
Amel membuka matanya saat mendengar ada telpon masuk. Dia melihat layar ponselnya, ternyata Devan yang menelpon. Amel mengangkat telponnya sambil berjalan keluar hotel lalu mengedarkan pandangannya untuk mencari Devan.
Amel tersenyum setelah melihat Devan menghampirinya, setelah itu mereka berjalan menuju mobil Devan. Devan memutuskan untuk mengajak Amel untuk pergi ke apartemennya. Dia sengaja tidak mengajak ke rumahnya karena di sana ada kakaknya. Dia tidak akan leluasa untuk berbicara hal serius dengan Amel.
Sesampainya di apartemennya, Devan langsung mengajak Amel untuk masuk. “Aku akan mengganti pakaian dulu. Kau duduk saja dulu di sini,” ucap Devan sambil berlalu meninggalkan Amel menuju kamarnya.
“Iyaa, Kak,” ucap Amel sambil duduk.
Ini bukan pertama kalinya Amel ke apartemen Devan. Amel dan Nora sering ke apartemen Devan jika mereka tidak mempunyai kegiatan. Mereka sering menghabiskan waktu bersama jika memiliki waktu luang.
Setelah berganti pakaian, Devan berjalan keluar dari kamarnya. “Kamu sudah makan?” tanya Devan saat melihat Amel tampak melamun.
Amel menoleh pada Devan. “Belum, Kak,” jawab Amel lemah.
Devan berjalan dan duduk di samping Amel. “Aku pesan makan dulu, aku juga belum makan.”
“Kenapa Kakak belum makan? Ini sudah siang. Apa Kakak mau sakit seperti waktu itu?” ujar Amel dengan nada tinggi sambil menoleh pada Devan.
Devan memiliki sakit maag sama seperti Amel karena dia sering telat makan. Tidak jarang asam lambungnya naik.
Devan terlihat sedang mengetik sesuatu pada ponselnya. “Jangan memarahiku. Kamu juga belum makan. Aku sedang tidak napsu makan” ucap Devan tanpa menoleh pada Amel.
Setelah selesai memesan makanan, Devan meletakkan ponselnya di meja. “Apa yang sebenarnya terjadi dengan Rendi?” tanya Devan tanpa basa-basi.
Setelah pertemuan Devan dan Rendi di kantor Amel. Amel belum menjelaskan secara detail pada Devan. Dia hanya mengatakan kalau Rendi masih hidup. Amel berjanji akan menjelaskan pada Devan saat Amel libur bekerja, tetapi tidak jadi karena mereka justru bertemu dengan Rendi di pesta dan terjadilah ke salah pahaman antara Amel dan Rendi sehingga membuat Rendi mabuk berat.
Amel kemudian menjelaskan semua pada Devan, termasuk kejadian setelah di pesta dan ketika dia membawa pulang Rendi ke hotel, bahkan kejadian perdebatan Rendi saat di hotel tadi pun diceritakan pada Devan.
__ADS_1
“Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanya Devan dengan wajah serius.
“Maaf, Kak, aku tidak bisa menerima lamaranmu,” ucap Amel dengan wajah merasa bersalah.
Devan membalikkan sedikit badannya menghadap Amel. “Jadi kamu memutuskan untuk menikah dengan Rendi? Bukankah Rendi bilang kalau dia tidak bisa menjauhi Friska? Masih ada Friska di antara kalian. Dia bahkan lebih memilih Friska sekarang. Mungkin saja kedepannya dia akan mengabaikanmu. Apa kamu sanggup menjalani hubungan seperti itu?” Devan menghentikan ucapannya sambil meneliti wajah Amel.
“Saat ini dia berani bunuh diri, bukan tidak mungkin ke depannya dia akan melakukan hal yang sama. Friska tidak akan membiarkan Rendi meninggalkannya, Mel. Kau tidak akan bisa bersama dengan Rendi, jika Rendi tidak mengambil sikap tegas dengan Friska. Bagaimanapun dia harus mengorbankan salah satu dari kalian.” Devan berusaha untuk meredam emosinya yang mulai naik.
“Aku tahu Kak, tapi aku sangat mencintainya. Kalaupun aku tidak bisa bersama dengannya. Aku siap mundur, tetapi tetap saja aku tidak bisa menerimamu, Kak. Aku tidak ingin menjadikanmu pelampiasan. Kamu juga berhak bahagia, Kak. Aku tidak bisa memberikan hatiku untukmu,” ucap Amel wajah sedih.
“Aku tidak masalah jika kau jadikan aku sebagai pelampiasan. Aku akan menerimanya. Aku akan membuatmu melupakan dia sampai kau bisa menerimaku Mel. Aku akan menunggu dengan sabar. Menikahlah denganku, Mel. Aku janji akan membahagiakanmu,” ucap Devan dengan wajah memohon sambil memegang tangan Amel.
Air mata Amel sudah menetes. “Aku tidak bisa melakukan itu padamu, Kak. Aku tidak ingin menyakitimu. Aku tidak bisa menjamin bahwa aku akan mencintaimu nanti. Tolong mengerti, Kak.”
“Bagaimana kalau aku tetap tidak mau melepasmu?” tanya Devan sambil menatap Amel dengan wajah dingin.
“Aku tidak ingin yang lain, Mel. Aku hanya mencintaimu. Bukankah kau tahu, bagaimana perasaanku selama ini kepadamu?”
Amel melepaskan tangannya dari Devan. “Tolong berikan kau kesempatan, Mel. Aku tidak bisa melepasmu begitu saja. melihat sikap Rendi seperti sekarang yang lebih mementingkan Friska, aku tidak berencana untuk mundur. Dia sudah menyakitimu. Aku tidak akan tinggal diam, Mel. Aku akan merebutmu darinya,” ucap Devan dengan wajah serius dan tekad yang bulat.
“Aku akan menemui ibu besok dan langsung melamarmu. Asal kau tahu saja, aku sudah pernah menemui ibumu dan menyampaikan niatku untuk menikahimu saat aku pergi keluar kota beberapa hari yang lalu. Ibumu sudah menyetujuinya. Aku sebenarnya ingin menikahimu tanpa paksaan, tapi melihat kau bersikeras menolakku seperti ini dan memilih bertahan dengan Rendi. Aku terpaksa menggunakan ibumu untuk menikahimu. Aku tahu, kau tidak mungkin menolak permintaan ibumu untuk menikah denganku.”
“Kak, tolong jangan begini. Aku hanya menganggapmu sebagai Kakakku. Aku menyayangimu karena kau adalah orang selalu melindungiku dari aku kecil, tapi aku tidak bisa mencintaimu, Kak. Walaupun kita menikah nanti, tetap tidak akan ada kebahagian Kak dalam pernikahan kita, karena hatiku bukan untukmu.”
Devan membuang wajahnya ke samping. “Aku tidak peduli, Mel. Selama kau ada di sampingku, itu sudah lebih dari cukup untukku, jadi tetaplah di sampingku.” Devan kemudian berdiri, “istrirahatlah di kamar sebelah. Aku akan mengantarkan makanan ke kamarmu nanti,” ucap Devan sambil berjalan menuju kamarnya.
“Tapi Kak....”
__ADS_1
Devan tidak menghiraukan Amel saat Amel memanggilnya dengan air mata yang berurai. Devan menutup pintu kamarnya dan seketika itu juga air mata Amel mengalir deras. Baru kali ini Devan bersikap seperti ini padanya. Selama ini Devan akan mengalah padanya, apapun yang Amel inginkan akan selalu di turuti oleh Devan. Dia tidak pernah mau memaksakan kehendaknya pada Amel.
Setelah beberapa menit, Amel memutuskan untuk ke kamar yang bersebelahan dengan kamar Devan. Dia merasa lelah dan tidak bisa berpikir lagi. Amel memilih merebahkan tubuhnya dan menangis di bawah selimut yang mentupi tubuhnya.
Setengah jam kemudian Devan masuk ke kamarnya dan meletakkan makanan di samping nakas. “Makanlah dulu, aku juga sudah menyiapkan obat untukmu,” ucap Devan sambil membuka selimut yang menutupi wajah Amel.
“Aku tidak lapar, Kak,” jawab Amel dengan suara pelan.
“Aku tidak akan mengijinkanmu untuk pulang ke rumah Raka lagi. Rendi pasti mencarimu ke sana. Kau juga tidak bisa mengurus dirimu, kau harus tinggal bersamaku mulai sekarang.”
Amel langsung menoleh pada Devan. “Kau tidak bisa menahanku di sini, Kak.”
“Kita akan menikah seminggu lagi. Aku sudah menelpon ibumu tadi. Dia sudah setuju. Aku juga sudah meminta orang untuk segera mengurus semua dokumen yang diperlukan untuk mendaftarkan pernikahan kita. Aku sudah meminta ijin juga pada ibumu agar kau bisa tinggal di sini sampai acara pernikahan kita. Kita akan menikah di kampung halamanmu. Aku juga sudah meminta orang untuk mempersiapkan pesta pernikahan yang meriah di sana. Kita akan melakukan resepsi kedua di Singapore di mana semua kerabatku berada.”
“Kak, kenapa kau jadi seperti ini? Kau berubah menjadi orang lain, bukan seperti kak Evans yang kukenal." Air mata Amel kembali keluar, padahal mata Amel sudah bengkak, hidungnya memerah karena terlalu banyak menangis, suaranya pun sedikit serak.
“Kau yang sudah membuatku seperti ini, Mel. Bukankah dulu aku sudah pernah bilang, kalau sampai dia menyakitmu lagi, aku akan merebut paksa kau dari tangannya. Aku sudah cukup sabar selama ini, Mel. Kesabaranku sudah habis sekarang,” ucap Devan dingin. Dia kemudian mengambil ponsel Amel yang berada di nakas. “Aku akan menahan ponselmu. Aku tidak mau kau bertemu dengan Rendi lagi karena saat ini kau sudah menjadi calon istriku.”
Amel langsung bangun dari tidurnya dan menahan Devan yang terlihat ingin meninggalkan kamarnya. “Kak.. jangan seperti ini, Kak. Tolong kembalikan ponselku. Kakak tidak bisa seenaknya padaku. Aku belum setuju menikah denganmu. Kau tidak bisa memaksaku seperti ini,” ucap Amel sambil menahan tangan Devan. Air mata sudah membanjiri pipinya yang sudah memerah.
Devan melemparkan ponselnya di kasur. “Kau bisa menghubungi ibumu menggunakan ponselku. Aku tidak menginjinkan kau menghubungi orang lain sekarang. Aku akan memberitahu Raka semuanya supaya dia tidak mencarimu. Kalau kau bisa meyakinkan ibumu untuk tidak menikah denganku, aku akan melepasmu, tetapi jika tidak, jangan harap kau bisa pergi dariku. Kau harus tetap menikah denganku.” Devan melepaskan tangan Amel dan berjalan keluar dari kamar.
Amel terduduk di lantai dan menagis sekencang-kencangnya. Perubahan sikap Devan membuat Amel terkejut. Dia tidak bisa membantah ucapan Devan sama sekali.
Dia menyesal telah menceritakan pada Devan mengenai kejadian tadi. Amel tahu kalau Devan melakukan ini melindunginya karena tidak ingin Rendi menyakiti dirinya.
Bersambung...
__ADS_1