
Rendi menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa. Aku lelah. Aku ingin istirahat,” ucap Rendi.
“Kakak masih marah denganku?” Sebelum Rendi menjawab, ponsel Amel berbunyi.
Amel berlari mengambil ponselnya, ketika melihat Amel sudah tidak menghalanginya. Rendi berjalan ke tempat tidur. Dia melirik Amel yang terlihat hanya diam memandangi ponselnya yang terus saja berbunyi. Rendi memperhatikan wajah Amel dengan seksama, saat Amel tengah berjalan menuju balkon untuk menerima telpon.
Setelah selesai menerima telpon, Amel masuk lagi ke dalam kamar. “Siapa?” Terdengar suara Rendi yang membuyarkan lamunan Amel.
“Pak Devan.”
“Kamu ngasih nomor telpon kamu sama dia?” Terdengar suara Rendi dengan nada sedikit tinggi.
“Nggak kak, Amel juga nggak tau, dia tahu dari mana nomor Amel,” sahut Amel sambil berjalan mendekati Rendi.
“Ngapain dia nelpon kamu?”
“Dia nanyain Amel lagi di mana. Dia tadi mencari Amel di kelas, tapi tidak Amel nggak ada. Hari ini Amel sengaja menghindarinya, apalagi waktu dia berjalanan menuju Amel tadi.” Amel berusaha menjelaskan dengan hati-hati
Rendi memicingkan matanya. “Untuk apa dia mencari kamu? ini sudah bukan jam sekolah, ada urusan apalagi?”
“Ada yang mau dibicarakan sama Amel katanya, tapi dia mau bicara langsung.” Amel menatap Rendi yang terlihat dengan tatapan tidak suka.
“Aku nggak ijinin kamu ketemu dia, apalagi diluar jam sekolah.” Rendi memalingkan wajahnya ke samping.
“Dia meminta bertemu besok, sebelum jam masuk sekolah.”
“Terus, kamu setuju?” Rendi memalingkan wajahnya pada Amel setelah mendengar perkataannya.
“Iya kak..Mungkin dia mau bicara mengenai kelasnya besok, karena jam pelajaran pertama adalah jam pelajarannya.”
“Kalau aku bilang, aku tidak mengijinkan kamu bertemu dengannya. Apakah kamu masih akan menemuinya?” Rendi menatap Amel dengan wajah serius.
Amel tampak diam. Dia berpikir sejenak. “Maaf kak, tadi Amel sudah menyetujuinya,” ujar Amel dengan nada pelan sambil menunduk.
“Baiklah, kalau memang seperti itu. Percuma saja aku melarangmu. Sepertinya kau bisa mengambil keputusan apapun tanpa bertanya dulu kepadaku. Kalau begitu, Aku juga tidak akan memberitahumu jika aku akan bertemu dengan Friska.” Rendi berdiri setelah mengatakan kalimat itu.
Amel mengejar Rendi. “Apa kakak ingin membalasku sekarang?”
“Dengar Mel, kalau kau saja bisa berbuat seperti itu kepadaku. Aku juga bisa merespon semua perempuan yang mendekatiku, termasuk Friska. Selama ini aku tidak pernah merespon mereka karena menghargaimu. Aku tidak ingin menyakiti hatimu. Bahkan sebelum kau menjadi pacarku, aku pun tidak pernah merespon mereka sama sekali, karena aku sudah mencintaimu. Berbeda denganmu yang selalu berdekatan dengan cowok lain."
__ADS_1
“Aku minta maaf kak. Aku hanya tidak bisa menolak, jika pak Devan nanti akan membahas masalah pelajaran. Bagaimanapun dia adalahnguruku sekarang. Aku janji tidak akan membicaran hal dinluar urusan sekolah. Aku juga akan berusaha menjaga jarak denganya.”
“Sudahlah.. Sekarang semua terserah padamu.” Rendi berjalan melewati Amel.
Amel menghentikan langkah Rendi dengan menahan tanganya. “Kakak mau ke mana? Aku tidak menjinkan kakak pergi..!” Amel kemudian berdiri di depan Rendi. “Maaf kak, kau boleh marah padaku nanti, ini kulakukan agar kakak tahu, kalau aku hanya mencintai kakak. Amel menarik kerah baju Rendi dan berjinjit lalu mengecup singkat pipi Rendi. “Itu adalah permintaan maafku, untuk masalah cincin.”
Rendi diam mematung, pupil matanya membesar saat merasakan bibir Amel tadi menempel di pipinya. Sekujur tubuhnya seperti tersengat listrik. Ini pertama kalinya Amel berinisatif menciumnya lebih dulu.
Amel mencium pipi Rendi lagi. “Ini untuk masalah ponsel yang diberikan Raka.”
Amel menarik kerah baju Rendi dan mencium pipinya lagi. “Dan yang terakhir sebagai permintaan maafku, karena sudah memustuskan bertemu dengan Devan, tanpa meminta ijin dulu kepada kakak. Aku minta maaf untuk semuanya. Aku tidak mau kakak marah lagi denganku,” ucap Amel setelah selesai mencium Rendi 3 kali.
Rendi masih dibuat terkejut oleh tingkah Amel. Dia hanya diam menatap Amel. “Tidak bisakah kakak memaafkan aku untuk kali ini saja?” tanya Amel saat meilhat Rendi tidak mereponnya. Amel menatap Rendi dengan tatapan memohon sambil memegang kedua tangan Rendi.
“Aku akan memaafkanmu hanya untuk kali ini, tetapi jika kau melakukannya lagi, walaupun kau melakukan ini, aku tidak akan terpengaruh.” Rendi menunduk menatap dalam bola mata Amel.
Wajah Amel berubah menjadi cerah. Dengan senyuman lebar dia berkata, “Benarkah kakak akan memafkanku? Kakak janji tidak marah lagi denganku?” Amel menatap Rendi dengan wajah yang bersinar.
“Hhhmmm,” gumam Rendi.
“Apa aku boleh minta 1 permintaan lagi kepada kakak?”
“Bisakah kakak tidak marah jika bertemu dengan Devan nanti? Aku hanya minta kakak untuk menahan emosi kakak. Jangan sampai terpancing dengannya nanti. Aku takut dia sengaja membuat kakak kesal. Aku benar-benar hanya mencintai kakak, jadi kakak tidak perlu takut kalau aku akan berpaling dengannya.”
Amel harus membuat kesepakatan dulu dengan Rendi. Dia takut Rendi akan membuat masalah di sekolah. Amel tidak mau kalau Rendi merusak reputasinya sebagai siswa telada, karena selama ini dia tidak pernah membuat masalah di sekolah.
Amel sedikit merasa bersalah karena dirinyalah Rendi terluka sampai 2 kali, dan menyebabkan dia tidak bisa masuk ke sekolah selama berhari-hari. Selama ini Rendi terkenal murid teladan, cerdas, dan berprestasi. Dia tidak pernah membuat masalah sedikitpun.
“Semua tergantung bagaimana sikapmu!”
“Aku akan bersikap baik. Aku tidak akan melakukan hal yang membuat kakak marah, tetapi jika dia yang berusaha mendekatiku, kakak tidak boleh menyalahkanku, karena itu bukan salahku.”
Rendi terdiam sejenak. “Makanya, kau tidak boleh memberikan celah sedikitpun kepadanya untuk bisa mendekatimu.”
Amel mengangguk cepat sambil tersenyum. “Baiklah kak, kakak juga tidak boleh merespon cewek lain yang menyukai kakak. Aku tidak suka..!” Amel membuang wajahnya ke samping.
“Itu sebagai hukumanmu karena kau sudah mengecewakan aku.”
Amel menatap tajam pada Rendi dengan wajah kesal dia berkata, “Yaa sudah, lakukan saja..! Lebih baik aku pulang..!” Amel membalikkan tubuhnya ingin keluar dari kamar Rendi.
__ADS_1
Rendi menarik tubuh Amel dan memeluknya. “Aku hanya bercanda! Jangan pulang! Maafkan aku!”
“Kakak harus janji dulu!”
“Iyaa, aku janji,” ucap Rendi sambil mengusap lembut kepala Amel.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan pergi dulu.” Amel melepaskan pelukan Rendi.
“Kau mau ke mana?” Rendi bertanya dengan heran pada Amel, yang sedang berdiri di hadapannya.
“Amel mau ke kamar Sofi.”
“Temani aku dulu, setelah aku tertidur kau boleh ke kamar Sofi.” Rendi menarik tangan Amel.
Setelah Rendi tertidur, dia menuju kamar Sofi.
Mereka berjalan ke taman belakang, setelah selesai memilih pakaian renang yang akan digunakan nanti. Mereka menikmati matahari sore hari, sambil duduk menunggu di sofa gazebo belakang, di dekat kolam Renang.
“Kak, temen kakak yang tadi ngeselin banget sih..!” seru Sofi sambil memasukkan buah anggur ke dalam mulutnya.
Amel yang sedang duduk sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa berwarna abu-abu. Dia menoleh saat mendengar perkataan Sofi. “Maksud kamu Raka?”
“Hhhmhh,” gumam Sofi dengan mulut yang dipenuhi dengan buah Anggur.
Amel tersenyum. “Sebenarnya Raka itu baik Sof, cuma kak Amel juga nggak tahu, kenapa dia bisa bersikap seperti itu sama kamu. Dia itu orangnya ramah kok.”
“Mungkin karena Sofi adiknya kak Rendi, jadi dia kesal juga dengan Sofi,” tebaknya sambil mengunyah.
“Raka tidak pernah menyangkut-pautkan orang lain ke dalam masalah pribadinya. Mungkin karena dia belum mengenal kamu saja.”
”Bukankah dia yang pernah makan dengan kakak waktu itu di mall itu?”
“Ternyata kamu masih mengingatnya?” tanya Amel yang sedang menatap ke arah kolam renang.
“Tentu saja, itu pertama kalinya aku melihat kak Rendi cemburu pada seseorang.”
Amel memutar kepalanya menghadap Sofi. “Benarkah? memangnya dulu, kak Rendi tidak pernah cemburu terhadap pacarnya?”
Bersambung...
__ADS_1