
"Amel tidur sama Rendi di kamar ini, Ma," canda Rendi.
Mereka bertiga seketika menoleh pada Rendi yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Mama Rendi yang mendengar perkataan anaknya lalu berkata, "Boleh aja, tapi besok kalian harus langsung menikah."
"Kalau Rendi sih sudah siap, Ma. Lagian sebentar lagi Rendi lulus," ujar Rendi enteng.
Astaga, kak Rendi enteng banget tuuh mulut kalau ngomong.
Amel hanya bisa mengutuk tingkah Rendi yang dengan gampangnya berbicara seperti itu.
"Dasar bucin!" ejek Sofi.
"Dari pada kamu jomblo!" balas Rendi.
"Biarin Ma, nikahin aja mereka. Biar kak Rendi hidup susah di luar sana."
"Kenapa harus hidup susah? Nanti Rendi juga yang bakal jadi pewaris papa," ujar Rendi enteng.
"Kamu ini Ren, kalau papa kamu denger kamu mau nikah muda, yang ada kamu dicoret dari ahli waris," ucap Lilian.
"Biarin aja Ma, biar jadi gembel!" Sofi terkekeh ketika membayangkan kakaknya hidup susah.
Rendi melirik tajam Sofi. "Berisik, dasar jomblo!"
"Dasar bucin!" balas Sofi meledek.
"Sudah-sudah, kenapa jadi ribut sih, kalian nggak malu diliatin sama Amel?" Lilian menghentikan pertengkaran anak-anaknya yang tidak ada hentinya.
Lilian kemudian beralih menatap Amel. "Jadi gimana Mel, kamu mau tidur di mana?"
"Amel di mana aja boleh, Tante," ucap Amel.
"Amel tidur di kamar Rendi aja Ma, biar Rendi yang tidur di kamar sebelah," ujar Rendi.
Lilian menatap heran pada Rendi. "Tumben, kamu bolehin orang lain tidur di kamar kamu?" Rendi memang tidak suka kalau ada orang yang memasuki kamarnya, apalagi kalau sampai tidur di kamarnya.
"Amel bukan orang lain, Ma. Dia pacar Rendi, calon menantu Mama." Rendi nampak beucap dengan enteng.
Jangan tanya muka Amel bagaimana sekarang, dia rasanya pengen melarikan diri dari kamar itu. Dia merasa malu mendengar ucapan Rendi
Astaga kak Rendi ngomong apa sih? Kenapa sikapnya beda sekali malam ini?
__ADS_1
"Dasaar bucin! Giliran Sofi aja gak dibolehin tidur di sini," ujar Sofi cemberut.
"Rendi, kamu itu bikin malu Amel. Lihat tuh wajahnya uda merah," ujar Lilian sambil menatap ke arah Amel.
"Kak Rendi mana punya malu Ma," cibir Sofi.
"Sudah-sudah, ini uda malem. Mama sama Sofi mau balik ke kamar dulu. Kamu juga Ren, jangan lupa ke kamar sebelah. kasian Amel capek mau istirahat," ujar Lilian.
"Iyaa Ma, nanti Rendi ke kamar sebelah. Rendi mau pesen makan dulu," ujar Rendi memegang perutnya yang sudah terasa lapar.
"Kamu belom makan?" tanya ibu Rendi.
Rendi mengangguk. "Amel sama Rendi belom makan, Ma."
"Yaa ampun, kamu ini, sudah bawa anak gadis orang, malah nggak dikasih makan lagi," ujar Mama Rendi sambil mengelengkan kepalanya.
"Tadi nggak sempet, Ma," ujar Rendi beralasan.
"Pacaran terus sih," timpal Sofi mengejek.
"Dasar jomblo,"
"Yaa udah, buruan kamu pesen makan. Jangan sampe Amel pingsan di sini," titah ibu Rendi.
"Mama balik ke kamar dulu y," pamit Mama Rendi, "ayoo Sofi," ajak Lilian kepada anak perempuannya.
Setelah kepergian mereka, hening beberapa saat, kemudian Amel membuka suara, "Kakak Apa-apan sih!"
"Kenapa?" Rendi pura-pura tidak tahu.
"Amel tahu kalau Kakak itu lagi akting biar mereka percaya kalau kita ini bener pacaran, tapi nggak gitu juga Kak. Ngapain Kakak pakai bilang uda siap nikah, kalau mereka nganggep serius omongan Kakak gimana?" Amel memberikan tatapan kesal Rendi.
"Yaa bagus kalau mereka nganggep serius, lagian, aku nggak akting," jawab Rendi enteng.
"Tau aah, diajak ngomong serius juga malah becanda."
"Aku juga serius Mel, nggak lagi becanda."
"Udaah ah, Amel mau mandi." Amel bangun dari duduknya dan berjalan ke kamar mandi.
"Mau ditemenin nggak?" Rendi tersenyum nakal pada Amel.
"Nggak perlu." Amel buru-buru menutup pintu.
__ADS_1
"Lucu juga mukanya kalau lagi cemberut gitu," gumam Rendi dalam hati sambil tersenyum.
Rendi kemudian memesan makanan untuk mereka berdua untuk diantar ke kamar, setelah itu, Rendi merebahkan tubuhnya di kasur sambil menunggu menunggu Amel selesai mandi dan makanan datang.
Setelah 30 menit Amel membersihan diri. Dia keluar dari kamar mandi. Amel heran kenapa suasana jadi sepi. Amel mengira Rendi sudah pergi ke kamar sebelah untuk tidur karena ini memang sudah larut malam, sudah pukul 12 malam.
Saat Amel sedang berjalan sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah, dilihatnya, Rendi masih ada dikamar ini. Dia sedang terlelap di tempat tidur dengan wajahya lelahnya.
Amel menatap Rendi sebentar kemudian berjalan mendekat ke tempat tidur, sedikit membungkuk lalu dipandanginya wajah Rendi dari dekat yang sedang terlelap.
"Lagi tidur saja, wajahnya tetap tampan." Amel tertawa kecil sambil menatap wajah Rendi.
Rendi yang merasa ada air yang menetas di wajahnya, kemudian membuka matanya. Seketika mata mereka bertatapan.
Amel yang kaget karena Rendi tiba-tiba membuka matanya, Amel berniat untuk segera berdiri. Belom sempat Amel berdiri, tangannya sudah ditarik dengan cepat oleh Rendi sehingga badan Amel pun jatuh menimpa sebagian badan Rendi. Dan,
"Cuuuuppp."
Bibir Amel menempel pada bibir Rendi, hening sejenak. Pikiran Amel langsung kosong. Dia tidak bergerak untuk beberapa saat, begitu pun Rendi. Beberapa detik kemudian mata Amel terbelalak saat menyadari dia tidak sengaja mencium bibir Rendi.
Amel segera bangun dan berdiri membelakangi Rendi sambil memegang bibirnya dengan wajah memerah. Dia merasa malu sangat malu dengan kejadian tadi. Dia berjalan lalu berhenti duduk di kursi dekat kaca sambil menunduk.
"Maaf kak, Amel nggak sengaja," ujar Amel pelan.
Rendi bangun dari tidurnya, duduk di tepi tempat tidur sambil melipat tangan di dadanya.
"Kamu harus tanggung jawab karena sudah cium aku."
Amel yang mendengar itu, seketika mengangkat wajahnya dan menoleh pada Rendi. "Itu juga gara-gara Kakak narik tangan aku tadi, makanya aku jatuh," kilah Amel.
"Siapa suruh kamu mau kabur."
"Amel bukannya mau kabur. Amel cuma kaget karena Kakak tiba-tiba bangun." Amel menatap kesal pada Rendi. "Mana itu ciuman pertama Amel."
Rendi pun tersenyum senang setelah mendengar perkataan Amel, Rendi sedikit terkejut sekaligus bahagia saat mengetahui dia yang mendapatkan ciuman pertama Amel, walaupun itu tidak disengaja.
"Berarti sekarang kamu uda jadi milik aku," ucap Rendi dengan enteng.
Amel melotot. "Kok gitu?" tanya Amel cepat.
"Karena aku yang uda dapetin ciuman pertama kamu jadi kamu jangan pernah coba dekat sama laki-laki lain selain aku, walaupun hanya teman," ujar Rendi tegas sambil menatap Amel.
"Tapi tadi itu nggak sengaja, Kak" ujar Amel pelan.
__ADS_1
"Tetap saja kamu juga sudah mengambil ciuman pertamaku. Jangan pernah berpikir kamu bisa lepas dari aku, Mel" ujar Rendi yang sudah berdiri di depan Amel sambil menatap tajam dia.
Bersambung...