
Rendi tampak hanya diam ketika Amel dan Devan memasuki ruangan tamu. Rendi hanya melirik sekilas pada Devan dan Amel tanpa berniat bertanya.
Melihat Rendi yang hanya duduk sendirian di ruang tamu, Amel langsung menghampirinya. “Kak, Kenan mana?” Rendi tampak hanya diam justru terkesan acuh pada Amel.
“Dia sedang bicara dengan Ellen di balkon.” Amel langsung mengedarkan pandangannya ke balkon yang berada di dekat ruangan keluarga.
“Kak, bolehkah aku mengantar kak Evans ke bandara?” Amel lansung meminta ijin pada Rendi.
Devan melirik sekilas pada Rendi. “Hhhmm,” gumam Rendi. “Aku akan ikut denganmu.”
Amel langsung tersenyum senang. “Terima Kasih kak.”
Rendi kembali diam. Amel merasa aneh dengan sikap Rendi yang seketika berubah lebih diam dari biasanya. Dia berusaha menerka apa yang membuat suaminya berubah seketika.
“Bagaimana kalau kita makan bersama sebelum aku berangkat?” tawar Devan sambil menatap Amel.
“Boleh,” jawab Amel cepat dengan senyum lebarnya. “Kita akan makan di mana kak?”
“Terserah padamu. Kau ingin makan di mana?” Devan tersenyum pada Amel sambil melirik sekilas pada Rendi yang sedang menampilkan wajah datarnya.
“Sepertinya dia masih cemburu padaku. Padahal jelas-jelas Amel sangat mencintainya, kenapa dia bersikap seperti anak remaja? Apa dia begitu takut kalau aku merebut Amel darinya?” gumam Devan
“Aku ingin makan di restoran Jepang langgananku kak,” ucap Amel dengan wajah gembira.
Setiap berbicara dengan Devan, dia selalu saja tersenyum lebar. Sepertinya dia begitu bahagia jika sedang bersama Devan. Apa jangan-jangan dia itu sebenarnya mencintai Devan selama ini? batin Rendi.
“Baiklah. Aku akan mempersiapkan barang-barangku dulu.”
“Iyaa kak.” Setelah kepergian Devan, Amel langsung menoleh pada suaminya yang sedari tadi tampak masih diam.
Kak Rendi kenapa dari tadi diam saja? Dia terlihat mengerikan jika diam seperti itu. Wajah dinginnnya itu membuatku takut untuk mengajaknya bicara, batin Amel.
“Kak?” Amel berusaha untuk memberanikan diri untuk mengajak Rendi bicara.
“Hmmmm,” gumam Rendi sambil menatap ke layar ponselnya tanpa menoleh pada Amel sedikitpun.
“Kaaak,” Amel memanggil Rendi lagi.
“Hhhmmm,” Rendi hanya bergumam saja.
“Kakaaaakk,” pekik Amel ketia merasa diacuhkan.
“Apa?” Rendi menoleh sejenak pada Amel.
Amel melingkarkan tangannya pada lengan Rendi, lalu menyandarkan kepalanya di pundak sambil menatap ke arah wajah suaminya.
“Kenapa kakak mengacuhkan aku?”
__ADS_1
Rendi meletakkan ponselnya di meja. “Aku tidak mengacuhkanmu.” Rendi mengelus kepala Amel yang masih berada di pundaknya.
“Tapi kakak dari tadi hanya diam saja. Apa aku membuat kesalahan?”
“Aku hanya lelah Mel.”
“Heeyyy, apa yang sedang kalian lakukan? Bermesaraan di tempat orang lain. Membuat orang iri saja,” teriak Kenan yang baru saja masuk ke ruang tamu bersama dengan Frsika.
Amel langsung melepaskan tangannya dari lengan Rendi, lalu membenarkan posisi duduknya. “Dia adalah istriku. Aku bebas bermesraan dengannya. Kenapa kau selalu menggangguku? Apa kau tidak punya kerjaan lain?” Rendi menatap kesal pada Kenan.
Friska tampak menatap Amel sejenak lalu berlalih pada Rendi. “Devan ke mana?”
Pertanyaan tersebut sebenarnya diarahkan kepada Amel. Hanya saja dia masih merasa canggung untuk berbicara dengan Amel mengingat bagaimana perlakuannya selama ini pada Amel.
“Dia sedang mempersiapkan barang-barangnya. Kau bersiaplah juga. Kami akan mengantar kalian ke bandara, sebelum itu kita akan mempir ke restoran untuk makan bersama.”
Mata Friska langsung berbinar. “Benarkah kau akan ikut mengantar kami ke bandara?” Melihat wajah senang Friska, Amel tampak merasa tidak nyaman di hatinya.
Rendi mengangguk. “Yaa..Bersiaplah.”
“Baiklah.. Kalian tunggu di sini dulu.” Friska langsung berjalan menuju kamarnya.
Setelah menunggu beberapa saat, Devan dan Friska keluar dari kamar mereka masing-masing.
Rendi berdiri sambil meraih kunci mobilnya. “Ellen, kau ikut mobil Kenan bersama Devan.”
Sorot mata Friska memancarkan kekecawaan ketika mendengar ucapan Rendi. “Tidak bisakah aku ikut mobilmu?” Amel tampak hanya diam, sementara Kenan dan Devan hanya melirik pada Amel.
“Baiklah.”
****
“Kau mau makanan apa sayang?” Rendi menoleh pada Amel ketika mereka sudah duduk di dalam restoran Jepang yang tidak jauh dari apartemen Devan.
“Ramen,” jawab Amel singkat.
“Kenapa hanya Amel yang kau tanya? Apa kami ini kau anggap patung?” tanya Kenan dengan wajah kesal.
Rendi menatap malas pada Kenan. “Apa kau tidak punya mulut? Kau bisa langsung memesan sendiri.” Rendi kembali fokus pada buku menu yang ada di tangannya.
“Ellen, kau mau pesen apa?” Kenan akhirnya menoleh pada Friska yang sedang duduk di sampingnya.
“Gyudon.” Friska terus mengawasi interaksi antara Amel dan Rendi.
“Kak Devan kau mau pesan apa?” Kali ini Amel yang bertanya pada Devan ketika melihat Devan tampak sibuk dengan ponselnya.
Rendi melirik Devan sejenak dengan wajah datarnya. Dia merasa kesal pada Amel karena dia tampak lebih perhatian pada Devan dibandingkan dengannya. Amel bahkan tidak bertanya padanya makanan yang ingin dia makan.
__ADS_1
“Samakan saja denganmu.” Devan menatap Amel dengan senyum tipisnya.
Rendi langsung memanggil pelayan untuk memesan makanan untuk mereka semua. Tidak butuh waktu lama, makanan langsung tersaji di atas meja mereka. Mereka langsung makan tanpa mengeluarkan suara.
“Ellen, kapan kau akan kembali ke Jerman?” Rendi bertanya pada Friska, ketika mereka sudah selesai makan.
“Aku tidak tahu, kenapa?”
“Dua minggu lagi aku akan terbang ke Jerman untuk melakukan resepsi kedua di sana. Kalau kau ingin pulang, kau bisa ikut bersama kami,” tawar Rendi
Friska tampak terdiam. Dia seperti sedang memilkirkan sesuatu. “Akan aku pikirkan. Aku akan mengabarimu jika aku ingin pulang.”
“Lebih baik kau kabari aku saja. Aku juga akan ke sana,” ucap Kenan sambil menoleh pada Friska.
“Baiklah.”
“Lebih baik kita pergi sekarang, agar tidak terlambat sampai di bandara,” usul Kenan ketika dia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Setelah selesai melakukan pembayaran, mereka semua melanjutkan perjalanan menuju bandara.
Butuh waktu 45 menit untuk sampai di bandara. Saat ini mereka sedang berdiri di depan pintu keberangkatan untuk tujuan luar negri.
“Ellen, aku harap kau bisa memulai hidupmu yang baru dengan baik. Jangan terlalu lama bersedih.” Rendi memegang bahu Friska sambil tersenyum tipis.
“Yaa,” ucap Friska sambil menunduk. Mata mulai berkaca-kaca. Dia berusaha keras untuk menahan air matanya. “Masuklah.”
“HHmmm.”
“Ellen, Jika aku memiliki waktu, aku akan mengunjungimu ke Singapura,” ucap Kenan ketika Friska sudah berdiri di depannya.
“Iyaa, kabari aku kalau kau mau ke sana.”
“Oke.”
“Aku pergi dulu,” pamit Friska pada Kenan dan Rendi.
“Yaa, hati-hati," ucap Rendi dan Kenan bersamaan. Setelah itu Friska langsung berjalan menuju pintu pemeriksaan.
Sementara Devan sedang berbicara dengan Amel tidak jauh dari Rendi. “Kak, hati-hati di jalan. Tolong kabari aku jika kalian sudah sampai di sana. Sampaikan salamku juga pada kak Nora dan papamu.”
Devan mengangguk. “Baiklah. Jaga dirimu baik-baik.” Devan tampak masih berat untuk meninggalkan Amel.
“Iyaa, kakak tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku akan hidup bahagia kak. Aku harap kakak bisa hidup dengan bahagia”
Devan memeluk Amel. “Baiklah, aku pergi dulu.” Mata Rendi tampak menatap tajam pada Devan, sementara Kenan menahan senyum melihat kecemburuan Rendi.
"Aku pamit."
__ADS_1
Devan mengelus kepala Amel setelah itu menyusul Friska. Setelah Devan dan Friska sudah tidak terlihat lagi, Rendi, Kenan dan Amel memutuskan untuk langsung pulang.
Bersambung...