Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Kehidupan yang sulit


__ADS_3

“Orang itu namanya Evans. Dulu kami sangat dekat, tapi kerena suatu hal kami jadi terpisah dan tidak pernah ketemu lagi. Dia sudah seperti kakak bagiku.”


“Kenapa kau punya banyak sekali Kakak? dulu Raka, sekarang ada Evans, sebenarnya berapa banyak laki-laki yang kau anggap kakak?”


“Tidak ada lagi Kak. Hanya Raka dan kak Evans saja. Tidak ada yang lain, tapi, kalau memang benar dia adalah kak Evans tidak mungkin aku tidak mengenalnya.”


“Bagaimana kalau memang dia orang kau maksud? Apa kau tidak akan menjauhinya?”


“Tidak mungkin aku menjauhinya, Kak. Aku berutang nyawa dengannya. Kakak ingat? ketika aku bilang, aku pernah tenggelam di sungai! kalau bukan karena dia, mungkin aku sudah hanyut terbawa arus, mungkin saja aku sudah tidak ada di dunia ini. Dia juga sering membelaku ketika Aku diganggu oleh orang lain. Bahkan dia sering berkelahi dengan anak-anak lain, saat ada yang mengolok-olok dan menghinaku. Keluargaku juga berutang budi dengan keluarga kak Evans, karena keluarganya banyak membantu keluargaku dulu.”


Rendi tampak terdiam saat mendengar penuturan Amel, tiba-tiba dia diliputi perasaan gelisah. Rendi menundukkan kepala ke bawah sambil menggelengkan kepalanya lalu menghela napas.


”Kalau memang guru itu adalah orang yang kau maksud. Aku tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa? bagaimana bisa aku bersaing dengan orang terdekatmu yang berasal dari masalalumu.”


Bahkan sekarang aku harus bersaing dengan kedua kakakmu, Raka dan Evans, batin Rendi.


“Kakak tidak perlu khawatir! tidak akan ada yang berubah dengan hubungan kita. Kakak akan tetap menjadi pacarku. Aku hanya perlu memastikan apakah benar dia adalah kak Evans atau bukan, Aku memang tidak tahu nama lengkap kak Evans, tapi aku tahu nama panggilan waktu dia kecil, hanya keluargaku dan keluarganya saja yang memanggil dia dengan nama kecilnya.”


“Kau bilang, kalian sangat dekat, bagaimana bisa kau tidak tahu nama lengkapnya?”


“Karena memang dulu aku tidak pernah menanyakannya, dia juga tidak pernah menyebutkan nama lengkapnya. Sebenarnya dia bukan berasal dari kampungku, keluarganya mempunyai perkebunan dan pabrik teh yang berada tidak jauh dari rumahku. Karena semua perkebunan teh yang ada di sana milik keluarga kak Evans, jadi rata-rata penduduk di sana bekerja dengan kelurganya, termasuk keluargaku. Kakekku adalah orang kepercayaan keluarga kak Evans. Karena itu keluargaku dengan keluarga kak Evans dekat. Setiap libur akhir pekan, pasti kak Evans selalu ke kampungku untuk bertemu denganku, karena dia tinggal di jakarta jadi kami tidak bisa bertemu setiap hari."


Amel memberi jeda sejenak. "Sampai suatu hari, dia tiba-tiba menghilang. Tidak ada kabar satupun darinya. Keluarganya pun sudah tidak pernah datang lagi ke kampungku. Aku dengar, segala urusan pabrik dan kebun teh diurus oleh asisten ayahnya. Semenjak saat itu, aku sudah tidak pernah bertemu dengannya lagi sampai saat ini. Aku pikir mungkin dia sudah melupakan aku,” terang Amel sambil terseyum paksa.


“Apa kau berharap bertemu dengannya lagi?” Rendi merasa tidak nyaman saat melihat guratan kesedihan terpampang jelas di wajah Amel, saat dia menceritakan tentang Evans.


“Aku juga tidak tahu, aku sangat marah dengannya karena pergi meninggalkanku tanpa pamit, padahal dia tau, kalau aku sangat bergantung dengannya dulu. Dia selalu menjagaku dari orang-orang yang menindasku.”


“Apa kau begitu menderita saat kau masih kecil?”


“Orang-orang sering mengolok-olok aku karena tidak mempunyai ayah, bahkan kak Evans pernah memukuli anak laki-laki sampai babak belur karena menghinaku, sebagai anak yang dipungut dari tempat sampah. Terkadang aku iri melihat orang lain yang memiliki keluarga lengkap, setiap ada acara di sekolah yang mengharuskan untuk ayah datang, ibu pasti meminta pamanku untuk mewakilkan, terkadang ibu yang datang. Ibuku juga sering dipandang rendah oleh orang lain." terdengar suara Amel sedikit bergetar.


"Aku juga sering melihat ibuku diam-diam menangis karena hinaan orang lain terhadapku dan keluargaku. Ibu selalu terlihat tegar di depanku. Mungkin dia tidak ingin aku ikut sedih. Kalau bukan karena bantuan dari keluarga kak Evans, mungkin keluargaku tidak akan seperti sekarang. Dulu kami sangat kesulitan,” ucap Amel dengan suara bergetar karena menahan air matanya.


Rendi menggenggam tangan Amel saat melihat mata Amel sudah berkaca-kaca. “Kenapa kau tidak pernah menceritakan kepadaku sebelumnya?”


Amel mendongakkan kepalanya ke atas sejenak, mencegah air matanya jatuh. “Itu hanya masalalu Kak, tidak ada gunanya menceritakannya.”


“Tapi aku ingin tahu bagaimana kehidupanmu sebelum bertemu denganku,” ucap Rendi menatap serius wajah Amel.


Amel tersenyum kecil. "Baiklah.. nanti aku menceritakannya nanti, tidak sekarang, karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.”


Rendi mengangguk. “Oke, mulai sekarang aku yang akan menggantikan dia menjagamu, tidak akan kubiarkan, ada yang menghina apalagi menyakitimu, kau harus menceritakan apapun masalahmu kepadaku. Kau tidak boleh merahasiakan apapun kepadaku!”


“Iyaa kak,” Amel tersenyum hangat kepada Rendi.

__ADS_1


Setelah bel masuk berbunyi, Rendi berjalan menuju kelasnya setelah mengantarkan Amel.


******


Hari terus berlalu. Sudah 3 minggu berlalu semenjak Rendi memutuskan untuk bersekolah kembali. Setiap hari selama jam istirahat, Amel selalu makan dengan Rendi dan pulang bersamanya.


Devan juga terlihat masih menghindari Amel. Dia juga tidak pernah berbicara lagi dengan Amel. Awalnya Amel merasa sedikit ada yang mengganjal di hatinya, tapi lama-lama dia terbiasa. Kehadiran Rendi membuatnya melupakan sikap aneh Devan.


Hari-hari dilewati Amel dan Rendo dengan bahagia. Hanya asa sedikit gangguan kecil di sekolah dari orang yang tidak menyukai Amel. Karena Rendi selalu bersama dengan Amel di sekolah. Siska tidak mempunya kesempatan untuk mendekati Rendi lagi. Terkadang dia ingin melabrak Amel, tetapi Rendi selalu melindungi Amel.


Hari ini Rendi berecana mengajak Amel untuk makan di salah satu restoran terkenal yang ada di pusat kota yang sudah sering dia kunjungi bersama dengan Amel sepulang sekolah. "Kau ingin makan apa, Mel?"


"Black Angus Sirloin, Kak."


Rendi tertawa kecil. "Apa kamu tidak bosan makan iti terus setiap ke sini?"


"Tidak. Itu adalah makanan kesukaanku. Kakak harus inget terus makanan kesukaan aku biar nggak lupa sama aku," gurau Amel.


"Mana mungkin aku ngelupain kamu Mel. Kami aja yang suka lupa sama aku." Rendi pura-pura menampilkan wajah cemberutnya.


"Nggaklah. Masa pacar setampan ini aku lupain."


"Kak, aku uda lama nggak lihat Friska, dia ke mana?" Biasanya Friska sering sekali ke rumah Rendi saat Amel berada di sana, tapi sudah 2 minggu ini dia tidak pernah bertemu dengan Friska.


"Dia lagi pulang ke Jerman. Mungkin dia bakal balik ke sini sebentar lagi," jawab Rendi acuh tak acuh.


"Jangan bahas dia."


Amel tersenyum. "Habis ini kita ke mana?"


"Langsung pulang aja ya. Aku lagi banyak tugas."


Sesampainya di rumah Rendi, Amel menuju kamar Sofi, sementara Rendi sibuk demgan tugas sekolahnya. Dia sengaja pergi ke kamar Sofi karena tidak mau mengganggu Rendi.


"Kak. Besok malam nginap di sini dong. Lusa kan libur. Kakak kan nggak pernah nginap di sini. Nanti tidur sama Sofi."


Amel berpikir sejenak. "Tapi Kakak nggak enak kalau nginap di sini?"


"Nggak enak kenapa?"


"Nggak enak sama orang tua kamu." Setiap hari Amel selalu ke rumah Rendi karena di paksa oleh Rendi. Sebenarnya dia malu dengan ibu Rendi karena selalu datang ke rumahnya.


"Nggak enak kenapa? Mama justru senang kalau kakak nginap di sini karena jadi rame. Mama sering bilang sama Sofi suruh Kakak nginap di sini."


"Iyaa sih, tapi Kakak tetap ngerasa nggak enak Sofi."

__ADS_1


"Pleaaasee dong Kak. Nanti kita bikin acara barbeque di halaman belakang dekat kolam renang. Pasti seru deh," usul Sofi.


"Ayoooolah Kak," bujuk Sofi lagi dengan wajah memohon.


Setelah menimang beberapa saat, Amel akhirnya menyetujuinya. "Okee deh."


Sofi langsung bersorak gembira setelah mendengar jawaban Amel. "Besok pulang sekolah langsung ke sini ya Kak?"


"Iyaaa."


*******


“Kita mau ngapain kak?” tanya Amel saat mereka sudah memasuki loby salah satu sebuah Mall terbesar di jakarta. Pulang sekolah mereka langsung dijemput oleh pak Iyan.


“Aku ingin mengambil sebuah barang yang sudah aku pesan,” ujar Rendi yang masih menarik tangan Amel.


Amel tidak banyak bertanya lagi. Dia hanya mengikuti kemana Rendi membawanya. Rendi langsung menuju lantai 3 dan memasuki sebuah toko dengan brand baju terkenal.


“Kakak mau beli baju?” Amel memandang wajah Rendi yang tampak mengedarkan pandangannya ke seluruh toko tersebut.


“Hhmm,” gumam Rendi. Dia mengambil beberapa setel pakaian, dia lalu menyerahkan ke Amel “Kau coba dulu semua pakaian ini ” pinta Rendi.


“Kakak mau ke mana?” tanya Amel saat melihat Rendi akan keluar dari toko itu.


Rendi membalikkan sedikit tubuhnya saat mendengar pertanyaan Amel. “Aku ada perlu sebentar, kau tunggu di sini, jangan ke mana-mana.” Rendi berjalan setelah selesai berbicara.


Melihat Rendi sudah keluar toko, Amel pun berjalan ke kamar ganti untuk mecoba pakaian yang diberikan Rendi tadi. Ketika Amel sudah selesai mencoba semua pakaian, Amel keluar dari ruang ganti. Dia mengedarkan pandangannya mencari sosok Rendi, tapi Amel tidak menemukannya.


“Apakah baju-baju ini mau langsung dibayar?” tanya pegawai toko yang berdiri di sampingnya, saat melihat Amel tampak bingung.


Amel tersenyum canggung. “Nanti mbak, saya lagi tunggu seseorang,” jawab Amel tidak enak hati, jujur saja, dia tidak mempunyai uang untuk membayar baju-baju itu. Dia bahkan dibuat sakit perut saat melihat label harganya tadi.


Wajah pegawai tadi tampak masam setelah mendengar penuturan Amel. Dia memandang Amel dari atas ke bawah. Seperti sedang menilai penampilan Amel. Amel yang ditatap seperti itu merasa risih. Dia tau kalau pegawai di depannya pasti berpikir kalau dia tidak akan mampu membayar baju-baju itu.


Pegawai toko itu langsung meninggalkan Amel setelah selesai memandangnya tadi. Terlihat dia menghampiri beberapa pegawai toko lain. Mereka tampak berbisik-bisik sambil melemparkan tatapan meremehkan kepada Amel.


Amel hanya diam dan berpura-pura tidak melihat. Karena Rendi tidak juga datang, akhirnya Amel memutuskan untuk keluar dari toko itu dan menunggunya tidak jauh dari toko itu.


“Maaf mbak, saya tidak jadi membeli baju ini,” ujar Amel dengan wajah tidak enak sambil menghampiri pegawai tadi lalu menyerahkan baju yang sudah dicoba tadi.


Seketika pegawai toko itu langsung mengambil baju-bajunya sedikit kasar, lalu berbalik meninggalkan Amel dengan wajah masam.


“Bukannya bilang dari tadi. Harusnya sebelum ke kamar ganti, lihat harganya dulu. mana sudah di coba semua lagi, buat baju ini kotor aja,” gerutu pegawai toko itu. Amel hanya diam saat mendengar perkataan pegawai toko itu.


“Kenapa kau berdiri di situ?” Amel menoleh setelah mendengar suara Rendi yang berasal dari belakangnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2