Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Pembicaraan Rahasia


__ADS_3

"Dia tidak punya alasan tepat untuk menolaknya, jika kalian tidak kembali bersama lagi."


Raka meneliti wajah Rendi guna mencari kebohongan dalam sorot matanya. "Apa kau akan membiarkan adik untuk menikah dengan laki-laki brengsek itu?" Emosi Raka mulai terpancing saat membayangkan kalau Sofi akan menikah dengan orang lain, telebih lagi orang iti adalah Willy.


Rendi mengedikkan bahu. "Dia sudah pernah menemuiku dan meminta maaf atas perlakuannya pada Sofi waktu itu. Dia sudah mengakui kalau dia sempat hilang kendali karena Sofi tidak ingin kembali lagi padanya. Dia sudah berjanji tidak akan pernah melakukan hal itu lagi," ungkap Rendi dengan wajah tenang. Tidak ada emosi sama sekali dalam nada bicara dan sorot matanya.


Dua hari setelah Rendi pulang dari Bali, Willy menemui Rendi dan mengakui kesalahannya. Rendi bahkan sempat ingin menghajar Willy karena kesal karena Willy mengungkit hal itu lagi, tapi ketika Willy diam saja saat Rendi mencengram kerah lehernya, membuat Rendi mengurungkan niatnya.


Berkali-kali Willy meminta maaf pada Rendi. Dia bahkan siap menerima hukuman dari Rendi atas tindakan buruknya. Rendi akhirnya memaafkan Willy saat melihat Willy bersungguh-sungguh menyesali perbuatannya.


Sebenarnya, Rendi mengenal Willy dengan baik. Willy adalah laki-laki yang bertanggung jawab, tidak pernah mempermainkan wanita, sikapnya juga sopan, bahkan dia sangat menjaga Sofi ketika mereka masih menjalin hubungan. Selama menjalin hubungan, mereka hanya sebatas bergandengan tangan dan mencium kening, tidak pernah lebih dari itu.


Sebab itulah, Rendi sedikit terkejut ketika mendengar cerita dari Raka bahwa Willy hampir saja merusak adiknya. Selama ini, dia tahu kalau Willy adalah laki-laki baik dan tidak pernah melakukan hal buruk terhadap Sofi selama mereka menjalin hubungan. Bahkan Willy yang selalu membantu Rendi untuk mengaja Sofi ketika mereka tinggal di Jerman.


Cemburu buta dan rasa dihianati membuat Willy berpikir untuk menjadikan Sofi miliknya secara paksa. Sofi yang tidak percaya bahwa Willy dijebak, memilih untuk berpisah serta membatalkan perjodohan mereka sehingga membuat Willy hilang akal.


Sofi adalah wanita yang sangat dia cintai dan selalu dia jaga baik-baik, tapi justru kini tidak ingin kembali lagi padanya dan memilih untuk berpisah. Tentu saja hal itu membuat Willy emosi sekaligus kecewa hingga dia melakukan hal di luar batas.


"Aku akan memberikan kesempatan padanya untuk membuktikan kesungguhannya pada Sofi kalau kau sudah memutuskan untuk melepaskan adikku," sambung Rendi lagi.


Tangan Raka mengepal. "Apa kau percaya begitu saja dengan perkataan bajingan itu? Bagaimana kalau dia menipu kalian?" Raka masih saja diliputi kemarahan setiap mendengar nama Willy.


Rendi menyunggingkan senyumnya. "Tentu saja. Aku mengenalnya dengan baik, bahkan lebih baik dari pada aku mengenalmu. Kenapa aku lebih percaya padamu dari pada Willy? Padahal aku tidak mengenalmu dengan baik." Rendi sengaja menggantungkan ucapannya.


"Aku percaya padamu karena kau terbukti menjaga Amel dengan baik selama aku tidak ada. Hal tersulit adalah tetap menjaga wanita yang kita cintai meskipun tahu kalau dia mencintai pria lain. Kau tidak pernah mengambil keuntungan dari Amel saat aku berpisah dengannya. Itulah yang menjadi pertimbanganku lebih memilihmu dari pada Willy, tapi karena kau memilih mundur, maka aku akan memberikan kesempatan padanya."


"Aku tidak setuju kalau dia kembali pada bajingan itu.


Rendi tersenyum penuh arti. "Kalau begitu silahkan kau hentikan perjodohan mereka kalau kau bisa," ucap Rendi dengan santai.


"Meskipun kau bisa menghentikannya, masih ada Mike yang dengan senang hati menerima adikku," terang Rendi dengan wajah santai.


Mendengar laki-laki penyebab putusnya hubungan mereka, membuat Raka seketika meradang. "Adikkmu sangat populer dikalangan pria. Dia bahkan sangat dekat dengan teman prianya. Itulah salah satu alasanku tidak bisa kembali lagi pada adikmu," ucap Raka terus terang.


"Aku rasa kau juga tidak suka kalau Amel dekat dengan pria lain ketika dia sudah menjadi kekasihmu, bukan?"


"Tentu saja, aku bahkan sangat kesal padamu saat melihat kedekatan kalian berdua dulu, tapi aku tidak sepertimu. Aku tidak mau kehilangannya hanya karena sikapku posesifku."


"Adikmu dan Amel berbeda Ren. Sofi sulit diatur. Semakin aku melarangnya, semakin dia menentang laranganku. Tidak seperti Amel, dia dengan mudah mengikuti perkataanmu.


"Sikap keras kepalanya, menurun darimu," tambah Raka lagi.


"Tentu saja. Dia adalah adikku."


Raka menatap malas pada Rendi. "Itu bukanlah hal yang bisa dibanggakan, Ren," cibir Raka.


"Jika kau ingin bersamanya, sudah menjadi tugasmu untuk merubah wataknya," ucap Rendi acuh.

__ADS_1


"Jadi, sekarang kau melemparkan tugasmu untuk mendidik adikmu?"


"Bukan mendidik, tapi merubah sikap keras kepalanya," ralat Rendi.


Raka menyunggingkan senyumnya. "Itu terdengar sama di telingaku."


Rendi terkekeh. "Aku rasa kau bisa merubahnya. Buatlah adikku bertekuk lutut padamu sehingga dia mau menuruti perkataanmu," ucap Raka enteng


"Kau saja tidak bisa merubahnya, bagaimana bisa orang luar sepertiku bisa melakukannya. Dia tidak akan mendengarkanku," ucap Raka pasrah. "Bahkan saat aku menyuruhnya untuk sekedar menjauhi Mike, dia tidak mau mendengarkanku. Dia justru dengan lantang menolak untuk menjauhi Mike."


Pembicaraan mereka terhenti ketika mendengar suara beberapa langkah kaki mendekat. "Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Amel saat melihat wajah mereka berdua terlihat serius. Mereka berdua langsung menoleh dan melihat Amel dan Sofi sedang berjalan menghampiri mereka berdua.


Rendi tersenyum pada Amel. "Hanya obrolan ringan sesama pria sayang," jawab Rendi lembut seraya menepuk sofa kosong di sebelahnya.


Amel kemudian duduk di samping Rendi, sementara Sofi duduk di samping Raka.


Amel terlihat memicingkan matanya. "Apa kakak memarahi bang Raka?"


Rendi berdecih. "Tentu saja tidak sayang. Suamimu ini adalah pria yang baik. Tidak mungkin aku memarahi iparku sendiri tanpa alasan yang jelas," ucap Rendi seraya memegang pinggang Amel dengan tangan kirinya dan memainkan rambut Amel.


Sofi menatap kesal pada kakaknya. "Kak, berhenti mempertonton kemesraanmu pada kami. Di sini kau tidak hanya sendiri," protes Sofi


Rendi terlihat acuh. "Ini apartemenku dan Amel adalah istriku. Lalu salahku di mana? Kalau kau tidak suka, lebih baik kau tidur."


Sofi menaikkan bibir atasnya sebelah seraya menatap sebal pada kakaknya. "Kak Amel, aku harap kau sabar menghadapi kakakku."


Rendi menatap malas pada adiknya. "Kalian selalu saja bertengkar jika bertemu," ucap Amel seraya tersenyum.


"Aku juga sebenarnya malas tinggal bersamamu Kak, hanya saja aku malas tidak mau tinggal sendirian."


"Maka dari itu, cepatlah mencari pasangan," saran Rendi dengan wajah acuh. "Apa pria di sebelahmu tidak mau kembali padamu karena kau menyebalkan? Atau karena kau kurang cantik?"


Sofi langsung menatap tajam kakaknya. "Kak Ameeeel...? Tolong bawa kakak ke kamar sebelum aku emosi," rengek Sofi. Dia tampak pasrah tidak bisa membalas kata-kata kakaknya, sementara Raka terlihat hanya diam saja.


Amel terkekeh melihat wajah adik iparnya. "Kak, jangan menggoda Sofi terus menerus. Kasihan dia," ucap Amel seraya menepuk paha suaminya.


"Raka, menginaplah di sini. Ada yang ingin aku bicarakan padamu nanti."


Sofi menyipitkan mata ke arah kakaknya lalu merentangkan tangan kanannya di depan tubuh Raka. "Apa yang ingin kakak lakukan pada Raka?" Sofi terlihat waspada pada kakaknya. Hubungan tidak baik antara kakaknya dan Raka membuatnya merasa cemas.


"Bukan urusanmu." Rendi terlihat malas meladeni adikya.


Sofi kemudian beralih menatap pada Raka. "Apa kau akan menginap di sini?"


"Iyaaa. Masih ada yang ingin aku bicarakan juga dengan kakakmu," jawab Raka.


Amel dan Sofi menatap curiga pada Raka dan Rendi. "Sebenarnya apa yang kalian sembuyikan dari kami?" Amel menatap Rendi dan Raka bergantian.

__ADS_1


"Tidak ada sayang. Aku hanya ingin mengobrol mengenai bisnis. Perusahaanku ada kerjasama dengan perusahaan milik Raka." Rendi berusaha menjelaskan pada istrinya agar dia tidak salah paham.


Perusahan Rendi dan Raka memang ada kerjasama, tetapi sebenarnya selain urusan pekerjaan, ada hal pribadi yang ingin mereka bicarakan.


"Benarkah?" Amel menatap curiga pada Rendi. Dia merasa kalau Rendi pasti akan memarahi Raka karena sudah membuat adiknya sakit.


Rendi lalu mencubit pipi istrinya dengan gemas. "Iyaa sayang, untuk apa aku berbohong padamu. Kalau kau tidak percaya silahkan tanyakan saja pada Raka."


Sofi memegang lengan Raka. "Benarkah yang dikatakan kakakku?" Sebelum Amel sempat bertanya pada Raka, Sofi sudah menyela terlebih dahulu.


"Iyaaa benar," jawab Raka singkat.


"Bang, kalau kau menginap di sini, jangan lupa kabari mama agar dia tidak khawatir." Tamara memang sering berpesan pada anaknya untuk memberitahukan padanya kalau dia tidak pulang ke rumah.


Raka mengangguk. "Aku akan mengabari mama nanti."


Rendi lalu menatap Raka. "Lebih baik kita bicara di ruang kerjaku."


"Baiklah."


Rendi lalu menatap Amel. "Sayang, aku bicara dengan Raka dulu. Kau bicaralah dengan Sofi atau kalau kau lelah, kau bisa menungguku di kamar."


Amel mengangguk. "Jaga kakak iparmu dengan baik, selagi kakak bicara dengan Raka," ucap Rendi seraya menatap adiknya.


"Apa kakak tidak salah bicara? Bukankah seharusnya kak Amel yang menjagaku?" Sofi tampak bertambah kesal setelah mendengar pesan konyol kakaknya.


"Lebih baik kakak cepat pergi," sela Amel.


"Iyaa sayang. Aku tidak akan lama."


Rendi dan Raka lalu berjalan menuju ruang kerja Rendi. Amel dan Sofi terlihat menatap penasaran pada Raka dan Rendi.


"Kak, apakah tidak masalah membiarkan mereka berdua saja di dalam ruang kerja?" tanya Sofi dengan wajah cemas.


Amel menoleh pada Sofi. "Tentu saja tidak apa-apa," jawab Amel dengan wajah tenang, walaupun dia merasa sedikit khawatir, dia tidak mau menunjukkan pada Sofi.


Sofi masih terus memandangi arah kepergian kakaknya dan Raka. Melihat wajah cemas Sofi, sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul di pikiran Amel. "Sofi, kau itu mengkhawatirkan Raka atau kakakmu?"


"Tentu saja Raka," jawab Sofi tanpa menoleh pada Amel. Menyadari dia kecepolosan, Sofi langsung menoleh pada Amel. "Itu karena sudah ada kak Amel yang mengkhawatrikan kakakku, jadi biar adil, aku akan memihak pada Raka," jelas Sofi.


Amel tersenyum tipis. "Dua-duanya penting bagi kak Amel. Kak Amel tentu saja mengkhawatirkan keduanya."


"Tidak apa-apa. Itu hak kak Amel. Selama ini aku selalu mengkhawatirkan kak Rendi karena sakitnya itu, jadi aku sudah bosan. Sekarang sudah waktunya aku mengkhawatirkan belahan jiwaku," ucap Sofi acuh.


Amel mengulum senyumnya. "Sepertinya adikku ini sangat menyukai bang Raka," goda Amel seraya merapikan rambut Sofi.


Sofi terlihat malu-malu. Sofi lalu menoleh pada Amel. "Kak, ceritakan padaku mengenai Raka yang tidak aku tahu. Beritahu aku juga cara untuk meluluhkan hatinya," pinta Sofi dengan wajah penuh harap. "Aku akan membuatnya tidak bisa berpaling dariku."

__ADS_1


Amel terkekeh mendengar ucapan Sofi. "Baiklah."


Bersambung..


__ADS_2