
Devan mengajak Amel untuk berbicara dengannya di ruang tamu. Mereka duduk di sebuah kursi yang menghadap ke arah jendela luar. Amel menatap Devan dengan tatapan tidak dimengerti.
“Apakah Kakak harus pergi ke Singapura? Tidak bisakah Kakak tinggal di sini saja?”
Devan tampak menatap ke arah bawah sengaja menghindari tatapan Amel. “Ya, aku harus pergi Mel. Aku tidak bisa tinggal di sini lagi.” Terdengar suara berat dari Devan. Dia seperti sedang menahan sesuatu dalam dirinya.
Mata Amel mulai berkabut. “Bukankah Kakak pernah bilang tidak akan pernah meninggalkan aku lagi seperti dulu?”
Devan mengangkat kepalanya menatap Amel. “Iyaa, tapi sekarang keadaannya berbeda Mel. Sudah ada Rendi yang akan menjagamu. Aku tidak tahu tindakan apa yang akan aku lakukan jika aku masih tinggal di sini. Aku hanya takut akan berbubah pikiran dan membawamu pergi, Mel. Mungkin kau tidak tahu sebesar apa cintaku padamu. Aku menyukaimu dari kecil, Mel. Tidak mudah bagiku melihatmu menikah dengan orang lain.”
Seketika wajah Amel menjadi mendung. "Maafkan aku Kak karena tidak bisa membalas perasaanmu." Amel menunduk, merasa sangat bersalah pada Devan.
"Kau tidak salah Mel, hanya saja takdir tidak memihak padaku. Ini adalah kesalahanku karena meninggalkanmu waktu itu. Seandainya dulu aku tetap di sampingmu, mungkin saja aku yang sekarang ada di sisimu."
Devan mencoba untuk menahan sesak di dadanya ketika kembali teringat kalau dia sudah tidak bisa memiliki Amel karena Amel sudah menjadi milik orang lain.
"Aku sempat menyesali keputusanku waktu itu. Seharusnya aku mencarimu lebih awal. Berkali-kali aku menyalahkan diriku karena meninggalkanmu tanpa berpamitan terlebih dahulu. Aku juga tertekan saat itu Mel. Aku pikir kau tidak akan pernah melupakanku jadi aku sedikit menghibur diriku dengan berpikir kalau kau pasti akan menungguku. Tapi, ternyata kenyataan berkata lain. Kau bahkan tidak mengenaliku saat pertemuan pertama kita. Itu membuat hatiku sakit. Ketika aku mengetahui kau sudah memiliki pacar aku sangat kecewa padamu. Padahal, dulu kau yang berjanji akan menikah denganku." Devan berusaha menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan.
"Aku marah padamu karena kau tidak memegang janjimu. Aku menganggap kau menghianatiku, tapi nyatanya aku sendirilah yang memberikan celah kepada laki-laki lain untuk masuk ke dalam kehidupanmu. Aku berusaha untuk merebutmu kembali karena kupikir kau memang milikku. Tidak seharusnya kau bahagia dengan laki-laki lain. Ternyata cintamu tidak tergoyahkan. Penyesalan terbesarku adalah meninggalkanmu sendiri ketika kau sangat membutuhkanku saat itu." suara Devan tampak bergetar.
Tampak jelas penyesalan yang begitu dalam pada raut wajah Devan. "Maafkan aku Mel karena sudah telah meninggalkanmu sendiri waktu itu. Pasti berat untukmu melalui hari-hari tanpa ada aku di sisimu." Air mata Devan lolos begitu saja.
Melihat Devan menitikkan air mata, Amel langsung memeluknya dan menangis. "Aku memang sempat menyalahkanmu karena meninggalkanku tanpa berpamitan terlebih dahulu. Tidak ada satu hari pun aku lewatkan tanpa menyalahkanmu. Kau seharusnya tahu, kalau dulu aku sangat bergantung padamu. Hanya kau yang aku miliki. Kau menyembuhkan luka yang ditorehkan oleh ayahku tetapi kau jugalah yang menorehkan luka baru dengan cara meninggalkanku tanpa kabar seperti yang ayahku lakukan padaku."
Hidup tanpa seorang ayah sangat berat dijalani oleh Amel dan ibunya. Dihina dan diremehkan karena tidak memiliki seorang ayah sudah menjadi makanan sehari-hari Amel. Sampai Devan hadir dalam hidupnya. Kehidupan Amel perlahan berubah.
Devan melindungi Amel dari orang-orang yang sering menyakitinya. Tidak ada lagi yang berani mengganggu Amel karena keluarga Devan memiliki pengaruh besar dikampung Amel.
__ADS_1
"Maafkan aku Mel. Maafkan aku." Devan melepaskan pelukannya. "Mungkin memang ini sudah jalan kita, Mel. Aku akan berusaha menerimanya dengan lapang dada."
Amel menghapus air matanya. "Aku hanya berharap kedepannya, tidak akan ada lagi yang menyakitimu seperti yang kulakukan padamu saat ini. Kuharap kau bisa hidup dengan baik dan selalu bahagia, Kak."
"Terima kasih Mel. Aku harap kau juga selalu bahagia. Jika suatu saat Rendi menyakitimu beritahu aku, Mel. Aku akan menjemputmu dan membawamu pergi. Tak akan kubiarkan orang lain menyakitimu lagi," ucap Devan sungguh-sungguh.
"Rendi tidak akan pernah menyakitiku, Kak. Dari dulu sampai sekarang dia selalu memperlakukan aku dengan baik, bahkan selama ini aku yang selalu menyakitinya."
"Yaa, semoga selamanya tetap begitu. Hiduplah dengan bahagia Mel. Hanya dengan cara itu, aku bisa hidup dengan tenang tanpa menghawatirkanmu."
Amel tersenyum tulus sambil mengangguk. "Baik Kak. Aku berharap Kakak juga bisa memulai hidup yang baru tanpa bayang-bayang masalalu."
"Iyaa."
"Jam berapa keberangkatan Kakak?" Amel baru saja teringat kalau dia belum tahu jam keberangkatan Devan.
"Aku ingin mengantar Kakak sampai bandara."
Amel tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk melihat Devan terakhir kalinya sebelum dia berangkat ke Singapore.
"Baiklah. Apa Rendi tahu kalau kau ingin mengantarku sampai bandara?"
"Aku belum bilang Kak. Aku akan meminta ijin padanya nanti."
"Baiklah."
"Kak, ada yang mau tanyakan kepada Kakak."
__ADS_1
Devan menatap Amel dengan wajah penasaran. "Apa?"
"Ada hubungan apa Kakak dengan Friska? Kenapa Kakak pergi ke Singapura dengannya?” Amel merasa heran ketika tahu Devan akan pergi dengan Friska ke Singapura.
Devan bukankah tipe pria yang mudah dekat dengan wanita mana saja. Dia cendrung suka menjaga jarak dengan wanita yang belum dikenalnya atau yang tidak terlalu dekatnya.
“Aku harus membawanya bersamaku. Aku tidak bisa meninggalkannya dia di sini dengan kondisinya yang masih labil. Aku hanya takut kalau dia akan merusak hubunganmu dengan Rendi.” ucap Devan dengan suara berat. Dia berusaha untuk menghindari tatapan menyelidik Amel.
“Apa Kakak yakin hanya karena itu?” Amel masih menatap penuh selidik pada Devan. Menurutnya sikap Devan kali ini diluar kebiasaannya.
Devan berjalan mendekati jendela lalu menatap keluar. Mereka berdua sedang berada di ruang keluarga. “Selain itu, aku juga takut kalau dia akan bunuh diri lagi. Harus ada yang mengawasinya sampai dia bisa melewati masa sulitnya.”
Amel ikut berdiri di samping Devan. “Kak, aku mengenalmu dengan baik. Selama ini kau tidak pernah peduli dengan wanita manapun. Apa Kakak mulai menyukainya?”
Devan menoleh sejenak pada Amel. “Tidak. Aku hanya kasihan padanya. Aku rasa dia sebenarnya wanita yang baik, hanya saja caranya mencintai Rendi yang salah.”
“Kau juga laki-laki yang baik Kak. Aku harap kau bisa cepat menemukan cinta sejatimu,” ucap Amel tulus.
“Aku belum memikirkan hal itu Mel. Melupakanmu adalah hal tersulit bagiku. Aku sudah menyukaimu sejak lama. Tidak mudah bagiku untuk mencari penggantimu.”
Amel merasa bersalah setelah mendengar perkataan Devan. “Maafkan aku, Kak."
Devan mengusap pundak Amel. "Jangan pernah meminta maaf lagi mengenai hal itu, Mel. Kau tidak salah." Devan tidak ingin larut lebih lama lagi dalam kesedihan. "Lebih baik kita kembali, sebelum Rendi mencarimu. Aku takut dia akan salah paham padaku." Devan berdiri diikuti oleh Amel.
"Iyaa Kak." Tanpa mereka sadari tadi ada mata yang selalu mengawasi mereka berdua.
Bersambung..
__ADS_1