Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Tidak ada kabar


__ADS_3

Setelah di nasehati Amel, Raka tersenyum senang. "Abang pulang dulu ya. Kamu masuk sana!" Raka mengacak pelan rambut Amel lalu berbalik memasuki mobil.


"Hati-hati, Bang," teriak Amel yang masih bisa di dengar oleh Raka dan juga Rendi tentunya, meskipun dia berada di dalam mobil. Setelah memastikan mobil Raka sudah jauh, Amel berbalik memasuki kosnya.


"Mel tunggu!"


Amel berhenti ketika seseorang memanggilnya. Saat Amel berbalik, dia terkejut saat melihat Rendi berdiri di depan pintu kosnya.


Sedang apa dia malam-malam di sini?


Setelah tertegun beberapa saat, Amel akhirnya berjalan menghampiri Rendi. "Kakak kok bisa ada di sini?" Amel berhenti tepat di depan Rendi dengan wajah herannya.


"Aku nugguin kamu. Tadi aku tanya sama penjaga kos kataya kamu belum pulang dari siang."


"Kakak nungguin dari jam berapa?" Amel baru ingat kalau dia belum mengabari Rendi karena ponselnya mati dari tadi siang.


"Tadi siang waktu pulang sekolah aku ke sinix tapi kamu nggak ada. Terus jam 4 aku ke sini lagi, kamu belum pulang juga, jadi aku mutusin untuk nunggu kamu sampai pulang. Kamu juga nggak balas pesan aku. Aku telpon berapa kali kamu nggak angkat. Terus habis itu nomor kamu nggak akitf lagi," jelas Rendi.


Amel seketika merasa bersalah karena lupa mengabari Rendi. "Maaf kak, tadi waktu Kakak nelpon, Amel lagi di jalan. Waktu Amel mau ngabarin kakak, tiba-tiba handpone Amel mati habis baterai. Tadi sih Amel uda charger handphonenya, tapi Amel belum nyalain. Amel juga lupa mau ngabarin Kakak karena tadi Amel lagi sibuk bantuin mama Raka untuk membuat kue."


Amel kemudian membuka tasnya lalu mengeluarkan ponselnya yang masih dalam keadaan mati. Amel lalu menghidupkan ponselnya di depan Rendi supaya dia percaya kalau Amel tidak bohong. Saat ponselnya baru saja menyala, ada panggilan telpon yang masuk. Amel langsung mengangkat telponnya.


Rendi hanya diam memperhatikan Amel yang sedang mengangkat telpon.


"Halo, iyaa Maa, Amel uda sampe."


"Iyaa Raka juga barusan pulang."


"Mama juga langsung istirahat."


"IyaazMa, selamat malam." Amel menutup telponnya.


Mendengar percakapan Amel, seketika wajah Rendi berubah. "Itu siapa?" Rendi menatap tajam Amel.


"Itu mama Tamara." Amel memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya.

__ADS_1


"Mama kamu?" Rendi mengerutkan dahinya.


"Bukan kak, itu mamanya Raka," jawab Amel.


Rendi tersenyum sinis. "Ternyata kamu sudah dekat banget sama keluarga Raka. Bahkan kamu memanggilnya mama. Pantas saja kamu lupa mengabarin aku, ternyata kamu sibuk menghabiskan waktu dengan keluarga Raka."


Ada perasaan kecewa di hati Rendi saat membayangkan kedekatan Amel dengan keluarga Raka. "Kalian sepertinya cocok menjadi pasangan, ternyata usahaku sia-sia aja selama ini. Kamu nggak pernah nganggep aku sama sekali."


Selesai berbicara, Rendi langsung pergi meninggalkan Amel dengan wajah marah. Ria melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Amel berlari melihat Rendi membawa mobilnya dengan kencang. Dia takut terjadi apa-apa dengan Rendi. Amel kemudian mengambik kembali ponselnya lalu berusaha menelpon Rendi, tapi tidak di jawab.


Amel lalu mengirim pesan, berharap Rendi membacanya. Lama Amel menunggu, tidak ada juga balasan dari Rendi. Amel terus mencoba menghubunginya, tapi tetap saja tidak ada jawaban.


Amel terlihat gelisah dan juga cemas. Dia kemudian memutuskan masuk ke dalam kosnya untuk mandi. Dia akan menghubungi Rendi lagi nanti. Setelah Amel selesai berganti pakaian, Amel menghubungi Rendi kembali. Dia terlihat mondar-mandir di kamarnya karena Rendi belum juga menjawab panggilannya. Akhirnya Amel menghubungi Sofi untuk menanyakan keberadaan Rendi.


"Halo Sofi, ini kak Amel," ucap Amel ketika panggilan telponnya sudah dijawab oleh adik Rendi.


"Iya ada apa, Kak?" Di sebarang sana, Sofi merasa ada hal aneh saat mendengar suaran Amel.


"Kak Rendi sudah sampai rumah belum?"


"Kak Rendi lagi marah sama kak Amel, tadi dia bawa mobilnya ngebut. Kakak takut kak Rendi kenapa-napa, apalagi dia masih sakit." Kali ini terdengar jelas kepanikan dam kecemasan dari suara Amel.


"Nanti Sofi kabarin kalau kak Rendi sudah pulang."


Amel mengangguk "Iyaa, tolong ya Sofi. Jangan lupa kabarin Kakak nanti. Makasih ya Sofi."


"Iya Kak, sama-sama." Telpon terputus.


Amel bertambah cemas karena seharusnya Rendi sudah sampai rumah. Amel mencoba merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan mengirimkan banyak pesan ke Rendi, tapi tidak satupun yang dibalas.


Amel masih terjaga, waktu menunjukkan pukul 1 dini hari. Rendi belum juga membalas pesannya. Sofi juga belum memberi kabar mengenai Rendi. Pikiran Amel kalut, kali ini dia membuat kesalahan yang membuat Rendi marah. Amel memutuskan untuk memejamkan matanya karena besok dia harus bersekolah.


*****

__ADS_1


Amel sedang menyandarkan tubuhnya di bangku sekolahnya dengan wajah muram. Hari ini dia tidak bersemangat sama sekali. Dia memilih menunggu di kelas sampai jam istirahat habis. Masih ada rasa khawatir terhadap Rendi. Rendi belum juga membalas pesannya dari semalam.


Dia juga sudah menghubungi Sofi dan menanyakan tentang Rendi, tapi Sofi juga tidak tahu keadaan Rendi bagaimana. Sofi hanya mendapatkan info dari bi Minah kalau kakaknya baru pulang ke rumah pukul 5 pagi. Saat itu Sofi masih tidur dan sampai dia mau berangkat sekolah, Rendi sama sekali belum menampakkan batang hidungnya.


Amel berencana untuk menemui Rendi di rumahnya, setelah pulang sekolah, tapi dia sedikit ragu karena takut jika Rendi tidak mau bertemu dengannya.


Saat bel pulang sekolah berbunyi, Amel keluar terburu-buru Dia sampai dia lupa untuk berpamitan dengan ketiga sahabatnya. Dia berdiri di depan gerbang, menunggu ojek online yang sudah di pesannya. Sebelumnya Amel sudah minta alamat rumah Rendi kepada Sofi karena Amel belum tahu alamat lengkapnya dan dia juga belum hapal jalan menuju rumah Rendi.


Setelah menunggu beberapa saat, ojek onlinenya pun datang. Amel bergegas naik.


Saat tiba di rumah Rendi, Amel turun dan berjalan menuju pintu rumah Rendi kemudian memencet bel. Tidak lama kemudian pintu terbuka.


"Eeh non Amel, mau ketemu den Rendi ya?" tanya bi Minah ramah.


"Iyaa, Bi, kak Rendinya ada, Bi?" tanya Amel sopan.


"Ada anon, tapi sepertinya masih kamar, belum keluar dari pagi." Bi Minah membuka pintu, "ayo masuk non Amel." Mereka berdua berjalan masuk ke dalam menuju ruang tamu.


"Mau bibi panggilkan atau non Amel langsung mau ke kamarnya?" Bi Minah berhenti tepat di ruang tamu.


"Boleh minta tolong dipanggilin aja, Bi. Amel tunggu di sini." Amel tersenyum sungkan pada bi Mina.


"Baik Non, bibi permisi dulu." Bi Minah kemudian berjalan menaiki tangga menuju kamar Rendi.


Setelah menunggu beberapa saat, bi Minah kembali, tapi tidak terlihat Rendi ikut turun.


"Maaf Non, sepertinya den Rendi sedang tidak mau diganggu. Bibi sudah mengetuk beberapa kali, tetapi tidak dibuka juga," ucap Bi Minah dengan wajah tidak enak.


"Apa mungkin kak Rendi sedang tidur, Bi?" tanya Amel.


"Mungkin Non, karena den Rendi juga baru pulang jam 5 pagi tadi," jelas Bi Minah.


"Tante Lilian sama Sofi ke mana, Bi?"


"Nyonya sedang pergi, kalau non Sofi belum pulang sekolah."

__ADS_1


"Ya sudah Bi, lanjutin aja kerjaan Bibi, biar Amel ke kamar kak Rendi langsung." Amel berdiri dan berjalan menuju kamar Rendi.


Bersambung...


__ADS_2