Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Tidak Ada Kabar


__ADS_3

Amel dan Sofi pamit pada ibu Amel untuk pergi ke hotel Rendi untuk bertemu dengan calon mertuanya. Lilian ingin mengajak Amel untuk mengambil cincin pernikahan yang sudah dipesan khusus oleh Lilian sekaligus dia ingin mengajak Amel ke butik lagi untuk mencoba baju untuk terakhir kalinya.


Setelah mengambil cincin pesanan Lilian, mereka menuju butik. Mereka bertiga berjalan bersama menuju pintu masuk butik. Lilian langsung meminta Amel untuk mencoba gaun pengantinnya ditemani oleh dua pegawai butik di sana.


“Kamu cantik banget sayang,” ucap Lilian saat melihat Amel memakai gaun yang dirancang khusus untuknya. “Iyaa, kan Sofi?” tanya Lilian sambil menoleh pada anaknya.


Sofi mengangguk. “Iyaa bener, Ma, Kak Amel cantik banget,” jawab Sofi sambil tersenyum lebar.


Rendi belum sempat melihat gaun yang dipakai Amel saat ini, karena masih tahap pengerjaan waktu itu. Saat ini gaunnya hampir selesai. Amel hanya mencoba untuk untu menyesuaikan denga bentuknya pas di tubuh Amel. Gaun itu diperkirakan akan selesai nanti malam.


Amel tertunduk malu. “Terima kasih, Ma.”


Setelah mencoba gaun, merka bertiga kembali ke hotel lagi. Tadi pagi Lilian sebenarnya meminta Rendi untuk mengantar Amel, tetapi karena Rendi tidak bisa terpaksa dia dan Sofi yang menemani Amel. Rendi sengaja tidak memberitahu ibunya kalau dia akan bertemu dengan Friska. Dia takut mamanya akan memarahinya. Rendi hanya mengatakan ada urusan mendadak.


Sesampainya di hotel, Sofi mengajak Amel untuk ke kamarnya sambil menunggu Rendi pulang. Mereka habiskan waktu sambil menonton dan bercerita. Amel terlihat beberapa kali memerikasa ponselnya. Pesannya terkirim, tetapi belum dibalas oleh Rendi.


Sampai pukul 4 sore Rendi belum juga membalas pesannya. Amel sudah mencoba untuk mengirimkan beberapa pesan tetapi tidak terkirim, Amel juga mencoba menelpon tapi ponsel Rendi tidak aktif. Amel berinisiatif meminta nomor ponsel Friska pada Sofi, setelah mendapatkannnya Amel langsung menghubungi Friska, tetapi tidak diangkat oleh Friska.


Amel mulai cemas karena tidak bisa menghubungi mereka berdua. Berbagai macam pikiran buruk muncul di benaknya. Dia mulai berpikir yang tidak-tidak. Meskiun begitu, Amel berusaha keras untuk tetap berpikir positif. Dia mencoba menghubungi Raka dan meminta Raka untuk datang ke hotel Rendi.


Amel tidak berani bercerita pada orang tua Rendi dan Sofi. Dia takut mereka akan panik juga. Dia juga tidak berani bercerita dengan Devan karena Devan sudah memperingatkan Rendi untuk menjauhi Friska. Datu-satunya orang yang bisa diajak bicara adalah Raka.


Amel turun ke lantai bawah untuk menjemput Raka. Mereka lalu berjalan menuju lantai paling atas bersama-sama. Sebelum naik Amel sudah menceritakan terlebih dahulu pada Raka. Dia meminta Raka untuk merahasiakan dulu dari semua orang.


Sofi terlihat membuka pintu setelah Amel memencet bel. Raka dan Amel langsung duduk di sofa. “Kak, Sofi mau mandi dulu,” pamit Sofi.


Amel mengangguk. Sebelum Sofi berjalan ke kamar mandi, dia sempat menoleh sejenak pada Raka. Dia melihat Raka tampak aca tak acuh padanya. Sofi berpikir kalau Raka benar-benar marah dan berniat menjauhinya.


“Kenapa kamu ijinkan Rendi untuk menemui Friska?” Bukannya kamu tahu sendiri bagaimana sifat Friska?” tanya Raka setelah Sofi masuk ke kamar mandi.


Amel meremas tangannya dengan wajah cemas. “Aku hanya kasihan pada Friska, Bang,” jawab Amel pelan.


Raka menyandarkan tubuhnya pada sofa. “Kau itu bodoh atau apa? Wanita itu jelas-jelas tergila-gila pada Rendi, tapi dengan mudahnya kamu ijinkah dia pergi dengan calon suamimu,” ucap Raka sambil menatap heran pada Amel.


Amel menunduk. “Amel juga tidak menyangka akan seperti ini, Bang.”


Raka meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Rendi. Nomor Rendi masih berada di luar jangkauan. Raka kemudian meletakkan ponselnya di meja. “Semenjak kapan nomor ponselnya tidak aktif?” tanya Raka.

__ADS_1


“Tadi siang,” jawab Amel dengan wajah sedih.


“Apa Rendi mengatakan kemana dia akan pergi?” tanya Raka sambil menatap Amel.


Amel menggeleng. “Nggak, Bang” jawab Amel dengan suara pelan.


Raka berdiri kemudian terlihat menghubungi seseorang, sementara Amel duduk dengan perasaan cemas. Raka lalu berjalan menuju Amel lagi setelah dia mengakhiri panggilan telponnya.


“Aku sudah meminta orang untuk mencarinya. Kita tunggu saja, jangan khawatir,” ucap Raka menenangkan Amel.


“Apa mungkin ponselnya kehabisan baterai?”


“Semoga saja begitu. Aku harap Rendi tidak melakukan kesalahan kali ini, tapi jika sampai dia melakukannya. Aku akan menghajarnya sampai dia tidak bisa bangun lagi,” ucap Raka dengan sorot mata tajam.


“Bang, jangan begitu,” tegur Amel.


Tidak lama kemudian Sofi keluar dari kamar mandi. Dia meminta Amel untuk mandi juga. Sofi sudah menyiapkan baju ganti untuk Amel. Setelah Amel masuk ke kamar mandi, tinggallah Raka dan Sofi. Mereka terlihat tidak saling sapa. Raka hanya diam sambil fokus pada ponselnya. Sementara Sofi tampak menonton televisi. Sesekali dia melirik Raka yang masih tampak acuh tak acuh padanya.


“Heyy, apa kau marah padaku karena perkataanku malam itu?” Sofi akhirnya membuka suaranya karena tidak tahan lagi dengan sikap dingin Raka padanya.


Raka mengangkat kepalanya lalu menatap datar pada Sofi. “Panggil aku dengan benar. Aku lebih tua darimu,” ucap Raka dingin.


Raka hanya diam dan nampak mengalihkan pandangannya ke layar ponsel lagi. “Raka! Kau belum menjawab pertanyaanku!” pekik Sofi ketika Raka belum juga bicara dan masih tampak acuh padanya.


“Aku tidak marah,” jawab Raka singkat.


“Lalu kenapa kau mengabaikan aku?”


“Aku hanya menghindari pembicaraan yang tidak penting,” jawab Raka datar.


“Apa kata-kataku ada yang menyinggungmu?” tanya Sofi penasaran.


Raka menghela napas. “Dengar Sofi. Aku sudah bilang tidak akan menganggumu lagi. Lebih baik kau urus saja pacarmu. Kau tidak perlu memperdulikan aku lagi. Dari awal kita memang tidak dekat. Akan lebih baik kalau kita menjaga jarak mulai sekarang.”


Sofi langsung terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca, entah mengapa hatinya sakit saat mendengar perkataan Raka. Sofi langsung menatap ke langit-langit untuk menghindari air mata yang akan jatuh di pipinya.


“Aku minta maaf kalau ada kata-kataku yang menyinggungmu,” ucap Sofi dengan suara bergetar.

__ADS_1


Raka berdiri saat melihat Amel baru saja keluar dari kamar mandi. “Mel, abang mau keluar dulu sebentar,” pamit Raka.


“Abang mau kemana?”


“Mau merokok di bawah,” jawab Raka singkat.


Dahi Amel mengerut. “Semenjak kapan Abang merokok?” tanya Amel dengan wajah heran.


Raka melirik ke Sofi sekilas lalu menatap Amel. “Mulai sekarang,” jawab Raka kemudian berjalan menuju pintu.


Amel berjalan cepat lalu menghentikan langkah Raka. “Bang, tunggu!” panggil Amel dengan suara tinggi.


Raka menoleh. “Amel akan marah sama Abang kalau sampai Abang ngerokok,” ucap Amel sambil menatap tajam pada Raka.


“Mel, abang cuma mau nyoba saja. Abang tidak akan menjadi perokok aktif,” kilah Raka saat melihat tatapan marah Amel.


“Kalau sampai Abang mencoba sekali saja, Amel tidak mau kenal bang Raka lagi.” Amel pergi meninggalkan Raka dengan wajah kesal.


Raka menghembuskan napas halus melihat kemarahan Amel. Akhirnya dia tidak jadi keluar dan kembali ke tempat duduknya yang semula. Tidak lama kemudian, Amel datang dengan membawa minuman.


“Abang ada masalah?” tanya Amel saat melihat Raka tampak hanya diam sambil bermain dengan ponselnya.


“Tidak ada,” jawab Raka singkat.


“Apa Laura menganggu Abang lagi?”


Raka menggeleng. “Jangan menyebut namanya. Dia membuatku pusing,” ucap Raka kesal.


“Kenapa?”


“Dia sepertinya mulai gila. Dia sering datang ke kantorku dan membuat keributan. Dia bahkan bertengkar dengan Nita,” ucap Raka kesal. Sofi melirik pada Raka saat mendengar perkataannya.


Laura dan Nita adalah mantan pacar Raka waktu SMA. Amel memang mengenal semua mantan Raka, terutama Laura karena mereka pernah satu kelas.


“Yang benar? Amel juga kurang menyukai Laura, Bang. Dia terlalu agresif dan mau menang sendiri. Salah Abang sendiri kenapa dulu pacaran sama dia.”


“Sudahlah. Aku tidak mau membahas mereka,” ucap Raka kesal.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya keluar bertiga untuk makan malam karena waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Amel mencoba untuk menenangkan pikirannya dulu sambil menunggu kabar dari Rendi.


Bersambung...


__ADS_2