
Amel sedang mematut dirinya di depan cermin, hari ini dia akan mengikuti rapat Dewan Komisaris dan Direksi. Tiba-tiba Amel diserang rasa gugup yang luar biasa.
Bukan karena rapat yang akan diadakan hari ini, tetapi karena kehadiran Rendi dalam rapat tersebut sebagai pemimpin sekaligus anak dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja. Dia takut membuat kesalahan dalam rapat nanti.
Amel menatap pantulan dirinya di dalam cermin untuk terakhir kalinya, memastikan kalau dirinya terlihat segar hari ini. Dia tidak ingin terlihat buruk di depan Rendi nanti. Amel berjalan keluar kamarnya menuju meja makan.
“Tumben Abang uda siap?” Amel baru saja tiba di ruang makan dan melihat Raka sudah berpakaian rapi dan sedang menikmati sarapan paginya.
Raka menoleh sekilas pada Amel yang sedang berjalan menghampirinya. “Ada masalah sedikit di kantor jadi abang harus berangkat pagi. Kamu dianter Devan hari ini?” tanya Raka saat melihat Amel sudah duduk di sampingnya dan mengoleskan selai strawbery pada rotinya.
Amel mengangguk. “Iyaa Bang, kak Devan uda pulang dari luar kota,” jawab Amel sambil mengunyah dengan mulut penuh. Dia ingin menyelesaikan sarapannya dengan cepat.
Raka menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya, lalu menoleh pada Amel. “Apa kamu yakin Rendi benar Amnesia? Bagaimana kalau Kenan membohongimu lagi seperti waktu itu?” tanya Raka.
Kemarin sepulang kerja, Amel langsung menceritakan semua yang diberitahukan Kenan pada Raka. Setelah mendengar semua cerita Amel, ada sedikit keraguan dalam hati Raka.
Amel menoleh pada Raka setelah menghabiskan makanan di mulutnya. “Kenan nggak bohong, Bang.”
“Abang cuma heran kenapa dia tiba-tiba jadi Amnesia. Abang cuma nggak mau kamu sakit hati nantinya,” ucap Raka setelah meneguk habis minumannya.
Amel mengerti perasaan Raka, karena dia tahu bagaimana terpuruknya Amel saat itu. “Kemarin Amel sudah bertanya langsung pada dokter Jhon. Katanya Rendi mengalami Amnesia akibat dari operasi otak yang di jalani Rendi saat di Amerika, itu salah satu efek dari operasi otak dan biasa terjadi sama pasien yang mengalami cidera otak berat. Sebenarnya bukan cuma Amel yang dia lupain, tapi juga ingatkan waktu dia baru aja pindah ke indonesia. Kata dokter Jhon kenapa Rendi bisa lupa sama ingatan yang barunya terutama yang berhubungan sama Amel. Mungkin karena luka yang Amel tinggalkan untuk Rendi sangat dalam, dan menimbulkan rasa sakit yang nggak bisa di tahan sama Rendi. Mungkin itu salah satu caranya membentengi dirinya dari ingatakan yang menyakitkan,” ungkap Amel.
Saat di rumah sakit kemarin Amel sengaja pergi menemui dokter Jhon diam-diam, untuk bertanya langsung tentang kondisi Rendi. Dia meminta ijin untuk ke toilet pada Rendi dan Kenan saat dia pergi menemui dokter Jhon.
Raka menghela napas setelah mendengar penuturan Amel. Dia merasa kasihan sebenarnya pada Rendi. “Jadi dia juga lupa sama Abang?” tanya Raka.
Amel menggangguk tanpa menoleh pada Raka. “Iyaa,” ucap Amel tenang.
Raka menatap Amel yang masih mengunyah roti di mulutnya. “Jadi, kedepannya kamu mau gimana?”
Amel menoleh pada Raka. “Amel akan perjuangin Rendi,” jawab Amel mantap lalu mengambil air minum di samping piringnya dan meneguknya sedikit lalu meletakkan kembali di atas meja.
“Bagaimana dengan Devan? Apa yang akan kamu katakan padanya? Bukankah dia sudah pernah melamarmu?”
Dan, bagaimana juga dengan perasaaku Mel? Apa sudah saatnya aku harus menyerah pada perasaanku? batin Raka.
Raka tampak meneliti wajah Amel yang tampak diam dan menatap lurus ke depan setelah mendengar pertanyaanya.
__ADS_1
“Kamu nggak boleh salah langkah kali ini Mel, pikirkan dengan matang sebelum kamu memilih,” sambung Raka lagi sambil memegang bahu Amel.
Dalam situasi seperti ini, dia hanya bisa memberikan Amel nasehat. Dia tidak ingin ikut campur masalah pribadi Amel.
Amel menoleh dan tersenyum pada Raka. “Iya bang, Makasih sarannya.” Amel berdiri setelah menengguk habis air minumnya. “Amel berangkat dulu,” pamit Amel sambil meraih tasnya. Amel berjalan keluar setelah melihat anggukan dari Raka.
Pandangan Raka tidak pernah lepas dari punggung Amel yang terlihat mulai menjauh. Dia menghela napas panjang setelah Amel sudah tidak terlihat lagi.
Amel berjalan keluar rumah dan melihat mobil Devan sudah terparkir di depan rumah Raka. Dia langsung masuk ke dalam mobil, tidak lama setelah itu mobil melaju meninggalkan rumah Raka.
“Kamu pulang jam berapa nanti?” tanya Devan saat melihat Amel diam saja sambil menatap keluar.
Amel menoleh pada Devan. “Kayaknya seperti biasa, Kak, kenapa?”
Devan mengalihkan pandangannya pada Amel sejenak. “Kayaknya aku nggak bisa jemput kamu. Ada meeting jam 4 sore, nggak keburu kalau jemput kamu,” tuturnya.
Amel menoleh sedikit ke Devan. “Nggak apa-apa kak. Nanti Amel minta jemput bang Raka aja.”
Devan mengangguk. “Sudah sampai,” ucap Devan saat mobilnya sudah berada di depan kantor Amel. “Amel turun ya, Kak,” ucapnya.
“Mel tunggu.” Langkah Amel terhenti dan menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya. “Kenapa, Kak?” tanya Amel heran saat melihat Devan menyusulnya masuk ke dalam kantor. Saat dirinya sudah berada di dekat pintu lift.
Devan menyodorkan benda pipih berwarna putih pada Amel. “Ponsel kamu ketinggalan di mobil,” ucap Devan dengan napas yang tidak beraturan. Dia berlari kecil saat mengejar Amel tadi.
Amel tersenyum lebar dan meraih ponselnya dari tangan Devan. “Makasih kak, maaf uda ngerepotin.” Amel memang keluar terburu-buru tadi sehingga tidak mengecek lagi ponselnya.
“Kamu ini, kebiasaan selalu aja ceroboh.” Amel hanya tersenyum lebar. “Yaudah kakak pergi ya,” ucap Devan sambil mengacak-acak rambut Amel sambil tersenyum.
Tanpa mereka sadari dari kejauhan ada yang sedang memperhatikan gerak-gerik mereka.
“Miingggiiiiir..!! Kalau mau pacaran jangan di sini.” Amel dan Devan langsung menoleh saat mendengar suara berat dari belakang mereka.
Amel dan Devan langsung terkejut saat melihat Rendi sudah berdiri di dekat mereka dengan tatapan tajam. Amel meremas kedua tangannya saat melihat Rendi menatap dingin padanya. Entah mengapa perasaanya jadi cemas.
Devan sangat terkejut melihat keberadaan Rendi di depannya. Apalagi dia berada di tempat Amel bekerja. “Kamuu....” Ucapan Devan terhenti. Seperti ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokannya. Dia tidak bisa melanjutkan ucapanya. Devan langsung menoleh pada Amel.
“Kenapa dia bisa di sini?” tanya Devan memegang bahu Amel.
__ADS_1
Rendi tampak tidak peduli dengan pertanyaan yang dilontarkan Devan pada Amel. Dia sedang menatap tajam pada tangan Devan yang menyentuh bahu Amel.
Menyadari tatapan Rendi jatuh pada tangan Devan yang menyentuh bahunya, Amel segera menoleh pada Devan. “Nanti Amel jelasin Kak, mendingan Kakak pergi sekarang.”
Devan terdiam lalu melirik kepada Rendi sejenak. Ada jejak keraguan di mata Devan. Dia masih ingin bertanya dengan Amel, tapi sepertinya situasinya tidak mendukung. Dia juga harus segera pergi ke kantor agar tidak terlambat.
Devan masing tidak menyangka kalau Rendi tiba-tiba muncul di hadapannya, karena yang dia tahu Rendi sudah meninggal. Amel memang belum menceritakan pada Devan mengenai Rendi. Dia bingung bagaimana menceritakannya.
Devan akhirnya mengangguk. ”Kamu harus jelaskan semuanya nanti,” ucap Devan sambil melepaskan tangannya dari bahu Amel. Dia berjalan meninggalkan Rendi dan Amel setelah berpamitan pada Amel.
Melihat Devan sudah pergi, Rendi melangkah masuk ke dalam lift diikuti oleh Amel di belakangnya. Rendi hanya diam dengan wajah yang sulit diartikan. Amel juga tidak berani membuka suara sebelum Rendi bertanya langsung padanya.
“Aku tidak mau lagi melihatmu pacaran di dalam kantorku,” ucap Rendi tegas tanpa menoleh pada Amel yang sedang berdiri di belakangnya saat mereka sudah berada di dalam lift.
“Kamu salah paham Kak, dia bukan pacarku.”
Rendi membalikkan sedikit badannya dan menoleh pada Amel. “Kak..?? Kamu menyamakan panggilanku dengan laki-laki tadi?” tanya Rendi dengan nada tidak suka.
Saat melihat Amel berduaan dengan laki-laki lain, Rendi merasa dada seperti terbakar. Dia tidak suka melihat Amel dekat dengan laki-laki lain. Ditambah lagi, Amel memanggilnya dengan panggilan sama dengan laki-laki itu. Dia tidak suka disamakan dengan laki-laki itu.
Amel menatap Rendi yang tampak menatap tidak suka padanya. “Itu adalah panggilanku untukkmu dari dulu, panggilan yang sama saat kita pacaran dulu,” jelas Amel tenang.
Rendi menoleh lagi ke depan. “Lalu kenapa kau memanggil laki-laki itu dengan Kak juga?” protes Rendi.
Amel terkekeh mendengar pertanyaan konyol Rendi, karena panggilan kakak adalah panggilan umum untuk orang yang lebih tua. “Karena dia itu kakakku, Lagian panggilan kakak itu panggilan umum. Aku juga memanggil Fadil dengan sebutan kak Fadil,” jelas Amel sambil menahan senyumannya.
“Apa kau kira aku bodoh? Aku bisa melihat kalau laki-laki itu menyukaimu hanya dari tatapan matanya padamu. Apa kau tidak bisa melihat tatapan penuh cinta dari laki-laki itu?” ujar Rendi dengan wajah kesal. Rendi membayangkan tatapan Devan pada Amel tadi membuatnya tambah kesal.
“Namanya Devan Kak. Aku hanya menganggapnya sebagai kakak, tidak lebih,” jelas Amel sambil memandang punggung Rendi yang tegap.
Dari belakang aja masih terlihat tampan. Dari dulu memang sudah tampan, tapi sekarang lebih tampan lagi. Miss you Kak.
“Aku tidak peduli siapa namanya. Aku tidak suka kau dekat dengannya.”
“Apa Kakak cemburu?”
Bersambung...
__ADS_1