
Amel tersenyum lega saat melihat sudah ada Rendi di dekatnya. “Aku lagi nunggu Kakak.”
Alis Rendi menyatu. “Kenapa wajah kamu kayak itu? Kau udah coba bajunya?” tanya Rendi saat melihat wajah Amel yang tampak berubah.
Rendi mengedarkan pandangannya. Dia melihat pegawai toko yang melayaninya tadi, sedang menggerutu sambil merapikan baju-baju yang dicoba oleh Amel. Rendi langsung mengerti apa yang terjadi.
“Sudah Kak. Ayoo kita keluar,” ajak Amel sambil memegang lengan Rendi.
Bukannya mendengarkan Amel, Rendi langsung memanggil pegawai yang melayani tadi. “Ada apa mas? Ada yang bisa saya bantu?” tanya pegawai itu saat sudah berada di depan Rendi, wanita itu berbicara dengan ramah, tidak seperti saat melayani Amel tadi.
“Mana baju yang dia coba tadi?” Rendi mengarahkan pandangannya ke Amel. Pegawai itu tampak sedikit terkejut.
“Sudah saya letakkan lagi ke tempat semula mas,” jawab pegawai itu kikuk.
“Kenapa kau membawanya?”
“Katanya mbak ini tidak jadi membelinya” tunjuk pegawai itu kepada Amel.
Rendi mengalihkan pandangannya ke Amel. Dia tersenyum miring. “Kenapa nggak jadi beli? Kamu jangan terlalu irit. Kamu harus beli kalau kamu suka. Aku takut orang lain bakal mikir, kamu nggam mampu untuk membeli baju-baju itu. Padahal, membeli toko ini saja kamu mampu. Jangan selalu merendah. Kangan sampai orang lain meremehkanmu.” ujar Rendi sarkatik.
Seketika wajah pegawai itu memucat, saat mendengar perkataan Rendi. Dia tampak meremas kedua tangannya.
Sementara Amel dibuat bingung dengan perkataan Rendi. Dia tidak mengerti sama sekali.
“Tapi kak ....” Ucapan Amel terpotong oleh ucapan Rendi.
“Ambilkan semua baju yang tadi. Dia bakal bayar semuanya,” ujar Rendi dengan wajah datar saat menatap pegawai tadi.
Melihat pegawai itu tampak melamun dan tidak bergerak, Rendi berkata lagi, “Apa perlu dia membeli toko ini dan menjadi pemiliknya, baru kau akan akan melayani dengan baik?"
Pegawai itu langsung tersadar. Dia meminta maaf sambil membungkuk, lalu berlari dan mengambil baju-baju yang dicoba oleh Amel tadi lalu meletakkan di kasir. Tampak pegawai lain memandang ke arah mereka dengan wajah penasaran.
Rendi menarik Amel menuju kasir. “Bayar cepat, Mel. Kita masih harus ke suatu tempat habis ini.” Rendi menatap Amel yang tampak diam saja.
“Haaah?” Amel tampak melongo.
__ADS_1
“Bayar dengan kartu kamu itu. cepat,” ucap Rendi memberikan kode pada Amel.
Amel langsung teringat dengan kartu yang diberikan oleh Rendi waktu itu. Amel langsung mengeluarkan dompetnya, disaksikan oleh pegawai tadi dan kasir itu. Amel memberikan kartu itu kepada kasirnya.
Kasir itu sedikit terkejut saat melihat jenis kartu yang diberikan Amel. “Terima kasih sudah berbelanja di toko kami,” ucap kasir itu setelah mereka selesai melakukan pembayaran.
Mereka tersenyum ramah dengan senyuman lebar sambil membungkukkan badan. Berbeda sekali dengan perlakuannya kepada Amel saat dia mengatakan tidak jadi membelinya. Rendi langsung menarik tangan Amel dengan wajah datar saat Amel sudah menerima paperbag itu.
“Aku nggak mau kejadian ini terulang lagi. Aku nggam mau melihat orang lain merendahkanmu. Kalau kamu nggak bersikap tegas kepada mereka, kamu yang bakal diinjak-injak sama mereka. Aku nggk mau kamu diperlakukan buruk oleh orang lain,” ucap Rendi saat sudah berada di luar toko itu
Amel menoleh ke Rendi, terlihat wajahnya sedang marah. “Dari mana Kakak tahu kalau aku diperlakukan buruk oleh mereka?”
“Aku bahkan bisa menebak, hanya dengan melihat dari ekpresimu tadi,” ucap Rendi sambil terus berjalan keluar dari Mall itu. “Kenapa kamu harus menunggu aku tadi? Harusnya kamu langsung gunaim kartu itu untuk membayar semuanya. Bukannya kamu bilang mau gunaim kartu itu saat kau butuh atau dalam keadaan mendesak?” Rendi berhenti saat mereka sudah tiba di loby mall dan menunggu pak Iyan menjemputnya.
“Maaf Kak, aku lupa,” ucap Amel dengan pelan. Dia menunduk saat Rendi menatapnya dengan tajam.
“Aku berikan kartu itu untuk kamu gunain bukan untuk kamu simpan Mel. Lain kali kamu harus gunaim kartu itu waktu aku nggak ada, seperti tadi misalnya. Kamu harus terbiasa pake kartu mulai sekarang, tanpa aku suruh.”
“Iyaa Kak," jawab Amel sambil mengangguk
******
"Waaah .... Kenapa Kakak nggak bilang kalau akan mengajak aku ke sini?" tanya Amel dengan wajah berbinar dan menoleh ke Rendi saat melihat mobil mereka memasuki wahana permainan terbesar di jakarta.
"Kejutan untukmu. Kamu suka?" Rendi tersenyum saat melihat Amel tampak senang.
"Tentu saja aku suka. Aku udah lama mau ke sini, tapi nggak pernah jadi karena sahabatku selalu sibuk kalau akhir pekan.
"Baguuuslah kalau kamu suka. Kita cari toilet dulu. Kita harus ganti baju sebelum menaiki wahana permainan."
Amel mengangguk cepat. "Iyaa, Kak."
Setelah mereka sampai di dalam. Rendi mengajak Amel untuk berganti terlebih dahulu. Setelah selesai, mereka menyantap makan siang, kemudian baru memasuki area permainan.
“Kamu mau naik permainan apa?” tanya Rendi saat dia sudah membeli tiket masuk.
__ADS_1
Amel menyentuh dagunya, tampak berpikir sebentar. “Aku mau naik bianglala, Kak,” tunjuk Amel saat meihat sebuah kincir besar yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Rendi langsung mengajak Amel untuk mengantri. Ketika naik Amel bisa melihat pemandangn laut dari ketinggian. Tidak hanya laut, tapi berbagai pemandangan di pinggiran kota Jakarta. Rendi tersenyum saat melihat Amel tidak hentinya tersenyum. Setelah selesai naik bialnglala, mereka menaiki wahana kora-kora lalu naik berbagai macam wahana lainnya.
“Kita istrirahat dulu,” ajak Rendi saat mereka baru saja selesai naik wahana niagara.
Amel mengangguk dan menarik tangan Rendi dengan cepat. “Aku mau es krim, Kak,” pinta Amel saat mereka sudah berada di depan kedai yang menjual berbagai macam rasa es krim.
Rendi mengangguk dan membelikan 2 es krim rasa strawabery dengan ukuran besar seperti permintaan Amel, karena dari dulu dia sangat menyukai es krim rasa strawbery.
“Makannya pelan-pelan Mel, nggak bakal ada yang mengambil es krimmu,” ucap Rendi saat Amel memakan es krim dengan terburu-buru.
“Aku mau cepat menaiki wahana yang lain Kak, ini kan sudah sore, takutnya nanti keburu tutup,” ucap Amel sambel memakan es krimnya dalam suapan besar.
“Kita bisa datang lain kali, kamu nghak perlu naik semua hari ini.”
“Tapi mungkin Kakak nggak akan punya waktu lagi untuk mengajakku ke sini, bukannya Kakak bilang ada yang kakak urus sebelum keluar negri, kakak juga sebentar lagi akan ujian akhir sekolah, pasti kakak sibuk,” jelas Amel.
Rendi mengelus kepala Amel. “Aku akan meluangkan waktu kalau kamu mau ke sini lagi.”
“Nggam usah, Kak. Aku bakal naikin semuanya hari ini,” tolak Amel dengan tersenyum kecil.
“Yaa sudah, terserah kamu saja.” Rendi hanya memakan sedikit es krimnya.
Dia kemudian memberikan miliknya saat melihat es krim punya Amel sudah habis. Amel dengan senang hari menerimanya. Setelah selesai makan es krim Amel mengajak Rendi untuk menaiki wahana lain lagi.
“Kau yakin mau naik wahana ini? Apa kau tidak takut? Ini adalah wahana ekstrim Mel.” Rendi menoleh dengan wajah khawatir kepada Amel, saat dia mengajaknya menaiki wahana tornado.
“Iyaa, Kak, Amel mau naik ini. Wepertinya seru,” jawab Amel dengan semangat.
“Kita naik wahana yang lain saja ya?” Rendi tampak ragu dengan pilihan Amel.
“Apa Makak takut naik wahana itu?” tanya Amel yang sudah menatap heran kepada Rendi karena wajahnya terlihat sedikit tegang saat Amel mengajaknya naek wahana ekstrim itu.
“Aku nggam takut. cuma aku nggak boleh naik wahana ekstrim, Mel,” ungkap Rendi dengan wajah serius.
__ADS_1
Bersambung...