuka suaranya.


“Kenapa kamu nggak bilang padaku kalau Devan tidak pernah menyentuhmu? Aku mengira kalau kalian benar-benar sudah melakukannya.”


Amel menghela napas halus. “Aku sudah bilang kalau Kakak salah paham dengan kami. Aku bermaksud meminta kak Evans untuk menjelaskan pada Kakak tadi, tapi Kakak malah membawaku pergi begirtu saja. Aku takut kalau aku menjelaskan sendiri Kakak nggak akan percaya denganku,” ucap Amel dengan lembut.


“Maafkan aku. Seharusnya aku mencari kebenarannnya dulu. Aku hanya berpikir kalau kau mulai mencintainya sehingga kau melakukannya dengan Devan.”


Amel menatap Rendi dengan wajah serius. “Aku hanya menepati janjiku padamu untuk menjaga kehormatanku. Kak Devan juga tidak mungkin berani menyentuhku. Dia bukan laki-laki brengksek yang akan memanfaatkan kesempatan yang ada.”


Rendi langsung memeluk Amel. “Terima kasih Mel karena kau telah menjaga dirimu untukku.” Rendi memeluk Amel sangat erat, seolah takut Amel akan pergi meninggalkannnya.


Amel melepaskan pelukan Rendi dan memegang wajah Rendi yang ditampar oleh Lilian tadi. “Apa masih sakit?” Amel kembali merasa bersalah. Dia masih ingat dengan jelas bagaimana ibu Rendi menamparnya anaknya.


Rendi mengangguk. “Sakit sekali, apa kau tidak mendengar suaranya tadi?" tanya Rendi sambil menampilkan wajah memelas.

__ADS_1


“Maafkan aku, Kak. Ini semua karena aku,” ucap Amel dengan pelan.


Rendi kemudian mendekatkan wajahnya pada Amel. “Kamu harus menciumku lima kali di tempat mama menamparku tadi.”


Wajah Amel seketika memerah. “Aku akan mengompresnya dengan air dingin saja,” ucap Amel dengan wajah menunduk.


“Aku tidak mau. Kamu harus bertanggung jawab. Mama marah sekali padaku tadi. Apa kamu tidak melihat wajahku masih memerah? Cepat cium aku. Kau harus terbiasa. Sebentar lagi kita akan menikah, kau akan sering melakukannya untukku nanti.”


Amel mengakat kepalanya. “Tutup matamu. Kau tidak boleh melihat,” ucap Amel malu-malu.


“Baiklah. Aku akan menutup mataku,” ucap Rendi sambil menutup matanya.


Amel mulai mencium pipi Rendi dengan cepat. Saat ciuman terakhir Rendi membuka matanya. Dengan cepat dia meraih wajah Amel dan mencium bibirnya.


“Ini adalah hukuman untukmu karena kau sudah membuatku khawatir saat kau menghilang,” ucap Rendi setelah menggigit pelan bibir bawah Amel.


Amel mendorong tubuh Rendi. “Itu salahmu sendiri. Kau mengabaikan aku,” ucap Amel dengan wajah cemberut.


Rendi membelai wajah Amel. “Maafkan aku, Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku berjanji,” ucap Rendi bersungguh-sungguh. “Lalu apa yang sebenarnya terjadi saat kau menghilang beberapa hari yang lalu ?” tanya Rendi penasaran.


Flashback 5 hari yang lalu..


Devan memasuki kamar Amel lagi. Setelah perdebatan Devan dan Amel kemarin  Amel tidak mau makan. Dia selalu menolak makanan makanan yang diberikan oleh Devan. Amel selalu berbaring di tempat tidur. Dia hanya menangis. Dia juga terlihat sangat lemas.


“Mel. Makanlah. Kamu bisa sakit nanti,” bujuk Devan setelah dia meletakkan makanan di atas nakas di samping tempat tidur Amel.


“Aku tidak lapar, Kak,” jawab Amel tanpa menoleh pada Devan.


“Tidak bisakah kamu melupakannya dan memulai hidup bersamaku, Mel? Aku sangat mencintaimu Mel. Dari kita kecil hingga saat ini, aku hanya mencintaimu. Aku sudah mau merelakanmu, tetapi melihat dia masih peduli dengan wanita lain, aku tidak bisa melepasmu dengannya. Aku tidak mau dia menyakitimu, Mel.”


Amel mulai terisak lagi. Suara isak tangisnya terdengar lirih di telinga Devan. “Bagunlah, Wku ingin berbicara serius padamu.” Devan tidak bisa melihat Amel terus-menerus menangis.


Devan membuka selimut Amel dan memegang bahunya. “Kita harus bicara,” lanjut Devan lagi saat melihat Amel tidak juga bergerak.


Amel bangun dari tidurnya lalu duduk sambil menunduk. “Aku akan bertanya sekali lagi padamu. Jawabanmu akan menentukan sikap yang akan aku ambil nanti,” ucap Devan sambil menatap Amel yang masih tertunduk.


Amel masih diam, Devan kemudian memegang bahu Amel. “Kalau kau disuruh memilih antara aku dan Rendi, siapa yang akan kau pilih untuk tetap hidup?” Amel langsung mengangkat kepalanya. “Jangan seperti ini, Kak. Aku tidak bisa memilih. Kalian sama berartinya dalam hidupku. Aku tidak akan memilih di antara kalian. Lebih baik aku yang pergi dari hidup kalian.”


“Apa kau sungguh tidak bisa membuka hatimu untukku, Mel?” tanya Devan dengan raut wajah sedih.


Amel menunduk lagi. “Maaf, Kak. Aku tidak bisa mencintaimu. Aku sudah pernah mencoba untuk membuka hatiku dulu saat kepergian Rendi, tetapi tidak bisa. Aku sangat mencintainya kak.”


“Bagaimana kalau aku tetap tidak mau melepasmu dan tetap melanjutkan rencana pernikahan kita?”


Amel menatap mata Devan dengan sendu. “Lakukanlah Kak. Kau bisa memilikiku tubuhku, tetapi kau tidak bisa memiliki hatiku. Aku tidak bisa memberikan hatiku untukmu, Kak. Rendi sudah mengambil semua rasa cintaku. Aku tidak bisa membaginya untukmu. Kalau menikah adalah salah satunya cara yang bisa membuatmu bahagia. Aku akan menikah denganmu. Aku anggap ini sebagai salah satu cara untuk membalas semua kebaikanmu dan keluargamu dulu. Aku akan mengesampingkan kebahagianku. Selama ini kau selalu mengutamakan kebahagianku, aku akan mengalah kali ini,” ucap Amel dengan suara bergetar. Dia mengusap air mata yang baru saja menetes di pipinya.


“Apa kau yakin mau menikah denganku?”


“Aku tidak punya pilihan lain, Kak. Ibuku juga sudah menyetujui pernikahan ini, aku sudah tidak bisa menolak lagi.”

__ADS_1


Devan terdiam setelah mendengar perkataan Amel. Dia tampak berpikir keras. Dia kemudian meraih makanan yang ada di atas nakas. “Makanlah. Aku tidak mau kau sampai sakit,” ucap Devan sambil menyodorkan nampan yang berisi makanan di pangkuan Amel.


“Nanti aku akan memakannya kalau aku lapar,” ucap Amel sambil mendorong nampan itu lagi.


“Aku akan membatalkan pernikahan kita. Makanlah,” ucap Devan lagi.


“Maksud Kakak?” tanya Amel dengan wajah terkejut.


“Aku akan melepasmu, tetapi aku harus melihat keseriusan Rendi dulu. Kalau dia bisa membuktikan kalau dia memang mencintaimu melebihi aku. Aku akan membatalkan pernikahan kita. Aku juga akan berbicara dengan ibumu. Dia harus membuktikan dulu kalau dia memang pantas untukmu. Aku harus melihat bagaimana perjuangan dia untuk mendapatkanmu kembali,” jawab Devan dengan wajah serius.


“Dengan cara apa, Kak? Kau tidak mungkin akan berkelahi dengannya, kan?” tanya Amel dengan cemas.


“Tidak, aku memiliki cara yang bisa membuktikan kalau dia benar-benar mencintaimu dan tidak akan meninggalkanmu suatu saat nanti apapun keadaanmu. Aku tidak bisa memberitahumu, nanti kau akan tahu sendiri.”


“Apa Kakak serius akan membatalkan pernikahan kita kalau Rendi bisa membuktikannnya nanti?”


“Iyaa. Aku tidak akan mengingkari janjiku Mel. Setelah dia berhasil membuktikannya, aku akan menyerahkanmu padanya. Dia yang akan menggantikan aku untuk menikahimu. Sebelum itu terjadi, bisakah aku menghabiskan waktu berdua saja denganmu. Aku ingin membuat kenangan yang indah bersamamu untuk terakhir kalinya."


“Kita masih bisa bertemu setiap hari, Kak. Rendi tidak akan melarangku untuk bertemu denganmu.”


Devan menggeleng. “Aku akan menetap di Singapura setelah kau menikah dengan Rendi. Aku akan memastikan pernikahanmu berjalan lancar, setelah itu aku akan pergi.”


Air mata Amel menetes lagi. “Jangan pergi, Kak. Aku mohon,” ucap Amel sambil terisak.


“Aku tidak bisa tinggal di sini lagi, Mel. Sangat berat untukku melihatmu hidup bersama orang lain. Aku akan kembali lagi ke sini juga aku sudah bisa menghikangkan perasaanku padamu.”


Amel memeluk Devan. “Maafkan aku, Kak. Maafkan kalau aku karena tidak bisa membalas perasaanmu. Maafkan karena aku hanya bisa menyakitmu terus,” ucap Amel sambil terisak.


Devan melepaskan pelukan Amel dan mengusap air mata di pipi Amel. “Jangan menangis lagi. Seharusnya aku yang meminta maaf karena kemarin aku sudah bersikap keras padamu.”


Amel menggeleng kuat. “Tidak, Kak. Aku tahu kalau kau melakukan itu untuk kebaikanku. Aku sangat bertetima kasih karena selama ini kakak selalu berada di sampingku saat aku terpuruk. Selama ini, kau selalu mengorbankan kebahagianmu hanya untuk melihatku bahagia. Kau boleh marah denganku, Kak. Kau berhak membenciku.”


Devan tersenyum sambil merapikan anak rambut Amel yang berada di dahinya. “Hiduplah dengan bahagia, Mel agar aku bisa pergi dengan tenang nanti. Untuk beberapa hari ke depan aku yang akan memegang ponselmu. Aku ingin melihat bagaimana perjuangannya untuk menemukamu,” ucap Devan sambil berdiri.


“Makanlah. Eetelah ini kita akan pergi ke villaku yang ada di Bandung. Kita akan tinggal di sana sementara sampai Rendi datang menjemputmu. Aku harus memberikan dia pelajaran terlebih dahulu sebelum aku menyerahkanmu padanya.”


“Berjanjilah, Kak, jangan menyakitinya. Ku tahu sendiri bagaimana kondisinya. Aku hanya takut terjadi apa-apa dengannya,” ucap Amel dengan wajah khawatir.


Devan menoleh pada Amel. “Kau tenang saja, aku hanya akan membuatnya menderita sementara waktu. Mungkin saja dia akan menggila saat tidak mengetahui keberadaanmu. Dia harus merasakan rasanya kehilangan seperti apa, walaupun hanya untuk sementara supaya ke depannya dia akan lebih berhati-hati lagi.”


“Asalkan kamu tidak memukulnya, Kak.”


“Atau kita pura-pura saja memakai baju pernikahan dan mengirimkan foto padanya? Aku ingin tahu bagaimana reaksinya? Mungkin saja dia bisa terkena serangan jantung sehingga aku tidak perlu bersusah payah untuk menyingkirkannnya,” goda Devan.


"Kaaak."


“Aku hanya bercanda,” lanjut Devan lagi saat melihat Amel sedang menatapnya dengan tajam.


“Makanlah. Aku akan bersiap-siap dulu. Setelah itu, kita akan langsung berangkat ke Bandung,” ucap Devan sebelum meninggalkan kamar Amel.

__ADS_1


Flashback Off..


Bersambung...


__ADS_2