Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Rumah Raka


__ADS_3

“Jangan-jangan kakak kamu sakit lagi gara-gara kebanyakan minum?" Amel mulai cemas.


“Kakak ke kamarnya aja, nanti Sofi kasih kartu aksesnya,” usul Sofi saat melihat Amel tampak khawatir dengan keadaan kakaknya. Sofi berjalan menuju nakas dan mengambil dompetnya lalu mengeluarkan kartu.


Sofi kemudian berjalan mendekati Amel lagi. “Ini Kak, Kartu aksesnya,”ucap Sofi sambil menyerahkan kartu akses kamar orang tuanya pada Amel.


“Makasih Sofi." Amel mengambil kartu berwarna gold dengan logo hotel di sebelah kanan atasnya.


Sofi mengangguk. “Apa kakak sudah berbaikan dengan kak Rendi?” tanya Sofi sambil melirik pada Raka setelah dia berganti pakaian dan sedang duduk di samping Amel.


“Iyaa,” ucap Amel sambil mengangguk.


“Mel, kita pulang dulu ya habis ini, tadi mama telpon abang. Mama nanyain kita ke mana, kenapa nggak ada di rumah.”


Setelah kepergian Sofi ke kamar Rendk tadi, Tamara menelpon Raka karena tidak bisa menghubungi ponsel Amel. Tamara terkejut saat menyadari kalau Amel dan Raka tidak ada di rumah dari pagi.


Amel langsung menoleh pada Raka yang berada di sampingnya. “Trus Abang bilang apa?” tanya Amel cepat.


“Abang bilang lagi nginep tempat temen sekolah kita.”


“Tapi Bang, kak Rendi belum bangun, Amel takut kak Rendi nyariin Amel nanti,” ucap Amel cepat.


Raka menengakkan tubuhnya. “Nanti abang anterin kamu lagi ke sini. Yang penting kita pulang dulu. Mama khawatir soalnya kita perginya nggak pamit."


Sofi mengernyit mendengar perkataan mereka. Dia merasa janggal dengan permbicaraan mereka, terlihat kalau mereka sangat dekat, apalagi Amel memanggil ibu Raka dengan sebutan mama. Sofi memang tidak tahu kedekatan Amel dengan keluarga Raka. Dia juga tidak tahu kalau Amel sekarang tinggal di rumah Raka.


Amel mengangguk. “Sofi, Kakak mau pulang dulu. Nanti kakak ke sini lagi,” ucap Amel sambil menoleh pada Sofi yang tampak terdiam.


“Iyaa, Kak,” ucap Sofi singkat.


“Kamu ikut kakak aja dari pada kamu di sini sendiri. Biar kamu juga tahu di mana kakak tinggal. Nanti kakak juga mau ke sini lagi,” ujar Amel sambil menatap Sofi yang tampak sedang berpikir.


“Emmh.. Boleh deh, Sofi juga bosen di sini sendirian nggak ada temen,” ucap Sofi tersenyum.


Mereka semua menatap pada ponsel yang ada di sebelah Sofi yang berbunyi nyaring. Sofi meraih lalu memandang layar ponselnya. “Kenapa tidak diangkat Sofi?”


Amel merasa heran saat melihat Sofi tampak melamun, padahal ponselnya sudah berbunyi 3 kali. Amel merasa kalau sikap Sofi agak aneh, sepeti sedang memiliki masalah.


Lamunan Sofi buyar saat mendengar pertanyaan Amel. “Iyaa kak, Sofi angkat telpon dulu.” Sofi berjalan menjauh dari Raka dan Amel.


Amel dan Raka tampak sedang menatap Sofi yang sedang berbicara dengan seseorang di telpon. Sayup-sayup terdengar kalau Sofi sedang bertengkar dengan seseorang yang ada di telpon. Sofi tampak mengusap pipi kanan dan kirinya.


Tidak lama kemudian, Sofi memejamkan mata sebentar setelah mengakhiri telponnya. Tangannya memegang tembok di dekatnya, seperti sedang menahan bobot tubuhnya. Setelah itu dia tampak terdiam sambil melamun.


Amel berdiri menghampiri Sofi. “Kamu kenapa Sofi?” tanya Amel sambil memegang bahu Sofi yang tampak sedang menatap kosong di depannya.


Sofi menoleh pada Amel. “Nggak apa-apa, Kak,” ucap Sofi sambil mengusap air mata yang menetes di pipinya lalu menunduk.


Amel merasa kalau Sofi sedang menyembunyikan sesuatu. “Kalau kamu punya masalah, kamu bisa kok cerita sama kak Amel. Kamu tenang aja, Kakak nggak bakal cerita sama sama siapapun termasuk dengan kakak kamu,” ucap Amel lagi sambil memperhatikan wajah Sofi yang tampak sedih.

__ADS_1


Sofi berdiri tegak. “Iyaa, Kak.”


“Yaa udaah. Kamu tunggu di sini dulu sama bang Raka. Kak Amel mau ke kamar kakak kamu dulu. Habis itu, ikut kakak pulang ya?” Sofi mengangguk lalu mengikuti langkah Amel yang sedang berjalan menuju sofa.


Amel berhenti di dekat Raka duduk. “Bang, Amel mau nemuin kak Rendi dulu. Abang tunggu di sini dulu ya?” ucap Amel menoleh pada Raka.


“Iyaa.” Amel mendekatkan tubuhnya pada Raka. “Bang, jangan ganggu Sofi dulu, sepertinya dia lagi ada masalah,” bisik Amel pada Raka saat melihat Sofi hanya duduk diam sambil melihat ke layar ponsel namun tatapannya kosong.


Raka melirik pada Sofi yang berada di depannya lalu mengangguk pada Amel.


********


Amel berjalan keluar kamar menuju kamar yang di tempati Rendi. Perlahan Amel membuka pintu kamar menggunakan kartui akses yang diberikan oleh Sofi. Pintu terbuka lalu Amel ke dalam kamar. Amel berjalan dengan sangat pelan, dia takut mengganggu tidur Rendi saat melihat Rendi tampak masih berbaring di tempat tidur dengan mata yang terpejam.


Amel duduk di tepi tempat tidur, lalu menatap wajah tampan Rendi. Amel tersenyum saat melihat wajah damai Rendi saat sedang tertidur pulas. Amel masih belum percaya kalau Rendi benar-benar kembali padanya. Amel merasa kalau semuanya seperti mimpi indah yang akan hilang jika dia sudah terbangun dari tidurnya.


Amel menelusuri wajah Rendi. Wajah yang selama ini sangat dia rindukan, yang selalu memenuhi pikirannya. Amel menunduk dan mencium pipi Rendi lalu berakhir pada bibir merah Rendi.


Amel mengecupnya pelan lalu berkata, “Kak, Amel pulang dulu ya. Nanti Amel ke sini lagi.”


Amel menjauhkan wajahnya lalu menatap wajah Rendi sebentar yang masih tertidur. Amel kemudian berjalan keluar menuju kamar Sofi lagi.


*****


Raka terus menatap ke arah Sofi tanpa berkata apa-apa. Lamunan Sofi buyar saat mendengar bel kamarnya berbunyi. “Biar aku yang buka,” ucap Raka sambil berdiri dan berjalan menuju pintu, saat melihat Sofi akan berdiri.


“Rendi mana?” tanya Raka setelah dia membuka pintu dan melihat Amel berdiri sendiri di depanannya.


Sofi tampak masih diam. “Sofi, kamu mau ganti baju dulu atau kita langsung berangkat?” tanya Amel ketika dia sudah duduk di sebelah Sofi.


Sofi menoleh saat mendengar pertanyaan Amel. “Sofi ganti baju dulu kak, tunggu bentar.” Dia berdiri dan menuju lemari pakaian. Sementara, Raka dan Amel hanya menatap Sofi yang terlihat masuk ke dalam kamar mandi.


“Sofi uda siap, Kak,” ucap Sofi sambil berjalan mendekati Amel. Dia sedang mengenakan dress selutut berwarna merah, dengan rambut panjang terurai. Amel dan Raka berdiri lalu menuju pintu keluar saat melihat Sofi sudah meraih tasnya.


Mereka berjalan bersama menuju lift. “Kak Rendi belum bangun, Kak?” tanya Sofi setelah mereka berada di dalam lift. Amel mengangguk.


“Iyaa, Kakak sengaja nggak bangunin. Kayaknya kak Rendi capek banget,” ucap Amel sambil menoleh sebentar pada Sofi.


“Kak Rendi emang belum tidur dari 2 hari, Kak.” Dahi Amel mengerut.


“Kenapa?” tanya Amel heran.


Mereka melangkah keluar dari lift menuju pintu keluar hotel. “Nggak tau juga, yang Sofi tau, kakak habis ribut sama kak Friska,” ungkap Sofi sambil mengikuti langkah Amel dan Raka menuju parkiran depan rumah sakit.


Raka tampak hanya mendengarkan obrolan Sofi dan Amel. “Sof kamu duduk di depan ya?” ucap Amel setelah mereka sudah berada di depan mobil Raka. Raka langsung menoleh pada Amel yang sudah membuka pintu belakang.


“Tapii kak...”


“Kalau kamu nggak mau duduk di depan, duduk di belakang aja sama Amel,” ucap Raka datar. Dia kemudian membuka pintu kemudian duduk di kursi kemudi.

__ADS_1


Sofi terpaksa duduk di depan, saat melihat Amel dan Raka sudah berada di dalam mobil. Raka menatap Sofi yang tampak hanya diam. Dia memajukan tubuhnya.


Mata Sofi membelalak saat melihat tubuh Raka sudah berada di depannya dengan jarak yang sangat dekat, seperti ingin memeluknya dengan tangan yang bergerak meraih sesuatu sambil mendekatkan wajahnya pada Sofi.


"Ka-kau mau apa?" Raka menatap mata Sofi dari jarak sangat dekat.


"Cekleek." Bunyi seatbelt terpasang sempurna. Sofi langsung melirik ke kanan bawah tempat berasalnya bunyi itu.


Wajahnya langsung memerah karena dugaannya salah. Dia mengira kalau Raka akan memeluknya dan menciumnya tadi. "Apa yang kau pikirkan barusan?" Raka menatap dalam mata Sofi.


"Ak-aku... tidak...." Sofi bingung harus menjawab apa karena merasa malu dengan pikirannya sendiri.


"Buang pikiran kotormu itu," ucap Raka sambil menjauhkan tubuhnya dari Sofi dan mulai menjalankan mobilnya keluar dari area hotel.


Sofi tampak mengalihkan pandangannya dengan wajah memerah karena mendengar perkataan Raka. Amel memejamkam matanya sambil bersandar, semetara Raka hanya fokus menatap lurus ke depan. Tidak ada pembicaraan lagi selama di perjalanan.


Mobil memasuki gerbang rumah Raka. Sofi tampak memperhatikan rumah besar dengan halaman luas yang ada di depannya. “Mel, kita uda sampa." Raka membuka pintu lalu turun dari mobil.


Amel yang sedari tadi memejamkan matanya, seketika membuka mata lalu mengajak Sofi turun. Mereka berjalan bersama menuju pintu. Amel menggandeng tangan Sofi masuk ke dalam rumah mengikuti langkah Raka yang sudah berjalan terlebih dahulu. 


Mereka berjalan menuju ruang keluarga. “Duduk Sofi.”


Amel menarik Sofi untuk duduk di sebelahnya. Sementara Raka sudah duduk bersandar di depan mereka sambil memejamkan matanya.


“Sofi, kamu tunggu di sini dulu ya? Ponsel kakak mati, mau charger dulu di kamar."


"Iyaa, Kak,” ucap Sofi sambil mengangguk.


Sofi mengerucutkan bibirnya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Terdengar suara langkah yang mendekat ke arah ruang tamu.


“Ada tamu? Siapa ini? Cantik sekali. Pacar kamu yang, Bang?” tanya Tamara saat melihat Sofi duduk di depan anaknya.


Raka membuka matanya lalu menatap malas ibunya. “Bukan," jawab Raka singkat.


Dia membenarkan posisi duduknya saat melihat mamanya sudah duduk di sampingnya. “Mama?" Sofi nampak heran mendengar panggilan Raka terhadap wanita itu.


Dia tidak tahu kalau wanita yang di depannya adalalah mama Raka. Dia berpikir kalau rumah yang dia datangi adalah tempat tinggal Amel, bukan rumah Raka. “Tante mamanya Raka,” jelas Tamara dengan senyum sumringah.


Tamara kemudian berdiri. “Mama ambil minum dan makanan ringan dulu ya.”


Tamara lalu berjalan ke arah dapur dan kembali lagi dengan membawa minuman dan makanan ringan di tangannya. Tamara meletakkan minuman dan makanan itu di atas meja lalu duduk di samping Raka lagi.


“Kenapa kamu kaget bangey?” tanya Raka saat melihat ekpresi terkejut dari Sofi.


“Ini rumahku, Amel tinggal di sini semenjak kepergian kakakmu keluar negri,” jelas Raka seolah dia tahu apa yang ada di benak Sofi saat ini.


“Jadi ini aku sedang berada di rumahmu?” tanya Sofi lagi untuk memastikan.


Raka menatap Sofi yang tampak masih belum percaya dengan ucapannya. “Kenapa? Kau tidak suka berada di rumahku?” tanya Raka ketus.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2