Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Berakhir


__ADS_3

“Raka Tunggu!” Sofi berusaha menyusul langkah Raka.


Raka tidak menghiraukan ucapan Sofi dia terus berjalan meninggalkan Sofi.


Sofi berlari kecil untuk menyusul Raka. “Raka, dengarkan perjelasanku terlebih dahulu, kau hanya salah paham.” Sofi menahan tangan Raka.


Raka menoleh. “Kalau kau melihatku tersenyum bahagia sambil memeluk wanita lain, apa kau akan berpikir sama denganku?” Raka menaikkan satu sudut bibirnya. “Aaaa,, Aku lupa.. Kau tidak mungkin marah karena kau sebenarnya tidak mencintaiku. Aku hanya menjadi pelampiasanmu saja karena kekecewaanmu pada Willy. Seharusnya aku menyadarinya dari awal. Aku saja yang bodoh karena percaya dengan kata-katamu.”


Sofi mulai panik. “Raka, semua tidak seperti yang kau lihat..Aku tadi hanya refleks. Aku sungguh tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Mike!”


“Ooh.. Jadi Mike nama bajingan itu? Apa dia tahu kau sudah memiliki kekasih? Apa aku harus menghajarnya dulu baru kau mau menjauhinya?”


Sofi menghempaskan tangan Raka. “Raka.. Kau jangan keterlaluan.. Dia adalah pria yang baik! Dia tidak seperti yang kau pikirkan!” Sofi langsung marah ketika mendengar Raka menghina Mike apalagi Raka berniat untuk mengahajar Mike hanya karena rasa cemburunya. Mike adalah teman dekatnya. Selama dia sekolah Mike yang selalu menjaganya dari laki-laki yang berniat mengganggu dan mendekatinya. Tidak sekalipun Mike berbuat tidak sopan padanya.


Raka mendenkati Sofi. “Jadi, sekarang kau sudah terang-terangan membela bajingan itu?”


“Kau tidak berhak mengatakannya bajingan. Kau tidak tahu apa-apa tentangnya!”ucap Sofi dengan tatapan marah.


Raut wajah Raka bertambah gelap. “Jadi, kau lebih membelanya? Kau tidak mau menjauhi bajingan itu?”


“Aku tidak akan pernah menjauhinya. Dia adalah teman dekatku,” jawab Sofi dengan tatapan marah. “Dan, jangan pernah memanggilnya bajingan lagi..!!”


Raut wajah Raka bertambah gelap. “Baiklah kalau begitu, sepertinya hubungan kita tidak bisa dilanjutkan lagi. Aku akan melepasmu! Kau bebas sekarang. Aku tidak akan pernah mengganggumu lagi. Anggap saja kita tidak saling kenal.”


Raka pergi meninggalkan Sofi yang tampak sangat terkejut. Dia tidak menyangka kalau Raka mengakhiri hubungan mereka begitu saja.


****


Amel berlari menghampiri Raka. “Abang kok bisa di sini? Bukannya Abang bilang nggak bisa ke sini?” Amel tampak meneliti ekpresi Raka yang tampak sedang emosi.


Rendi Menatap luruh ke depan. Dia melihat adiknya masih berdiri mematung sambil memandang ke arah Raka. Rendi kemudian menghampiri Amel dan Raka. “Bang, ada apa sebenarnya?” Amel bertanya lagi ketika Raka hanya diam tidak menjawab pertanyaannya.


Raka menatap Amel. “Mel, abang akan pulang ke Jakarta sekarang.”


Amel menahan tangan Raka. “Bang, jelasin dulu sama Amel, ada apa sebenarnya?”

__ADS_1


Rendi menatap Raka. “Apa kau bertengkar dengan Sofi?” Amel langsung terkejut. “Apa bener yang dibilang kak Rendi?”


Raka menatap Rendi. “Aku ingin berbicara denganmu sebelum aku pulang ke Jakarta.”


“Baiklah.” Rendi menoleh pada istrinya. “Mel, kita pulang ke Vila dulu, Besok pagi kita ke sini lagi.” Rendi terpaksa menunda acara jalan-jalan di sekitar pantai saat melihat wajah serius Raka.


“Iyaa, Kak.”


Mereka bertiga berjalan menuju vila Rendi dan Amel. Sementara Sofi masih belum bergerak juga dari tempatnya berdiri. Air matanya tampak mulai menetes di pipinya. Setelah tiba di vila, Rendi meminta Amel untuk menunggunya di kamar. Sementara Rendi dan Raka berbicara di ruang tamu.


“Ada apa?” Rendi langsung melotntarkan pertanyaan inti pada Raka.


“Aku tidak bisa lagi melanjutkan hubunganku dengan adikmu.”


Rendi menatap datar pada Raka. “Bukankah sudah pernah aku peringatkan untuk tidak mempermainkan adikku.”


“Adikmu tidak mencintaiku. Aku tidak bisa menjalin hubungan dengan orang yang tidak mencintaiku. Kalau kau ingin tidak terima karena aku mengakhiri hubunganku dengan adikmu. Kau bisa membuat perhitungan denganku kapan saja.”


“Apa yang membuatmu berpikir kalau adikku tidak mencintaimu?”


“Apa yang kau pikirkan jika kau melihat Amel memelukku dengan wajah bahagia?” Raka melemparkan pertanyaan lain pada pada Rendi dengan wajah datar.


“Kau bisa menanyakan langsung pada adikmu. Mungkin ini salahku karena terlalu cepat memulai hubungan dengan adikmu. Seharusnya aku memikirkannya dengan matang terlebih dahulu. Aku juga merasa kalau adikmu belum sepenuhnya melupakan Willy.”


Tampak ada kesedihan di dalam sorot mata Raka. Setelah berpikir lagi, dia merasa kalau Sofi memang belum sepenuhnya melupakan masalalunya. Menurutnya mungkin saja saat ini Sofi hanya terbawa suasana karena Raka beberapa kali menolongnya. Perasaan merasa dilindungi disalah artikan oleh Sofi dengan perasaan sayang.


“Jadi, kau menyesal sudah menjalin hubungan dengan adikku?”


Raka menggeleng. “Aku tidak pernah menyesal menyukai adikmu. Aku hanya menyesal karena terlalu cepat mengambil keputusan untuk menjadikannya pacarku. Seharusnya aku menunggu dia benar-benar lepas dari masalalunya. Sehingga tidak ada bayang-bayang masa lalunya lagi saat aku menjalin hubungan dengannya.”


Rendi mengetukkan jari-jari di sandaran tangan sofa. “Aku tidak akan ikut campur masalah kalian. Kalau kau sungguh ingin mengakhiri hubungan kalian. Akhiri dengan benar. Jangan pergi begitu saja tanpa memperjelas semuanya terlebih dahulu.”


Raka berdiri. “Aku akan berbicara dengannya nanti. Aku tidak bisa berbicara dengannya saat ini. Aku ingin menenangkan pikiranku terlebih dahulu.”


Rendi memangku tangannya sambil menatap ke tangannya. “Apa kau akan segera pulang ke Jakarta sekarang?” Rendi bisa menebak dari raut wajah Raka, kalau dia ingin segera pergi dari Bali.

__ADS_1


Raka menatap Rendi sejenak kemudian mengangguk. “Iyaa. Aku akan menemui adikmu saat aku sudah tenang.”


Rendi ikut berdiri. “Tinggallah sehari di sini. Amel pasti akan mencari jika kau langsung pulang. Aku tidak mau dia mengkhawatirkan pria lain walaupun itu adalah kau.”


Rendi sangat tahu sifat istrinya. Amel pasti tidak berhenti untuk membujuknya pulang jika dia tahu kalau Raka sudah kembali ke Jakarta setelah putus dengan Sofi.


Raka tampak termenung sesaat. “Baiklah. Aku akan mencari hotel di sekitar sini. Kau bisa memberitahu Amel, jika dia menanyakanku.”


“Tidak perlu. Kau bisa memakai vila yang bersebelahan dengan vila orang tuaku. Aku memesannya karena Kenan bilang akan menyusul kemari.”


Raka mengangguk. “Baiklah.”


“Aku akan mengantarmu ke sana.” Rendi berjalan mendahului Raka. Dalan perjalanan tidak ada obrolan antara mereka.


Setelah berjalan selama 10 menit, akhirnya mereka tiba di depan vila yang dimaskud Rendi. Rendi membuka pintu vila. “Kau bisa memakai salah satu kamar yang ada di dalam.” Rendi menyerahkan kartu akses vilanya.


“Kalau begitu aku akan kembali ke vilaku.” Rendi berjalan menuju vilanya.


****


Rendi membuka pintu kamarnya. “Kenapa lama sekali kak?” Amel sedang duduk bersandar di tempat tidur. “Aku mengantar Raka dulu ke Vila yang akan ditempatinya sayang.”


Amel menampilkan wajah cemburut. “Kenapa kakak sudah mengantar bang Raka? Aku bahkan belum berbicara dengannya.”


Rendi menghampiri Amel dan duduk di tepi tempat tidur. “Kau bisa berbicara dengannya bespk sayang,” ucap Rendi dengan lembut. “Apa kau sudah mandi?” Tercium aroma mawar dari tubuh Amel yang menandakan kalau dia sudah membersihkan tubuhnya.


“Iyaa, lebih baik Kakak mandi sekarang, setelah itu kita makan. Aku sudah lapar.”


Rendi tersenyum lalu berdiri. “Baiklah. Aku mandi dulu.” Rendi mengecup kening Amel sebelum berjalan ke kamar mandi.


Usai mandi Rendi langsung menuju tempat tidur. Dia melihat Amel tampak memejamkan matanya. Saat ini Rendi hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Tadinya dia ingin bertanya pada Amel, di koper mana bajunya di masukkan, karena mereka membawa 2 koper ke Bali.


Rendi akhirnya naik ke tempat tidur. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuh Amel dan dirinya. Rendi mendekatkan tubuhnya pada Amel lalu memeluknya dari belakang. “Sayang, bangun.” Rendi berusaha membangunkan Amel karena mereka belum makan malam. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam waktu setempat.


Rendi merapikan rambut Amel yang menutupi lehernya. “Sayang, makan dulu, kau bisa sakit nanti.” Rendi mulai memberikan kecupan-kecupan kecil pada tengkuk Amel. Amel tampak sedikit bergerak, tetapi matanya masih tertutup.

__ADS_1


“Sayaang, bangun dulu. Kau bisa tidur lagi setelah makan.” Rendi masih berusaha untuk membangunkan Amel. Rendi menyesap leher samping Amel. “Kalau kau tidak bangun, aku akan memakanmu saat ini juga.”


Bersambung..


__ADS_2