Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Pengantin Baru


__ADS_3

Hari pernikahan Sofi dan Raka pun tiba. Kedua keluarga mempelai nampak bahagia, terlebih lagi kedua mempelai yang sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Senyum sumringah tercetak jelas di wajah Sofi dan Raka. Acara pernikahan mereka digelar dari pukul pukul 1 siang dan akan berakhir pada pukul 4 sore.


Sofi nampak sangat cantik di hari pernikahannya. Dengan ball gown dress berwarna putih bertabur beads dan sequins mewah yang berkilau membuat Sofi nampak mempesona serta memancarkan aura keanggunan.


Sementara Raka mengenakan tukesdo berwarna putih dan celana hitam senada dengan sepatunya. Rambutnya disisir rapi ke belakang dan beberapa helai rambut yang menjuntai di keningnya. Penampilan Raka terlihat sangat tampan.


Sofi bahkan terus melirik pada laki-laki yang sudah resmi menjadi suaminya tersebut secara diam-diam. Dalam hatinya, dia terus mengucap syukur karena bisa menikah dengan pria yang berada di sampingnya tersebut.


"Aku tidak menyangka kalau Sofi akan menikah lebih dulu. Bahkan kak Bianca aja belum menikah." Kenan yang sedang duduk bersama dengan Rendi nampak menatap ke arah Sofi dari kejauhan dengan wajahnya lesu dan terlihat tidak bersemangat.


Rendi melirik sekilas pada sepupunya itu lalu tersenyum miring. "Maka dari itu, kau harus buru-buru mencari pasangan. Jangan sampai anakku dan Sofi sudah besar, tapi kau belum juga menikah. Jangan membuat keluarga kita malu."


Kenan menoleh dengan tatapan kesal pada Rendi. "Ini semua karena kau dan Devan. Dulu aku menyukai Kila, tapi justru dia menyukaimu. Saat aku menyukai Ellen, ternyata dia menyukaimu juga. Kemudian aku menyukai Amel, ternyata dia menyukainmu juga. Aku mengalah lagi. Saat aku berniat untuk memperjuangkan perasaanku pada Ellen, justru kini Devan yang menjadi sainganku. Nasibku sungguh tragis." Kenan menggelengkan kepalanya dengan wajah frustasi.


Rendi tertawa kecil melihat wajah Kenan yang nampak putus asa. "Bukankah ayah Ellen akan menjodohkanmu dengannya? Saat ini posisimu lebih unggul dari pada Devan. Jangan pesimis dulu. Siapa tau Ellen bisa menyukaimu nanti."


Kenan memutar tubuhnya dengan cepat setelah mendengar ucapan Rendi. "Dari mana kau tahu kalau aku dijodohkan dengan Ellen?" Seingatnya, dia belum memberitahu apapun pada Rendi mengenai perjodohannya dengan Friska.


Dengan wajah santai, Rendi menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kirinya sambil menatap ke arah pelaminan. "Ellen memberitahuku."


Kenan mendengus. "Percuma saja Ellen dia jodohkan denganku, kalau dia saja tidak memiliki perasaan apapun padaku. Aku ingin menikah dengan orang yang aku cintai dan mencintaiku juga."


"Jadi kau akan membiarkan Devan untuk mendapatkan Ellen?"


Kenan menatap kesal pada Rendi. "Apa menurutmu aku punya pilihan lain? Aku tidak mau membuang waktu untuk sesuatu yang sudah pasti tidak bisa aku mendapatkan."


Saat mereka sedang mengobrol. Mereka berdua melihat Friska dan Devan sedang berjalan ke arah mereka berdua. "Lihatlah wajah Devan. Apa kau pikir, aku bisa menang melawannya? Mereka terlihat seperti sepasang kekasih saat berjaan bersama. Aku sungguh benci melihatnya," ucap Kenan dengan wajah masam.


Rendi terkekeh. "Aku juga pernah merasakan perasaan yang sama denganmu, untung saja Amel memilihku."


"Sebenarnya tidak hanya wajahnya, tapi kepribadiannya juga membuatku frustasi. Kenapa juga Ellen harus disukai oleh orang seperti Devan. Astaga, apa salahku sebenarnya? Kenapa sainganku selalu saja membuatku tidak berkutik?" Kenan kembali menghela napas panjang dan sambil menggelengkan kepalanya.


"Jangan berkecil hati masih banyak wanita cantik di luar sana. Kau tinggal tunjuk saja," ucap Rendi dengan wajah santai.


Mendengar ucapan Tendi membuat Kenan semakin kesal dan ingin memukul kepalanya. "Jika kekayaanku dan ketampanku sama sepertimu, aku akan dengan mudah menunjuk orang yang aku sukai."


"Tidak semua wanita menilai pria dari kekayaan dan ketampanan seorang pria," kata Rendi santai.


"Tetapi masalahnya, sebagian besar wanita menilai dari 2 hal itu."


Rendi terenyum tipis, menepuk pundak Kenan lalu berkata, "Kalau begitu terima saja nasibmu. Lebih baik kau kencani anak bungsu dari pewaris HS Group. Dia tidak kalah cantik dari Ellen, apalagi dia juga menyukaimu."


Kenan menggeleng cepat. "Aku tidak suka gadis yang manja."


Saat Devan dan Friska menghampiri Rendi dan Kenan, mereka terlihat mengobrol selama beberapa menit sampai akhirnya Rendi pamit untuk menemui istrinya yang sedang bersama dengan Bianca di dekat pelaminan.


Setelah pesta pernikahan Raka dan Sofi selesai, Friska kembali ke hotel bersama dengan ayahnya diantar oleh Kenan, sementara Devan kembali ke apartemennya.

__ADS_1


Setelah urusan semua selesai, keluarga Rendi mengantar Sofi ke kediaman Raka, berbincang sebentar lalu mereka kembali ke kediaman Rendi. Tadinya Raka ingin mengjak Sofi untuk menginap di hotel, tetapi Sofi menolaknya.


Sebagai anak dari pemilik hotel, dia sudah bosan tinggal di hotel, iti sebabnya Sofi meminta untuk langsung pulang ke rumah Raka. Hari sudah mulai gelap ketika mereka sampai rumah Raka. Setelah keluara Rendi pulang, Raka langsung mengajak istrinya untuk ke kamar.


"Kak, di mana koper kecilku?" tanya Sofi ketika mereka sudah berada di kamar Raka. Sofi ingin mandi karena tubuhnya lengket, hanya saja dia tidak melihat barangnya di kamar Raka.


Raka yang sedang melepas kancing kemejanya, menghampiri Sofi yang nampak sedang mengedarkan pandangannya mencari barang miliknya. "Sepertinya masih di bawa sayang. Kau mandi saja dulu. Aku akan mengambilkan untukmu."


Sofi mengangguk dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Saat di bawah, Raka bertemu dengan ibunya. "Ma, apakah mama lihat koper kecil milik Sofi?"


"Itu di sana," tunjuk ibunya di dekat lemari pajangan yang ada di ruang keluarga. Raka mengangguk lalu mengambil koper milik istrinya.


Saat melihat anaknya akan pergi ke kamarnya, Tamara kemudian menghentikan langkah anaknya. "Raka tunggu dulu!" Tamara berlari dengan cepat ke arah dapur lalu kembali dengan membawa 2 botol minuman dan memberikan pada anaknya.


"Ini untuk kau dan Sofi. Kalian harus meminumnya."


Raka menatap dia botol minum yang ada di tangan ibunya dengan dahi mengernyit. "Apa itu?"


Tamara tersenyum lebar lalu berbisik pada anaknya. "Jamu untuk kau dan Sofi untuk menambah stamina kalian." Selesai berbicara, dengan cepat Tamara meletakkannya di tangan Raka.


"Aku tidak membutuhkannya, Ma." Raka ingin mengembalikan lagi pada ibunya, tetapi Tamara menolak.


"Raka, mama tidak akan meminta apapun lagi, jadi tolong terima ini agar kau bisa segera memberikan mama cucu." Melihat wajah memohon ibunya, Raka nampak tidak berdaya.


"Ma, bahkan tanpa minuman ini, aku bisa memberikanmu cucu dengan segera, jadi simpan saja ini."


Raka ingin mengembalikan 2 botol minuman itu ke tangan ibunya lagi, tetapi dengan cepat Tamara menggeleng dan pergi meninggalkan anaknya. Mau tidak mau Raka membawa minuman itu ke kamarnya.


Selesai mandi, Raka kembali ke kamarnya, dia mendapati Sofi sudah selesai mandi dan sudah mengenakan pakaian tidur sambil mengeringkan rambutnya.


"Kakak mandi di mana?" Sofi bertanya pada Raka ketika melihatnya baru saja memasuki kamar dengan rambut basah.


"Di kamar Amel." Raka berjalan menuju lemari pakaian dan memakai pakaiannya.


"Kak, kenapa kau berganti pakaian di situ?" Sofi memalingkan wajahnya saat melihat Raka dengan santainya memakai baju di depan lemari tanpa merasa malu sedikit pun.


Raka menoleh ke arah Sofi sambil tersenyum simpul melihat wajah istrinya memerah. "Lalu aku harus memakai baju di mana sayang?" Raka menghampri Sofi yang sedang duduk di tepi tempat tidur.


"Setidaknya di kamar mandi." Sofi belum berani menatap wajah Raka setelah tidak sengaja melihatnya berganti pakaian tadi.


Raka duduk di samping Sofi dengan santainya. "Kita sudah menikah, tidak ada perlu kita tutupi lagi, sayang." Raka meraih tubuh Sofi lalu merapatkan ke tubuhnya.


Jantung Sofi seketika berdegup kencang. "Kak, rambutmu masih basah, aku akan mengeringkannya."


Buru-buru Sofi berdiri dan mengarahkan pengering rambut ke kepala Raka. Itu sebenarnya hanya alasan Sofi untuk menghilangkan kegugupannya ketika mengingat ini adalah malam pertama mereka.


Raka hanya diam saat istrinya sedang mengeringkan rambutnya. "Kak, minuman apa yang ada di atas meja itu?" Sofi baru teringat ketika dia keluar dari kamar mandi, dia melihat dua botol minum berwarna yan ada di atas meja kamarnya.

__ADS_1


"Jamu, mama yang memberikannya untuk kita. Dia bilang kita harus segera memberikan mama cucu," jawab Raka dengan jujur dan seketika membuat wajah Sofi malu.


"Tidak usah kau minum jika kau tidak menyukainya," tambah Raka lagi ketika melihat Sofi hanya diam.


Selesai mengeringkan rambutnya, Sofi menaiki tempat tidur bersama dengan Raka. "Tidurlah, kau pasti lelah."


Raka duduk bersandar di kepala tempat tidur sambil memainkan ponselnya sementara Sofi berbaring di samping Raka. "Kakak tidak tidur?" tanya Sofi sambil menatap suaminya yang sedang menatap serius pada layar ponselnya.


Raka menunduk menatap istrinya sebentar lalu mengusap pipinya dengan lembut. "Nanti, aku belum mengantuk. Tidurlah sayang, tidak usah menunggu aku." Raka tahu kalau Sofi pasti lelah hari ini. Itulah sebanya dia meminta istrinya untuk segera tidur.


"Aku juga belum mengantuk, aku hanya sedikit lelah." Sofi terbiasa tidur malam, meskipun dia lelah, dia tidak bisa tidur dengan cepat, apalagi waktu masih menujukkan pukul 9 malam.


"Apa kau ingin makan?" tawar Raka. Sebenarnya, sebelum naik ke kamar, mereka berdua sudah makan terlebih dahulu.


Sofi menggeleng pelan. "Tidak, aku sudah kenyang." Raka manggut-manggut setelah itu kembali menatap layar ponselnya.


"Kakak sedang chat dengan siapa?" Sofi nampak penasaran saat melihat Raka nampak fokus menatap layar ponselnya.


"Aku hanya mengecek email masuk sayang."


"Oohh." Raka meletakkan ponselnya di atas, kemudian ikut berbaring di samping istrinya lalu membawa Sofi ke dalam pelukannya.


"Jangan berpikir macam-macam. Kau bisa mengecek ponselku jika kau tidak percaya." Tentu saja Raka apa yang ada di dalam pikiran Sofi.


"Nampaknya Sonya belum terima kalau kau menikah denganku."


Saat tadi Sonya menghadiri pernikahan mereka, dia sempat memberikan tatapan sengir dan wajah tajam pada Sofi. Dari awal, Raka memang sudah bilang untuk tidak mengundang mantan kekasihnya, tetapi Sofi bersikukuh ingin mengundang mantan Raka supaya mereka semua tahu kalau Raka sudah menikah dan tidak mengganggunya lagi.


"Biarkan saja, dia memang begitu sayang. Jangan bicarakan dia lagi. Lebih baik kita tidur."


"Apa kakak sudah mengantuk?" tanya Sofi sambil mendongakkan kepalanya menatap Raka. Sofi tidak menyangka kalau Raka akan langsung mengajaknya tidur. Dia pikir Raka akan meminta haknya malam itu juga.


"Belum, tidurlah."


"Aku pikir kita akan...." Sofi nampak malu untuk melanjutkan ucapannya.


Raka mengurai pelukannya lalu menunduk menatap istrinya. "Aku tidak mau memaksamu kalau kau belum siap. Aku tahu kau pasti lelah hari ini. Aku masih bisa menunggu."


Tanpa Sofi ucapkan pun Raka sudah tahu maksud dari perkataan Sofi tadi belum sempat dia selesaikan.


"Aku sudah siap Kak. Ini sudah menjadi kewajiban sebagai istrimu. Kau tidal perlu menahan diri lagi," ucap Sofi meyakinkan. Sebenarnya dia takut, hanya saja dia juga tidak bisa menghindari kewajibannya.


Raka menatap bola mata Sofi dengan tatapan ragu. "Apa kau yakin ingin melakukannya malam ini?" Raka menatap dalam mata Sofi.


"Iyaa, aku yakin, Kak."


Raka terdiam untuk beberapa saat sambil terus menatap istrinya. "Baiklah kalau begitu, maaf kalau nanti aku menyakitimu."

__ADS_1


Sofi mengangguk raut wajah tegang. Meskipun dia yakin, tetapi tetap saja dia merasa takut.


Bersambung....


__ADS_2