
Rendi terbangun ketika mendengar suara dari kamar mandi, dia mengedarkan pandangannya dan tidak menemukan keberadaan istrinya di sebelahnya. Dia kemudian beranjak ke kamar mandi saat mendengar Amel sedang memuntahkan sesuatu.
"Sayang, kau masih sakit?" Rendy menghampiri Amel yang sedang berjongkok di depan closet duduk sambil memuntahkan isi perutnya.
Amel tidak menjawab, melainkan masih berusaha untuk mengeluarkan isi perutnya. Wajahnya nampak lebih pucat dari semalam.
"Oeeeekk... Huuoeeekk." Rendi ikut berjongkok di belakang Amel sambil memijat tengkuk leher istrinya dengan lembut.
"Oeekk...Huueekk." Amel terus memuntahkan isi perutnya. Saat bangun tadi pagi, dia hanya makan satu pisang serta sereal yang dia buat sendiri dan semua makanan yang dia makan tadi pagi sudah dia muntahkan semuanya.
Rendi tampak cemas melihat wajah pucat istrinya. "Sayang, habis ini kita harus ke rumah sakit, kau tidak boleh membantah," ucap Rendi dengan tegas.
Amel mengangguk lemah, dia merasakan tubuhnya lemas dan tak bertenaga. Selesai mengeluarkan isi perutnya, Rendi membantu Amel untuk berdiri untuk membasuh wajahnya di wastafel lalu membantunya untuk kembali ke tempat tidur dan membaringkannya.
Rendi duduk di tepi ranjang sambil membelai rambut istrinya setelah menarik selimut untuk istri. "Kau mau makan apa sayang?" tanya Rendi sambil membelai rambut istrinya.
"Aku tidak mau makan, Kak," jawab Amel dengan lemah.
"Kau harus makan sayang, bagaimana kita mau ke rumah sakit kalau tubuhmu lemah begini." Rendi berusaha membujuk istrinya, "apa kau ingin aku buatkan susu atau teh?" tawar Rendi.
"Teh saja, Kak."
Rendi mengangguk. "Baiklah, kau tunggu di sini." Rendi segera keluar dan kembali dengan membawa nampan berisi teh hangat dan roti tawar yang sudah diolesi selai coklat.
"Bangun dulu sayang." Rendi membantu Amel untuk duduk setelah meletakkan nampan di atas nakas yang berada di sebelah tempat tidur.
"Minumlah, pelan-pelan, awas panas." Rendi memegangi cangkir teh lalu membantu Amel untuk minuh tehnya.
Dengan hati-hati, Amel menyesap tehnya hingga tersisa setengah. "Makalah roti ini."
Amel menggeleng. "Aku tidak lapar, Kak," tolak Amel.
"Sedikit saja sayang," bujuk Rendi sambil menyodorkan roti di depan mulut Amel. "Ayoo sayang buka mulutmu," bujuk Rendi lagi.
Amel akhirnya membuka mulut dan menggigit roti yang ada di tangan Rendi. Susah payah dia menghabiskan satu roti yang dibuat oleh suaminya. Sebenarnya, dia masih merasa mual dan pusing, tetapi melihat suaminya yang sudah susah payah membuatkannya, akhirnya Amel mau makan demi suaminya.
"Habis ini kita ke rumah sakit, kau istirahat dulu sebentar." Rendi membantu Amel untuk berbaring kembali.
"Kak, temani aku tidur," pinta Amel dengan manja.
"Baiklah," Rendi naik ke tempat tidur, berbaring miring di sebelah istrinya. Dia meletakkan kepala istrinya di lengan kirinya. "Apa ada yang ingin kau makan lagi?"
"Tidaak, aku cuma mau tidur sambil memelukmu." Rendi tersenyum melihat sikap manja istrinya.
"Baiklah, tidurlah sebentar lagi, setelah itu kita rumah sakit." Rendi mendekap istrinya sambil mengusap rambut istrinya.
Sementara, di kamar lain, Raka baru saja selesai mandi saat pintu kamarnya di ketuk seseorang. Sebelum membuka pintu, Raka terlebih dahulu memakai bajunya setelah itu membuka pintunya.
"Ini baju ganti untukmu." Sofi menyerahkan pakaian kakaknya pada Raka sambil tersenyum.
"Apa kakakmu dan Amel sudah bangun?" tanya Raka setelah menerima pakaian yang diberikan oleh Sofi.
"Sudah, tapi mereka masih di kamar. Kak Amel tidak enak badan, dia habis muntah-muntah tadi pagi," ungkap Sofi.
Dahi Raka mengerut. "Muntah?" ulang Raka dan langsung di jawab anggukan oleh Sofi.
"Kenapa tidak dibawa ke rumah sakit?"
"Kak Rendi bilang nanti, kak Amel masih lemas."
__ADS_1
Saat Sofi ke kamar kakaknya untuk meminjam baju untuk Raka, Amel baru saja tertidur. Dari situlah dia tahu kalau Amel masih sakit.
"Ohh, aku ganti baju dulu."
"Iyaaa, aku tunggu di meja makan, kita sarapan bersama."
Raka mengangguk lalu menutup pintu setelah Sofi pergi. Selesai mengganti baju, dia menyusul sofa ke meja makan.
"Kak, duduklah." Sofi menarik kursi di sebelahnya saat melihat Raka berjalan ke arahnya.
Senyum tipis tersungging di wajah Raka saat mendengar panggilan baru Sofi padanya. "Kau memasak sendiri?" tanya Raka saat melihat bubur ayam dan nasi goreng yang ada di depannya.
Sofi tersenyum lebar ke arah Raka dengan wajah sedikit malu. "Tidak, aku menyuruh orang hotel untuk membuatkan dan mengantarkan ke sini."
Sofi dan Rendi memang terbiasa makan dari restoran dari hotel mereka, terkadang kalau bosan, mereka akan memesan makanan dari restoran langganan mereka. Semenjak menikah, sebenarnya Amel ingin memasak, tapi dilarang oleh Rendi karena tidak mau Amel kelelahan.
Raka manggut-manggut, meraih bubur ayam lalu menyendokkan ke dalam mulutnya. "Apa kau tidak suka dengan wanita yang tidak bisa masak?" tanya Sofi ketika melihat respon Raka biasa saja dan terkesan datar.
"Tidak juga, itu tidak penting bagiku, tapi alangkah baiknya kau belajar masak agar saat kita memiliki anak nanti, kau bisa memasak untuk mereka."
Sofi tersipu malu mendengar Raka membahas mengenai anak. "Iyaa, aku akan belajar masak."
Raka menatap ponselnya saat melihat ada panggilan masuk. Dia kemudian mengangkatnya lalu berbicara sebentar.
"Siapa?" tanya Sofi dengan wajah penasaran.
"Nita." Raka meletakkan ponselnya di meja lalu meraih gelas yang berisi air putih dan menghabiskannya.
"Kenapa dia menelponmu sepagi ini?"
Raka menyeka sudut mulutnya lalu menatap Sofi. "Dia memang selalu menelpon setiap pagi untuk membangunkan aku dan memberitahukan mengenai jadwalku."
Raka mengulum senyumnya sambil meletakkan gelas di atas meja melihat kecemburuan Sofi. "Sebagai sekertarisku," jawab Raka singkat.
"Tapi, menurutku dia melakukan itu sebagai mantanmu. Aku sangat yakin kalau dia masih menaruh perasaan padamu."
Raka ingin tertawa, tapi dia tahan, ekpresi Sofi saat cemburu membuatnya gemas. "Dia sudah melakukan itu sejak kami pacaran hingga saat ini. Aku sudah pernah melarangnya, tapi dia tetap saja melakukannya."
Sofi merengut. "Mana ponselmu, aku mau lihat." Sofi menengadahkan tangan di depan wajah Raka.
"Kau mau lihat apa?"
"Ada yang mau aku lihat, cepat kemarikan ponselmu," ucap Sofi tidak sabar. Dia semakin curiga saat melihat Raka enggan memberikan ponselnya.
"Kau harus janji dulu untuk tidak marah," ucap Raka sebelum memberikan ponselnya. Dia hanya takut kalau Sofi akan berpikiran macam-macam jika melihat isi ponselnya.
"Jangan-jangan kau berselingkuh di belakangku ya?" tuduh Sofi.
"Tidak sayang, hanya saja....."
"Hanya apa?" potong Sofi cepat. Melihat Raka yang nampak ragu-ragu, Sofi lalu berdiri dari kursinya, "baiklah, lupakan saja, aku tidak peduli lagi."
Raka langsung berdiri dan menahan tangan Sofi ketika dia akan melangkah. "Aku belum selesai bicara." Sofi pura-pura acuh tak acuh.
"Ini ponselku." Raka menyerahkan ponselnya pada Sofi.
Sofi berbalik dan kembali duduk di tempatnya sambil tersenyum, begitu pun Raka nampak kembali duduk di depan Sofi.
"Ini siapa?" tunjuk Sofi pada foto profil yang ada di aplikasi pesan singkat berwarna hijau yang menampilkan foto wanita cantik yang sedang tersenyum.
__ADS_1
"Sonya," jawab Raka sambil menyesap teh yang dibuat oleh Sofi, "mantanku waktu SMA," imbuh Raka lagi saat mendapatkan tatapan curiga dari Sofi.
"Kenapa dia memanggilmu sayang?" tanya Sofi dengan tatapan menyelidik.
"Dia masih tidak terima aku putuskan dan sampai sekarang masih mengejarku. Kau bisa tanya Amel dan Nita jika tidak percaya, mereka mengenal Sonya."
"Apa dia yang sering datang ke kantormu dan sering membuat onar setiap bertemu dengan Nita?"
Raka terkejut sesaat. "Dari mana kau tahu?"
"Kak Amel pernah cerita padaku." Sofi meneliti wajah wanita yang ada di layar ponsel Raka. "Sepertinya, aku pernah melihatnya."
"Dia model papan atas sekaligus brand ambasador sebuah kosmetik ternama. Wajahnya juga sering terpampang di majalah fashion," ungkap Raka.
Pantas saja, cantik sekali, ternyata masih ada yang lebih cantik dari Nita. Bertambah lagi sainganku.
"Dia sangat cantik, kenapa kau tidak mau kembali dengannya?"
"Aku tidak suka sifatnya yang angkuh dan sombongnya serta gaya hidupnya yang bebas. Aku tidak suka dengan wanita yang sulit diatur dan suka merendahkan orang lain."
"Lalu kenapa kau memacarinya dulu?"
"Dia yang menyatakan perasaannya padaku di depan semua murid di salah satu acara sekolah, aku tidak mau mempermalukannya di depan umum sebab itu aku menerimanya. Aku tidak mau dia dicemooh oleh orang lain karena kutolak. Aku hanya berpacaran dengannya 3 bulan. Lagi pula, dulu sikapnya baik, entah karena lingkungannya atau apa dia jadi berubah. Saat SMA dia sudah menjadi model, saat karirnya menanjak, dia mulai berubah dan saat aku putuskan dia tidak mau dan tidak terima dengan keputusan sepihak dariku."
Sonya adalah salah satu cewek populer di sekolah Raka selain Siska. Dia memiliki parah yang cantik dan memiliki tubuh yang bagus.
Sofi menghela napas dan kembali mengecek ponsel Raka. "Lalu ini siapa?" Sofi kembali menunjuk salah satu foto profil pada pesan singkat di ponsel Raka.
"Aku pernah dekat dengannya saat kuliah, tapi aku hanya menganggapnya teman. Dia pernah menyatakan perasaanya padaku, tapi aku tolak."
"Lalu ini?"
"Mantanku juga saat SMA."
Sofi meletakkan ponsel Raka di meja dengan kasar. Semua isi pesan yang ada di ponselnya berasal dari wanita dan sebagian lagi dari rekan bisnisnya. "Sebenarnya berapa banyak mantanmu waktu sekolah dulu?"
"Tidak banyak, hanya 6 termasuk Nita dan dari semuanya, bukan aku yang mengejar mereka. Mereka yang lebih dulu menyatakan perasaanya padaku. Tidak ada satu pun yang aku sukai. Dulu, aku menerima mereka hanya untuk sebuah status, aku tidak ingin Amel tahu bagaimana perasaanku yang sesungguhnya padanya. Aku takut dia akan menjauhi aku jika dia tahu perasaanku."
"Aku tidak suka kau masih berhubungan dengan masa lalumu."
"Aku tidak pernah merespon mereka sayang. Kau periksa saja semua pesanku. Apa ada yang aku respon? Aku hanya membalas yang penting saja," ujar Raka santai.
Sofi menampilkan wajah cemberut. "Meskipun begitu, aku tetap tidak suka mereka menghubungimu. Ganti nomor ponselmu."
"Tidak bisa sayang, semua rekan bisnisku akan sulit mengubungiku nanti." Raka berdiri lalu membungkuk ke arah Sofi. "Kalau kau begitu takut aku selingkuh, kita akan menikah dalam waktu dekat. Dengan begitu kau bisa selalu berada di dekatku dan bisa mengecek ponselku sesuka hatimu."
"Apa kau tidak akan menyesal menikah denganku? Aku lihat semua wanita yang mendekatimu, cantik semua."
Raka tertawa kecil. "Tapi yang aku cintai adalah kau, cantik itu relatif sayang. Lagi pula, menurutku kau lebih cantik dari mereka."
"Gombaaaal."
"Aku serius sayang. Aku tidak akan macam-macam, kau bisa pegang kata-kataku. Aku akan menjaga hatiku sampai kita menikah."
"Tapi bagaimana kalau orang tuaku tidak setuju?"
"Aku akan berusaha untuk menyakinkan orang tuamu. Hari ini, aku akan bertanya pada kakakmu kapan aku bisa menemui orang tuamu. Persiapkan saja dirimu, setelah mendapatkan restu, aku akan segera menikahimu."
Bersambung....
__ADS_1