
Rendi langsung berjalan keluar saat pintu lift sudah terbuka. Dia tidak menggubris pertanyaan Amel dan terus saja berjalan masuk dalam ruangan Kenan tanpa menghiraukan sapaan dari Bela.
Bela menatap heran pada Rendi sebelum dia menghilang dari balik pintu. Bela lalu menatap Amel yang sedang berdiri di sampingnya.
“Kak Rendi kenapa?” tanya Bela.
Amel sudah menceritakan semuanya pada Bela setelah kemarin pulang dari rumah sakit. Bela langsung memberondongnya dengan banyak pertanyaan. Akhirnya Amel menceritakan semuanya.
Amel mengedikkan bahunya. “Nggak tau.” Amel tidak berniat untuk membahas tingkah aneh Rendi. “Bel, weekend ini ke mall yuk?” ajak Amel setelah duduk dan meletakkan tasnya.
Bela lalu menoleh pada Amel, saat dirinya tengah melihat isi ponselnya. “Oke, sekalian kita beli baju untuk liburan ke Bali nanti,” ucap Bela semangat.
Pukul 8 Kenan baru saja datang bersama dengan Fadil. Seperti biasa dia langsung masuk ke dalam ruangannya. Kenan terkejut saat melihat Rendi sudah duduk di sofa sambil merebahkan tubuhnya dengan mata terpejam.
Kenan berjalan menuju sofa. "Kau kenapa? Habis ribut dengan Kila?" tanya Kenan sambil duduk di depan Rendi. Rendi membuka matanya lalu menegakkan tubuhnya.
"Apa kau mengenal Devan?" Rendi mengacuhkan pertanyaan yang dilontarkan oleh Kenan. Kenan terkejut saat Rendi lansung menanyakan Devan.
"Kau ini, ada apa lagi denganmu? Kenapa tiba-tiba menanyakannya?"
"Jangan banyak tanya, kau kenal tidak?" tanya Rendi tidak sabar. Entah kenapa setelah melihat Devan bersama dengan Amel, pikirannya terus saja berputar memikirkan mereka berdua ada hubungan apa.
Kenan bersandar pada sofa dan menatap santai pada Rendi yang terlihat gusar. "Tentu saja aku tahu. Apa kau sudah bertemu dengan saingan cintamu?" ejek Kenan.
Alis Rendi bertautan. "Apa maksudmu?"
Kenan tersenyum jahat. "Berikan aku apartemen mewahmu yang berada di Senayan. Aku akan memberitahumu segala sesuatu yang ingin kamu tahu, apapun itu," ucap Kenan santai. Selama ini Rendi selalu menyusahkan dirinya. Dia ingin membalas kekesalannya selama ini.
Rendi menatap kesal pada Kenan. "Apa kau gila? Kau ingin merampokku?" tanya Rendi dengan nada tinggi.
Kenan berusaha tetap tenang, saat melihat ekspresi kesal Rendi. "Itu sepadan dengan informasi yang akan kau dapatkan nanti, kau bisa bertanya apapun kepadaku."
Rendi tampak terdiam, dia menyandarkan tubuhnya lagi ke sofa lalu menatap pada Kenan. "Aku akan memberikan apartemenku yang di Sudirman, itu sama aja dengan yang di Senayan," tawar Rendi.
Dia tidak mau memberikan itu karena dia menyukai aparteman itu, selain itu juga letaknya strategis.
Semoga dia tidak membunuhku nanti saat dia tahu kalau aku memanfaatkannya ketika dia hilang ingatan, batin Kenan.
Kenan menyilangkan kaki dan memangku tangannya. "Baiklah, tidak masalah. Apa yang ingin kau ketahui?"
"Devan, siapa orang itu?" tanya Rendi tanpa basa-basi.
Kenan tersenyum kecil. "Dia adalah laki-laki yang menyukai Amel. Laki-laki yang paling dekat dengannya. Dengan kata lain saingan terberatmu."
__ADS_1
Alis Rendi menyatu. "Saingan?"
"Ya, dulu waktu kamu masih pacaran dengan Amel, dia adalah laki-laki yang paling kamu cemburui. Laki-laki yang tidak bisa kamu jauhkan dari hidup Amel."
"Jadi benar aku pernah berpacaran dengannya?"
"Tentu saja, kau bahkan sangat mencintainya dulu. Aku belum pernah melihatmu secinta itu pada orang lain, termasuk dengan Kila saat ini."
Rendi menegakkan tubuhnya. "Tidak mungkin."
Kenan tersenyum mengejek. "Perasaanmu dengan Amel berbeda dengan Kila. Kau pikir aku tidak tahu, kau bahkan tidak mau dipeluk apalagi dicium oleh Kila. Kau terus berusaha menghindarinya, bukankah sudah jelas, kalau kau tidak mencintai Kila."
Rendi terkejut saat mendengar penuturan Kenan. "Dari mana kau tahu?" tanyanya heran.
"Tentu saja dari kak Bianca, Friskila sering mengadu padanya."
Rendi menghela napas. Sebenarnya dia juga bingung dengan perasaannya. "Aku hanya merasa tidak nyaman saja dengan Kila."
"Kau bahkan tidak pernah marah kalau Kila berbicara dengan laki-laki lain. Kau juga tidak pernah berinisiatif untuk menghubunginya duluan. Kau sudah bertunangan dengannya, tetapi kau bahkan belum pernah memberikan apa-apa padanya, berbeda dengan Amel."
"Memang apa yang sudah kuberikan padanya dulu?"
"Salah satunya adalah resort dan hotelmu yang di Jepang, Amelia Putri itulah nama panjang Amel," ucap Kenan dengan santai.
"Yaa, tapi Amel belum mengetahuinya. Bukan hanya itu, masih banyak sudah kau korbankan untuknya."
"Beritahu aku, apa saja yang sudah pernah aku lalukan untuknya?"
Kenan terpaksa memberitahukan semuanya pada Rendi. Dia tidak berniat untuk menyembunyikan lagi darinya. "Benarkah aku pernah menyuruhmu untuk melakukan itu semua?" tanya Rendi setelah Kenan menceritakan semua pada Rendi.
"Kau bahkan meminta hal yang lebih gila lagi pada Jhon," ucap Kenan tersenyum sinis.
"Apa?" tanya Rendi penasaran. Rendi tidak menyangka kalau pernah melakukan itu semua untuk Amel.
"Kalau untuk yang itu, kau bisa menanyakan langsung padanya. Kau tidak akan percaya kalau aku yang memberitahumu."
Rendi menegakkan badannya, mendekatkan tubuhnya pada Kenan "Lalu apa hubungan Amel sekarang dengan Devan?"
Kenan menaikkan sudut bibirnya, setelah melihat Rendi tampak sangat penasaran. "Dari info yang aku dapat dari orang suruhanku. Devan sudah pernah melamar Amel secara pribadi, tetapi Amel belum menjawabnya.”
Kenan memang meminta orang untuk mengawasi Amel, itu adalah permintaan Rendi dulu sebelum berangkat ke Amerika, yang masih dilakukan oleh Kenan sampai saat ini.
Tanpa sadar tangan Rendi mengepal setelah mendengar perkataan Kenan. “Berikan aku informasi latar belakang Devan. Berikan sedetail mungkin. Aku tunggu sore ini juga,” perintah Rendi.
__ADS_1
Kenan menegakkan badannya. “Heey Ren, aku bukan babumu yang bisa kau perintah seenaknya,” ujar Kenan dengan kesal.
Rendi duduk bersandar. “Aku tidak peduli. Aku akan langsung memberikan apartemenku itu setelah aku dapat info tentang Devan,” ucap Rendi acuh.
Kenan menatap Rendi dengan kesal. “Untuk apa juga kau tahu latar belakang Devan? Apa kau berniat untuk bersaing dengannya?”
Rendi memandang Kenan dengan wajah tidak suka. “Apa kau tidak waras? Aku hanya ingin tahu saja.”
“Kau yang tidak waras!” teriak Kenan dengan wajah kesal. “Kau ini sedang senggang ya? Atau sedang bosan? Atau kau sudah gila? Mana ada orang yang hanya sekedar ingin tahu sampai rela memberikan apartemen mewah seharga 130 Miliar kalau tidak mempunyai maksud lain. Aku tahu, kau itu kelebihan uang, tapi lama-lama aku merasa kalau kau itu sedang mengerjaiku. Kalau kau sedang frustasi, lebih baik kau pergi liburan yang jauh. Jangan menggangguku dengan permintaan konyolmu itu. Aku bisa jadi gila karenamu,” ucap Kenan dengan wajah kesal.
Rendi menatap acuh pada Kenan saat melihat luapan kekesalan dari Kenan. “Aku hanya tidak suka milikku diambil oleh orang lain,” jawab Rendi santai.
“Milikmu?? Siapa yang kau sebut milikmu?? Haah?” teriak Kenan emosi.
“Tentu saja Amel, siapa lagi. Dia bekerja di perusahaanku, tentu saja dia milikku.”
Kenan geleng-geleng kepala saat mendengar ucapan santai Rendi. “Waah ... Waah ... Kau benar-benar sudah gila. Apa kau akan menyebutku milikmu juga karena aku bekerja di perusahaanmu?”
“Apa kau sudah gila? Apa kau punya kelainan?” Rendi menatap tidak suka pada Kenan.
“Bagaimana dengan wanita-wanita lain yang bekerja diperusahaanmu, apakah mereka milikmu juga?” tanya Kenan kesal.
“Hilangkan pikiran bodohmu itu.”
Kenan menatap Rendi jengah. “Aku bodoh juga karena terlalu sering bergaul denganmu. Otakku menjadi tumpul karenamu.”
“Kerjakan saja apa yang kuminta. Aku harus tahu kemampuan lawanku,
sebelum aku bersaingan dengannya.”
Kenan menghela napas. “Lawan apa? Bersaing apalagi? Kau itu sudah punya tunangan. Untuk apalagi kau mengurusi hubungan Amel dan Devan?” tanya Kenan dengan wajah kesal.
“Bukankah kau bilang aku sangat mencintai Amel? Aku harus memastikan sendiri ucapanmu itu." Rendi terlihat sangat santai menghadapi Kenan yang sedari tadi sudah meledak-ledak.
"Oyaa, berikan juga aku latar belakang Amel yang lengkap. Tidak ada yang boleh terlewatkan satupun, termasuk info tentang masa laluku dengan Amel. Sore ini. Aku minta sore ini harus ada semua,” perintah Rendi enteng.
Kenan berjalan ke arah Rendi lalu menarik tangannya. " Ayo pergi."
Rendi menoleh pada Kenan. “Mau kemana?” tanya Rendi pada Kenan.
“Tentu saja ke Rumah Sakit Jiwa. Kemana lagi? Aku sudah tidak sanggup lagi menghadapimu,” ucap Kenan dengan kesal.
Rendi menghempaskan tangan Kenan. “Kau sudah bosa hidup? Apa kau pikir aku sudah gila?” tanya Rendi dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Bersambung....