Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Hubungan Baru


__ADS_3

Setelah mereka berdua saling menceritakan kejadian malam itu. Sofi tampak terdiam sambil menatap lurus ke depan.


“Kenapa kau diam? “ tanya Raka saat melihat Sofi melamun.


Sofi menggeleng cepat. “Tidak apa-apa!”


Raka menatap curiga pada Sofi. “Apa kau masih memikirkan bajingan itu?”


“Tidaak.. Bisakah kita rahasiakan dulu hubungan kita?”


Raka menatap lekat mata Sofi. “Kenapa? Apa kau malu mengakuiku sebagai kekasihmu?”


“Bukan, hanya saja...”


Raka membuang pandangannya ke samping. “Kalau kalau tidak mau menjadi kekasihku, kau bisa mundur sekarang! Aku sudah bilang kalau aku tidak akan pernah memaksamu,” ucap Raka datar.


“Bukan seperti itu, hanya saja keluargaku belum tahu kalau aku sudah putus dengan Willy. Keluargaku sangat dekat dengan keluarganya. Aku belum berani menceritakan pada mereka penyebab aku putus.”


“Aku tidak mau menyembunyikannya dari siapapun. Kalau kau tidak mau, lebih baik kita akhiri saja.”


Sofi tampak diam. Dia tidak tahu harus bagaimana. Dia takut kalau akan disalahkan oleh orang tuanya. “Raka, kau sebenarnya mencintaiku atau tidak? Kenapa kau mudah sekali melepaskanku?” ucap Sofi dengan wajah sedih.


Raka menoleh pada Sofi. “Justru karena aku mencintaimu makanya aku begini. Aku tidak mau menjalani hubungan yang sia-sia,” ucap Raka tegas. “Dengar Sof, aku hanya tidak mau, di saat aku sudah menjalani hubungan yang serius kalau malah hanya main-main denganku. Aku tidak mau kecewa nantinya.”


“Aku tidak main-main denganmu Raka. Aku juga serius denganmu. Aku hanya bingung menjelaskan dengan keluargaku,” ucap Sofi lemah sambil menunduk.


“Aku yang akan bicara dengan keluargamu. Aku bahkan siap untuk melamarmu!”


Sofi langsung mengangkat kepalanya saat mendengar ucapan Raka. “Haaaah! Apa tidak terlalu cepat..? Kita baru saja memulai hubungan ini.”


“Apa kau masih ragu denganku?”


Sofi menggelengkan kepala. “Tidak, hanya saja keluargaku pasti kaget nanti.”


“Aku akan berbicara dengan kakakmu dulu. Kita lihat bagaimana reaksinya.”


“Bagaiamana kalau kak Rendi tidak setuju dengan hubungan kita, bukankah hubunganmu dengan kakakku tidak baik?”


“Kau tenang saja, kau cukup diam saja. Aku yang akan mengurus semuanya.


Sofi tampak tidak yakin dengan ide Raka. Pasalnya mereka tidak akur selama ini, apalagi Raka pernah memukul Rendi karena Amel. “Apa kau yakin akan berbicara dengan kakakku?”


Raka mengangguk mantap. “Iyaa, percayalah padaku. Kau tidak perlu khawatir, kalaupun kakak dan keluargamu tidak menyetujuinya, asalkan kau tetap di sisiku, aku akan memperjuangkanmu!” ucap Raka sembil mengelus lembut kepala Sofi.


Sofi sangat tersentuh dengan kata-kata yang diucapkan oleh Raka. “Terima kasih karena sudah mau memperjuangkan aku,” ucap Sofi.


“Hhhmm,” gumam Raka sambil mengangguk. “Bersiaplah, sebentar lagi aku akan mengantarmu pulang!”


Sofi melepaskan pelukannya lalu menatap Raka. “Tapi aku tidak mau pulang.”


Raka mengeryit. “Kenapa?”


“Aku takut kakak dan orang tuaku melihat ini,” tunjuk Sofi pada tanda merah keunguan yang ada di lehernya.

__ADS_1


Seketika Raka diliputi rasa bersalah pada Sofi. Rasa cemburu dan pengaruh alkohol membuatnya hilang kendali. Dia langsung maju dan memeluk Sofi. “Maafkan aku sayang, seharusnya aku tidak melakukannya. Aku tidak bisa berpikir jernih tadi. Memikirkanmu akan kembali pada bajingan itu membuatku marah,” sesal Raka.


“Aku tahu itu juga pasti pengaruh dari kau mabuk. Jangan pernah mabuk lagi!” ucap Sofi pelan.


Raka mempererat pelukannya. “Maafkan aku Sof!”


“Iyaaa..Aku hanya takut mereka salah paham padaku. Aku akan kembali besok. Selanjutnya aku hanya perlu menyamarkan bekasnya dengan make up.”


“Aku akan bertanggung jawab kalau sampai mereka tahu.”


Sofi melepaskan pelukan Raka. Dia tertawa kecil setelah mendengar perkataan Raka. “Kau ini, kita tidak melakukan apa-apa, untuk apa kau bertanggung jawab,” ucap Sofi sambil tersenyum.


“Maksudku, aku akan menjelaskan pada mereka kejadian yang sebenarnya.”


Sofi menggeleng. “Tidak perlu!”


“Bagaimana kalau kau menginap di rumahku. Besok aku antar kau pulang!”


“Tidak usah, bagaimana kalau justru ibumu melihatnya. Dia pasti berpikir yang tidak-tidak padaku!”


“Aku akan menjelaskan pada mama! Setidaknya dia akan memarahiku, bukan memarahimu,” ucap Raka meyakinkan.


“Okeee, ikutlah denganku..! Aku tidak mungkin membiarkanmu di sini sendirian,” bujuk Raka.


Dia tahu kalau Ibu Amel dan adiknya sementara tinggal di hotel itulah sebabnya apartemn Rendi akan kosong, jika dia membiarkan Sofi menginap di situ.


Sofi tampak diam. “Aku di sini saja! Aku sudah terbiasa sendiri.”


“Kalau kau tidak ikut pulang denganku. Aku akan menginap di sini. Aku tidak mau kalau sampai banjingan itu menemukanmu di sini.”


“Aku akan ke kantor siang, aku akan meminta Nita untuk menghandle semua pekerjaanku sementara.”


“Nitaa..? Siapa dia?” tanya Sofi. Dia seperti tidak asing dengan nama itu.


“Dia sekertarisku!”


Sofi baru ingat perkataan Amel, kalau wanita cantik yang datang bersama Raka ke acara pernikahan kakaknya adalah mantan Raka yang bekerja di perusahaannya. Sofi langsung menampilkan wajah cemberut. “Apa Nita yang datang bersamamu ke acara penikahan kakakku?” tanya Sofi dengan nada cemburu.


“Iyaa..”


“Bukankah dia adalah mantan pacarmu?”


“Dari mana kau tahu?” ucap Raka dengan wajah terkejut.


Sofi memalingkan wajahnya. “Kak Amel yang memberitahuku.”


“Dia hanya mantanku. Aku sudah tidak memilki hubungan apa-apa dengannya,” jelas Raka saat melihat wajah Sofi tampak berubah.


“Tapi, aku dengar dia masih mencintaimu, kalau tidak mana mungkin dia sampai bersusah payah untuk menjadi sekertarismu!”


Raka memiringkan wajahnya agar bisa menatap wajah Sofi. “Apa kau cemburu dengannya?”


“Tidaak,” jawab Sofi ketus.

__ADS_1


Raka mengelus lembut kepala Sofi. Dia tahu saat ini Sofi sedang cemburu kepada Nita. “Aku tidak memiliki perasaan apa-apa padanya, lagi pula Nita cukup profesional soal pekerjaan. Dia bisa membedakan mana urusan kantor dan mana urusan pribadi. Dia juga gadis yang pintar, aku memilihnya menjadi sekertarisku bukan karena aku pernah memiliki hubungan dengannya, tapi karena dia memang layak menempati posisi itu,” ucap Raka lembut.


Dia berusaha untuk menjelaskan dengan hati-hati kepada Sofi agar dia tidak salah paham. “Aku bisa melihat tatapan penuh cinta dari matanya ketika menatapmu. Dia bahkan tidak berhenti tersenyum saat berjalan bersamamu” ucap Sofi tidak suka.


“Sof, aku tidak bisa mengendalikan perasaanya padaku. Aku sudah pernah memberitahunya, kalau aku tidak mungkin kembali padanya lagi. Aku tidak bisa melarangnya untuk berhenti mencintaiku, karena itu haknya. Aku tidak bisa mencampur adukkan masalah pribadi dengan urusan kantor.”


Raka merasa kalau Sofi benar-benar cemburu pada Nita melihat dari ekspresi tidak sukanya saat membicarakan Nita. “Menikahlah denganku, jadilah istriku Sof, hanya itu satu-satunya cara untuk membuatnya berhenti berharap padaku.”


Sofi merasa hatinya panas saat Amel bilang kalau Nita masih mencintai Raka sampai saat ini. “Bagaimana kalau dia masih berharap meskipun kita sudah menikah nanti?”


“Aku sudah pernah memintanya untuk melupakan aku, tetapi dia bersikeras untuk tetap tidak menyerah. Dia bilang sebelum aku menikah, dia tetap akan berusaha memperjuangkan cintanya.”


“Bukankah masih ada 1 wanita tidak berhenti untuk mengejarmu?”


Raka menghela napas panjang. Dia tahu kalau Amel pasti yang menceritakan pada Sofi. “Dia juga mantanku! Tapi aku juga tidak memiliki perasaan apa-apa padanya.”


“Sebenarnya seberapa baik kau memperlakukan mantanmu saat kalian pacaran dulu? Kenapa mereka masih mengejarmu sampai sekarang?” ujar Sofi kesal


“Kau tidak perlu cemburu pada mereka, aku hanya mencintaimu sayang!”


Sofi memalingkan wajahnya. “Aku akan melamarmu secepatnya, agar kau percaya kalau aku cuma mencintaimu,” sambung Raka lagi saat melihat Sofi diam. Raka merasa gemas melihat Sofi ketika sedang cemburu.


Dia heran, kenapa Sofi sangat cemburu kepada mereka. Dari segi wajah Sofi jauh lebih cantik dari mereka, badannya juga bagus. Dia juga wanita yang smart. Bisa dibilang nyaris sempurna, seperti Rendi. Hanya bedanya kakaknya jauh lebih pintar darinya. Wajar saja kalau Willy tidak mau melepaskan Sofi, karena memang Sofi termasuk wanita idaman banyak orang.


“Aku masih muda, aku belum mau menikah muda,” jawab Sofi pelan.


“Aku tidak bisa menunggu terlalu lama Sof. Kau tahu sendiri mamaku memintaku mencari calon istri tahun ini.”


“Bagaimana kalau aku belum siap menikah tahun ini?”


“Terpaksa aku menikah dengan Nita,” jawab Raka asal.


Sofi langsung berdiri dengan mata berkaca-kaca. “Ya sudah, nikahi saja dia. Kalian terlihat cocok bersama.” Sofi langsung pergi meninggalkan Raka dengan langkah cepat.


Raka terkejut saat melihat reaksi Sofi. Dia kemudian menyusul Sofi. “Tunggu Sof!” ucap Raka sambil meraih tangan Sofi. “Lepaskan! Aku tidak mau melihatmu lagi, pergi sana temui Nita!” ucap Sofi dengan suara bergetar.


Raka langsung memeluk Sofi. “Maafkan aku sayang! Aku hanya bercanda! Kenapa kau menaggapi serius perkataanku.”


“Lepaskan.” Sofi berusaha memberontak. “Aku tidak serius dengan perkataanku. Aku hanya bercanda sayang! Sungguh, percayalah padaku!” Raka berusaha menenangka Sofi. "Aku hanya bercanda," sambung Raka lagi.


Sofi mulai tenang saat medengar perkataan Raka. "Jangan terlalu dekat dengan mereka. Kau pasti tidak mau juga kalau aku masih berhubungan dengan Willy."


Raka melepaskan pelukannya. "Baiklah,, tetapi aku tetap tidak bisa memecat Nita. Bagaimanapun dia adalah sekertarisku. Dia melakukan tugasnya dengan baik."


"Asal kau tidak tergoda saja dengannya," ucap Sofi.


"Aku sudah memiliki kekasih yang sangat cantik, untuk apalagi aku tergoda dengan wanita lain. Aku hanya mencintaimu Sof," ucap Raka lembut. "Jangan marah lagi!" sambung Raka. Sofi mengangguk.


Bersambung...


Mohon dukung juga karya Author yang lainnya. Yaitu "Jangan sakiti Aku"


__ADS_1


Dan juga yang berjudul "Cinta Sesungguhnya"



__ADS_2