Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Mencari Tahu


__ADS_3

Rendi menghampiri Kenan. "Aku tidak mengijinkanmu pergi berdua saja dengannya."


Kenan merasa sedikit aneh dengan sikap Rendi. Dia memang melupakan semua tentang Amel, tetapi tidak dengan hatinya, Kenan merasa dihati Rendi masih memiliki perasaan sayang yang besar pada Amel. Alam bawah sadarnya menolak untuk melupakan Amel. Kenan mendongak.


"Apa urusamu jika aku pergi berdua dengannya?"


"Aku tidak suka kau dekat-dekat dengannya. lagi pula, Ini masih jam kantor, kau tidak boleh berkencan saat jam kantor," kilah Rendi. Entah mengapa saat membayangkan Kenan pergi berdua dengan gadis tadi, dadanya terasa panas.


Kenan menatap malas pada Rendi. "Aku ini mau meeting dengan klien. Kalau bukan dengan dia lalu siapa lagi yang harus aku ajak pergi? Apa aku harus mengajak tukang somay untuk ikut meeting denganku?" tanya Kenan kesal. Rendi benar-benar menguji kesabarannya.


Rendi melemparkan pulpen kepada Kenan. "Aku akan ikut dengan kalian. Aku tidak akan membiarkanmu pergi berdua saja dengannya."


"Aku bukan ibumu. Kenapa kau terus mengikutiku? Kau hanya menggangguku saja nanti dan membuat moodku hancur," ucap Kenan kesal.


"Aku tidak peduli."


"Lebih baik kau pulang saja ke hotelmu, jika kau senggang atau kau bisa ke rumah sakitmu untuk menemui Jhon."


"Jam berapa kita akan pergi meeting?" Rendi tidak menghiraukan perkataan Kenan, dia malah mengajukan pertanyaan lain.


"Aku belum bilang akan mengajakmu, lag pula, Fadil juga ikut denganku jadi kau tidak perlu ikut dengan kami."


"Kau berani melawan perintahku?"


"Kau ini, selalu saja mengancamku," ucap Kenan kesal. "Baiklah, kau boleh ikut, tapi kau tidak boleh berbicara dengan sekertarisku."


"Kau tidak punya hak untuk mengaturku, apa kau lupa ini perusahaan siapa?"


"Kau selalu saja menggunakan kekuasaanmu untuk menekanku. Untung saja kau sepupuku."


"Cepatlah, aku sudah lapar. Lebih baik kita pergi sekarang," ucap Rendi sambil berjalan menuju pintu keluar.


*******


Pagi ini Amel berangkat lebih awal karena ingin meminta penjelasan dari Kenan. Kemarin setelah mereka meeting dengan klien, Kenan tidak sempat menjelaskan padanya karena Rendi langsung mengajak Kenan pergi. Terpaksa Kenan menunda untuk menjelaskan pada Ame. Dia berjanji akan menjelaskan semua hari ini.


“Mel, lo tahu nggak hari ini ada rapat Dewan Komisaris dan Direksi?” tanya Bela baru saja datang lalu duduk di sebelah Amel.

__ADS_1


“Iyaa tau, Kenan nyuruh gue ikut rapat juga, katanya anak dari pemilik perusaan ini yang langsung mimpin rapatnya!”


Bela mendekatkan kursinya pada Amel. “Gue denger-denger anak pemilik perusahaan ini nggak pernah muncul, baru kali ini dia ikut rapat. Gue penasaran banget kayak apa orangnya, soalnya yang gue denger dari gosip yang berseliweran, katanya dia masih muda dan ganteng. Lo tau nggak siapa anak dari pemilik perusahaan ini?”


Amel melirik Bela sekilas sambil terus memeriksa berkas di tangannya. “Mana gue tahu Bel. Gue kan sama kayak lo, baru kerja di sini. Mana gue tahu siapa anak pemilik dari perusahaan ini.”


Bela mendengus saat mendengar jawaban dari Amel. “Kali aja lo kenal Mel soalnya CEO-nya aja lo kenal.”


“Gue kenal Kenan juga karena Rendi, Bel,” ucap Amel malas.


Bela menopang wajahnya dengan kedua tangannya di meja. “Awalnya gue kirain pak Kenan itu anak dari pemilik perusahaan ini, ternyata bukan ”


Obrolan Amel dan Bela terhenti saat meilhat Fadil dan Kenan baru saja datang dan sedang berjalan ke arah mereka.


“Pagi, Pak,” sapa mereka serempak sambil tersenyum.


Kenan mengangguk. “Mel kamu masuk ke ruangan saya.” Amel langsung menyusul langkah Kenan masuk ke ruangannya.


“Duduk dulu, Mel,” ucap Kenan saat dia baru saja duduk di meja kerjanya dan melihat Amel tampak berdiri tidak jauh darinya.


“Kamu periksa lagi semua data yang kita perlukan. Jangan sampai ada kesalahan, setelah itu kamu serahkan padaku,” perintah Kenan yang diangguki oleh Fadil.


Kenan berjalan menuju Amel setelah Fadil keluar dari ruangannya. “Seperti janjiku kemarin, kamu bisa bertanya apapun yang ingin kamu ketahui tentang Rendi,” ucap Kenan setelah dia duduk di sofa berhadapan dengan Amel.


Amel menatap Kenan dengan wajah serius. “Kenapa kamu bilang kalau Rendi udah nggak ada? Kamu bahkan merahasiakan keberadaanya dariku.”


“Apa kamu tidak merasa aneh dengan perubahan Rendi saat ini?”


Bukannya menjawab, Kenan justru mengajukan pertanyaan lain pada Amel. Dahi Amel mengerut mendengar pertanyaan Kenan. “Bukankah dia tidak mengenalimu saat ini?” lanjut Kenan lagi saat melihat Amel tampak berpikir.


“Aku tahu dia masih marah padaku karena dulu aku pernah memintanya untuk melupakan aku, makanya dia bersikap seperti itu,” ucap Amel sambil meremas kedua tangannya.


Kenan menyadarkan tubuhnya pada sofa dan lalu menatap Amel dengan wajah serius. “Bukan itu alasannya. Semarah apapun Rendi padamu, sejahat apapun kamu memperlakukannya waktu itu. Dia tidak mungkin melakukan hal itu padamu. Bahkan saat terakhir dia akan berangkat ke Amerika dia masih sempat memikirkan masa depanmu.”


Alis Amel bertautan. “Apa maksudmu?”


“Apa kamu merasa tidak aneh kenapa kamu bisa masuk dengan mudah diperusahaan ini?” tanya Kenan dengan wajah tenang.

__ADS_1


“Ak-Akuu..” Amel tidak bisa melanjutkan lagi kata-katanya, karena perkataan Kenan ada benarnya.


“Rendi yang memintaku untuk memasukkanmu ke perusahaan ini saat kamu lulus kuliah. Dia adalah pemilik perusahaan ini. Asal kamu tahu tidak mudah untuk masuk ke perusahaan ini karena kandindat lain banyak yang lebih kuat darimu. Kamu tidak akan bisa masuk dengan mudah ke perusahaan ini tanpa bantuan Rendi," ungkap Kenan.


"Aku sengaja menyuruh HRD untuk menghubungi temanmu dulu, setelah itu baru menghubungimu, berharap kamu tidak curiga dan tidak akan menolak jika temanmu juga bekerja di perusahaan yang sama denganmu. Kamu pasti bertanya kenapa bukan dia yang melakukan sendiri, kenapa harus meminta bantuanku?”


"Kenapa?” tanya Amel cepat


“Karena itu adalah pesannya sebelum ke Amerika. Seperti yang kubilang saat di bandara waktu itu. Dia takut operasinya gagal. Makanya, dia memintaku untuk menjagamu jika nanti terjadi sesuatu dengannya. Setelah pertemuan terakhirmu dengannya malam itu, Rendi menghubungiku. Dia memintaku mengawasimu setelah kepergiannya. Dia meminta aku mengurus beberapa hal untukmu.”


Amel masih tidak bisa mencerna kata-kata Kenan. “Maksudmu?” tanya Amel dengan suara pelan.


“Dia memintaku menghubungi Fadil untuk mengawasimu selama di sekolah. Dia juga memintaku untuk menyewa orang untuk menjagamu di luar. Dia menyuruhku mendaftarkanmu di universitas terbaik di Singapore dan membiayai kuliahmu sampai selesai. Sebenarnya kamu tidak mendapatkan beasiswa di kampus itu. Aku yang meminta pihak kampus untuk menghubungi sekolahmu kalau kamu mendapatkan beasiswa di kampus mereka.”


“Kenapa kau tidak memberitahuku?”


Dulu, saat Amel mengetahui dia mendapatkan beasiswa. Dia langsung menyetujuinya tanpa berpikir panjang. Dia berpikir dengan berkuliah di sana, dia bisa melupakan Rendi. Dia ingin memulai hidup yang baru karena setelah kepergian Rendi sampai dia lulus SMA, dia belum juga bisa melupakan perasaannya pada Rendi.


“Rendi melarangku untuk memberitahumu. Dia takut kamu akan menolak bantuannya karena dia pikir kamu sangat membencinya saat itu. Dia juga tidak ingin membebanimu. Dia bahkan membeli rumahmu yang di kampung dengan harga 6 Miliar agar hidup keluargamu tidak kesulitan lagi dan adikmu bisa ikut untuk bersekolah denganmmu di luar negri. Itu hanya sebagian dari permintaan Rendi padaku. Dia juga meminta Jhon untuk mengurus beberapa hal untukmu. Kamu seharusnya tidak menyakitinya dulu. Dia sangat peduli kepadamu walaupun kau sudah menyakitinya berkali-kali."


Amel tampak sangat terkejut setelah mengetahui kebenarannya. Perkataan Kenan menjadi pukulan telak untuk Amel. Matanya mulai berkaca-kaca dan memerah.


“Jadi dia tidak pernah membenciku setelah apa yang sudah kulakukan padanya, tetapi, dia justru masih memikirkan kehidupanku kedepannya?” tanya Amel dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya. Dia tidak menyangka kalau Rendi melakukan itu semua untuknya.


Selama ini dia tidak pernah berpikir kalau semua yang terjadi padanya karena campur tangan Rendi. Dia juga heran saat itu, karena rumah ibunya ditawar oleh orang dengan harga selangit.


Rumah ibunya hanyalah rumah sederhana, harganyapun diperkirakan sekitar 200 juta jika dijual, tetapi saat itu Amel tidak terlalu memikirkannya karena itu menguntung untuk keluarganya, apalagi dia juga berencana untuk kuliah.


“Dia melakukan semua itu karena dia sangat mencintaimu Mel. Dia bahkan membahayakan nyawanya sendiri. Kamu seharusnya tahu perasaan Rendi sangat dalam kepadamu.”


Amel terdiam saat mendengar kata-kata Kenan. Masih teringat jelas dalam ingatakannya, bagaimana dia memperlakukan Rendi saat itu. Itu adalah satu-satunya hal yang paling disesali selama hidupnya.


“Lalu kenapa kamu tidak memberitahuku kalau dia masih hidup?”


Kenan terdiam sejenak, dia meneliti ekpresi wajah Amel sejenak lalu berkata, “Karena dia Amnesia.”


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2