
Mata Amel terbelalak. “Semenjak kapan ingatan Kakak kembali?” tanya Amel dengan wajah terkejut.
Rendi mengalihkan pandangannya. “Kau tidak perlu tahu,” jawab Rendi dengan nada dingin.
Dia berjalan pergi meninggalkan Amel menuju pintu keluar. Rendi berjalan dengan pelan, dia merasa masih pusing, wajahnya juga masih pucat, kesadarannya juga belum sepenuhnya pulih.
Amel mengejar Rendi. “Kakak mau kemana?” tanya Amel setelah berhasil menyusul Rendi, tepat sebelum Rendi membuka pintu.
Rendi berhenti di depan pintu, lalu menoleh pada Amel. “Kau bisa menunggu sampai pagi di kamarku, setelah itu kau bisa pergi,” ucap Rendi dingin tanpa menjawab pertanyaan Amel.
Rendi membuka pintu lalu meninggalkan Amel sendiri. Amel menghela napas sebentar lalu membuka pintu untuk menyusul Rendi.
Amel membuka pintu kamar Rendi lebar-lebar, lalu berlari menghadang Rendi sambil merentangkan kedua tangannya, menghalau agar Rendi tidak bisa melewatinya.
"Kak, dengarkan penjelasanku dulu. Aku minta maaf soal sikapku kemarin saat meminta kakak menjaga jarak denganku. Aku hanya tidak ingin Friska salah paham," jelas Amel panik. Dia takut Rendi akan pergi meninggalkannya tanpa mendengar penjelasaannya dulu.
"Asal Kakak tahu, ini juga berat untukku, Kak. Aku terpaksa melakukannya. Kakak bilang tidak bisa membatalkan pertunangan kakak dengan Friska karena Kakak menyayanginya. Itulah sebabnya aku memilih untuk mundur. Mungkin dengan begitu hubungan kita akan tetap baik-baik saja. Walaupun aku tidak bisa memilikimu lagi dan hanya bisa berteman dengamu, tidak masalah bagiku, asalkan aku masih bisa melihatmu."
"Aku sudah membatalkan pertunanganku dengannya. Aku tidak mencintainya. Tadinya, aku berpikir setelah membatalkan petunanganku dengannya kau tidak akan menjauhiku, ternyata aku salah, kau malah sudah bertunangan dan bahkan akan segera menikah dengan Devan." Rendi tersenyum miris dengan wajah kecewa.
“Kakak salah paham, Kak. Aku tidak pernah bertunangan dengan kak Evans. Aku juga tidak pernah berjanji untuk menikah dengannya, selain waktu aku kecil. Kak Evans sengaja melakukan itu untuk membuatmu menjauhiku karena dia belum tahu kalau kau Amnesia sehingga untuk berjaga-jaga kau mendekatiku lagi, dia mengatakan itu padamu,” jelas Amel cepat.
Rendi menatap Amel tanpa ekpresi. “Lalu cincin siapa yang ada di tanganmu? Bukankah itu cincin tunanganmu?” tanyannya.
Rendi mengangkat tangan kirinya di depan Rendi. “Ini adalah cincin yang pernah dibelikan oleh mama Tamara. Apa Kakak tidak ingat?” tunjuk Amel pada jari manisnya.
Rendi tersenyum miring. “Jadi kamu memutuskan untuk menerima Raka?”
__ADS_1
Dahi Amel mengerut. “Tidak Kak, bukankah dulu aku sudah pernah bilang kepada Kakak, kalau aku akan memakai cincin ini hanya karena untuk menjaga perasaan mama Tamara,” jelas Amel sambil menatap Rendi. Amel memegang kalung dilehernya yang tersembunyi dibalik bajunya lalu menariknya keluar.
"Ini adalah cincin dan kalung pemberian Kakak. Aku tidak pernah melepasnya. Aku selalu memakainya kemanapun aku pergi,“ tunjuk Amel pada kalung yang berisikan liontin cincin.
Amel sengaja memasukkan cincin pemberian Rendi ke dalam kalungnya. Kalung itu adalah pemberian Rendi bersama dengan surat terakhir Rendi yang dititipkan kepada Kenan.
Rendi sedikit terkejut saat melihat kalung dan cincin pemberiannya masih di simpan oleh Amel, bahkan selalu dipakai Amel. Rendi mengira kalau Amel akan membuangnya, karena Amel sangat membencinya dulu.
“Kau masih menyimpannya?” tanya Rendi dengan wajah terkejut.
Amel mengangguk. “Dulu Kakak pernah bilang kalau aku melepaskan cincin ini, itu berarti aku tidak menginginkanmu lagi. Maka dari itu, aku tidak pernah melepasnya dari jari tanganku, tetapi saat Kenan memberikan surat dan kotak perhiasan yang berisikan kalung, aku memutuskan untuk menyatukan cincin dan kalung pemberianmu lalu memakainya dileherku,” ungkap Amel.
Rendi terdiam saat mendengar penjelasan Amel. "Lebih baik kau buang saja. Tidak ada gunanya lagi kau menyimpannya. Kita juga tidak bisa kembali seperti dulu lagi. Kalau kau memang mencintai Devan, aku akan merelakanmu. Aku tidak akan mengganggumu lagi Mel. Untuk kedepannya kita akan menjalani hidup masing-masing. Kau tidak perlu peduli padaku lagi seperti saat ini, aku akan hidup sesuai keinginanku. Kali ini aku tidak akan pernah kembali lagi Mel, jadi hiduplah dengan baik dengannya," ucap Rendi dengan wajah sedih.
"Tidurlah, ini sudah pagi," lanjut Rendi lagi. Dia berjalan meninggalkan Amel yang terlihat sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Tubuh Rendi mematung saat mendengar perkataan Amel, apalagi Amel memeluknya sangat erat. "Lepaskan Mel!"
Amel menggeleng kuat. "Apa Kakak masih marah denganku karena kejadian yang dulu? Apa Kakak tidak mau memaafkan aku? Aku tahu aku salah karena tidak mendengarkan penjelasan kakak terlebih dahulu. Aku minta maaf, Kak. Wku sangat menyesal telah memperlakukan kakak dengan buruk waktu itu. Ak-ku hanya emosi waktu itu, aku tidak bersungguh-sungguh dengan kata-kataku, Kak,” jelas Amel dengan nada penuh penyesalan.
Rendi masih diam, dia belum juga merespon perkataan Amel “Kak, tolong maafkan aku. Apa yang harus aku lakukan agar kakak mau memaafkan aku? Aku mohon maafkan aku kak," ujar Amel dengan suara lemah. Dia melepaskan pelukannya lalu berjalan ke depan Rendi saat Rendi tidak merespon perkataannya.
Amel melangkah maju, menarik kedua sisi baju Rendi lalu mendongak menatap iris hitamnya. "Apa kakak benar-benar tidak bisa memaafkan aku? Apa kakak tidak mencintai aku lagi? Tidak bisakah kita mulai dari awal lagi?" tanya Amel dengan mata sembab, air matanya menggenang di pelupuk matanya.
Rendi hanya menatap lekat mata Amel dan masih bungkam. "Kak, kenapa kau diam saja? Aku benar-benar mencintaimu, Kak. Tolong maafkan aku. Beri aku satu kesempatan untuk menebus kesasahanku padamu," ucap Amel memohon.
Setelah menunggu lama, tidak ada respon juga dari Rendi, Amel akhirnya menyerah. Dari awal adalah salahnya. Dia tidak bisa memaksa Rendi lagi jika dia memang dia tidak mau kembali lagi padanya.
__ADS_1
"Baiklah, kalau tidak bisa memaafkan aku. Aku mengerti. Aku memang hanya bisa memberikan luka pada Kakak. Maafkan aku kak. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Sekali lagi aku minta maaf, Kak!" ucap Amel dengan suara bergetar.
Dia melepaskan tangannya dari baju Rendi lalu berjalan menuju lift. Air mata kembali mengalir deras. Perasaannya hancur karena Rendi tidak mau memaafkan dia lagi. Amel berjalan dengan langkah cepat.
Rendi menatap punggung Amel yang terlihat mulai mejauh darinya. Dia kemudian melangkah cepat menyusul Amel dan menarik tangan Amel dengan cepat. Dia berjalan menuju kamarnya lagi. Sementara, Amel yang masih terkejut saat tangannya ditarik oleh Rendi hanya bisa mengikutinya.
Rendi membawa Amel masuk ke kamarnya lagi lalu menutup pintunya. Rendi merapatkan tubuh Amel pada tembok lalu mencium bibir Amel melu*matnya sebentar lalu melepaskannya. Rendi menatap lekat mata Amel. "Jangan pergi. Aku sangat mencintaimu, Mel," ucap Rendi dengan tatapan sayu.
Amel kemudian memeluk tubuh Rendi. "Aku juga sangat mencintaimu, Kak," ucap Amel dengan wajah bahagia.
Rendi tersenyum saat mendengar perkataan Amel. Dia menatap mata Amel dengan binar kebahagiaan, kemudian memegang kepala Amel dengan kedua tangannya lalu menempelkan bibirnya pada bibir Amel.
Rendi mencium bibir Amel dengan lembut. Dia memejamkan matanya sambil menyesap dan melu*mat bibir Amel. Merasa tidak ada penolakan dari Amel, membuat Rendi menekan tengkuk Amel untuk memperdalam ciumannya.
Amel yang mulai terbuai dengan sentuhan lembut bibir Rendi, mulai membalas ciumannya dan mengalungkan tangannya pada leher Rendi. Rendi terseyum disela-sela ciuman mereka. Napas Rendi mulai memburu. Dia terus menyesap, mengulum, dan menghisap bibir tipis Amel. Dengan satu tangannya dia memegang pinggang Amel dan merapatkan tubuh mereka.
Rendi mengarahkan Amel ke tempat tidur dan perlahan membaringkan Amel dengan hati-hati tanpa melepaskan pagutan mereka. Amel belum menyadari kalau Rendi sudah berada di atasnya.
Rendi kemudian melepaskan ciumannya sebentar dengan kedua tangan bertumpu pada tempat tidur untuk menahan tubuhnya, lalu menatap lekat-lekat mata Amel. "Aku sangat mencintaimu, Mel." Rendi kemudian mencium bibir Amel lagi.
Tidak ada penolakan apaoun dari Amel. Dia justru mulai membuka mulutnya saat Rendi menggigit pelan bibir bawahnya dan itu langsung di manfaatkan oleh Rendi dengan menyapu seluruh rongga mulut Amel. Dia memainkan lidah dan menyesapnya dengan lembut.
Setelah puas bermain di dalam mulut Amel, Rendi melu*mat bibir Amel lagi. Ciuman Rendi yang tadinya lembut berubah jadi ciuman penuh gairah. Deru napas mereka berdua semakin berat. Yang ada di pikiran mereka saat ini adalah bagaimana menyalurkan kerinduan mereka selama ini.
Rendi kemudian beralih pada leher jenjang Amel mencium dengan lembut di daerah kuping belakang Amel. Tubuh Amel berdesir dengan sentuhan bibir Rendi.
“Kak,” ucap Amel parau sambil meremas bagian bekalang kepala Rendi. Dia merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya saat Rendi mulai mengecup penuh kelembutan pada lehernya.
__ADS_1
Bersambung...