Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Pengganggu


__ADS_3

"Mel..Bangun sayang..!" ucap Rendi saat melihat Amel tampak masih tertidur. "Mel, banguun..sudah sore sayang," sambung Rendi lagi sambil mengusap lembut pipi Amel, dan satu tangan lagi memeluk tubuh istrinya.


Amel mulai bergerak, lalu membuka matanya. "Maaf kak, aku lelah sekali hari ini!" ucap Amel dengan suara serak khas bangun tidur.


Rendi tersenyum. "Bukankah seharian ini kita hanya di kamar sayang, kenapa kau bisa lelah?"


Amel menampilkan wajah cemberut. "Kakak jangan pura-pura tidak tahu. Ini semua juga karena ulah kakak!"


Rendi tersenyum simpul. "Maafkan aku sayang, karena tidak bisa mengontrol diriku," sesal Rendi. "Tapi kau harus terbiasa mulai sekarang, karena kita akan lebih sering melakukannya nanti."


Amel memukul dada Rendi. "Sakkiiit sayang!" ucap Rendi sambil menangkap tangan Amel.


"Makanya, kakak jangan bicara itu terus. Apa cuma itu yang ada dipikiran kakak?"


"Tentu saja cuma kamu, kamu dan kamu yang ada dipikiranku," goda Rendi.


Bibir Amel mengerucut. "Jangan menggodaku terus kak!” ucap Amel dengan wajah malu.


Amel mulai bergerak ingin bangun dari tidurnya. “Kamu mau kemana sayang!” Rendi kembali mengeratkan pelukannya.


Amel berusaha melepas tangan Rendi dari tubuhnya. “Aku mau mandi kak.”


Rendi mengendus leher istrinya. “Nanti saja sayang! Kita lakukan sekali lagi ya?” pinta Rendi sambil mengecup leher Amel.


Amel mulai menggeliat karena geli. “Kak, apa kau tidak lelah?”


“Tidak sayang,” ucap Rendi sambil mengecup telinga belakang Amel. “Tapi ini masih sore kak!”


Rendi menghentikan aksinya, lalu menatap Amel. “Aku sangat menginginkanmu Mel,” ucap Rendi dengan suara parau dan berat. “Nanti malam saja ya!” tawar Amel sambi memegang wajah suaminya. Dia merasa badannya masih sakit karena ulah Rendi.


“Aku mau sekarang sayang! Nanti malam kita lakukan lagi kalau kau mau,” ujar Rendi. Melihat tatapan sayu dari Rendi membuat Amel merasa kasihan. “Baiklah, tapi jangan lama-lama!”


Rendi langsung tersenyum lebar, lalu menyingkap selimut yang menutupi istrinya. Dia mulai melepaskan baju Amel, kemudian menjamah tubuh istrinya. Amel hanya pasrah, dia sudah tidak mempunyai tenaga. Saat Rendi baru saja membuka dalam Amel, terdengar suara bel berbunyi.


Amel menoleh ke pintu. "Kak, buka dulu pintunya!" pinta Amel, saat melihat Rendi tampak tidak peduli dengan suara bel yang terus berbunyi. "Biarkan saja sayang," ucap Rendi acuh. Dia masih bermain dengan gunung kembar Amel.


Amel menghentikan tangan Rendi yang sedang meraba tubuhnya. "Kak, siapa tahu ada yang penting. Buka dulu sana!" ucap Amel memaksa.

__ADS_1


Rendi menghentikan kegiatannya. "Siapa yang berani menggangguku saat seperti ini!" ujar Rendi dengan wajah kesal. Amel mencium bibir Rendi sambil tersenyum saat melihat wajah kesal Rendi. "Jangan marah-marah kak!" ucap Amel tersenyum. "


Rendi menjauhkan tubuhnya dari Amel kemudian melangkah ke arah pintu. "Hii, Ren..!" Wajah Rendi langsung bertambah kesal saat melihat orang yang di depannya sedang tersenyum lebar tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Apa kau tidak punya kerjaan lain? Apa kau sudah bosan hidup?" ujar Rendi dengan nada kesal dan menatap tajam pada laki-laki di depannya.


"Wowoo..Kenapa kau galak sekali? Bukankah pengantin baru seharusnya sedang berbahagia? Apa Amel tidak memberimu jatah sehingga kau seperti ini?" ucap Kenan santai masih dengan senyum lebarnya.


"Apa menurutmu aku harus berbahagia saat kau sedang mengganggu kesenanganku?" ucap Rendi dengan ketus.


Kenan menatap Rendi dari atas sampai bawah. Dia melihat Rendi hanya mengenakan celana santai saja tanpa menggunakan baju. "Apa kau sedang membuat keponakan untukku?" goda Kenan.


Rendi tampak acuh mendengar pertanyaan Kenan. "Pergilah, jangan menggangguku!" Rendi berniat menutup pintu, tapi ditahan oleh Kenan. "Tunggu dulu, kenapa kau terburu-buru sekali. Aku belum selesai bicara," ucap Kenan buru-buru sambil menahan pintunya.


Rendi menatap jengah pada Kenan. "Apa otakmu itu sudah tidak berfungsi? Apa kau tidak tahu, apa yang dilakukan oleh pengantin baru setelah menikah?" ucap Rendi ketus.


"Tentu saja aku tahu, tapi bukan berarti kau harus memperlihatkan tubuhmu padaku. Apa kau sengaja memamerkan tanda di tubuhmu itu supaya aku iri?" cibir Kenan.


Rendi tertawa mengejek. "Aku memang sengaja, agar kau tersiksa, karena tidak bisa mendapatkan pelampiasan nanti."


"Kauuu..." tunjuk Kenan dengan wajah kesal.


Melihat tingkah Rendi yang tidak sabar dan wajah kesalnya, membuat Kenan ingin membuatnya bertambah kesal lagi. "Sepertinya kau merasa terganggu sekali dengan kedatanganku," ucap Kenan dengan senyuman jahat. "Tapi aku tidak peduli, mana Amel? Aku ingin bicara dengannya!" Kenan melangkah masuk tapi ditahan oleh Rendi.


Rendi membentangkan satu tangannya menghalangi Kenan. "Kau mau ke mana?" tanya Rendi.


Kenan menepis tangan Rendi. "Apa kau tuli? Aku ingin menemui Amel!" ucap Kenan kesal karena merasa dihalangi oleh Rendi.


"Kau tidak bisa masuk sembarangan ke kamarku!" ucap Rendi dingin. "Aku ingin berbicara sebentar dengan istrimu!" ucap Kenan acuh.


Rendi berdiri di depan Kenan. "Kau tidak bisa menemui istriku tanpa seinjinku! Kau tidak bisa seenaknya seperti dulu!"


"Aku ingin berbicara penting dengannya, setelah itu aku akan pergi, jadi ijinkan aku menemuinya sebentar."


"Jangan bermain-main denganku Kenan! Aku sedang tidak mood untuk meladeni omong kosongmu!"


"Aku serius Ren, aku harus berbicara dengan Amel!"

__ADS_1


"Kalau sampai yang kau ucapkan bukan hal penting. Aku akan menendangmu dari perusahaanku dan menjadikanmu gembel Kenan!" ancam Rendi dengan tatapan tajam.


"Lihat wajahmu itu, mengerikan sekali. Kau harusnya bersikap baik padaku! Kalau bukan karena aku, kau tidak akan bersama dengannya seperti saat ini"


"Sebab itulah kau masih bisa berdiri di sini Kenan, kalau aku tidak mengingat jasamu, aku sudah menyuruh bagian keamanan untuk menyeret paksa kau dari sini dan menendangmu keluar dari hotelku!" ucap Rendi kesal.


"Maka dari itu, biarkan aku masuk! Aku sedang terburu-buru," ucap Kenan tidak sabar. Dia ingin melangkah masuk lagi, tapi dihalangi lagi oleh Rendi.


"Apalagi?" tanya Kenan pada Rendi.


"Apa kau pria mesum?"


"Enak saja kau! Aku adalah pria baik-baik." teriak Kenan tidak terima.


"Lalu kenapa kau asal masuk. Istriku sedang tidak memakai apa-apa. Apa kau berencana melihat tubuh istriku?"


"Apa kau kira aku sudah gila?" pekik Kenan saat mendengar tuduhan Rendi padanya.


Rendi mengangguk. "Iyaaa," jawab Rendi acuh.


"Kau ini, selalu saja membuatku kesal!"


Rendi meraih pintu. "Kau tunggu di luar dulu! Aku akan memanggilmu nanti!"


"Heey...!" teriak Kenan. Baru saja dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi sudah ditutup oleh Rendi. "Awas kau Ren! lain kali aku akan menganggumu lagi," ujar Kenan kesal.


Setelah beberapa menit menunggu di depan kamar Rendi, pintu terbuka. "Masuklah..! Jaga jarak dengan Amel, dia sekarang istriku, bukan sekertarismu lagi!"


Kenan menatap kesal pada Rendi. "Aku heran, kenapa Amel bisa jatuh cinta pada pria posesif sepertimu!" Kenan melangkah masuk ke dalam kamar.


Bersambung...


Mohon dukung juga karya Author yang lainnya. Yaitu "Jangan sakiti Aku"



Dan juga yang berjudul "Cinta Sesungguhnya"

__ADS_1



__ADS_2