Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Posesif


__ADS_3

"Aku tidak bercanda. Memangnya kamu nggak mau sama aku?" Rendi menatap Amel dengan sorot mata yang serius.


Amel yang ditatap seperti itu langsung mengalihkan pandangannya ke samping dengan dada yang berdebar kencang. "Aku... Aku sudah selesai makan, Kak." Amel berdiri dan ingin menghindari pertanyaan Rendi yang tidak bisa dia jawab.


"Kamu mau ke mana?" tanya Rendi saat melihat Amel yang sudah berjalan meninggalkannya.


Rendi menghela napas. Ada rasa kecewa saat Amel tidak menjawab pertanyaannya tadi. Rendi pun kemudian menyusul Amel yang sudah tidak terlihat lagi.


Amel duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi. "Kamu kenapa kabur?" tanya Rendi yang baru saja duduk di samping Amel.


"Amel bukan kabur, tapi Amel mau buru-buru pulang Kak, ini sudah malam."


"Tunggu di sini, aku cari mama dulu di kamar." Amel mengangguk, kemudian Rendi berjalan ke kamar orang tuanya.


"Kakak belum pulang?" Terdengar suara Sofi dari belakang Amel.


Amel mengalihkan pandangannya mencari sumber suara itu. "Belom Sofi, ini baru mau pulang. Lagi nunggu Kak Rendi." Amel tersenyum melihat Sofi yang sekarang sudah berada di depannya.


"Memangnya, kak Rendi ke mana?" Sofi menoleh ke Amel dengan wajah heran.


"Lagi ke kamar mama kamu."


"Kak, Sofi boleh minta nomer Kakak nggak? Biar kita bisa janjian kalau Sofi lagi bosen di rumah." Sofi kemudian mengeluarkan ponselnya.


"Boleh dong, sini handphone kamu." Amel menerima ponsel Sofi lalu mengetik nomer telponnya dan menyimpannya, setelah selesai dia mengembalikannya lagi.


"Makasih, Kak." Sofi mengambil ponselnya.


"Memang kamu nggak pernah keluar bareng sama temen sekolah kamu, Sofi?"


"Jarang Kak. Sofi cuma punya temen sedikit."


"Kenapa? Kamu kan cantik. Pasti banyak yang mau berteman sama kamu."


"Iyaa banyak, tapi cuma sekedar kenal aja Kak, nggak akrab."


Amel tersenyum. "Sepertinya kamu mirip sama Kakak kamu."


"Apanya yang mirip?"


"Aku yakin dengan wajah kamu yang seperti ini, pasti banyak sekali yang ingin berteman dengan kamu. Hanya saja, mungkin kamu yang tidak mau untuk berteman dengan banyak orang."


"Sofi itu introvert, Kak"


"Kamu harus belajar bersosialisasi dengan teman sebaya kamu Sofi. Mungkin sulit di awal tapi lama-lama akan biasa," nasehat Amel.


"Iyaa Kak, padahal masa SMA adalah waktu terbaik untuk memperbanyak teman dan menambah wawasan," ucap Amel memegang tanga Sofi, "nanti kalau kamu mau, kak Amel akan sering-sering aja kamu keluar. Yang terpenting tidak mengabaikan urusan sekolah," lanjut Amel lagi.

__ADS_1


Mata Sofi berbinar mendengar perkataan Amel. "Beneran, Kak?" tanya Sofi dengan senyum lebar.


"Iyaa beneran, ngapain juga kakak bohong."


Sofi langsung memeluk Amel dengan cepat. "Makasih kak Amel, Sofi seneng banget."


"Kamu ngapain peluk-peluk pacar kakak?" Rendi menarik kerah belakang baju Sofi menjauhkannya dari tubuh Amel.


Amel nampak terkejut dengan kedatangan Rendi yang tiba-tiba.


Sofi melotot. "Kakaaak..sakit tahu," ujar Sofi dengan wajah sebal.


Rendi duduk di sebelah Amel dan menggeser tubuh Sofi dengan wajah acuh tak acuh. "Kakak udah pernah bilang jangan suka peluk Amel." Rendi melayangkan tatapan tidak suka pada adiknya.


"Kak, apa salahnya sih? Sofi kak cewek, wajarlah kalau peluk kak Amel," ujar Sofi kesal, "Sofi yang meluk aja kakak marah, apalagi kalau cowok." Sofi bergidik ngeri membayangkannya bagaimana reaksi kakaknya jika hal itu terjadi.


Wajah Rendi terlihat berubah. "Kakak nggak akan biarin siapapun memeluk Amel, apalagi kalau cowok," ujar Rendi dingin.


"Kakak terlalu posesif, yang ada nanti kakak Amel kabur karena nggak tahan sama sikap Kakak," ujar Sofi mengomel.


Amel hanya bisa diam sambil mendengarkan pertengkaran adik-kakak itu.


"Wajar kalau kakak nggak ijinin Amel buat dekat sama cowok lain, dia kan pacar kakak."


"Kalau masih pacaran nggak apa-apa Kak kalau sekedar dekat sama yang lain. Kak Amel kan juga mau nyari yang terbaik. Kalau pacaran kan bisa putus kapan aja," ujar Sofi enteng.


Rendi terlihat kesal dengan ucapan Sofi. "Kamu doain kakak putus sama Amel?" Tatap Rendi dengan tajam dan aura dingin.


"Sampai kapanpun kakak nggak akan putusin Amel. Kakak nggak akan ngelepasin dia." Rendi mengalihkan pandangannya ke samping dengan wajah kesal.


"Bagus kalau gitu. Sofi senang kalau Kakak bisa awet sama kak Amel." Sofi tersenyum paksa karena takut dengan tatapan Rendi tadi. Sepertinya kakaknya benar-benar mencintai Amel. Terlihat sekali dari raut wajahnya saat berbicara tadi.


Amel tidak terlalu menganggap serius ucapan karena dia pikir Rendi hanua berakting. Dia tidak tahu kalau ucapan Rendi itu berasal dari hatinya, yang Amel tahu adalah Rendi hanya berpura-pura saat ini.


"Ayuuk, aku anter pulang sekarang." Rendi yang sudah berdiri, menunduk menatap Amel.


"Mama Kakak mana?" Amel mengangkat kepalanya melihat ke Rendi dengan wajah heran.


"Mama belum pulang. Nanti aku sampaiin ke mama kalau kamu uda pulang duluan." Rendi kemudian mendekati Amel.


"Sofi, kak Amel pulang dulu ya?" Amel melambaikan tangan ke Sofi sambil tersenyum.


"Iyaa Kak, hati-hati di jalan." Sofi melambaikan tangan juga sambil membalas senyuman Amel.


Rendi dan Amel berjalan keluar rumah dan menaiki mobil Rendi yang dibawa oleh pak Iyan.


Sepanjang perjalanan, tidak ada yang membuka suara. Amel hanya diam sambil memandang keluar. Sementara Rendi memikirikan perkataan adiknya. Rendi merasa terganggu dengan ucapan adiknya tadi.

__ADS_1


Bagaimana kalau suatu saat Amel ternyata berjodoh dengan orang lain, bukan dirinya. Apalagi sekarang dia hanya pura-pura pacaran dengan Amel. Dia tidak punya alasan yang kuat untuk menahan Amel agar tetap di sisinya.


Mereka akhirnya tiba di kos Amel dan segera turun dari mobil. Amel kemudian berjalan sampai pintu masuk diikuti Rendi di belakangnya lalu berbalik berhadapan dengan Rendi.


"Makasih Kak uda anterin Amel."


"Kamu dengarkan tadi ucapan aku sama Sofi?"


"Yang mana?" tanya Amel heran.


"Aku nggak ijin kamu buat dekat dengan siapa pun selama kita masih pura-pura pacaran."


"Iyaa Kak, tapi Amel nggak bisa jauhin Raka."


"Kalau bisa jangan terlalu dekat sama dia!."


"Kenapa?"


"Aku tidak suka!" ucap Rendi dengan wajah serius.


"Kalau gitu kakak juga nggak boleh dekat sama siappun."


"Apa kamu pernah lihat aku sama cewek lain?" Rendi mensejajarkan wajahnya dengan Amel dan menatapnya lekat-lekat.


"Banyak, terutama di sekolah."


Amel mengalihkan pandangannya ke samping karena takut Rendi tahu kalau dia sebenarnya cemburu kalau Rendi dekar dengan cewek lain.


"Mereka yang dekatin aku. Aku nggam pernah ngerespon mereka."


Amel menatap Rendi dengan raut wajah tidak percaya. "Tapi aku sering liat kakak berduan sama Siska."


"Dia yang selalu ikutin aku, padaham aku uda sering bilang sama dia kalau aku nggak suka di deket-deket aku."


Amel melirik sekilas dengan alis terangkat. "Bagaimana dengan Friska?"


Rendi menarik wajahnya kembali lalu berdiri tegak. Tangan satunya dimasukkan ke dalam saku celananya sambil berpikir.


"Aku sedang mencari cara untuj menjauhinya, maka dari itu, aku meminta bantuanmu untuk berpura-pura jadi pacarku waktu itu."


"Bagaimana kalau dia tidak menyerah?"


"Maka kamu harus tetap jadi pacarku."


Ternyata sikap baiknya selama ini karena dia butuh bantuanku. Jadi kalau tujuannya sudah tercapai, dia pasti tidak butuh aku lagi di sisinya dan akan membuangku.


"Tapi aku tidak bisa menjamin sampai kapan aku bisa membantu Kakak. Aku juga punya kehidupan pribadi sendiri. Suatu saat aku juga membutuhkan seseorang untuk berada di sampingku" jelas Amel. Ada rasa sedih ketika mengingat kalau nanti dia tidak lagi bisa berada di dekat Rendi.

__ADS_1


"Tidak bisakah kalau hanya aku yang ada di sampingmu?"


Bersambung...


__ADS_2