Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Minta Maaf


__ADS_3

Sofi hanya diam tanpa berkata apa-apa, dia tidak bisa ikut campur saat melihat ketegangan di antara kakak dan mamanya.


“Rendi lelah Ma, Rendi mau istrirahat!” Rendi mengalihkan pandangannya ke samping. Dia menghindari tatapan marah mamanya.


“Baiklah. Mama akan keluar dulu! Mama akan minta Jhon untuk memindahkanmu ke ruang perawatan, setelah memastikan keadaan kamu sudah stabil. Mama pergi dulu!” ucap Lilian membalikkan badan dan pergi bersama Sofi.


Rendi menoleh ke arah pintu, saat mendengar suara pintu tertutup. Dia menghela napas berat. Tidak lama kemudian pintu terbuka lagi.


“Mel..!” ucap Rendi dengan wajah sendu. Rendi merasa bersalah saat melihat wajah Amel yang terlihat sedih. Matanya sudah sembab, wajah dan hidungnya memerah karena terlalu bnyak menangis.


Dengan langkah pelan, Amel mendekati Rendi tanpa mengucapkan apa-apa. “Kenapa baru datang sekarang? Aku sudah menunggumu dari tadi,” ujar Rendi saat Amel sudah berdiri di samping tempat tidurnya.


Amel hanya diam memandang Rendi. Matanya mulai berkaca-kaca saat Rendi meraih tangannya. “Apa kamu marah denganku?” tanya Rendi denga sorot mata sendu, saat melihat Amel hanya diam saja, tidak merespon semua perkataannya.


Rendi menarik Amel dalam pelukannya, saat melihat Amel mulai terisak. “Maafkan aku! jangan menangis.. Aku salah! tolong maafkan aku, heemm..? Aku tidak akan membuatmu khawatir. Jangan menangis lagi! Maafkan aku!” ujar Rendi mempererat pelukannya sambil mengusap kepala Amel. Terdengar suara tangis Amel semakin keras saat Rendi memeluknya. Rendi tidak berbicara lagi, dia berusaha menenangkan Amel.


Setelah tidak mendengar suara tangis Amel, Rendi berkata lagi, “Aku janji kejadian ini tidak akan terulang lagi. Aku mohon maafkan aku! aku tidak bisa meilhatmu menangis, kau boleh marah padaku Mel, tapi jangan mendiamkan aku! Aku tahu kamu pasti kaget saat melihatku pingsan 2 kali,” sambung Rendi lagi saat melihat Amel tetap saja diam.


“Apa kamu tidak mau memaafkan aku! kenapa diam saja? Aku tau, aku salah Mel, tapi jangan mendiamkan aku seperti ini!” ucap Rendi putus asa, ada nada ketakutan di dalam perkataannya.


“Aku kira kakak tidak akan bangun lagi. Aku sangat ketakutan tadi!” ucap Amel berusaha menahan tangis yang akan keluar lagi.


“Aku minta maaf, karena sudah membuatmu khawatir. Aku hanya tidak ingin kau merasa terbebani karena aku!”


Amel melepaskan pelukan Rendi. “Kalau kakak melakukan hal yang berbahaya seperti tadi, aku tidak akan pernah memaafkan kakak lagi! aku tidak akan pernah mau bertemu dengan kakak lagi!” ucap Amel dengan suara parau.


Rendi memegang tangan Amel. “Iya aku janji! Maafkan aku! tapi kau harus janji, tidak akan pernah meninggalkan aku!” ujar Rendi memandang lekat mata Amel.


Amel mengalihkan pandangan matanya. Dia tidak berani menatap mata Rendi. “Asalkan kakak tidak melakukan hal bodoh yang bisa mengancam nyawa kakak”

__ADS_1


Rendi lansung mengangguk cepat. “Iyaa, aku janji Mel. Aku memang salah, jangan marah lagi!”ujar Rendi sambil memegang wajah Amel dan mengarahkan kepadanya. “Apa kau sudah makan?”


Amel menggeleng. “Apa yang kakak rasakan sekarang? Apa ada yang sakit?” ucap Amel menatap iris hitam Rendi, yang saat ini sedang menatap lekat mata Amel.


“Kenapa belum makan? Ini sudah malam! Aku akan meminta Sofi untuk membelikanmu makanan!” ujar Rendi tanpa memperdulikan pertanyaan Amel.


“Aku akan makan jika kakak juga makan!”


“Baiklah, kita makan bersama!”


“Kakak tunggu sebentar! Aku akan menghubungi Sofi dulu!” ujar Amel membuka tasnya untuk mencari ponselnya. “Ini ponsel kakak!” ujar Amel saat melihat ada ponsel Rendi di tasnya.


“Kamu pegang saja dulu! Jika ada telpon kamu angkat saja! atau diamkan juga boleh, terserah kamu!” ucap Rendi saat Amel sudah menyodorkan ponselnya.


Amel mengangguk dan memasukkan kembali ponsel Rendi ke dalam tasnya. Amel menghubungi Sofi lewat pesan singkat, dia meminta untuk membelikan makan untuk kakaknya.


“Iyaa Ma..!”


Tidak lama kemudian dokter Jhon datang bersama 3 orang perawat. Mereka datang untuk memindahkan Rendi ke ruang perawatan, yang berada di lantai paling atas gedung rumah sakit itu. Setelah proses pemindahan selesai mereka makan malam bersama. Sofi dan mamanya makan di sofa. Sementara Amel makan di dekat Rendi. Dia ingin memastikan kalau Rendi menghabiskan makanannya.


“Ini sudah malam, lebih baik kamu pulang Mel, pak Iyan akan mengantarkan kamu!” ujar Rendi saat dia sudah selesai makan.


“Iyaa Mel, besok pagi kamu harus sekolah!” timpal Lilian saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


Amel menoleh ke Llilian. “Apa boleh Amel menginap di sini tante? Amel ingin menjaga kak Rendi.”


“Tapi kamu besokkan harus sekolah Mel! Mama takut kamu akan lelah nanti jika menginap di sini!” ujar Lilian lembut.


“Tidak tante, Amel akan pulang besok pagi-pagi sekali!”

__ADS_1


“Baiklah kalau begitu! Mama akan meminta bi Minah untuk menyiapkan baju ganti untuk kita, dan meminta pak Iyan untuk membawakan ke sini! Mama dan Sofi juga akan menginap di sini!”


“Terima kasih tante,” ucap Amel tersenyum tipis.


“Kalau begitu, kau bisa tidur denganku di sini! Mama dan Sofi tidur di tempat tidur itu?” goda Rendi sambil menunjuk pada ranjang di sebelah tempat tidurnya.


“Kamu jangan macam-macam Ren!” ucap Lilian dengan tatapan tajam saat mendengar perkataan anaknya.


“Rendi hanya bercanda Ma!” ucap Rendi dengan senyuman tipis.


“Lebih baik kamu mandi Mel, pak Iyan sebentar lagi sampai, dia sudah membawa pakaian ganti. Setelah itu, baru Sofi yang akan mandi!” seru Lilian saat melihat guratan lelah di wajah kecil Amel.


“Iya tante,” jawab Amel singkat, lalu menatap enggan pada Rendi.


Rendi memiringkan wajahnya sedikit, lalu mendekatkan wajahnya ke Amel, menatap bola mata Amel dari dekat. “Kenapa kau menatapku begitu? Apa kau ingin aku temani ke dalam?” goda Rendi yang melihat Amel yang belum juga beranjak dari duduknya.


“Rendi, berhenti menggodanya!” ucap Lilian saat melihat anaknya terus saja menjahili Amel.


Amel langsung menjauhkan wajahnya dari Rendi, saat dia merasa wajahnya memanas. Dia yakin saat ini wajahnya pasti sudah memerah seperti tomat.


“Rendi hanya menawarkan bantuan Ma, sepertinya Amel tidak rela berpisah dengan Rendi walaupun sebentar,” seru Rendi yang menoleh sebentar ke mamanya yang saat ini menatap tajam padanya. Sementara Amel hanya diam tidak menanggapi perkataan Rendi.


Rendi kemudian mengarahkan padangannya pada Amel yang tampak menunduk. “Apa aku sangat mencintaiku? Jadi tidak ingin berpisah denganku?” goda Rendi lagi. “Mulai sekarang kau harus terbiasa Mel! Bagaimana jika aku sudah tidak ada lagi nanti!” tersirat makna lain dalam ucapan terkahir Rendi.


Alis Amel bertaut, matanya menyipit. “Apa maksud perkataan kakak?”


Rendi tersenyum kaku. “Maksudku, aku akan sekolah keluar negri, kau harus terbiasa berjauhan denganku, kita tidak akan bertemu dalam waktu lama! Jadi kau harus terbiasa jika tidak ada aku di sini!” ujar Rendi membenahi selimutnya, dia berusaha menghindari tatapan menyelidik Amel.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2