Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Menangis Dalam Diam


__ADS_3

Rendi berbalik mengejar Amel. “Tunggu! Lo nggak bisa bawa Amel begitu aja! Gue belum selesai bicara sama dia!” Rendi mencengkram kuat tangan Raka yang ada di pundak Amel lalu mengehempaskannya.


Raka menoleh. “Kalau gue tetap bawa Amel, terus lo mau apa?” tantang Raka saat dia sudah berbalik menghadap Rendi.


“Gue nggak keberatan ngehajar lo di sini, kalau lo tetap mau bawa pergi pacar gue!” ancam Rendi sambil mendorong kuat tubuh Raka agar menjauh dari Amel.


Raka jatuh terduduk saat Rendi mendorong kuat tubuhnya. “Bang, jangan bang, inget janji abang sama Amel!” ucap Amel cepat sambil menggeleng kuat saat melihat Raka tengah berjalan mendekati Rendi dengan tangan yang sudah terkepal.


Raka berhenti saat tangannya di tahan oleh Amel. “Kalau bukan karena gue uda pernah janji sama Amel nggak bakal mukul lagi. Uda gue hajar lo dari tadi!” ucap Raka menahan emosi,


Amel menoleh pada Rendi dengan tatapan dingin. “Mendingan kamu pulang! Aku nggak mau ketemu kamu lagi!” ucap Amel pada Rendi sambil menarik tangan Raka untuk pergi dari sana.


“Mel tunggu! Dengerin penjelasan aku dulu!” ucap Rendi saat melihat Amel sudah dirangkul oleh Raka.


Amel berhenti. “Semuanya uda terlambat! Nggak ada yang perlu kamu jelasin lagi!” ucap Amel dingin tanpa menoleh pada Rendi.


Rendi hanya diam sambil terus menatap mereka yang berjalan menuju mobil Raka. Setelah Raka membuka pintu dan menuntun Amel masuk ke dalam mobilnya. Raka menoleh pada Rendi dan menatap tajam pada Rendi, sebelum dia berjalan menuju kursi kemudi.


Rendi berjalan menuju mobilnya, setelah melihat Raka dan Amel masuk ke sudah masuk dalam mobil Raka. Dia berniat mengikuti mereka dari belakang. Rendi ingin tahu kemana Raka akan membawa Amel.


Rendi terus menatap Amel dan Raka yang terlihat turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah besar yang ada di depannya saat ini. Rendi menduga kalau itu adalah rumah Raka. Rendi tampak mengusap kasar wajahnya dan memukul setirnya dengan kuat. Setelah itu Rendi membenamkan wajahnya pada setir mobilnya.

__ADS_1


******


“Kenapa kalian hujan-hujanan? Memangnya di mobil ngga ada payung?” Dahi mama Raka mengerut saat melihat Amel dan anaknya baru saja memasuki rumah dengan kondisi basah kuyup.


Raka menoleh saat mendengar pertanyaan mamanya. “Payung yang di mobil rusak Ma, jadi terpaksa tadi Raka sama Amel hujan-hujanan waktu jalan ke mobil,” bohong Raka.


“Amel kenapa Ka?” tanya Tamara saat melihat Amel tampak diam saja dengan mata yang sembab seperti orang yang habis menangis.


“Amel nggak apa-apa Ma?” jawab Amel tersenyum pada Tamara. Raka menggeleng pelan memberikan kode pada mamanya untuk tidak bertanya dulu pada Amel.


Tamara maju dan mengelus kepala Amel sebentar. “Yaa sudah, kamu mandi dulu pake air anget, setelah itu baru makan. Kebetulan hari ini bibi masak makanan kesukaan kamu!” imbuh Tamara. “Raka kamu anterin Amel ke kamarnya sekarang!” perintah Tamara pada anaknya saat melihat anggukan dari Amel


Raka mengangguk dan berjalan menuju kamar yang biasa Amel gunakan, saat dirinya menginap di rumah Raka. Raka bersandar sejenak di dinding dekat pintu kamar Amel, setelah Amel menutup pintunya. Terlihat Raka memandang lurus ke bawah Dia tampak sedang berpikir sesuatu. Setelah bersandar cukup lama, Raka memutuskan untuk meninggalkan kamar Amel.


****


Raka menoleh saat mendengar suara Amel. “Mama lagi ngambilin makan buat kamu di dapur!” Raka menatap Amel yang sudah duduk di sofa yang ada di depannya.


“Mel, makan dulu ya? Mumpung sop ayam kampungnya masih panas!” ucap Tamara sambil berjalan ke arah Amel dan meletakkannya di atas meja.


“Punya Raka mana Ma?” Raka menoleh pada mamanya saat melihat hanya ada satu mangkok sop ayam kampung yang ada di atas meja.

__ADS_1


Tamara menghentikan langkahnya menuju kamarnya, saat mendengar perkataan anaknya.  “Kamu ambil sendiri sana! kamukan sudah besar! Jangan manja!” ucap Tamara menoleh pada Raka.


“Maksud mama Amel masih kecil gitu? Amel sama Rakakan seumuran Ma, cuma tua Raka berapa bulan doang! Mama nggak boleh pilih kasih dong!” protes Raka saat mendengar ucapan enteng dari mamanya.


“Minta sama bibi aja ambilin, Mama capek mau istirahat!” ucap Tamara buru-buru pergi meninggalkan ruang keluarga sebelum mendengar protes anaknya, saat tamara melihat Raka sudah membuka mulutnya untuk berbicara.


Raka menghela napas setelah melihat mamanya sudah pergi. “Makanlah, kalau sudah dingin tidak enak lagi!” ujar Raka saat melihat Amel tampak diam saja.


Sebenarnya Raka sangat penasaran dengan apa yang terjadi dengan Amel dan Rendi, tetapi dia memilih untuk menunggu Amel yang akan menceritakan sendiri padanya. Dia tidak mau membuat Amel merasa sedih lagi jika dia bertanya saat ini.


Amel menoleh sejenak pada Raka dan mengangguk. Saat akan meraih sendok, ada bunyi pesan masuk. Amel meraih ponsel yang berada di samping tempak duduknya. Terlihat Amel tampak diam setelah ini air matanya kembali menetes.


Amel buru-buru menghapus air matanya, saat menyadari Raka sedang menatap dirinya. “Menagislah kalau itu membuatmu lega, jangan di tahan!” ucap Raka saat melihat air mata Amel kembali menetes setelah di usap oleh Amel.


Amel hanya diam tanpa berkata-kata, dia meraih sendoknya dan mulai memakanan makanan di depannya. Saat Amel memasukkan makanan ke dalam mulutnya air matanya kembali menetes. Amel sudah tidak memperdulikan lagi air matanya yang terus saja mengalir di pipinya, yang Amel lakukan adalah terus menyendok makanan ke dalam mulutnya sambil menangis. Raka memajukan tubuhnya dan menghapus air mata di kedua pipi Amel. Suara tangis Amel terdengar lirih setelah Raka menghapus air mata Amel. Amel merasakan sesak di dadanya.


Raka hanya menatap Amel dalam diam, hatinya terasa perih saat melihat Amel terlihat sangat rapuh saat ini. Dia tidak bisa berbuat banyak untuk Amel. Dia juga tidak bisa ikut campur urusan Amel dan Rendi sebelum tahu duduk permasalahannya. Dia tidak mau gegabah seperti dulu, saat dirinya tidak mendengarkan penjelasan dari Amel, yang berakibat kesalah pahaman antara dirinya dan Rendi.


Setelah Amel menyelesaikan makanannya, terlihat dia hanya diam dan menatap kosong di depannya. Cukup lama Raka menemani Amel di ruang keluarga tanpa berkata apa-apa. Amel mencoba menyandarkan tubuhnya di sofa sambil memejamkan matanya, seolah ingin melupakan apa yang terjadi hari ini. berharap kalau semua ini hanya mimpi buruk.


Raka mengangkat tubuh Amel ke kamar yang di  tempati Amel, setelah melihat Amel sudah terlelap. Dengan hati-hati Raka meletakkan tubuh Amel tempat tidur. Raka menarik selimut untuk menutupi tubuh Amel, setelah itu dia duduk di tepi tempat tidur memandang wajah Amel dan mengusap lembut kepalanya. Raka berjalan ke arah pintu dan berhenti sejenak memandang wajah Amel setelah itu mematikan lampu kamar Amel dan menyisakan lampu tidur yang masih menyala.

__ADS_1


Sementara Rendi belum juga pulang. Dia masih setia menunggu di depan rumah Raka. Rendi berharap Amel akan keluar dari rumah itu dan pulang ke kosnya. Setelah menunggu cukup lama, Amel tidak juga keluar. Rendi memutuskan untuk pulang dan kembali menemui Amel esok hari saat Amel pulang  sekolah. Karena saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.


Bersambung..


__ADS_2