Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Pulang


__ADS_3

"Ini kan juga karena ulah Mama, makanya Amel tersedak." Rendi melirik tajam pada ibunya.


Mama Rendi mengalihkan pandangannya kepada Amel. "Maaf ya Amel, Tante cuma bercanda." Lilian tersenyum kepada Amel.


"Iyaa, nggak apa-apa, Tante."


"Tapi kalau kamu nganggepnya serius juga nggak apa-apa kok, Tante setuju," goda Lilian kembali, "tante juga pengen cepet dapet cucu, biar di rumah jadi rame."


"Bagaimana kalau cucunya duluan, nikahnya nanti," timpal Rendi dengan senyum jailnya.


Astaga...!!


Amel menatap tajam Rendi, seolah ingin menyumpal mulutnya.


Lilian melempar bantal sofa pada Rendi dengan wajah kesal. "Kamu jangan macem-macem ya,Ren!" ujar Lilian menatap tajam anaknya.


Terlihat Rendi menghindari bantal yang mengarah kepadanya. "Katanya Mama pengen cepet dapet cucu. Kalau nunggu nikah kelamaan, Rendi kan belum lulus. Rendi masih mau kuliah juga." Rendi mengerjai balik ibunya.


"Bukan itu maksud mama. Awas ya kalau sampe kamu aneh-aneh. Mama usir kamu dari rumah," ucap Lilian memandang anaknya dengan wajah sebal.


"Becanda Ma, nggak mungkinlah Rendi kayak gitu, kecuali Amelnya mau."


"Rendi!" Lilian terlihat melemparkan tatapan mematikan pada anak laki-lakinya.


Rendi hanya tersenyum melihat mamanya yang sudah mulai marah. Sementara Amel, sudah tidak ada niat untuk melanjutkan makannya. Seleranya tiba-tiba hilang mendengar perkataan sepasang anak dan ibu itu.


Terdengar kembali suara bel kamar Rendi. Kali ini, Sofi yang berjalan ke arah pintu untuk membukanya. Dia masuk beserta seorang D


dokter yang masih muda sekitar 28 tahun dan tampan.


Semua orang menoleh saat Sofi masuk dengan seseorang. "Siang Nyonya," sapa Dokter itu kepada Lilian.


"Siang Jhon, duduklah." Lilian mengarahkan tangannya pada sofa yang kosong.


"Ren, kamu sudah selesai makan, 'kan?" Lilian menoleh ke Rendi.


"Sudah, Ma."


"Ya sudah, kamu mendingan rebahan di tempat tidur, biar kamu bisa langsung diperiksa," perintah Lilian.


Rendi berjalan pelan ke tempat tidur lalu merebahkan tubuhnya, diikuti oleh okter Jhon yang sudah mendekat pada Rendi.


Dokter Jhon mulai memeriksanya dan mengecek tubuh Rendi, apakah terdapat luka yang serius. Setelah itu, dia memberikan suntikan dan mengeluarkan beberapa obat yang di letakkan di nakas. Setelah selesai, dia berbalik menghadap Rendi.


"Ren, sementara jangan banyak aktifitas dulu. Kamu harus banyak istirahat. Aku sudah memberimu obat minum dan salep. Untuk salepnya, dioles 3x1 hari, tapi lukanya harus dibersihkan terlebih dahulu."


"Apa tidak perlu Rontgen atau CT Scan?"


"Sementara belum, tapi kalau nanti ada keluhan, bisa langsung ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan," jelas Dokter Jhon.


"Iyaa, Mama cuma takut kalau dia terkena pukulan yang keras dan mengenai organ dalamnya yang tidak kelihatan."


"Kalau memang seperti itu, saya bisa jadwalkan besok untuk pemeriksaan lanjutan di Rumah Sakit."

__ADS_1


"Iyaa, tolong ya Jhon, tapi jangan sampai ada yang tahu, takutnya beritanya menyebar ke media," jelas Lilian.


"Baik, saya permisi dulu."


"Iyaa, terima kasih, Jhon," ucap Lilian.


"Sama-sama." Dokter Jhon melangkah keluar.


Lilian kemudian melangkah ke tempat tidur. "Ayo siap-siap, kita pulang sekarang." Lilian mengambil obat yang berada di meja.


"Iyaa, Ma." Rendi bangun dari tidurnya.


Sementara Amel masih duduk di tempatnya dan belom juga beranjak.


"Sofi, kamu siapin barang kamu, mama tunggu di bawah."


Lilian kemudian menoleh ke Amel. "Mel ikut ke rumah Tante ya? Nanti kalau kamu mau pulang bisa dianter supir."


"Tapi Amel takut ngerepotin nanti, Tante," ujar Amel dengan wajah sungkan.


"Nggak dong, biar kamu juga tahu rumah Rendi di mana, jadi kalau sewaktu-waktu mau main kamu bisa langsung datang."


Amel menganguk sambil tersenyum pada Lilian. "Baik Tante, Amel ikut."


"Asiiiik, Kak Amel ikut, Sofi jadi ada temen deh." Sofi melompat kegirangan mendengar Amel akan pulang bersama mereka.


"Amel itu pacar Kakak jadi dia harus nemenin Kakak nanti," kata Rendi tak mau kalah.


Sofi menatap tidak suka pada kakaknya. "Apan sih bucin."


"Ren, mama mau ke kamar beresin barang, nanti kita ketemu di loby."


"Iya Ma, Rendi siap-siap dulu."


"Ayo Sofi, kamu juga harus beresin barang kamu." Lilian melangkah keluar diikuti oleh Sofi.


Rendi kemudian berjalan mendekati Amel. "Kamu beneran mau ikut ke rumah aku?" Rendi berdiri di hadapan Amel sambil menunduk.


Amel mengangkat kepalanya sambil mengagguk. "Iyaa Kak, Amel nggak enak nolaknya kalau mama Kakak yang minta."


Rendi masih menunduk. "Kalau aku yang minta, kamu mau nggak?" tanya Rendi penasaran.


Tentu ajaa aku mau, mau banget malah.


Amel bingung mau menjawab apa. Kalau dia menjawab mau, takutnya Rendi berpikiran kalau Amel gampangan, kalau dia menjawab tidak, nanti Rendi salah paham.


"Tergantung, mau ngapain dulu." Amel mengalihkan pandanganya ke samping.


"Emang, kamu maunya ngapain?" Rendi tersenyum jail pada Amel.


Amel yang merasa kalau Rendi sengaja membuatnya malu, kemudian mendorong pelan tubuh Rendi hingga mundur beberapa langkah.


Rendi seketika meringis kesakitan ketika Amel tidak sengak menyentuh lukanya. "Maaf Kak, Amel nggak sengaja." Amel telrihat sudah berdiri di hadapan Rendi dengan wajah cemas.

__ADS_1


"Coba Amel lihat, apa lukanya berdarah?" Saat Amel ingin membuka baju Rendi, tangannya di tahan oleh Rendi. "Aku nggak apa-apa sayang."


Wajah Amel seketika mendengar panggilan Rendi padanya. Dia buru-buru melepaskan tangannya dari Rendi. "Lebih baik kita langsung ke bawah." Selesai berbicara, Amel berjalan lebih dulu menuju pintu.


"Kamu belum menjawab pertanyaan aku." Rendi tidak bergerak.


Amel menghentikan langkah sebelum mencapai pintu. "Nanti kita ditinggal, Kak."


Rendi tersenyum dan mengikuti Amel dari belakang. Mereka berdua baru saja keluar dari lift dan berjalan menuju loby. Di sana sudah ada orang tua Rendi dan Sofi yang sedang duduk di sofa loby hotel.


Lilian berdiri saat melihat Amel dan Rendi sudah berdiri di hadapannya.


"Ren, mama satu mobil sama papa. Kamu jangan bawa mobil dulu, biar pak Iyan yang bawa mobil kamu," ucap Lilian menatap sambil Rendi.


Rendi mengangguk. "Mama langsung pulang, 'kan?" tanya Rendi


"Iyaa." Lilian kemudian beralih menatap anak perempuannya.


"Sof, kamu mau ikut sama mama atau sama Kakak kamu?"


"Ikut Kakak aja, Ma." Sofi berdiri lalu berjalan kehadapa Amel dan memegang lengan Amel. "Kak Amel, Sofi ikut Kakak ya? Nggak apa-apa, 'kan?" Sofi menujukkan senyum manisnya pada untuk merayunya.


"Nggak boleh, ganggu aja!" sela Rendi sambil melirik tajam kepada adiknya.


"Sofi nggak nanya sama, Kakak." Sofi melirik sebal kepada kakaknya.


"Itu kan mobil kakak, kamu harusnya ijin sama kakak dulu." Rendi menatap Sofi tidak suka.


Sofi memutar tubuhnya mengghadap ibunya. "Mamaaa, Kak Rendi nggak ijinin Sofi ikut di mobilnya," teriak Sofi sedikit manja.


Lilian kemudian menoleh. "Ren, biarin aja adek kamu ikut, kasian dia."


"Dia kan punya mobil sendiri Ma, kenapa juga harus ikut Rendi." Rendi terlihat tidak setuju kalau Sofi ikut dengannya.


"Sofi nggak bawa mobil, kemarin dia minta dijemput Kenan ke rumah," jelas Lilian.


"Udaah Kak, nggak apa-apa Sofi ikut kita, kasian Sofi," ucap Amel menengahi.


"Tuuh, kak Amel aja setuju." Sofi melirik tajam pada Rendi. "Kak Amel emang baik." Sofi mendekat dan memeluk Amel dan langsung membuat Amel tersenyum melihat tingkah Sofi.


Rendi kemudian menarik tangan adiknya menjauh dari Amel. "Jangan peluk-peluk, dia itu pacar Kakak. Cuma kakak yang boleh meluk dia."


"Dasar bucin," ucap Sofi jengkel.


"Udaah ayuk kita pulang, uda siang ini!" Lilian berjalan bersama suaminya keluar hotel. Mereka bertiga akhirnya ikut menyusul dari belakang saat melihat orang tua Rendi sudah naik ke mobil.


Mereka melangkah mendekati mobil Rendi.


"Kita duduk di belakang aja." Rendi menggandeng tangan Amel menuju pintu belakang.


Amel menatap Rendi lalu beralih pada tangannya yang sedang digenggam oleh Rendi. Perasaannya berbunga-bunga ketika melihat perlakuan lembut Rendi padanya.


Amel masuk duluan ke dalam mobil, disusul oleh Rendi, dan Sofi duduk di depan.

__ADS_1


Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Rendi.


Bersambung....


__ADS_2