
Sofi turun dari mobil setelah memarkirkan mobilnya samping rumah Raka, hari ini dia tidak bekerja karena libur, selain itu 3 hari lagi dia akan menikah, jadi mulai besok dia sudah mengambil cuti.
Berbeda dengan Sofi, Raka, dia justru tidak bisa mengambil cuti panjang karena banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan, selain itu, perusahaannya juga akan melakukan kerjasama dengan perusahaan dari luar negeri, jadi rencana bulan madu setelah menikah terpaksa dia tunda.
Setelah pintu rumah Raka terbuka, Sofi langsung masuk ke dalam, setelah bertunangan dengan Raka, dia memang sering berkunjung ke rumah Raka atas permintaan ibunya.
Karena seringnya dia datang, dia sudah tidak canggung lagi untuk langsung masuk ke dalam rumah Raka yang sudah seperti rumahnya. "Bi, mama mana?" Sofi bertanya asisten rumah tangga Raka yang baru saja keluar dari ruangan tengah.
"Eeh Non Sofi, ada Non, lagi duduk di taman belakang."
Sofi manggut-manggut. "Kalau Raka?" tanya Sofi kembali sambil mengedarkan pandangannya.
"Ada di kamarnya, Non. Den Raka belum keluar dari tadi." Sofi memang datang lebih ke rumah Raka 7 pagi, tidak seperti biasanya.
"Yaa sudah, Sofi ke belakang dulu, makasih ya Bi." Sofi berlalu menuju taman belakang.
"Ma," panggil Sofi sambil menghampiri calon mertuanya.
Tamara menoleh dan tersenyum ketika melihat calon menantunya datang. "Sini sayang." Tamara menggeser duduknya agar Sofi bisa duduk di sebelahnya.
"Iya, Ma." Sofi tersenyum lalu duduk, "kak Raka belum bangun ya, Ma?"
"Tadi sih mama belum liat dia keluar dari kamar, kayaknya masih tidur."
Sudah menjadi kebiasaan Raka, jika libur, dia tidak akan keluar kamar sebelum merasa lapar. Dulu sebelum memiliki kekasih, hari libur lebih banyak dia habiskan di kamarnya untuk berisitirahat, semenjak kembali menjalin hubungan dengan Sofi, Raka selalu ke rumah Rendi untuk menemui Sofi.
"Samperin aja ke kamarnya, bangunin sekalian," lanjut Tamara lagi.
Sofi menyandarkan punggungnya di kursi sambil menatap taman di depannya. "Nanti deh, Ma. Sofi masih mau di sini."
"Sayang, kamu beneran habis nikah mu tinggal di sini?"
Tamara sudah mendengar dari Raka kalau mereka tidak jadi pindah ke rumah yang baru saja Raka beli seperti rencana awal anaknya. Saat Raka mengatakan niatnya untuk pindah setelah menikah, Tamara sebenarnya berat melepas anaknya, tapi dia tidak punya pilihan lain, dia tidak bisa menahan anaknya jika dia ingin pindah.
Sofi memutar sedikit tubuhnya menghadap Tamara. "Iyaa, Mama keberatan ya kalau Sofi tinggal di sini?" Sofi menampilkan wajah sedihnya.
Tamara menggenggam tangan Sofi sambil mengusapnya dengan lembut. "Yaa nggak dong, mama justru seneng banget kalau kamu mau tinggal sama mama di sini. Mama cuma takut kamu merasa nggak nyaman dan nggak bebas kalau tinggal di sini."
Sofi merangkul ibu Raka dari samping dengan rasa sayang. "Nggak lah Ma, Sofi justru berterima kasih sama Mama karena sudah mau menerima Sofi di rumah ini. Mama juga selama ini udah baik banget sama Sofi padahal dulu Sofi bukan siapa-siapa kak Raka."
Tamara mengelus kepala Sofi yang ada di pundaknya. "Mama seneng banget kamu mau menikah dengan Raka. Mama nggak nyangka kalau kamu bakal jadi menantu mama."
Dari awal melihat Sofi, Tamara memang sudah menyukainya, hanya saja melihat anaknya dulu terlihat tidak tertarik dengan Sofi, Tamara tidak berani berharap lebih.
Selesai berbincang selama kurang lebih satu jam, Tamara meminta Sofi untuk ke kamar Raka membangunkannya. "Kalau gitu, Sofi ke kamar kak Raka dulu ya, Ma," pamit Sofi sambil berdiri.
"Iyaa sayang."
__ADS_1
Sofi mengetuk pintu kemar Raka sambil memanggilnya sebelum memutuskan masuk kamar calon suaminya. Ternyata dugaannya benar, Raka masih terlelap. "Kak bangun," Sofi sengaja memanggil Raka dengan suara pelan karena takut mengejutkan Raka.
"Kak, kalau tidak bangun juga, aku akan pulang," ancam Sofi ketika melihat Raka hanya bergumam tidak jelas. "Ya sudah, aku pulang saja."
Saat akan berbalik, tangannya ditahan. "Awas saja kalau kau berani keluar dari kamar ini," ucap Raka setelah dia membuka matanya.
Sofi berbalik lalu berdiri di samping tempat tidur Raka. "Aku sudah membangunkanmu dari tadi, tapi kau diam saja."
Raka kemudian bangun dari tidurnya dan duduk. "Kau mau ke mana?" tanya Raka ketika melihat Sofi nampak berdandan cantik tidak seperti biasanya.
Sofi duduk di tepi ranjang, setelah meletakkan tasnya di atas nakas. "Aku mau minta ijin untuk bertemu dengan Willy, ap...."
Raka langsung memotong ucapan Raka. "Tidak boleh!" ucap Raka dengan tegas, "aku tidak mengijinkanmu menemuinya." Sorot matanya tajam dan wajahnya terlihat tidak senang.
"Tapi Kak, ad...." Saat akan kembali protes, Raka kembali memotongnya.
"Kita akan menikah 3 hari lagi, tapi kau masih ingin bertemu dengan mantanmu itu, apa kau belum bisa melupakannya?"
"Dia bilang hanya ingin melihatku terakhir kalinya. Ada yang ingin dia sampaikan padaku, dia tidak bisa datang di hari pernikahan kita karena dia akan segera kembali Jerman."
Raka menduga kalau Willy tidak bisa datang karena dia tidak sanggup melihat Sofi bersanding dengan pria lain. Dia belum bisa melepas Sofi, apalagi itu, Sofi hampir saja menjadi miliknya.
"Aku akan ikut denganmu." Saat melihat Sofi akan protes Raka kembali berkata, "aku tidak mengijinkamu bertemu dengannya, jika tidak pergi bersamaku." Raka turun dari tempat tidur meninggalkan Sofi yang terlihat menghela napas.
"Tunggu di sini, jangan ke mana-mana," ucap Raka sebelum melangkah ke dalam kamar mandi, "aku mandi dulu."
******
Rendi masuk ke dalam kamarnya seraya membawa nampan di tangannya setelah meminta bi Inah untuk membuatkan bubur dan susu hamil untu istrinya. "Sayang, ini susu dan sarapan untukmu." Rendi meletakkan nampan di atas nakas.
Amel yang sedang duduk bersandar di sandaran kepala tempat tidur mengangkat kepalanya dengan senyum lembut di wajahnya, dia berkata, "Terima kasih, Kak, aku akan memakannya sebentar lagi."
Rendi naik ke tempat tidur, tidur tengkurap dengan wajah yang berada di dekat perut Amel. "Sayang, aku sudah tidur sabar menunggu anak kita lahir," ucap Rendi sambil mengusap lembut perut Amel penuh kasih sayang.
Amel menyugar rambut suaminya ketika Rendi terus-menerus mencium perutnya yang terlihat mulai menonjol. "Sayang, dia menendang, dia bergerak. Aku merasakannya saat menciumnya tadi." Rendi mengangkat kepalanya, menatap istrinya dengan wajah yang sangat bahagia. ini pertama kalinya dia merasakan gerakan di perut istrinya.
Amel meraba perutnya dan tidak merasakan apapun. "Coba cium lagi atau ajak dia bicara." Amel juga penasaran dan ingin merasakannya gerakan dari janinnya dengan tangannya sendiri..
Rendi melakukan seperti yang Amel minta, mencium dan mengajaknya bicara janin yang adai di perut Amel sambil mengusapnya dengan lembut. Baru beberapa kali melakukannya, seketika terjadi gerakan di perut Amel. Gerakan ringan dan tidak terlalu kentara. "Lihat, anak kita menendang?" Rendi nampak sangat antusias. Wajahnya kembali sumringah ketika perut Amel mengalami pergerakan.
"Iyaa Kak, sepertinya dia menyukai suaramu."
Kehamilan Amel sudah menginjak 4 bulan, seiring berjalannya waktu, tubuhnya mulai mengalami perubahan di beberapa tempat. Napsu makannya bertambah, begitu pun berat badannya.
Tengah malam sering kali Amel terbangun karena merasa lapar. Beruntung selama hamil, Amel tidak pernah ngidam yang aneh. Semua yang dia inginkan masih mudah di dapatkan sehingga Rendi tidak terlalu kesulitan untuk memenuhi ngidam istrinya.
Amel juga terlihat sedikit berisi, tapi justru itu membuat Rendi semakin senang. Rendi merasa Amel semakin menarik semejak hamil.
__ADS_1
"Tentu saja dia menyukai suaraku, aku adalah ayahnya. Aku akan menengoknya nanti malam, sepertinya dia merindukanku." Rendi tersenyum penuh arti pada istrinya.
Amel memutar bola matanya. Itu hanya alasan lain agar dia bisa menyentuhnya. "Aku rasa bukan anakmu yang menginginkan itu, tapi kamu, Kak." Setidaknya, Amel sudah memahami sifat suaminya.
"Tidak sayang," sanggah Rendi, "lihat saja, dia bergerak untuk pertama kalinya ketika aku mencium dan mengajaknya bicara. Itu artinya dia merindukan ayahnya."
Amel hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari alasan suaminya. "Kak, bagaimana persiapan pernikahan Sofi, apakah sudah selesai semua?"
Terakhir Amel dengar dari ibu mertuanya, kalau persiapan sudah mencapai 85%, itu pun sudah 2 minggu yang lalu. Selama hamil, Rendi dan ibu mertuanya melarang untuk melakukan aktifitas berat.
Amel bahkan hanya di suruh untuk melakukan aktifitas ringan, senam hamil, yoga, duduk bersantai sambil mendengarkan musik, jalan santai, dan berenang. Semua hal yang membuat Amel bahagia boleh dilakukannya yang terpenting dia tidak boleh kelelahan.
Hidup yang di dambakan oleh banyak orang, suami tampan dan kaya, mertua baik dan sayang padaang, dan adik ipar yang ceria dan juga sangat dekat dengannya.
Selama hamil, ibu Amel dan adiknya beberapa kali mengunjunginya. Mereka tidak bisa berlama-lama bertemu Amel karena adiknya harus berkuliah. Semenjak adiknya kuliah di Singapore, Amel meminta ibunya untuk menemani adiknya agar ibunya juga tidak kesepian di rumah.
Awal-awal menikah, Amel dan Rendi sudah meminta ibu Amel untuk tinggal bersama mereka, tapi ditolak. Dia tahu kalau ibunya pasti merasa sungkan dan tidakenak pada keluarga Rendi. Sebab itulah Amel tidak mau memaksa ibunya untuk tinggal bersama dengannya.
Rendi meletakkan kepalanya di paha istrinya sambil menatapnya. "Semua persiapan sudah selesai, sayang," jawab Rendi, "apakah Devan akan datang?"
Seminggu yang lalu, Raka memberitahu Rendi dan Amel kalau dia sudah menghubungi Devan untuk datang ke pesta pernikahannya. Devan dan Raka memiliki hubungan dekat.
Mereka sama-sama mendampingi Amel saat dia sedang terpuruk setelah kepergian Rendi sehingga hubungan mereka terjalin akrab. Tidak seperti Rendi yang sampai sekarang masih mewaspadai Devan, padahal nyatanya Raka juga pernah menyukai Amel, tapi entah kenapa dia tidak menganggap Raka sebagai ancaman, berbeda dengan Devan.
"Aku juga tidak tahu, Kak. Aku sudah lama tidak berhubungan dengannya." Jika ingin tahu kabar mengenai Devan, Amel akan menanyakannya pada Raka. Dia sengaja tidak menghubungi Devan duluan karena takut suaminya akan salah paham.
"Kau boleh menghubunginya, tapi di depanku, jangan pernah menghubunginya di belakangku, jika tidak mau aku salah paham" Tentu saja Rendi memahami apa yang ada di pikiran istrinya.
"Baiklah, aku akan menelponnya nanti."
"Hhhmmm," gumam Rendi.
"Bagaimana dengan Friska, apakah dia akan datang juga?" tanya Amel balik.
"Kata Sofi, dia akan datang jika Devan juga datang, padahal Kenan sudah bilang akan menjemputnya kalau diq ingin mengadiri pesta pernikahan Sofi, tapi dia menolaknya."
"Kak, menurutmu Friska lebih cocok dengan Kenan atau dengan kak Devan?" Seketika Amel teringat perkataan Rendi yang mengatakan kalau Kenan pernah menyukai Friska.
"Menurutku lebih cocok dengan Kenan, tetapi sepertinya Friska tidak menyukainya. Kalau Devan bisa bersama dengan Friska, aku rasa itu juga bagus." Dengan begitu, aku tidak akan memiliki siangan lagi sehingga aku bisa hidup tenang, batin Rendi.
Amel melayangkan tatapannya ke atas sejenak sambil berpikir. "Kenan dan Kak Devan sama-sama baik, tapi aku lebih suka kak Devan dengan Friska. Mereka terlihat sangat cocok."
"Benar juga, aku akan menjodohkan Friska dengan Devan secepatnya."
"Kenapa begitu?"
"Agar dia tidak lagi memikirkanmu dan bisa melupakanmu. membayangkan istriku dicintai pria lain membuatku kesal."
__ADS_1
Bersambung....