Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Melindungi


__ADS_3

Mobil Raka sudah memasuki area hotel, Raka memarkirkan mobilnya tidak jauh dari pintu masuk. Sofi yang tadinya sudah mau turun, tiba-tiba terdiam saat melihat seseorang sedang berada di depan pintu masuk hotelnya.


“Kau kenapa?” tanya Raka saat melihat wajah tegang Sofi. Raka mengalihkan pandangannya ketika melihar Sofi hanya diam, tidak menjawab pertanyaannya. Mata Raka menyipit. “Kau mengenalnya?” tanya Raka lagi setelah dia mengikuti arah pandangan Sofi.


Sofi memegang erat tasnya tanpa mengalihkan pandangannya. “Kak Amel duluan aja, nanti Sofi nyusul,” ucap Sofi pelan tanpa merespon pertanyaan Raka.


Amel masih heran dengan tingkah Sofi, tetapi dia tidak mau bertanya lebih jauh. Dia tidak ingin Sofi merasa dia terlalu ikut campur urusan pribadinya.


“Bang Raka nggak mau ikut masuk dulu?” tanya Amel saat melihat dia sedang menatap Sofi tanpa berkedip. Raka mengalihkan pandanganya ke Amel.


“Nggak usah, abang mau langsung pulang aja.”


Amel mengangguk. “Kalau gitu Amel masuk ya, Bang,” ucap Amel sambil membuka pintu mobil belakang. “Sof, kak Amel langsung ke kamar kakak kamu ya,” lanjut Amel lagi sebelum menutup pintu mobil.


“Iyaa, Kak,” jawab Sofi cepat.


Amel berjalan menuju pintu masuk hotel setelah menutup pintu mobil. Sofi tampak belum ada niat untuk turun. Sofi melepaskan seatbeltnya, lalu mengambil ponsel yang ada di tasnya. Dia mematikan ponselnya. Raka hanya diam sambil memperhatikan gerak-gerik Sofi.


“Makasih sudah mengantarku pulang,” ucap Sofi sambil membuka pintu, tanpa menoleh pada Raka.


“Tunggu.” Raka menahan tangan Sofi saat dia akan turun dari mobilnya. Sofi menoleh pada Raka. “Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa kau mengenal pria itu?” tanya Raka sambil melirik sekilas pada pria yang terlihat sedang berjalan mondar-mandir di depan pintu masuk hotel.


“Diaa... diaa....”


“Apa dia pacarmu?” sela Raka saat melihat Sofi tampak kebingungan menjawab pertanyaannya.


Sofi melepaskan tangan Raka. “Dia mantan pacarku,” jawab dengan suara bergetar. “Aku pergi dulu.” Sofi menutup pintu mobil tanpa mendengar jawaban dari Raka.


Raka tampak memandang Sofi yang sedang berjalan cepat, terlihat pria itu langsung berlari menghampiri Sofi. Sofi berusaha menghindari pria itu. Mereka terlihat sedang berdebat, pria itu memegang kedua tangan Sofi berusaha untuk menjelaskan sesuatu.


Raka memegang setir dengan kuat saat melihat pria itu memeluk Sofi yang sedang menagis dan berusaha melepaskan pelukan pria itu. Sofi ditarik paksa oleh pria itu menuju sebuah mobil sedan berwarna hitam. Sofi tampak berusaha melepaskan tangannya. Air matanya terus mengalir.


Raka keluar dari mobilnya, dengan langkah cepat, dia menghampiri Sofi dan pria itu. “Lepaskan tanganmu!” ucap Raka dengan suara berat.


Dia memegang tangan pria itu untuk menghentikan langkah langkah pria itu menarik Sofi untuk masuk ke dalam mobilnya. pria itu menoleh pada Raka saat merasa tangannya di cengkram kuat oleh seseorang.


“Jangan ikut campur masalah kami,” ucap pria itu dengan suara tinggi. Raka menyeringai.


“Aku tidak akan ikut campur jika kau melepaskan Sofi!”

__ADS_1


Sofi tampak terkejut dengan kedatangan Raka. pria itu langsung menoleh pada Sofi. “Siapa dia? Apa kau mengenalnya? Apa kau berselingkuh di belakangku?” tanya pria itu dengan tatapan marah.


Sofi menatap nanar pada pria di depannya. “Bukankah kau yang sudah berselingkuh dariku?” tanya Sofi dengan suara bergetar, matanya sudah berkaca-kaca.


pria itu menghempaskan tangan Raka. Dia kemudian memegang kedua tangan Sofi. “Sudah aku bilang, aku dijebak Sof. Aku tidak mencintainya,” ucap pria itu dengan nada melembut. “Tolong percaya padaku Sof, aku sangat mencintaimu. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya,” ucap pria itu dengan tatapan memohon.


Air mata Sofi sudah keluar. “Lalu bagaimana Evelyn? Apa kau akan mencampakkannya?”


“Aku tidak mencintainya Sof. Aku akan tetap bertanggung jawab dengan jalan lain, tapi aku tidak mau menikahinya. Dia menjebakku!” ucap Willy dengan suara meninggi.


Sofi mengusap air matanya. “Pulanglah Will. Aku tidak akan kembali ke Jerman lagi. Aku akan tinggal di sini selamanya,” ucap Sofi sambil mengalihkan pandangannya.


Willy melepaskan tangannya dari pundak Sofi. “Aku juga tidak akan pulang ke sana. Aku tidak keberatan untuk tinggal di sini. Aku bisa pindah ke sini, asalkan kau kembali padaku. Aku akan menjual semua asetku yang ada di jerman. Kita bisa memulai kehidupan baru di sini.”


Sofi menatap Willy dengan tatapan tidak berdaya. “Will, tolong jangan mempersulitku. Kau harus menikahi Elvelyn.”


Willy menggelengkan kepalanya. “Tidak Sof, sudah kubilang itu bukan anakku. Kau harus percaya padaku Sof. Aku tidak pernah menyentuhnya. Kalau aku bisa membuktikan kalau itu bukan anakku apa kau mau kembali padaku?” tanya Willy sambil memegang tangan Sofi.


Sofi melepaskan genggaman pria itu, Sofi berusaha menahan air matanya yang sudah menggenang di pelupuk matanya. “Maaf Will, aku tidak bisa kembali denganmu lagi,” Sofi berniat melangkah pergi tetapi ditahan oleh pria itu.


Pria itu mengelengkan kepalanya. “Aku tidak akan pernah melepaskanmu Sofi. Aku tidak akan membiarkan kau pergi dariku. Kau harus menjadi milikku,” ucap pria itu sambil memegang erat tangan Sofi.


Tangan Raka mengepal. “Lepaskan tanganmu,” ucap Raka saat melihat Sofi tampak meringis kesakitan saat tangannya digenggam kuat oleh Willy. “Kubilang lepaskan tanganmu darinya!” ucap Raka dengan nada tinggi ketika melihat Willy tidak juga melepaskan tangan Sofi.


“Willy, apa yang kau lakukan!” teriak Sofi sambil berjalan menghampiri Raka. “Kau tidak apa-apa?” tanya Sofi sambil memegang lengan Raka.


“Menjauh darinya Sofi,” ucap Willy emosi. Raka mengelap sudut bibirnya lalu menatap pria itu dengan tatapan berkilat. Raka menarik Sofi agar berada di belakangnya, lalu menoleh pada Sofi.


“Tunggu di sini.” Raka lalu berjalan menghampiri Willy yang tampak akan menghajarnya lagi.


Kali ini Raka tidak tinggal diam. Dia mengajar Willy terlebih dahulu. Raka memukul Willy hingga dia tersunggkur, sebelum dia bangun lagi, Raka menghajarnya lagi lalu mencengkram baju Willy.


“Aku peringatkan padamu. Kalau kau masih ingin hidup, jauhi Sofi, Jangan pernah mengganggunya lagi,” ucap Raka sambil mengehempaskan tubuh Willy lalu berdiri.


“Ayo pergi.” Raka menarik tangan Sofi dengan cepat.


“Sofi, aku tidak akan berhenti untuk menemuimu sebelum kau kembali padaku!” teriak Willy saat melihat Sofi dan Raka sudah berjalan meninggalkannya masuk ke dalam hotel.


Raka menarik Sofi masuk kedalam lift, tanpa berkata apa-apa. Wajahnya masih diliputi kemarahan. Sofi hanya diam ketika Raka menariknya kembali keluar dari lift di lantai 30. Air mata yang sedari tadi sudah tumpah. Tidak suara isak tangis yang terdengar dari mulutnya. hanya air mata yang terus mengalir.

__ADS_1


“Masuklah,” ucap Raka sambil melepaskan tangan Sofi setelah mereka sampai di depan kamarnya.


Sofi mengusap air matanya. “Masuklah dulu. Aku akan mengobati lukamu,” ucap Sofi sambil membuka pintu.


Raka menggeleng. “Aku akan langsung pulang! Ini hanya luka kecil,” ucap Raka sambil memegang sudut bibirnya.”


Sofi menatap Raka dengan mata yang masih berair. “Tunggulah di sini dulu. Mungkin Willy masih di bawah. Dia tidak akan pergi begitu saja. Aku hanya takut dia akan menghajarmu lagi,”


“Aku yang akan menghajarnya, kalau dia berani mencari gara-gara denganku,” ucap Raka dengan dengan tegas.


Sofi meraih tangan Raka. “Tolong jangan menghajarnya lagi. Aku tidak ingin dia terluka,” ucap Sofi dengan tatapan memohon.


Raka menatap Sofi dengan tatapan menyelidik. “Apa kau masih mencintainya?” ucap Raka dingin. Melihat Sofi yang tidak menjawab pertanyaannya, Raka kembali berkata, “sepertinya kau masih sangat mencintainya,” ucap Raka sambil melepaskan tangan Sofi.


Sofi tidak berani menatap wajah Raka. “Aku hanya tidak ingin menambah masalah. Lebih baik kau abaikan dia, jika kau bertemu lagi dengannya. Dia bukan orang yang mudah untuk diatasi, jangan mencari masalah dengannya. Tidak banyak orang yang mengenalnya di sini, tetapi orang tuanya mempunyai kekuasaan di Jerman.”


Raka tertawa sinis. “Aku tidak peduli siapa dia. Aku tidak akan membiarkannya, kalau dia berbuat seenaknya seperti tadi.”


“Aku hanya tidak ingin melibatkanmu dengan permasalahanku.”


Raka menatap mata Sofi dengan wajah serius. “Sudah terlambat. Aku sudah terlanjur masuk ke dalam permasalahan kalian. Aku akan melindungimu darinya.”


“Tidak perlu, aku bisa mengatasinya sendiri,” tolak Sofi pelan.


“Kalau kau tidak mau aku ikut campur. Beritahu kakakmu masalah ini.”


Sofi menggeleng cepat. “Aku tidak mungkin menceritakan pada kak Rendi. Dia bisa saja menghajar Willy habis-habisan, kalau dia tahu masalah yang sebenarnya. Dia tidak akan melepaskan Willy dengan mudah. Setidaknya kau tahu sedikit bagaimana karakter kakakku,”


Raka mendekatkan wajahnya pada Sofi. “Kalau begitu tidak ada pilihan lain. Aku yang akan akan menggantikan kakakmu untuk melindungimu!”


Sofi menjauhkan wajahnya dari Raka. “Sudah kubilang tidak perlu. Kau tidak usah merasa terbebani dengan masalahku. Kita tidak akrab, Kita juga tidak dekat. Anggap saja kau tidak tahu apa-apa.”


Raka memajukan wajahnya agar sejajar dengan Sofi. “Apa kita harus dekat dulu, baru aku bisa menolongmu?”


Sofi mengalihkan pandangannya. “Bu..bukan seperti maksudku, tapi....” Seketika Sofi menjadi gugup saat ditatap oleh Raka dari jarak dekat.


“Kalau begitu jadilah pacarku.” Raka menjauhkan wajahnya dari Sofi, sambil memasukkan tangannya ke saku celananya.


“Haaaahhh,” ucap Sofi dengan mata terbelalak, mulutnya terbuka lebar. “Masuklah. Aku pulang dulu,” ucap Raka cepat saat melihat ekpresi kaget dari Sofi.

__ADS_1


Sofi meraih tangan Raka saat dia akan berbalik. “Terima kasih,” ucap Sofi pelan.


Bersambung...


__ADS_2