
Raka menatap Sofi yang tampak masih belum percaya dengan ucapannya. “Kenapa? Kau tidak suka berada di rumahku?” tanya Raka ketus.
Tamara memukul paha Raka. “Kamu kok ngomongnya gitu sih sama pacar sendiri.”
Raka melirik mamanya dengan cepat. “Dia bukan pacar Raka, Ma,” ucap Raka kesal.
“Ayo sayang di minum dulu,” ucap Tamara lembut pada Sofi.
Sofi mengangguk sambil tersenyum canggung pada mama Raka, kemudian mengambil gelas yang ada di depannya lalu meneguknya. “Kirain mama pacar kamu. Ternyata dia calon istri kamu. Pinter banget cari calon istri yang cantik,” ucap Tamara senang sambil menoleh pada Raka.
“Uhuk... uhuk... uhukk.” Sofi tersedak saat mendengar perkataan mama Raka. Tamara langsung duduk di samping Sofi sambil menepuk pelan punggung Sofi.
“Kamu nggak apa-apa sayang?” tanya Tamara saat melihat wajah Sofi memerah.
Sofi menyekap mulutnya dengan tisu sambil mengangguk.
“Maa, dia bukan calon istri Raka, jangan sembarang ngomong Ma.” Raka berucap dengan nada tinggi dan wajah kesal.
Tamara langsung mengalihkan pandangannya pada Raka. “Terus siapa? atau jangan-jangan... Dia lagi nggak hamil anak kamukan, Bang?” tanya Tamara dengan tatapan menyelidik.
“Mamaaa, jangan bicara omong kosong," ujar Raka dengan wajah kesal.
“Mama cuma bercanda, Bang. Kamu jangan marah gitu dong."
Tamara tersenyum lebar setelah mendengar teriakan sekaligus melihat tatapan tajam anaknya. Wajah Sofi bertambah merah setelah mendengar perkataan mama Raka.
“Siapa nama kamu sayang?” tanya Tamara dengan lembut sambil menatap Sofi yang tampak diam.
“Sofi, Tante,” jawan Sofi pelan.
“Jangan panggil tante dong. Panggil Mama aja, sama kayak Amel. Apalagi kamu kan calon mantu Mama,” ucap Tamara enteng.
“Maaaa, berhenti menggodanya. Dia iti teman, Amel.”
__ADS_1
“Namanya juga usahq, Bang." Sebenarnya Tamara memang sengaja menggoda anaknya. “Lagian kamu tuh belum pernah ngenalin pacar kamu sama sekali sama Mama. Apa kamu ngak suka sama perempuan?” tanya Tamara kesal.
Raka menatap tajam pada mamanya. “Raka masih normal, Ma. Gimana mau ngenalin ke Mama kalau Raka aja nggak punya pacar,” ucap Raka malas.
“Kamu nggak laku? Kamunkan ganteng, masa nggak ada satupun yang mau sama kamu?” tanya mama Raka dengan wajah heran.
“Astaga Mama.” Raka dibuat tidak berkutik oleh mamanya. Dari dulu mama Raka selalu mendesaknya mencari pacar.
“Bang Raka itu banyak yang suka Ma, tapi dianya aja yang nggak mau,” sela Amel yang baru saja datang dan duduk di samping Raka. Mereka semua seketika menoleh pada Amel.
“Masaa sih?” tanya Tamara penasaran.
Amel menangguk. “Mantan bang Raka aja cantik-cantik semua Ma waktu SMA. Semua ceweknya, cantik dan populer di sekolah,” ungkap Amel sambil menatap Tamara dengan senyum simpul.
Dulu saat Raka mempunyai pacar, dia memang tidak pernah mengenalkan pada mamanya karena dia tidak pernah berpacaran dengan serius. Nita adalah mantan terakhir Raka. Semenjak putus dari Nita, Raka tidak pernah berpacaran lagi sampai sekarang karena dulu dia ingin mengejar Amel.
Sofi tampak hanya mendengarkan pembicaraan Amel dan mama Raka. “Terus kenapa sekarang Raka nggak punya pacar? Apa dia frustasi karena diputusin sama pacar terakhirnya?"
Raka menoleh pada Amel karena merasa jengah ketika mamanya mengorek informasi tentang dirinya melalui Amel. “Mel, mendingan nggak usah ladenin pertanyaan Mama, bisa-bisa kelar seminggu kalau kamu jawab terus.”
Tamara kemudian melempar bantal sofa pada Raka. “Dasar anak durhaka,” ucap Tamara kesal.
Raka berdiri. “Raka mau ke kamar dulu.” Raka melangkah pergi meninggalkan ruang keluarga menuju kamarnya.
******
Amel berjalan menuju kamar Tamara, dia ingin berpamitan untuk pergi ke menemui Rendi. Sementara Sofi ada di ruang keluarga sendiri, karena Raka masih berada di kamarnya. Setelah lelah berbicang, mama Raka masuk ke kamarnya.
Amel mengetuk pintu pelan. “Maa..!” panggil Amel.
“Kenapa sayang?” tanya Tamara setelah dia membuka pintu.
“Amel mau pergi dulu, mau nganterin pulang Sofi sekalian!” Tamara keluar dari kamarnya. “Kamu mau bawa mobil sendiri?”
__ADS_1
Amel menggeleng kuat. “Dianter sama bang Raka Ma,” ucap Amel cepat. Mereka berjalan menuju ruang keluarga bersama.
Tamara tersenyum saat melihat Sofi sedang duduk bersama dengan anaknya. Sebelum Amel ke kamar Tamara, Amel terlebih dahulu mengirim pesan pada Raka untuk mengantarnya kembali ke hotel.
“Kamu uda mau pulang sayang?” tanya Tamara sambil duduk di samping Sofi. Sofi menoleh pada Tamara dan mengangguk. “Iyaa tante,” ucap Sofi canggung.
Dahi Tamara mengerut. “Kok tante sih! Panggil Mama aja, sama kayak Amel. Biar lebih akrab lagi, syukur-syukur bisa jadi mantu nanti” ucap Tamara sambil tertawa kecil. Amel terkekeh saat melihat ekspresi jengah Raka setelah mendengar perkataan mamanya sendiri.
Raka melirik malas pada mamanya. Dia tidak habis pikir dengan tingkah mamanya yang sadari tadi berusaha untuk menjodohkannya dengan Sofi.
Mata Sofi membesar. “Hhhaaaah..” Sofi terkejut saat mendengar perkataan terakhir mama Raka. “Eemmh Iyaaa tan,, eh Iyaa Ma,” ucap Sofi gugup.
Tamara memegang lengan Sofi. “Kamu sering-sering maen ke sini ya! Kalau perlu nginep di sini! Kamu pasti bosenkan di hotel sendiri nggak ada temen!” Tamara sudah mengetahui kalau Sofi hanya tinggal berdua dengan kakaknya di hotel, sementara orang tua Sofi tinggal di luar negri. Tamara banyak bertanya tentang Sofi saat mengobrol tadi.
Sofi tersenyum canggung. “Iyaa Ma, kapan-kapan Sofi main ke sini lagi!” ucap Sofi sambil melirik pada Raka yang terlihat acuh.
“Kamu jangan sungkan kalau mau datang ke sini. kalau kamu bosen, kamu tinggal hubungi Amel, nanti Mama minta Raka langsung jemput kamu. Anggep aja pulang ke rumah sendiri,” ucap Tamara lembut.
Raka berdiri, dia sudah tidak sanggup lagi mendengar ocehan mamanya yang tidak jelas. “Maa..! Jangan memaksanya seperti itu. Mama bisa membuatnya takut!” ucap Raka kesal.
Tamara langsung menoleh pada Sofi. “Maaf ya Sofi, kalau Mama membuat kamu tidak nyaman. Soalnya Mama seneng banget sama kamu!”
Sofi tersenyum, “Iyaa nggak apa-apa Ma. Sofi pamit dulu,” ucap Sofi dengan senyum kaku.
Amel mendekati Tamara. “Ma, Amel pergi dulu ya!” ucap Amel pelan. Tamara mengangguk. “Kalian hati-hati di jalan ya?" Tamara melambaikan tangan pada Amel dan Sofi.
“Raka, kamu bawa mobilnya hati-hati ya! Jangan sampe calon mantu Mama kenapa-napa,” teriak Tamara setelah melihat Raka sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan Sofi dan Amel tanpa berpamitan dengannya.
Raka menoleh dan menatap malas pada mamanya. Dia kemudian berjalan keluar tanpa membalas ucapan mamanya.
Amel yang berada di belakang Raka hanya tersenyum simpul saat memdengar perkataan mama Raka, sementara Sofi hanya bisa menuduk, menybunyikan wajahnya sudah memerah sedari tadi.
Bersambung...
__ADS_1