Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Kehamilan Amel


__ADS_3

Rendi berjalan keluar kamar setelah Amel masuk ke kamar mandi. Dia berjalan ke arah ruang keluarga untuk menemui Raka. Raka memang belum pulang, sampai pukul 10 pagi, dia masih di apartemen Rendi.


"Raka, apa kau sedang sibuk?" tanya Rendi sambil menghampiri Raka dan adiknya yang sedang mengobrol di sambil menonton televisi.


"Tidak, ada apa?" tanya Raka.


Rendi duduk di sambing adiknya. "Bisakah kau mengantarkan aku dan Amel ke rumah sakit?"


"Baiklah."


Sofi menoleh pada Rendi. "Kak, aku mau ikut juga," timpal Sofi.


"Terserah kau saja." Rendi bangkit dari duduknya, "ooh yaa Raka, orang tuaku ingin bertemu denganmu nanti malam."


Sofi memalingkan wajahnya kembali kepada Rendi. "Kenapa mama dan papa ingin bertemu dengan Raka?"


"Tentu saja untuk membicarakan hubungan kalian. Kakak sudah menceritakan sebagian, sisa kalian yang beritahu langsung."


"Bagaimana respon mama dan papa? Apa mereka marah atau menentang hubungan kami?" tanya Sofi cepat.


"Sofi tenanglah," sela Raka, kemudian menoleh pada Rendi, "Di mana aku bisa bertemu dengan orang tuamu?"


"Di restoran hotelku."


"Baiklah, terima kasih."


Rendi mengangguk. "Aku bersiap dulu." Rendi lalu berjalan ke arah kamarnya.


Setengah jam kemudian, Amel yang nampak segar setelah mandi, berjalan bersama dengan Rendi menuju ruang keluarga.


"Kalian sudah siap?" tanya Raka saat melihat Rendi dan Amel menghampiri mereka.


"Sudah bang." Amel duduk di depan Raka bersama dengan Rendi. "Maaf ngerepotin Abang," lanjut Amel lagi.


"Tidak apa-apa." Raka kemudian berdiri, "kalau begitu kita berangkat sekarang."


Mereka semua mengangguk dan berjalan keluar bersama-sama. Sesampainya di loby, Rendi memberikan kunci mobilnya pada Raka. "Pakai mobilku saja."


Raka mengambil kunci lalu mengikuti Rendi dari belakang menuju mobilnya. Setelah semua masuk ke dalam mobil, Raka langsung melajukan mobil menuju rumah sakit.


"Jhon, aku sudah mau sampai, kau di mana?" Rendi menghubungi dokter Jhon terlebih dahulu sebelum sampai rumah sakit. Saat dalam perjalanan, Rendi sudah memintanya untuk menunggu di loby.


"Aku akan turun ke bawah, kau langsung saja ke ruang praktekku," terdengar jawab dari dokter Jhon melalui sambungan telpon.


Sesuai instruksi dari dokter Jhon, Rendi dan yang lainnya langsung menuju ruang praktek dokter Jhon di lantai 2. "Kami tunggu di sini," ucap Raka sebelum Rendi dan Amel masuk ke dalam ruangan dokter Jhon.


"Iya bang." Amel dan Rendi masuk ke dalam ruangan dokter Jhon setelah mengetuk pintu.


Di dalam ruangan tersebut, sudah ada dokter Jhon dan satu orang perawat. "Duduklah." Dokter Jhon menunjuk kursi yang ada di depannya.


Setelah Rendi dan Amel duduk, dokter Jhon menatap pada Amel. "Apa saja keluhanmu Mel?" Tanpa basa-basi, dokter Jhon langsung pada intinya. Waktu Rendi menelponnya tadi, dia sudah menjelaskan sedikit mengenai kondisi Amel.


"Kepalaku sakit Kak, agak pusing, beberapa hari ini aku tidak nafsu makan dan setiap pagi aku merasa mual, tapi baru kemarin dan pagi tadi aku sampai muntah," terang Amel.


Dokter Jhon membenarkan kacamatanya. "Jadi, kau hanya merasa mual di pagi hari?"

__ADS_1


"Iyaaa Kak," jawab Amel sambil mengangguk.


"Pagi ini, kau sudah muntah berapa kali?"


"Dua kali."


"Kapan kau terakhir datang bulan?"


Amel menatap ke atas sejenak lalu beralih menatap pada dokter Jhon. "Aku lupa Kak, biasanya aku datang bulan di akhir bulan, tapi sampai sekarang aku belum juga datang bulan."


"Selain yang kau sebutkan tadi, apa ada keluhan lain lagi?"


"Aku gampang merasa lelah."


Rendi nampak mulai tak sabar. "Jadi, Amel sakit apa?"


"Dia tidak sakit apa-apa," jawab dokter Jhon tenang.


"Bagaimana bisa tidak sakit apa-apa? Dia bahkan memuntahkan semua makanan yang dia makan tadi pagi, tubuhnya juga lemas." Rendi nampak tidak percaya dengan ucapan dokter Jhon.


Dokter Jhon meletakkan kacamatanya di atas meja lalu memijat pangkal hidungnya. "Aku lebih tahu darimu, aku ini dokter. Lagi pula, kau yang sudah membuatnya seperti itu," ujar Dokter Jhon enteng.


Dahi Amel mengerut, sementara Rendi nampak kesal. "Jhon, jangan bercanda, bagaimana bisa aku yang menyebabkan Amel sakit, aku bahkan sangat menjaganya. Cepat lakukan pemeriksaan menyeluruh? Aku tidak mau kalau sampai Amel kenapa-napa."


Dokter Jhon menatap Rendi sejenak lalu beralih pada Amel. "Maaf Mel, aku tidak bisa memeriksamu, aku akan membawamu ke dokter lain."


"Apa maksudmu tidak bisa memeriksa Amel? Kau sudah bosan jadi dokter ya?" Rendi nampak dibuat geram oleh ucapan dokter Jhon.


"Ren, seharusnya kau tidak membawa Amel padaku, ini bukan spesialisasiku." Dokter Jhon kemudian berdiri. "Ayoo Mel, aku akan mengantarmu ke dokter Reni."


Rendi dan Amel nampak bingung. "Jelaskan dulu kenapa kau tidak bisa memeriksa Amel. Kau adalah dokter terbaik di sini, bagaimana bisa kau tidak bisa menangani Amel?" ujar Rendi ketika melihat dokter Jhon akan keluar dari ruangannya.


Mau tidak mau mereka berdua mengikuti ke mana dokter Jhon melangkah. Rendi dan Amel saling pandang saat membaca ruangan yang mereka datangi. "Jhon, ini....?"


"Cepat masuk kalau kau ingin tahu." Dokter Jhon tentu tahu apa yang ada di pikiran Rendi. Beruntung, pasien dokter Reni tidak begitu ramai, jadi dokter Jhon langsung masuk ke dalam.


Raut wajah Rendi menegang sekaligus kaku. "Ayo sayang." Rendi mengajak Amel untuk masuk.


"Dokter Reni, ini adalah anak dari Nyonya Lilian, pemilik rumah sakit ini," ucap Leon sambil memperkenalkan Rendi pada dokter Reni.


Dokter Reni memang tidak mengenal Rendi karena dia baru bekerja di sana selama 2 tahun dan tidak pernah bertemu dengan Rendi sama sekali.


"Selamat siang pak Rendi," sapa Dokter Reni dengan ramah sambil berdiri.


Rendi mengangguk. "Siang."


"Begini dokter Reni, istri dari Rendi mengalami....." Dokter Jhon kemudian menjelaskan semuanya pada dokter Reni mengenai kondisi Amel.


Selesai mendengar perkataan dokter Jhon, dokter Reni mengajukan beberapa pertanyaan pada Amel. "Baiklah, mari kita periksa." Dokter Reni menuju bilik yang di tutupi oleh tirai panjang berwarna putih.


Rendi dan Amel mengikuti dokter Rendi, sementara dokter Jhon menunggu di depan meja dokter Reni. Saat tirai tertutup, dokter Rendi meminta Amel untuk berbaring, dia juga meminta perawat untuk menyiapkan alat yang akan digunakan untuk memeriksa Amel.


Jantung Rendi berdebar kencang saat melihat ke layar yang menunjukkan gambar berwarna hitam. Entah kenapa dia merasa takut sekaligus penasaran. "Selamat pak Rendi, istri anda sedang hamil," ucap Dokter Reni sambil tersenyum senang.


Tubuh Rendi menegang, dia tertegun sesaat, sementara Amel terlihat tersenyum senang. "Jadi, saya hamil Dok?" Amel hanya ingin memastikan kalau dia tidak salah dengar.

__ADS_1


"Iyaaa benar, ibu Amel sedang hamil dan usianya memasuki usia 5 minggu."


Mata Amel berkaca-kaca, dia kemudian menoleh pada Rendi. Melihat Rendi hanya diam saja, membuat Amel berpikir kalau suaminya tidak senang dengan kehamilannya. "Kak, kenapa diam saja?" Sentuhan tangan Amel di bahunya menyadarkan Rendi dari keterkejutannya.


"Istrinya saya benar-benar hamil, Dok?" tanya Rendi setelah berhasil menguasai dirinya.


"Benar Pak."


"Jadi, saya akan menjadi ayah, Dok?"


Dokter Reni menahan senyumnya. "Iya Pak."


Rendi menoleh dengan cepat pada istrinya dan memeluknya. "Sayang, kau hamil sayang, kau hamil anakku. Ada anakku di perutmu," ucap Rendi dengan wajah sangat bahagia.


Tentu saja ini anakmu Kak, kau pikir anak siapa yang ada di dalam perutku kalau bukan anakmu. Jangan membuatku malu, Kak.


"Aku sangat senang sayang, akhirnya kau hamil juga." Rendi melepaskan pelukannya lalu memberikan kecupan bertubi-tubi pada istrinya.


Dokter Rendi hanya diam sambil menatap pasangan suami-istri yang sedang berbahagia di depannya itu.


Selesai melakukan pemeriksaan, Rendi mengajukan banyak pertanyaan pada dokter Reni. Dia tidak mau melakukan kesalahan sekecil apapun yang akan berimbas pada kehamilan istrinya.


Selesai berkonsultasi, dokter Reni memberitahukan mengenai kondisi kehamilan Amel dan meresepkan obat mual dan beberapa vitamin untuk ibu hamil.


"Kenapa kau tidak bilang kalau Amel itu hamil?" ujar Rendi setelah keluar dari dokter Reni dan sedang berjalan menuju ruangan dokter Jhon.


"Aku takut salah diagnosa, maka dari itu, aku tidak ingin mengatakan lebih dulu padamu sebelum adanya pemeriksaan USG."


"Baiklah, apapun alasanmu yang terpenting aku sangat senang hari ini."


"Tadi, mama menelponku dan menanyakan padaku kenapa kau tidak mengangkat telponmu."


Rendi berhenti ketika sampai di depan ruangan dokter Jhon. "Lalu kau bilang apa?"


"Aku bilang kau mengantarkan Amel ke rumah sakit karena Amel sedang tidak enak badan."


"Baiklah, aku akan mampir ke hotel nanti. Ada yang ingin aku bicarakan pada mama dan papa."


"Baiklah, pergilah, aku tidak bisa mengantarmu, pekerjaan sedang banyak."


Setelah berpamitan Rendi menuju ruang tunggu yang dekat loby rumah sakit tempat Raka dan Sofi menunggu. Ketika Amel dan Rendi pergi ke poli kandungan, Sofi dan Raka menuju loby dan menunggu di ruang tunggu dekat loby utama.


"Apa kata dokter?" tanya Raka saat melihat Amel dan Rendi berjalan ke arahnya dan Sofi.


"Amel hamil."


Mata Sofi membesar dan mulutnya terbuka lebar. "Jadi, aku akan mempunyai keponakan lucu?" tanya Sofi dengan wajah senang.


"Iyaa Sofi," jawab Amel sambil tersenyum bahagia.


Raka juga nampak bahagia. "Aku ikut senang mendengarnya. Semoga ini menjadi awal dari kebahagiaan rumah tangga kalian."


"Terima kasih," jawab Rendi, "Aku ingin ke hotel untuk memberitahukan berita bahagia ini pada orang tuaku. Apa kau ingin ikut? Kau bisa langsung bicara dengan orang tuaku mengenai hubingan kalian tanpa menunggu nanti malam."


"Baiklah kalau begitu."

__ADS_1


Raka terpaksa meminta Nita untuk menghandle sementara pekerjaannya karena ada urusan yang lebih penting dari pekerjaannya.


Bersambung....


__ADS_2