Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Salah Tingkah


__ADS_3

"Kami memang dekat. Ke mana pun Devan pergi dia pasti mengajakku. Kami memiliki hubungan khusus yang kau pasti tidak tahu."


Perkataan Friska tentu saja membuat Devan dan Stefanie terkejut. "Benarkah? Kenapa Devan tidak pernah bercerita padaku?" Stefani terlihat tidak begitu saja percaya dengan ucapan spontan Friska.


"Devan sangat pemalu. Dia memang tidak suka bercerita hal pribadi pada orang lain, terlebih lagi dengan wanita, apalagi wanita iti memiliki perasaan terhadapnya."


Devan melirik sekilas pada Friska dengan dahi berkerut. Dia merasa terkejut karena dia bisa tahu kalau Stefani memang memiliki perasaan padanya. Padahal, ini pertama kalinya mereka bertemu. Bagaimana bisa dia menebak secara benar hanya dengan melihatnya sekali.


"Apa maksudmu?" Stefani merasa tersindir dengan ucapan Friska.


"Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin memberitahumu saja.


Stefani ingin kembali membalas ucapan Friska, tapi dihentikan oleh Devan. "Stef, jangan membahas itu lagi. Lupakan masalah itu. Aku ke sini untuk membicarakan mengenai yang aku minta kau urus."


Stefani baru teringat mengenai tujuannya bertemu dengan Stefani. "Owwh iyaa. Aku sudah mengurus semuanya. Kau bisa memeriksanya lagi nanti." Stefani mengambil berkas yang ada di meja lalu memberikannya pada Devan. "Semuanya sudah ada di sini."


Devan meraih berkas itu kemudian berterima kasih. "Van, aku akan Singapore beberapa lagi. Tolong urus kepindahanku ke perusahaanmu."


Devan mengangguk. "Baiklah. Kak Nora menanyakanmu. Dia menyuruhmu menghubunginya setelah kau sampai di Singapore nanti."


Mendengar kakak Devan menanyakannya, seketika senyum lebar tercetak di wajah cantik Stefani. "Iyaaa, aku akan menghubunginya nanti. Kami berencana untuk bertemu setelah aku sampai Singapore, apa kau kau bergabung dengan kami nanti?" tawar Stefani penuh harap.


"Baiklah, atur saja kapan kalian akan bertemu."


"Apa aku boleh ikut? Aku juga ingin dekat dengan keluargamu. Apa kau tidak mau mengenalkan aku pada keluargamu?" ujar Friska sambil menoleh pada Devan.


Devan menatap Friska sejenak lalu berbisik padanya, "jangan membuat masalah. Aku tahu kau sengaja melakukan itu agar Stefani marah. Jangan sampai aku salah paham dan mengartikan kalau kau cemburu padanya."


Devan menjauhkan tubuhnya diri dari Friska ketika melihat wajahnya memerah. Dia kemudian beralih menatap Stefani. "Aku akan menghubungimu lagi nanti."


"Baiklah." Devan kemudian berdiri lalu diikuti oleh Friska dan Stefani.


"Aku akan mengantarmu pulang." Stefani tersenyum manis sambil mengangguk.


Saat mereka tiba parkiran, Friska lebih dulu membuka pintu mobil depan sebelum Stefani membuka pintunya. "Aku akan duduk di depan. Nona Stefani, lebih baik kau di belakang."


Mau tidak mau, Stefani akhirnya duduk di belakang. Setelah mengantarkan Stefani, Devan dan Friska kembali ke apartemen Devan.


"Friska, Stefani dan akan tidak memiliki hubungan apapun. Jangan berbuat ulah seperti tadi," ucap Devan setelah mereka berada di ruang tamu apartemen Devan.


"Aku hanya ingin mengerjainya sedikit dan aku ingin memastika dugaanku apakah benar. Dan ternyata dia memang menyukaimu," ucap Friska enteng.

__ADS_1


Devan yang sedang duduk bersebelahan dengan Friska seketika memajukan tubuhnya ke arah Friska. "Kenapa kau begitu penasaran dengan perasaannya padaku?" Devan menatap lekat mata Friska, "jangan bilang kau sudah jatuh cinta padaku? Apa kau mulai tertarik pada karena aku pernah menolongmu dan bahkan mau menampung disini?"


Wajah Friska menengang. Secara tidak sadar dia menelan salivanya dengan wajah gugup. Seketika wajah penuh percaya dirinya memghilang seketika. "Siapa bilang! Aku hanya iseng. Kau jangan berpikiran terlalu jauh." Friska menjauhkan tubuhnya dari Devan lalu masuk ke dalam kamarnya.


********


"Kak bangun!" Amel mengguncang tubuh Rendi yang tampak masih tidur terlelap.


Rendy belum juga bergerak. "Kak ini sudah siang.. Bangun kak." Amel mencoba membangunkan suaminya kembali.


"Ada apa sayang?" Rendy mulai membuka matanya, lalu menarik Amel ke dalam pelukannya.


Amel berusaha untuk melepaskan pelukan Rendi. " Kak bangun dulu, ada yang ingin aku bicarakan kan denganmu." Amel mendongakkan kepalanya menatap Rendi.


"Bicara apa sayang?" Rendi masih tanpa enggan untuk melepaskan pelukan pada istrinya.


"Bisakah kita kembali ke Jakarta pagi ini juga?" tanya Amel dengan hati-hati.


Rendi langsung melepaskan pelukannya, lalu menatap Amel dengan wajah heran. "Memangnya ada apa sayang? Kenapa harus pulang hari ini?"


Rendi merasa heran karena tiba-tiba Amel memintanya untuk pulang ke Jakarta pagi itu juga, sementara mereka baru menghabiskan waktu selama 3 hari di Bali. Padahal rencana awal mereka berbulan madu di Bali adalah selama seminggu.


Amel terdiam sebentar. Dia sedang menyusun kata-kata yang akan dikeluarkan dari mulutnya, supaya Rendi tidak salah paham dengan apa yang akan diucapkannya nanti. "Ada apa sayang katakan saja?" lanjut Rendi, ketika melihat Amel masih tampak diam.


"Iya, ada apa sayang?" tanya Rendi dengan nada lembut.


"Hari Kak Evans akan pergi ke Singapura, dia tidak akan kembali untuk sementara waktu. Aku ingin bertemu dengannya sebentar kak," ucap Amel dengan nada pelan.


Rendi tampak terdiam setelah mendengar perkataan Amel. "Aku hanya ingin bertemu saja sebentar. Aku ingin mengucapkan perpisahan dengannya, bagaimanapun dia adalah kakakku. Aku tidak bisa membiarkannya pergi tanpa bertemu dengannya dulu. Aku dengar Friska juga akan ikut dengannya. Apa kau tidak ingin bertemu dengan Friska juga?"


Tadi pagi ketika Amel bangun ponselnya berbunyi. Aaat dia melihat nama yang ada di layarnya ternyata yang menelpon adalah Devan. Dia mengatakan, kalau dia akan berangkat sore ini ke Singapura. Dia ingin bertemu Amel sebentar. Dia juga mengatakan kalau dia akan pergi bersama dengan Friska.


" Tapi bagaimana dengan bulan madu kita sayang?" Rendi tampak enggan untuk pulang ke Jakarta. Dia masih menikmati bulan madunya di Bali.


"Bukankah nanti kita akan ke Jerman. Kita bisa melanjutkan bulan madu kita di sana kak. Aku mohon kak, tolong ijinkan aku untuk bertemu sebentar dengan kak Evans. Aku janji tidak akan berbuat macam-macam. Katanya dia ingin melihatku sebelum dia pergi ke Singapura."


"Baiklah..Aku akan memberitahukan kepada keluarga kita, kalau kita akan kembali ke Jakarta lebih dulu. Biarkan mereka menghabiskan waktu di Bali."


Amel langsung memeluk suaminya dengan wajah senang." Terima kasih kak. Maafkan aku karena sudah merusak acara bulan madu kita, "ucap Amel dengan wajah bersalah.


"Kau harus memberikan aku hadiah karena aku sudah mengijinkanmu untuk bertemu dengan Devan. Kau tahu sendiri aku sangat cemburu dengannya. Berat untukku membiarkanmu bertemu dengannya, walaupun hanya sebentar."

__ADS_1


Sebenarnya Rendi tidak ingin kalau Amel bertemu dengan Devan untuk sementara waktu.


Amel mengecup singkat bibir Rendi, kemudian berkata, " Apakah ada ini cukup?" tanya Amel dengan senyum manisnya.


Rendi menyeringai. "Tentu saja tidak cukup. Aku ingin lebih dari itu."


Rendy langsung menyatukan bibir mereka dengan cepar. Dia mendorong masuk dan membelit lidah istrinya. Amel tampak tidak menolak ketika Rendi mulai bergerak liar menyentuh setiap inci tubuhnya. Amel hanya bisa pasrah ketika Rendi sudah menyatukan tubuh mereka.


Peluh dan keringat yang membasahi tubuh mereka sebagai saksi percintaan panas mereka di pagi itu. Lenguhan dan erangan terus menggema di kamar tersebut sampai mereka mencapai puncaknya bersama-sama.


"Sayang, karena hari ini kita terakhir di Bali. Aku akan memakanmu dengan lahab, sebelum kita pulang ke Jakarta," ucap Rendi dengan seringai liciknya.


"Lakukanlah sesukamu kak! Aku adalah milikmu seutuhnya." Amel juga tampak mengingingkan yang lebih dari itu.


"Terima kasih sayang." Rendi mengecup singkat kening dan bibir istrinya. Kemudian Rendi kembali bergerak di atas tubuh istrinya. Amel tampak menikmati setiap sentuhan dan kecupan yang diberikan oleh suaminya.


Setelah melakukan percintaan panas beberapa kali. Rendi dan Amel memutuskan untuk mandi bersama. Sebelum itu, Rendi sudah menghubungi keluarganya, kalau mereka akan pulang ke Jakarta terlebih dahulu. Hanya Raka dan Kenan yang akan ikut mereka kembali ke Jakarta.


******


Mereka kembali menggunakan pesawat jet pribadi Rendi. Sesampainya di bandara Jakarta, Amel, Kenan dan Rendi langsung menuju apartemen bari Devan, sementara Raka kembali ke rumahnya.


Sesaat setelah tiba di bandara, Amel langsung mengabari Devan, kalau mereka sedang menuju apartemennya.


Setibanya di area apartemen Devan, mereka langsung menuju unit apartemen Devan. "Masuklah..!" ucap Devan ketika melihat mereka sudah berdiri di depan pintu apartemennya.


Mereka bertiga masuk, lalu duduk di ruang tamu setelah dipersilahkan oleh Devan.


Devan menatap Rendi. " Aku ingin berbicara sebentar denganmu."


"Baiklah..!"


Rendi menoleh sejenak kepada Amel. "Sayang kau tunggu disini dulu! Aku akan berbicara sebentar dengan Devan."


Amel langsung mengangguk. "Iya kak." Setelah itu Rendi mengikuti langkah Devan menuju ruang keluarga.


"Duduklah." Devan mengarahkan tangannya pada sofa yang kosong.


"Ada apa? Apa yang ingin kau bicarakan padaku?" Rendi menampilkan wajah datarnya pada Devan. Di dalam hatinya masih ada kekhawatiran terhadap laki-laki yang sedang duduk menatapnya.


Devan tampak terdiam sejenak lalu dia membuka suaranya. "Dua hari yang lalu Friska mencoba untuk bunuh diri lagi."

__ADS_1


Kata-kata yang dilontarkan Devan sukses buat Rendi sangat terkejut, belum sempat Rendi merespon ucapan Devan, laki-laki yang di depannya itu kembali melanjutkan ucapannya.


Bersambung....


__ADS_2