Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Pertemuan Tidak Terduga (Sesion 2)


__ADS_3

Fadil keluar dari ruangan Kenan setelah selesai bebicara dengan Kenan. Tepat pukul 10 pagi. Kenan keluar dari ruangannya, kemudian berjalan menuju lift bersama dengan Fadil dan Amel yang sudah menunggunya dari tadi di depan ruangannya, meninggalkan Bela sendiran di lantai atas.


Mereka menuju tempat yang sudah mereka tentukan sebelumnya. Setelah selesai meeting di luar, mereka kembali lagi ke kantor. "Dil, panggil Siska dan teman-temannya," perintah Kenan.


"Baik, Pak."


Fadil berencana untuk memberi Siska perlajaran akibat dari perbuatannya waktu itu karena sudah berani mengusik Amel. Ketika mendengar suara ketukan pintu dari luar, Kenan segera mempersilahkan masuk. Saat pintu terbuka, masuklah Fadil beserta keempat wanita dan berjalan ke arahnya.


"Apa kalian tahu alasan kenapa kalian dipanggil?" Kenan duduk tegak sambil memandang keempat wanita yang sudah berdiri di depan mejanya.


"Tidak, Pak," jawab mereka serempak.


Kenan tertawa sinis. "Apa kalian mengenal Amel?"


Keempat wanita itu saling pandang dengan wajah terkejut. "Kenal, Pak. Memangnya ada apa, Pak?" tanya Siska.


"Di antara kalian siapa yang sudah menamparnya dan sudah membuatnya terluka?"


Mereka berempat seketika terdiam dengan wajah pucat. Kalau kalian tidak ada yang mengaku, aku akan memberikan hukuman untuk kalian semua," ancam Kenan.


Setelah heninh sesaat, salah sati teman Siska membuka suaranya. "Siska, Pak. Dia yang melakukannya," ucap wanita bernama Yesi.


Siska langsung menoleh pada Yesi ketika mendengar namanya disebut. Dia melayangkan tatapan tajam dan marah pada Yesi.


"Benarkah? Bagaimana aku bisa percaya denganmu? Bisa saja kau memfitnah Siska agat terhindar dari hukuman."


Kenan berjalan menuju keempat wanita itu berdiri. "Memang dia yang menampar dan mendorong Amel hingga dia terjatuh." Yesi kemudian beralih menatap kedua temannya untuk mendapat dukungan, "benar, kan?"


Kedua temannya mengangguk. "Benar, Pak. Kami tidak melakukan apa-apa pada Amel. Siska yang sudah membuat Amel terluka."


Diam-diam, Siska mengepalkan tangannya. Dia merasa sangat marah katena tannya berani menghianantinya.


"Baiklah, kalian boleh keluar."


Ketiga teman Siska mengangguk lalu berbalik, melangkah menuju pintu, tapi sebelum mereka sempat membuka pintu, Kenan kembali berkata, "Kalian tidak perlu datang lagi ke perusahaan ini mulai besok."


Langkah mereka seketika berhenti. "Kalian dipecat." Seketika ketiga wanita itu berbalik.


"Kalian bisa mengambil pesangon kalian di bagian personalia," lanjut Kenan lagi ketika melihat wajah pucat pasi mereka.


Sebelum sempat protes, Kenan sudah memerintahkan Fadil untuk mengusir mereka keluar. Meskipun awalnya mereka menolak, tapi pada akhirnya mereka keluar juga setelah paksa oleh Fadil.


"Siska, ini juga berlaku untukmu. Kau tidak perlu bekerja lagi mulai besok, tapi bedanua kau tidak mendapatkan pesangon apapun."


"Aku tidak terima dipecat seperti ini. Bapak tidak bisa memecat saya karena masah pribadi. Apalagi hanya karena membela gading kampungi itu," ucap Siska dengan marah. Dia sudah tidak bisa mengontrol kemarahannya ketika mendengar dia dipecat tanpa mendapatkan apapun.


Kenan berjalan menuju meja kerjanya lalu duduk bersandar dengan wajah santai. "Aku tidak peduli kau terima atau tidak. Sebelum kau merundung seseorang, cari tahu dulu siapa dia sebenarnya. Kau memilih orang yang salah. Seharusnya kau bersyukur karena hanua dipecat dari perusahaan ini. Tadinya aku berniat memenjarakanmu, tapi aku batalkan karena Amel tidak mau memperpanjang masalah ini."


Siska terlihat masih tidak terima dengan keputusan Kenan. "Tapi perusahaan ini memiliki aturan juga. Bapak tidak bisa mencampur adukkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan."


Kenan menekuk kedua sikunya di atas meja lalu menumpukan dagunya dengan tangannya. "Memang, tapi masalahnya perusahaan akan menjadi miliknya nanti."

__ADS_1


"Maksud Bapak?"


"Masksudku, dia bukan orang yang bisa kau lawan. Lebih baik terima saja nasibmu. Pergi dari sini dan jangan pernah coba mengganggu Amel lagi kalau kau tidak ingin terkena masalah. Lain kali, coba pakai otakmu sedikit."


*****


Amel sedang berdiri di depan kantornya menunggu Raka menjemputnya. Dia langsung berjalan keluar kantor saat waktu menunjukkan jam pulang kantor. Dia langusng berjalan mendekati mobil Raka yang terparkir tidak jauh darinya.


“Mau kemana?” tanya Raka saat Amel sudah masuk ke dalam mobilnya.


"Ke rumah sakit kemarin, Bang.” Amel kemudian memakai seatbeltnya.


Raka melajukan mobilnya setelah mendengar perkataan Amel. Butuh waktu 45 menit untuk sampai ke rumah sakit Elizabeth. Amel dan Raka langsung turun setelah Raka memarkirkan mobilnya di lantai basement rumah sakit.


Raka mengikuti langka Amel dari belakang, Raka tidak bertanya kepada Amel, apa tujuannya datang ke rumah sakit itu lagi. Dia hanya mengikuti kemana Amel melangkah. Dia tampak berjalan sambil terus menoleh ke kanan dan kiri seperti sedang mencari seseorang.


“Kamu sebenarnya mencari siapa?” tanya Raka saat dia sudah merasa lelah karena sudah mengelilingi seluruh rumah sakit dari lantai bawah sampai lantai paling atas.


Amel berhenti lalu berbalik menatap Raka. “Bang, aku melihat orang yang mirip dia kemarin di rumah sakit ini.”


Raka sedikit terkejut mendengar perkataan Amel. Dia tentu sajantahu siapa yang di maksud oleh Amel. “Bukankah Kenan sudah bilang kalau dia sudah tidak ada? Operasinya gagal. Dia tidak selamat, Mel."


Amel memang sudah menceritakan sebelumnya kepada Raka semua yang dikatakan oleh Kenan waktu itu.


Amel menggeleng kuat. “Dia masih hidup Bang. Amel yakin itu,” ucap Amel tegas.


Raka mendekati Amel yang terlihat memandangnya dengan tatapan tidak suka. “Kamu harus terima kenyataan ini, Mel. Dia tidak akan pernah kembali.”


“Kalau Abang keberatan nemenin Amel, Abang bisa pulang. Amel akan mencarinya sampai ketemu.”


Seketika wajah Amel langsung berubah cerah. Dia mengajak Raka untuk mencari ke kantin karena hanya tempat itu yang belum dia datangi. Amel berjalan gontai saat dia tidak menemukam sosok yang dicarinya. Dia akhirnya menyerah karena waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Dia harus pulang karena besok dia masih harus bekerja.


Amel dan Raka berjalan menuju parkiran dan meninggalkan rumah sakit itu. “Kita makan dulu ya,” ucap Raka saat melihat Amel yang tampak hanya diam dengan wajah murung.


Amel hanya mengangguk saat mendengar perkataan Raka. Raka kemudian mengajak Amel untuk makan di restoran Jepang yang tidak jauh dari rumah sakit itu. Amel terlihat tidak bersemangat. Dia terus berjalan pelan sambil terus menunduk. Raka mengajak Amel untuk duduk di sudut ruangan paling pojok. Setelah duduk, Raka langsung memesan makanan.


“Bang, ponsel Amel ketinggalan di mobil. Amel mau ambil dulu,” ucap Amel sambil berdiri.


Raka mengangguk lalu menyerahkan kunci mobilnya pada Amel. Amel lalu berjalan keluar menuju parkiran mobil. Restoran itu sedang ramai pengunjung, terlihat parkiran itu sudah dipenuhi banyak mobil. Amel mencari-cari ponselnya, tapi tidak menemukannya juga. Dia mengingat-ingat di mana dia meletakkannya tadi.


Setelah mencari selama 10 menit, Amel akhirnya menemukan ponselnya yang terjatuh di bawah jok mobil tempatnya duduk. Amel mengambil ponselnya kemudian keluar dari mobil. Amel berjalan dengan terburu-buru karena takut Raka akan mencarinya nanti. Dia berjalan dengan langkah cepat sambil memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.


“Buuugh.” Amel menabrak seseorang.


“Apa kau tidak menggunakan matamu untuk melihat ke depan saat sedang berjalan?” Terdengar suara dingin dari pria yang ditabraknya.


Amel yang sedang membungkuk memungut ponselnya yang jatuh seketika terdiam saat mendengar suara pria itu. Suara itu, sangat familiar. Amel kemudian mengangkat kepalanya setelah mengambil ponselnya yang terjatuh.


Matanya terbelalak saat melihat pria yang sedang berdiri di depannya sedang menatap dingin padanya. Jantungnya berdetak cepat dan tangannya gemetar tidak terkendali. Amel terlihat berdiri mematung dan tidak bisa berkata-kata untuk beberapa saat. Saat akan berbicara tenggorokannya seolah tercekat.


“Kenapa kau menatapku seperti? Bukankah seharusnya kau meminta maaf kepadaku?” Pria di depan Amel menatap tajam padanya saat melihatnya hanya diam saja.

__ADS_1


“Ma-maaaf,” ucap Amel dengan gugup.


“Tungguu!” teriak Amel saat melihat pria sudah berjalan melewatinya tanpa berkata apa-apa.


Langkah pria itu tiba-tiba terhenti. “Ada apa lagi?” Pria itu menjawab tanpa menoleh pada Amel. Dia nampak tidak senang karena Amel menghentikannya.


Amel membalik tubuhnya lalu menatap punggung laki-laki itu. “Kenapa kau tidak pernah mencariku?”


Pria itu membalikkan tubuhnya saat mendengar perkataan Amel, kemudian menatap Amel dengan alis bertautan. “Kenapa aku harus mencarimu? Apa aku mengenalmu?”


Amel sangat terkejut setelah perkataan pria di depannya. “Apa kau sangat membenciku sampai kau tidak mau lagi mengingatku?”


Pria itu mentap Amel sejenak kemudia berkata, “Apa kau begitu penting untuk aku ingat?”


Melihat sikap dingin pria itu, mata Amel mulai berkaca-kaca. “Aku tahu kamu masih marah kepadaku karena kejadian dulu. Aku minta maaf,” ucap Amel dengan suara bergetar. Dia tidak menyangka kalau pria di depannya akan mengatakan hal yang begitu menyakitkan baginya setelah sekilan lama tidam bertemu.


Pria itu berjalan mendekati Amel kemudian membungkuk menatap Amel dengan seksama. “Mendengar dari ucapanmu, sepertinya kita saling mengenal. Apa kita pernah dekat? Atau kita pernah memliki hubungan khusus dulu?” cecar Pria itu dengan wajah penasaran.


“Apa kau benar-benar tidak mau mengenalku lagi? Kau bilang selamanya akan mencintaiku, apa kau lupa dengan kata-katamu waktu itu?"


Pria itu menatap Amel dengan malas karena Amel tidak menjawab pertanyaannya tadi. “Apa kita pernah berpacaran sebelumnya?”


Hati Amel benar-benar sakit saat mendengar perkataan pria itu. “Kau bahkan sudah melamarku secara pribadi. Apa kau malu mengakuiku sebagai mantan kekasihmu?" ujar Amel sambil meremas kedua tangannya dengan kuat.


Wajah pria itu sedikit terkejut. “Jadi seperti itu. Kalau dulu kita pernah menjalin hubungan lalu bagaimana hubungan kita bisa berakhir? Apa kau mencampakkan aku?” tanya Pria itu dengan salah satu alis yang terangkat.


“Rendi, kau sedang bicara dengan siapa?”


Terdengar suara wanita dari belakang Amel. Rendi dan Amel pun menoleh bersamaan ke arah wanita itu.


“Aku juga tidak mengenalnya, Kila,” jawab Rendi santai.


Wanita itu menatap Amel dengan wajah terkejut. “Kamu,” pekik Wanita itu saat berhadapan langsung dengan Amel. Tidak hanya wanita itu saja yang terkejut, Amel pun tidak kalah terkejut saat melihat wanita yang ada di depannya itu.


Rendi langsung menoleh pada wanita yang di sebelahnya saat melihat ekpresi terkejut darinya. “Apa kamu mengenalnya, Kila?”


Wanita itu menggelang cepat. “Tidak Ren, kurasa wajahnya sedikit familiar.”


“Kamu tunggulah di mobil, sebentar lagi aku akan menyusulmu,” ucap Rendi dengan lembut.


“Baiklah, jangan lama-lama,” ucap Kila sambil melirik sekilas pada Amel. Wanita itu kemudian pergi meninggalkan Amel dan Rendi.


Rendi menatap kepergian Kila sejenak kemudian dia maju beberapa langkah dan mendekatkan wajahnya pada Amel. “Sekarang katakan padaku, bagaimana kamu mencampakkan aku?”


Amel mengalihkan pandangannya saat Rendi menatapnya dari dekat. Amel tidak sanggup menatap mata Rendi dalam waktu lama karena merasa jantungnya berdebar kencang ketika mereka bertatapan.


“Aku tidak pernah mencampakkanmu.”


Rendi tersenyum sinis lalu berkata, “Lalu menurutmu, aku yang sudah mencampakkanmu?”


“Bukan seperti itu.”

__ADS_1


Rendi menjauhkan wajahnya dari Amel kemudian tersenyum miring. “Lalu seperti apa??” Rendi menatap Amel dengan wajah serius dengan melipat kedua tangannya di depan dada lalu berakata, "satu hal yang harus kamu tahu, aku tidak akan pernah mencampakkan orang yang aku cintai, meskipun dia sudah menyakitiku berkali-kali.”


Bersambung....


__ADS_2