
Devan menunduk, menatap ke bawah seraya
berbicara di telpon. Wajahnya sesekali
tersenyum paksa dan setelah itu berubah menjadi mendung.
Dari ruang keluarga, Friska mengamati perubahan wajah Devan dengan seksama, mencoba untuk menebak kira-kira dengan siapa dia sedang berbicara dan hal apa yang sedang dia bicarakan sehingga membuat wajahnya nampak sedih.
Friska mengamati dengan wajah serius sambil teras menerka-nerka apa yang sedang Devan pikirkan saat ini. "Apa yang sedang kau pikirkan, kenapa
kau menatapku seperti itu?"
Friska tidak menyadari kalau Devan sudah berada tepat di hadapannya dengan jarak yag sangat dekat. Wajah Friska memerah, perlahan memundurkan tubuhnya ke belakang untuk memberikan sedikit jarak untuk mereka berdua. Devan memang sering kali mengagetkannya secara tiba-tiba.
"A-aku... aku tidak sedang menatapmu," ucap Friska dengan gugup, "aku sedang melihat pemandangan diluar jendela," elak Friska. Dengan berani dia menatap Devan dan saling bertatapan untuk beberapa saat.
Devan kembali berdiri tegak setelah sebelumya dia membungkuk di hadapan Friska yang sedang duduk di sofa. "Kita tidak jadi ke Jerman," ujar Devan sambil duduk sebelah Friska.
Friska merubah posisi duduknya menghadap Devan. "Kenapa tidak jadi?" Ada nada kekecewaan dalam nada bicara Friska. Sepertinya dia sudah menanti moment itu untuk melihat Rendi. Sudah sebulan lebih dia tidak berkomunikasi dengan Rendi.
Devan menatap ke bawah setelah itu menatap Friska dengan wajah datar. "Resepsi mereka dibatal."
Friska meneliti kembali wajah Devan yang nampak kembali berubah suram, dia ingin tahu alasan kenapa wajah Devan berubah ketika membicarakan mengenai resepsi pernikahan Rendi dan Amel yang tiba-tiba dibatalkan.
Rasa ingin tahu Friska seketika muncul. "Kenapa dibatalkan? Friska menangkap sekilas sorot kesedihan dalam tatapan Devan saat dia bertanya alasan dibatalkannya acara Rendi dan Amel.
Devan membisu sejenak, sebelum menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Friska. "Amel sedang hamil, jadi dia tidak boleh melakukan perjalanan udara sebelum memasuki usia kehamilan trimester kedua," ungkap Devan.
"Apakah yang menelponmu tadi Amel?" tebak Friska.
Devan hanya bergumam sambil mengangguk pelan menanggapi pertanyaan Friska. Terjawab sudah alasan kenapa wajah Devan berubah setelah mendapatkan telpon dari seseorang.
Akhirnya, Friska tahu kalau itu berkaitan dengan Amel, wanita yang menjadi cinta pertama di masa kecilnya, ternyata masih menjadi satu-satunya wanita yang ada di hati Devan.
__ADS_1
"Apa kau masih mencintainya dan belum bisa melupakannya?" tanya Friska hati-hati. Entah semenjak kapan dia mulai peduli dengan kehidupan pribadi Devan.
Devan tidak menjawab melainkan justru melemparkan pertanyaan yang sama. "Bagaimana dengan dirimu? Apa kau masih mencintai Rendi?" tatapan tak terbaca ditangkap oleh Friska.
Pertanyaan yang sulit untuk dijawab, sebenarnya Friska juga tidak tahu, apakah dirinya masih menyimpan rasa terhadap Rendi atau tidak.
Setelah pergi ke Singapore dan tinggal
bersama dengan Devan, dia tidak pernah lagi bertukar kabar dengan Rendi. Dia lebih banyak mengurung diri kamar. Dia tidak pernah keluar jika tidak dipaksa oleh Devan.
Di dalam kamar, dia lebih banyak melamun. Bahkan orang tuanya baru sekali mengunjunginya ke Singapore bersama dengan Kenan. Itu pun karena urusan pekerjaan. Orang tua Friska memang tidak begitu peduli dengannya, mereka sibuk bekerja dan lupa memperhatikan Friska.
Dari dulu, Friska memang merasa kalau orang tuanya tidak peduli dengannya. Beruntung sedari kecil orang tua Rendi begitu baik padanya sehingga dia tidak terlalu kesepian.
Hari-harinya banyak dia bersama dengan Rendi dan Kila. Dan, saat Kila meninggal, Rendi lah satu-satunya tempatnya berbagi. Ketika kehilangan Kila, mereka sama-sama mencoba menata kembali hidup mereka. Meski tertatih, mereka berdua saling menopang satu sama lain.
Selama tinggal di Singapiore, Friska sempat mengunjungi psikiater beberapa kali karena
Perlahan, Friska bisa kembali
hidup normal seperti orang lainnya. Setelah kepergiannya dengan Devan ke
Singapore, Friska tinggal di apartement Devan sementara waktu.
Karena letak apartemen Devan yang berada di lantai yang cukup tinggi, maka, Devan memutuskan untuk pindah ke rumah orang tuanya karena takut Friska akan mencoba bunuh diri dengan melompat dari apartemennya. Kondisi Friska yang masih labil membuat Devan merasa khawatir.
Devan akhirnya memutuskan untuk
tinggal bersama dengan keluarganya. Awalnya, ayahnya menentang, tapi setelah menceritakan mengenai kondisi Friska, ayahnya pun menyetujuinya.
Ditanya mengenai perasaannya terhadap Rendi, Friska berpikir sejenak sebelum tersenyum lebar. "Sepertinya aku masih mencintainya. Kau pasti menganggap aku bodoh karena sampai sekarang pun aku belum bisa melupakannya."
Friska tersenyum seperti orang bodoh, dia sedang menertawakan dirinya sendiri yang sangat lemah dalam hal perasaan.
__ADS_1
Devan tidak mengatakan apapun dalam waktu cukup lama. "Mencintai seseorang bukanlah kebodohan, tetapi memaksakan perasaan kita pada orang yang tidak mencintai kita, barulah bisa dikatakan bodoh. Untuk apa berjuang dan bertahan demi orang yang sudah jelas mencintai orang lain," ucap Devan,
"Merelakan sesuatu hal bukan karena kita menyerah, tapi mengerti bahwa ada hal yang tidak bisa dipaksakan. Terkadang, hal terbaik yang bisa kau lakukan untuk seseorang yang kau cintai adalah melepaskannya. Tuhan menempatkan seseorang di hidupmu karena sebuah alasan. Dan, jika kamu kehilangannya, maka itu karena sebuah alasan yang lebih baik," lanjut Devan lagi,
"pada akhirnya, seseorang yang bertahan harus merelakan sesuatu yang bukan untuknya. Sebab, bahagia tak datang hanya dari satu orang. Bisa saja, jodohmu sedang berjalan ke arahmu. Seseorang yang akan memberikanmu kebahagian melebihi bahagiaanmu yang dulu dan saat ini."
Devan menatap serius pada Friska. "Lepaskanlah Rendi, Friska. Aku tidak memintamu untuk melupakannya, karena bagaimana pun kenangan akan seseorang tidak bisa dilupakan begitu saja dalam hitungan bulan bahkan tahun. Butuh waktu sangat lama untuk hal itu. Ikhlas tidak melulu soal merelakan, tetapi kondisi di mana kita melepaskan tanpa adanya beban dalam hati. Suatu saat kamu akan mengerti bahwa merelakan sebuah memori adalah awal kebahagiaan yang kau nanti."
Friska nampak memikirkan semua perkataan Devan. "Mencintai adalah tentang merelakan, jika belum mampu melihatnya berbahagia dengan alasan lain selain kamu. Maka, coba koreksi dulu caramu mencintainya," imbuh Devan lagi.
Friska menatap ke bawah sambil berpikir. Setelah termenung cukup lama, dia mengangkat kepalanya. "Caraku mencintainya memang salah hingga mengalahkan logikaku dan membutakan hatiku. Mencintainya secara berlebihan dan ingin memikiki secara utuh tanpa pernah berpikir bagaimana perasaan dia yang sesungguhnya."
Devan memegang bahu Friska. "Jangan berlebihan dalam mencintai seseorang, jika tidak ingin merasakan sakit yang luar biasa, apalagi orang tersebut tidak memiliki perasaan yang sama denganmu. Pada akhirnya, kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri."
Friska menatap wajah Devan dengan tatapan ingin tahu. "Devan, kau adalah pria baik, tampan, kaya, kepribadianmu bagus, kau juga memiliki hati yang lapang dan berjiwa besar. Semua yang ada di dalam dirimu menurutku sempurna. Seharusnya Amel bisa melihat semua hal baik dalam dirimu karena kalian saling mengenap dari kecil, tetapi kenapa Amel tidak mencintaimu?"
Devan mencibir Friska. "Pertanyaan itu seharusnya kau bisa menjawabnya sendiri karena kau juga mencintai Rendi. Kenapa Amel lebih memilih Rendi dari pada aku, alasannya kau pasti tahu."
"Aku tidak tahu karena aku lebih dulu mengenal Rendi, berbeda dengan Amel yang sudah lebih dulu mengenalmu. Mungkin kalau aku mengenalmu lebih dulu, aku akan jatuh cinta padamu, bukan dengan Rendi." Jawaban dari Friska tidak terduga oleh Devan.
"Benarkah? Apa kau sudah mulai terpesona olehku?" goda Devan.
"Aku rasa sudah banyak wanita yang terpesona olehmu, termasuk Stefani yang sering menempel padamu."
Stefani adalah teman kuliah Devan, yang dulu juga menjadi teman dekat Devan selama tinggal di Singapore.
Devan tertawa kecil. "Mandilah, jangan membahas dia lagi. Bersiaplah, pakai baju yang sopan. Kita akan pergi setelah kau siap," ujar Devan sambil berdiri.
Friska mendongakkan kepalanya. "Kita mau ke mana?"
"Kita akan makan di luar, temani aku bertemu dengan rekan bisnisku."
Bersambung....
__ADS_1