
Kenan terdiam sejenak, dia meneliti ekpresi wajah Amel sejenak lalu berkata, “Karena dia Amnesia.”
Mata Amel terbelalak. “Ap-apa..??” ulang Amel dengan wajah terkejut.
“Dia sempat mengalami kritis setelah operasinya selesai. Ketika dia sudah melewati masa kritis, dia seperti orang linglung, dia langsung mencarimu. Saat itu karena dia masih belum pulih. Aku dan keluarganya sepakat merahasiakan dulu tentangmu. Setiap hari dia selalu menanyakanmu. Ketika dia sudah dipindahkan ke ruang perawatan dan sudah mulai stabil. Akhirnya keluarganya meminta aku dan Jhon untuk memberitahunya tentangmu karena dia terus menanyakanmu. Ketika dia mengetahuinya, dia mengamuk dan histeris. Dia tidak bisa menerima kenyataan yang sebenarnya hingga akhirnya dia jatuh pingsan. Saat itu dia mengalami pendarahan lagi di otaknya.” Kenan memberi jeda sejenak.
“Lalu dokter memutuskan untuk melakukan operasi lagi setelah keadaanya memungkinkan. Setelah menjalani operasi kedua, Rendi mengalami koma. Tubuhnya menolak untuk bangun. Dia koma selama 2 bulan. Setelah sadar dari koma, dia tidak lagi menanyakanmu. Dia bahkan tidak mengingat kejadian setelah dia pindah ke indonesia. Yang dia ingat hanyalah kejadian sebelum dia ke indonesia. Itu sebabnya saat pertama kali dia bertemu denganmu, dia tidak mengenalimu.”
Tubuh Amel langsung lemas setelah mendengar penjelasan Kenan, wajahnya memucat. Tidak ada lagi suara yang keluar dari mulutnya kecuali air mata yang sudah mengalir deras. Dia nampak kesulitan untuk mencerna kata-kata Kenan lagi.
“Bagaimana bisa selama ini kau tidak memberitahuku tentang keadaan Rendi. Aku bahkan beberapa kali menyalahkannya,” ucap Amel dengan suara bergetar.
“Keluarganya melarangku memberitahumu. Aku berpikir kalau itu untuk kebaikan kalian berdua juga. Alasan kemarin aku menitupinya saat kau bertanya padaku adalah karena dia sudah bertunangan dengan Friska. Aku tidak ingin menyakiti hatimu saat kau tahu kenyataannya. Aku pikir kalian tidak akan pernah bertemu sehingga menyembunyikan kebenarannya.”
Tubuh Amel bergetar hebat. “Friska? Tetapi kenapa Rendi bilang kalau dia itu Friskila? Dia juga mengatakan Friska sudah lama meninggal,” tanya Amel dengan heran.
Kenan menghela napas sebentar. Kenan akhirnya menceritakan semua tentang masalalu Rendi, tentang Friska dan Friskila, bagaimana hubungan mereka bertiga, tentang kecelakaan yang yang merenggut nyawa Friskila, trauma yang dialami Rendi sampai dia depresi dan akhirnya Rendi pindah ke indonesia. Tidak ada lagi yang di tutupi oleh Kenan. Dia sudah tidak bisa lagi menunggu sampai Rendi yang menjelaskan.
“Itu adalah ingatan palsu, bentuk ingatan karangannya. Rasa sakit yang kau berikan pada Rendi begitu besar saat itu sehingga menimbulkan trauma mendalam padanya dan membuat Rendi melupakan semua tentangmu dan memicu ingatan menyakitkan lainnya saat Rendi mengalami kecelakaan dengan Friskila. Rendi yang dulu tidak bisa menerima kenyataan kalau Friskila yang meninggal, menempatkan ingatan yang salah padanya. Saat dia sadar dari koma setelah operasi keduanya, yang dia ingat adalah Friska yang bersamanya saat mengalami kecalakaan itu, bukan Friskila. Dia mengingat ingatan lama dan melupakan ingatan barunya terlebih lagi ingatan tentangmu,” jelas Kenan dengan wajah serius.
__ADS_1
Amel mulai tidak bisa berpikir jernih lagi setelah mendengar semua ucapan Kenan. “Ja-jadi... maksudmu, penyebab Rendi begitu adalah karena aku? Akulah yang menyebabkan dia seperti itu? Dan kenapa selama ini dia tidak pernah mencariku karena dia mengalami Amnesia?” tanya Amel dengan wajah penuh rasa bersalah.
“Ya,” jawab Kenan singkat.
“Selama ini aku sudah salah paham dengannya? Sebenarnya Rendi tidak pernah menghianatiku sama sekali? Dia tidak memiliki perasaan apa-apa dengan Friska dan pertunangan Rendi batal karena Friskila sudah meninggal?” lanjut Amel lagi dengan suara bergetar dan wajah pucat diiringi suara isak tangis.
Kenan mengangguk pelan. “Ya, tetapi karena ingatan yang salah membuatnya menganggap kalau Friska adalah Friskila. Dia berpikir kalau Friskila masih hidup. Tentu saja ini dipergunakan dengan baik oleh Friska karena memang dari dulu dialah yang ingin bertunanganan dengan Rendi,” jelas Kenan, “kalian tidak akan bisa bersama. Lebih baik kau lepaskan dia, Mel,” lanjut Kenan lagi.
Amel berdiri dengan air mata yang masih mengalir di pipinya, matanya sudah sembab akibat terus menangis. “Aku tidak bisa melepaskan dia setelah apa yang sudah dia korbankan untuk aku selama ini. Aku akan membuatnya mengingat aku lagi,” ucap Amel dengan gusar, wajahnya menjadi putih pucat. Seperti orang linglung, dia berjalan meninggalkan Kenan.
Kenan menyusul langkah Amel dan meraih tangannya. “Mel tunggu. Kau harus melupakannya Mel. Dia tidak mengingatmu lagi. Dia sudah melupakanmu. Mungkin saja ingatakannya tidak akan pernah kembali. Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri kalau terus bertahan,” ucap Kenan dengan nada tinggi saat Amel terus saja memberontak dan tidak ingin mendengarkan kata-katanya.
Amel menoleh pada Kenan. “Aku tidak mau. Apa kau mau membuat aku hidup dengan penyesalan seumur hidupku haaah? Kau pikir aku bisa hidup bahagia tanpanya?” Amel yang sudah mulai tersulut emosi, terlihat memejamkan mata setelah berteriak. Tubuhnya terlihat mulai tidak seimbang.
Kenan menangkap tubuh Amel saat dia tiba-tiba jatuh pingsan. Kenan menganggkat tubuh Amel dan membaringkan ke sofa panjang saat melihat Amel tidak meresponnya ucapannya.
“Apa yang terjadi padanya??” tanya Rendi dengan suara tinggi saat baru saja masuk ke ruangan Kenan dan melihat Amel tidak sadarkan diri dan terbaring di sofa.
Kenan menoleh dan terkejut saat Rendi tiba-tiba sudah berlari ke arahnya. Kenan sedang mencoba menepuk-nepuk wajah Amel sebelum Rendi datang.
__ADS_1
“Menyingkir darinya!”
Rendi menarik Kenan menjauh dari tubuh Amel. Kenan tidak menyangka kalau Rendi akan datang lebih awal, sementara waktu masih menujukkan pukul 8 pagi.
Melihat Amel tidak sadarkan diri, dengan panik Rendi mencoba untuk menyadarkan Amel. “Bangun, heey... bangun, kenapa kamu tidak bangun juga? Bangun cepat, Amelia... Aku bilang bangun!” teriak Rendi tanpa sadar menyebut nama Amel.
Rendi terus berusaha membangunkan Amel, tetapi tidak ada gerakan apapun darinya. Melihat Amel yang tidak juga bangun setelah dia mencoba menepuk wajahnya dan mengguncang tubuh Amel, Rendi akhirnya berjalan menghampiri Kenan yang berada tidak jauh darinya.
“Apa yang sudah kamu lakukan padanya?” Rendi mencengkram kerah baju Kenan dengan wajah menggelap.
“Aku tidak melakukan apa, Ren. Dia tiba-tiba saja pingsan saat aku sedang berbicara dengannya.” Kenan berusaha untuk menengkan Rendi terlihat sangat marah.
Rendi menatap tajam pada Kenan lalu berkata, “Kalau sampai terjadi sesuatu dengannya, aku akan membu-nuhmu Kenan,” ancam Rendi dengan marah.
Rendi melepaskan cengkaramannya dari Kenan kemudian berjalan ke arah Amel dan mengangkat tubuhnya, membawanya keluar dari ruangan Kenan dengan cepat.
Kenan nampak masih terkejut dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Rendi saat melihat Amel pingsan. Kenan melonggarkan dasinya lalu berjalan menyusul Rendi saat menyadari kalau Rendi sudah membawa Amel keluar dari ruangannya.
Rendi menggedong tubuh Amel berjalan menuju parkiran, terlihat beberapa orang tampak memperhatikannya. Rendi meletakkan tubuh Amel di tempat duduk belakang kemudian melajukan mobilnya dengan cepat, setelah dia duduk di kursi kemudi. Saat ini yang ada dipikirannya adalah segera sampai di rumah sakit.
__ADS_1
Kenan membuntuti mobil Rendi dari belakang. Dia sudah meminta Fadil untuk membatalkan rapatnya. Dia juga sudah memberitahu Bela, kalau Amel pingsan, ketika dia keluar dari ruangannya untuk menyusul Rendi.
Bersambung...