
Amel dan Bela meninggalkan ruangan mereka menuju kantin kantor saat jam istirahat. Mereka tampak sedang mengobrol sambil terus berjalan. “Mel, emang benar yang diomongin pak Kenan kemarin?” tanya Bela saat sudah duduk di dalam kantin kantor. Amel sudah menceritakan kepada Bela lewat pesan singkat, apa yang terjadi kemarin.
Suasana kantin kantor sangat ramai membuat mereka kesulitan untuk mendapatkan tempat duduk. Untung saja Bela dengan sikap berlari menempati tempat duduk di meja paling pojok yang ada di ruangan itu l, saat orang yang baru saja selesai makan meninggalkan meja itu.
Amel menopang dagunya dengan satu tangan dan menatap lurus ke depan. “Nggak tahu Bel. Gue juga masih belum percaya sama omongan Kenan. Gue masih ngerasa kalau kak Rendi masih hidup.”
Bela menatap iba pada sahabatnya. Bela merasa kasihan dengan perjalanan hidup Amel. “Lo boleh aja nggak percaya sama ucapan pak Kenan, tapi lo juga nggak boleh mikirin kak Rendi terus. Lo harus coba buka hati lo buar kak Devan. Gue lihat, kak Devan cinta banget sama lo Mel. Kasih dia kesempatan untuk buat lo bahagia. Kalau memang Rendi masih hidup kenapa dia tidak pernah nyari lo atau ngehubungin lo? Kalau dia emang madih cinta sama lo, kecuali dia memang uda nggak ada.”
Amel menghela napas. “Gue juga tidak tahu, kenapa gue nggak bisa ngelupain dia, mungkin karena rasa bersalah gue lebih besar dari rasa cinta gue, membuat gue jadi begini.”
Bela menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Wajar aja sih kalau lo nggak bisa ngelupain dia, karena dia itu cinta pertama lo Mel, Apalagi lo uda lama banget suka sama kak Rendi, dan akhirnya lo bisa sampai pacaran sama dia. Gue juga sama kayak lo, belum bisa membuka hati untuk orang lain. Gue belum bisa ngelupain kak Fadil, Bedanya nasib gue lebih baik dari pada lo. Gue masih bisa ngeliat dia tiap hari.”
Amel menatap Bela yang tiba-tiba terlihat lesu juga. “Mau gue comblangin nggak sama kak Fadil? Lo nggak bisa cuma diam aja Bel, di kantor kita cukup populer loh. Jangan sampai lo nyesel nanti kalau sampe dia jadian sama yang lain!”
Bela bertopang dagu. “Yang jadi masalahnya tuh, kak Fadil belum tentu mau sama gue.”
“Belum juga di coba, lo udah nyerah duluan.”
Bela melirik sekilas kepada Amel. “Gue nggak seberuntung lo bisa pacaran sama orang yang disuka. Gue malah takut nanti kak Fadil malah jauhin gue lagi kalau tahu gue suka sama dia.” ucap Bela pasrah.
“Nasib kita kayaknya emang sebagus orang lain. nasib kita yang jelek atau memang kitanya yang ngga beruntung. Kayaknya kita memang harus liburan ke Bali sesuai ajakan Lisa dan Olive, kita bisa mandi di pantai untuk buang sial.”
Bela tertawa terbahak-bahak. “Hari gini, masih aja lo percaya yang begituan Mel. Otak lo kayaknya mulai nggak beres deh.”
Dengan tangan kiri yang masih menopang dagunya, Amel melirik Bela sambil mengerucutkan bibirnya “Gue butuh liburan Bel.”
Bela menegakkan tubuhnya. “Okke, kalau gitu, minggu ini kita liburan ke Bali, sekalian ketemu sama Lisa dan Olive,” ucap Bela Semangat.
Amel mengangguk tidak kalah semangat. “Okee.”
Tidak adalagi pembicaraan setelah makanan mereka datang. Jam makan siang sudah mau habis. Mereka memutuskan untuk kembali ke ruangan mereka.
__ADS_1
Langkah Amel terhenti saat sudah keluar dari lift saat akan menuju ruangannya. “Bel, gue mau ke toilet dulu, lo duluan aja kalau mau,” ucap Amel memandang Bela yang berdiri di depannya.
Bela tampak berpikir sebentar. “Oke deh, gue ke ruangan kita duluan ya.”
Amel mengangguk, dan berjalan ke toilet yang berada di lantai yang sama dengan ruangannya. Amel berjalan cepat karena toilet itu berada paling pojok, dikarenakan luasnya gedung kantor Amel, membuat Amel harus berjalan cukup jauh untuk ke toilet itu.
Saat Amel memasuki tolitet, terlihat Siska dan beberapa temannya sedang berdandan di depan cermin toilet itu. Pandangan Siska tidak lepas dari Amel saat melihatnya masuk ke dalam toilet.
Siska tersenyum jahat sambil melirik ke teman-temannya. Setelah Amel keluar dari salah satu pintu toilet. Amel berjalan menuju wastafel untuk mencuci tanganya. Amel tidak memperdulikan Siska yang sedari tadi menatapnya.
“Lo mau kemana?” Siska berdiri tepat di hadapan Amel saat dia akan meninggalkan toilet.
Amel mengangkat wajahnya menatap tanpa minta pada Siska beserta ketiga temannya. “Minggir, gue mau lewat,” ucap Amel ketus.
“Waaaah, uda mulai berani dia Sis sama lo?” ucap salah satu teman siska yang berambut pendek yang bernama Lia.
Siska maju mendekati Amel. “Lo itu anak baru di sini, jangan pikir karena pak Kenan neglindungin lo, gue nggak berani kasih pelajaran buat lo.”
Amel mulai jengah. “Gue nggak mau nyari masalah, gue cuma mau lewat.”
“Songong banget lo anak baru,” ucap Dira emosi.
“Kayak kita mesti kasih dia sedikit pelajaran Sis,” timpal Yesi sambil menatap sinis pada Amel.
Siska mulai terbakar emosi “Dengan cara apa lo ngerayu pak Kenan, sampai dia mau sama lo?” tanya Siska sinis.
“Gue nggak pernah ngerayu Kenan, lo jangan sembarangan nuduh.”
“Dasar cewek murahan, masih aja lo ngelak. Kenapa setiap laki-laki yang gue suka, selalu aja lo rebut, haaahh,” ucap Siska dengan nada tinggi sambil mendorong kuat tubuh Amel.
__ADS_1
Tubuh Amel terdorong ke belakang, dan jatuh membentur pot keramik besar ada di belakangnya berbentuk segi empat yang mengerucut ke bawah dengan sisi yang runcing di setiap sudutnya. Tangannya tergores sat mengenai unjung pot yang tajam.
Amel melihat kulitnya sikunya robek dan mengeluarkan darah. Amel meringis sambil memegang sikunya yang terlihat memerah dengan luka yang memanjang. Siska dan teman-temannya tertawa saat melihat Amel terjatuh.
Amel mencoba untuk bangun. “Gue nggak pernah rebut siapapun dari lo,” ucap Amel sambil membersihkan bajunya.
“Lo jangan pura-pura bego, dulu lo ngerebut Rendi dari gue. Sekarang lo mau rebut pak Kenan juga dari gue? Gue nggak akan tinggal diam kalau sampai lo nggak jauhin pak Kenan,” ucap Siska dengan marah.
“Lo itu uda ngerayu pak mereka sampe dia mereka mau sama lo, kalau bukan ngerebut, terus apa namannya?” timpal Lia sinis.
“Iyaa, padahal Siska lebih dulu suka sama mereka, terus dengan santainya lo dateng dan nggak tahu malunya ngerebut mereka dari Siska,” ucap Dira lantang.
Amel menoleh pada sikunya yang masih mengeluarkan darah. “Harusnya lo pikir, kenapa mereka suka sama gue dan lebih milih gue dibandingin lo.”
“Jangan sok cantik deh lo, Cantikan juga Siska. Lo iti ngak selevel sama Siska,” teriak Yesi dengan wajah jijik.
“Mendingan lo jauhin pak Kenan. Lo nggak pantes sama dia,” ujar Lia.
“Gue juga heran kenapa bisa pak Kenan mau sama cewek kayak lo,” ucap Siska angkuh.
“Gue tegasin sekali lagi, gue nggak pernah ngerebut siapapun. Mereka yang nggak suka sama lo.”
Wajah Siska memerah karena marah. “Itu karena lo ngerayu mereka,” ucap Siska dengan nada tinggi.
“Kalau mereka emang suka sama lo, mau gue rayu bagaimanapun mereka nggak bakal terpengaruh sama gue. Buktinya selama ini lo uda ngedeketin mereka lebih lama dari gue, tapi mereka tetap nggak terpengaruhkan sama lo, harusnya lo sadar, kalau mereka memang nggak suka sama lo. Lo harus instropeksi diri sebelum menyalahkan orang lain.”
Siska meradang mendengar perkataan Amel. “Plaaaak.” Siska menampar wajah kiri Amel dengan kuat sehingga meninggakan bekas yang merah. “Berani banget ya ngomong kayak gitu sama gue,” ucap Siska dengan emosi.
“Dasar nggak tahu diri lo,” ucap Dira dengan suara lantang.
Amel memegang pipinya yang panas karena tamparan dari Siska, sambil menatap Siska dengan tajam.
__ADS_1
Bersambung...