
“Aku akan pulang dulu. Aku sangat lelah. Aku butuh istirahat. Kau tolong temani dia dulu Mel. " Kenan menatap Amel, setelah itu dia menoleh pada Raka yang terlihat duduk bersandar di sebelah Amel. “Raka, makasih karena sudah membantu untuk bawa Rendi ke sini. Maaf karena sudah meghanggu waktu istirahatmu,” ucap Kenan dengan sopan.
Raka mengangguk. “Tidak masalah,” ucap Raka singkat.
“Sofi, Kakak pulang dulu,” ucap Kenan ketika dia sudah meraih handle pintu. Sofi mengagguk.
“Iyaa, makasih, Kak.” Kenan mengagguk kemudian keluar dari kamar Rendi.
“Mel.. Amel,” teriak Rendi lagi. Sedari tadi dia hanya memanggil nama Amel.
“Bang, boleh ya Amel nemenim Rendi di sini? Amel nggak bisa ninggalin dia dengan keadaan kayak gini,” mohon Amel dengan wajah memelas.
Sofi menghampiri Raka dan Amel. “Kau bisa tidur di kamarku. Biar kak Amel di sini menjaga kak Rendi. Kau tenang aja, kak Rendi tidak mungkin berbuat macem-macem dengan kak Amel,” ucap Sofi meyakinkan Raka yang terlihat diam saja dari tadi.
Raka menoleh pada Amel. “Okee. Kalau gitu abang pulang dulu, besok abang jemput kamunkalau kamu sudah mau pulang,” jawab Raka sambil berdiri. Amel menahan tangan Raka.
“Lebih baik abang tidur di kamar Sofi aja bang! Ini udah jam 3 pagi. Abang pasti capek juga. Besok kita bisa pulang sama-sama,” usul Amel.
Raka menoleh pada Amel. “Nggak apa-apa, Abang pulang aja. Abang pulang ya?” ucap Raka sambil mengelus lembut kepala Amel kemudian berjalan keluar.
Melihat Raka yang sudah keluar dari kamar kakaknya, Sofi berjalan keluar untuk menyusul Raka. “Tunggu!” teriak Sofi saat melihat Raka yang melangkah dengan cepat. "Aku bilang tunggu!"
Sofi menahan tangan Raka saat dia tidak menghiraukan panggilannya. Raka menoleh pada Sofi saat tangannya ditarik oleh Sofi.
“Kenapa lagi? Aku sedang ingin berdebat dengamu,” ucap Raka dengan wajah malas.
“Lebih baik kau tidur di kamarku. Kau bisa istrirahat dulu dikamarku sambil nunggu pagi,” usul Sofi tanpa melepaskan tangan Raka.
Raka menghela napasnya. “Tidak perlu, lebih baik aku pulang,” tolak Raka sambil melepaskan tangan Sofi.
Sofi menarik tangan Raka lagi sambil berjalan ke arah kamarnya, kali ini Sofi menariknya tangan Raka dengan kuat sehingga Raka terpaksa mengikuti Sofi.
“Aku nggak mungkin membiarkanmu pergi begitu aja, apalagi kau sudah menolong kakakku. Kau juga tidak mungkin menyetir jam segini. Kau bisa kecelakaan nanti,” ucap Sofi sambil membuka pintu kamarnya lalu menarik Raka masuk ke kamarnya.
Raka melangkah mendekati Sofi. Sebenarnya Sofi terpaksa meminta Raka untuk tidur di kamarnya karena dia melihat Raka tampak sudah kelelahan. Dia juga merasa bersalah karena sudah merepotkan Raka untuk membawa pulang kakaknya. Dia tidak menyangka kalau Raka ma menolong kakaknya, mengingat dulu mereka pernah berkelahi.
“Apa kau tidak takut denganku?” tanya Raka dengan alis yang naik saat dirinya sudah berada di dalam kamar Sofi.
__ADS_1
“Apa-apa maksudmu?” tanya Sofi gugup saat Raka memojokkan dia ke dinding dan menatap wajahnya dari dekat.
“Di sini hanya ada kita berdua, apa kau tidak takut kalau aku berbuat macam-macam padamu?“ tanya Raka sambil menatap mata hitam Sofi dari dekat.
Jantung Sofi berdetak kencang, wajah, dan telinganya juga memanas. Dia belum pernah berada sedekat itu dengan seorang pria.
Sofi mengalihkan pandangannya ke samping. “Kau.. aku.. kau tidak mungkin.. “
Sofi tidak bisa menjawab perkataan Raka karena dia merasa sangat gugup sehingga sulit untuk berbicara.
Raka memegang dagu Sofi lalu mengarahkan ke wajahnya. Raka menatap dalam mata Sofi. “Apa kau menyukaiku?” tanya Raka dengan wajah datar.
Sofi menatap berani pada Raka. “Kau.. Kau jangan bermimpi! Siapa yang menyukaimu. Sudah ada laki-laki yang aku sukai, tentu saja bukan kau orangnya,” ucap Sofi dengan lantang.
Sudut mulut Raka terangkat. "Benarkah?" Raka mendekatkan mulutnya ke telinga Sofi. “Aku tidak akan pulang, asalkan kau tidur denganku.”
Sofi mendorong tubuh Raka. “Apa maksudmu? Kau pikir aku wanita gampangan?” Sofi berucap dengan nada tinggi. “Kau jangan macam-macam denganku,” ucap Sofi marah.
Raka mendekati Sofi lagi. “Bukankah kau sendiri yang memintaku untuk tidur di kamarmu?” tanya Raka enteng.
“Ak-qku.. maksudku kau tidur di sini sendiri, aku akan tidur di kamar sebelah, di kamar yang biasa di tempati orang tuaku,” jelas Sofi salah tingkah.
Raka merebahkan tubuhnya di sofa panjang setelah dia meraih bantal sofa yang digunakan untuk menyangga kepalanya. Raka terlihat sudah memejamkan matanya.
Sofi masih terdiam di tempatnya. Dia memandang Raka cukup lama. Sofi berjalan menuju lemari mengambil selimut lalu berjalan mendekati Raka lagi. Sofi membentangkan selimut untuk menutupi tubuh Raka.
“Terima kasih sudah menolong kakakku,” ucap Sofi pada Raka yang terlihat sudah tertidur.
Sofi kemudian berjalan ke ranjangnya lalu merebahkan tubuhnya. Sofi kalau Raka belum tertidur saat dia mengucapkan terima kasih padanya.
*****
Amel melangkah mendekati tempat tidur Rendi. Dia melihat Rendi tampak masih mengigau memanggil namanya. Amel memegang wajah Rendi yang terluka akibat berkelahi.
“Sekarang, apa yang harus aku lakukan terhadapmu?” gumam Amel dengan pelan seraya menatap wajah Rendi.
Rendi membuka mata saat menyadari ada sentuhan di wajahnya. Rendi belum sepenuhnya sadar, dia masih mabuk, karena dia menghabiskan banyak sekali minuman beralkohol. Rendi bangun dari tidurnya.
__ADS_1
“Ameeel, benarkah ini kamu? Orang yang aku cintai?” tanya Rendi sambil memegang wajah Amel. Dia tampak masih bingung, pengaruh alkohol membuatnya tidak bisa membedakan kenyataan atau bukan.
Rendi tertawa. “Tidak mungkin, aku pasti sudah mabuk, aku pasti berhalusinasi." Rendi menggelengkan kepalanya berkali-kali, kemudian melangkah menuju sofa lagi. Dia meraih botol minum yang masih terisi penuh.
Amel langsung berlari merebut minuman dari tangan Rendi. “Kak, sudah cukup, kau bisa mati kalau kau terus-terus meminum minuman ini,” ucap Amel dengan nada tinggi.
Rendi terdiam beberapa saat lalu menoleh pada Amel, dengan setengah sadar. “Kemarikan botol itu,” ucap Rendi dengan tatapan tajam.
Amel menyembunyikan botol minumannya dibalik tubuhnya. “Aku tidak akan memberikannya. Kau sudah mabuk, Kak,” tolak Amel dengan tegas.
Rendi berjalan mendekati Amel, lalu melingkarkan tangannya ke tubuh Amel untuk meraih botol minuman itu. Amel langsung diam tidak bergerak, dia sangat terkejut. Dia tidak sadar kalau botol minumannya sudah diambil oleh Rendi.
“Pulanglah." Rendi berjalan menjauhi Amel sambil meneguk minuman keras itu.
Amel kemudian mendekati Rendi lagi. “Kak, tolong berhenti Kenapa kau jadi begini?” ucap Amel dengan tatapan sedih dan mata yang sudah berkaca-kaca.
Rendi tidak memperdulikan Amel. Dia masih terus saja meneguk minuman beralkohol itu. Amel akhirnya merebut botol minum itu lalu berjalan menuju kamar mandi dan membuang isinya.
Setelah isinya habis, Amel kembali ke meja dan mengambil rokok dan memeriksa botol minuman yang masih tersisa. Setelah memastikan semua botol minuman sudah kosong, Amel membuang rokoknya ke tempat sampah.
“Sebenarnya apa maumu?” tanya Rendi saat melihat Amel sudah berjalan ke arahnya lagi.
Amel duduk di samping Rendi. “Kakak harus istirahat, sebentar lagi pagi,” ucap Amel sambil menarik tangan Rendi. Rendi tidak bergeming dari tempatnya.
“Bukankah kau menyuruhku untuk menjauhimu? Lalu kenapa kau datang ke sini? Apa tunanganmu tahu kalau kau ada di sini?” tanya Rendi dengan nada dingin.
Amel menoleh pada Rendi dengan wajah serba salah. “Aku akan menjelaskan kesalahpahaman ini besok setelah Kakak sadar, Sekarang Kakak harus tidur."
Rendi menghempaskan tangan Amel. “Apalagi yang akan kau jelaskan, bukankah sudah jelas. Kau sudah bertunangan dengannya dan akan segera menikah,” ucap Rendi dingin tanpa menatap Amel.
Amel duduk di samping Rendi. “Kakak sedang mabuk, percuma aku jelaskan sekarang,” ucap Amel kesal.
“Pergilah, aku sedang ingin sendiri. Seperti katamu, aku akan menjaga jarak dengamu. Aku tidak akan menampakkan wajahku lagi di hadapanmu” ucap Rendi acuh tak acuh.
Mata Amel mulai berkaca-kaca lagi. “Maafkan aku, Kak. Aku melakukan ini untuk kebaikanmu,” ucap Amel dengan suara bergetar.
Rendi langsung menoleh pada Amel. “Kebaikan apa? Kau menghancurkan hidupku Mel. Bukankah kau tahu, dari dulu aku sangat mencintaimu. Aku bahkan tidak pernah memperdulikan diriku sendiri. Kenapa kau selalu menyakitiku Mel?” tanya Rendi dengan wajah sedih dan putus asa.
__ADS_1
“Kau pernah berjanji untuk menikah denganku, tapi apa? Sekarang kau sudah menjadi tunangan Devan. Kau juga akan segera menikah dengannya. Apa kau tidak tahu bagaimana hancurnya hatiku saat mengetahuinya?” ujar Rendi dengan wajah kecewa.
Bersambung...