Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Kamar Pengantin


__ADS_3

Mata Amel terbelalak saat melihat kamar pengantin mereka. Tempat tidur berwarna putih sudah di tebar bunga mawar merah secara acak. Di seluruh lantai juga sudah di taburi bunga. Beberapa lilin rakasasa diletakkan di beberapa tempat dan sudut ruangan menambah kesan romantis pada kamar pengantin mereka.


Serangkaian bunga diletakkan di atas nakas. Sementara di tengah di tempat tidur sudah ada gambar berbentuk hati yang di dalamnya terdapat nama Rendi dan Amel yang dibentuk menggunakan kelopak bunga mawar.


Amel dibuat terpaku dengan dekorasi kamar pengantin mereka. Suasana romantis dan hangat tercipta ketika mereka baru saja masuk.


Rendi membimbing Amel untuk melihat ke kamar mandi. Di dalam Bathup juga sudah ditaburi bunga mawar. Di dekat bathup sudah ada lilin raksasa yang sudah menyala.


Amel masih belum bisa berkata-kata. Dia sangat takjub dengan dekorasi kamat pengantin mereka. Rendi memeluk Amel dari belakang. “Apa kamu suka sayang?” ucap Rendi lembut.


Amel menoleh sedikit kemudian mengangguk. “Aku suka sekali kak,” ucap Amel dengan senyum bahagia. Rendi melepaskan pelukannya. “Kalau begitu aku mandi duluan. Kau bisa melepaskan baju dan menghapus riasan di wajahmu dulu.”


Amel mengangguk. Dia berjalan menuju meja rias. “Kak, bisakah kau tolong bantu aku dulu untuk melepaskan gaunku,” pinta Amel. Dia tidak bisa melepaskan sendiri. Rendi langsung menghampiri Amel lalu berdiri di belakangnya. “Jangankan hanya melepas gaunmu sayang, memandikanmu saja aku mau,” goda Rendi sambil membantu Amel membuka gaun Amel. “Dasar mesum!” teriak Amel dengan wajah memerah.


“Geli kak,” ucap Amel ketika Rendi menelusuri punggungnya dengan jari tangannya. Rendi menghentikan tangannya lalu berbisik pada Amel. “Apa kita mandi bersama saja supaya mempersingkat waktu?” Amel menjauhkan wajahnya dari Rendi. “Berhenti menggodaku kak. Sudah mandi sana!” usir Amel dengan wajah memerah.


“Baiklah aku akan mandi sendiri malam ini, tetapi besok kita akan mandi berdua,” ucap Rendi enteng. “Aku akan mandi dulu. Persiapkan dirimu untuk malam pertama kita. Aku tidak akan melepaskamu malam ini.” Rendi berjalan meninggalkan Amel yang tampak terkejut. Wajah Amel menegang saat mendengar ucapan Rendi.


Setelah Amel berhasil melepas gaunnya, dia memakai bathrobe lalu mulai menghapus riasan di wajahnya. Amel mulai gugup saat mengingat ucapan Rendi tadi. Terlihat dia beberapa kali mengatur pernapasannya. Tidak butuh waktu lama Rendi sudah keluar dari kamar mandi.


“Mandilah sayang. Aku akan menunggumu,” ucap Rendi sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah. “Jangan lama-lama,” ucap Rendi sambil tersenyum jahil pada Amel ketika dia akan melangkah ke kamar mandi.


Amel tidak menghiraukan perkataan Rendi. Dia buru-buru berjalan masuk dan menutup pintu kamar mandi. Rendi tersenyum senang karena sudah berhasil mengerjai Amel. Rendi berjalan ke tempat tidur, lalu dia duduk bersandar pada sandaran tempat tidur sambil menunggu Amel selesai mandi.


Amel keluar kamar mandi dengan wajah ragu. Dia masih mengenakan bathrobe, rambutnya sudah di keringkan. “Kak bajuku kenapa tidak ada?” tanya Amel setelah tadi mencari-cari di dalam tas yang dibawa Sofi ke kamar pengantin mereka. Rendi meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian menoleh pada Amel. “Kau tidak usah pakai baju sayang, seperti itu saja,” ucap Rendi enteng. “Kemarilah.” Rendi menepuk tempat tidur kosong di sebelahnya.


Amel tampak ragu. “Tapi kak..”

__ADS_1


Melihat Amel belum juga bergerak, Rendi berdiri dan menghampiri Amel. “Turunkan aku kak!” teriak Amel ketika Rendi tiba-tiba menggendongnya. Rendi menurunkan Amel dengan hati-hati. Dia mendudukan Amel di tepi tempat tidur. “Mulai sekarang, kalau aku memanggilmu kau harus segera menghampiriku, jika tidak aku akan menggendongmu seperti tadi lagi,” ucap Rendi dengan suara berat.


Amel hanya diam sambil menunduk. Rendi meraih dagu Amel. “Tatap aku Mel, jika aku sedang berbicara denganmu,” ucap Rendi sambil menatap dalam mata Amel.


“Maaf kak Aku hanya malu,” ucap Amel pelan.


“Kau harus terbiasa mulai sekarang.”


Amel mengangguk. Rendi berjalan ke sisi lain tempat tidur, lalu dia naik ke tempat tidur dan bersandar. “Tidurlah..Ini sudah malam. Kau pasti lelah,” ucap Rendi pelan. “Haah tidur?” Amel tampak terkejut ketika Rendi menyuruhnya tidur.


“Kenapa? Apa kau kecewa karena aku tidak menyentuhmu saat malam pertama kita? Jangan-jangan kau mengharapkan kita melakukannya malam ini juga?” Rendi mulai menggoda Amel lagi.


Amel menggeleng cepat. “Tidak.. Tentu saja tidak! Itu karena kakak terus menggodaku, jadi aku pikir kakak beneran ingin melakukannya malam ini juga.” ucap Amel polos.


“Apa kau bersedia kalau aku memintanya sekarang?” tanya Rendi dengan suara berat.


“Tidurlah Mel. Aku tidak akan memaksamu,” ucap Rendi lembut.


Amel tampak merasa bersalah pada Rendi, apalagi saat dia teringat dengan perkataan ibunya yang mengatakan kalau dia harus menuruti perkataan suaminya nanti, jika sudah menikah dan tidak boleh mengecewakan suaminya. Amel mulai berpikir sejenak. Seharusnya dia tidak ragu dalam menjawab pertanyaan Rendi tadi.


Amel duduk di samping Rendi. “Aku bersedia kak,” ucap Amel tiba-tiba.


Rendi membelai pipi Amel dengan lembut. “Jangan memaksakan dirimu. Masih banyak waktu untuk kita melakukannya Mel."


Sebeneranya Rendi menginginkan Amel, tetapi melihat Amel tampak lelah dan tampak masih ragu, Rendi memutuskan untuk menundanya.


Rendi memang pernah berjanji pada dirinya sendiri, untuk tidak memaksakan kehendaknya pada Amel. Dia ingin melakukannya tanpa adanya paksaan.

__ADS_1


“Aku tidak terpaksa kak. Aku hanya sedikit takut saja. Aku juga malu kak. Aku belum pernah melakukannya, orang bilang akan menyakitkan kalau melakukan untuk pertama kali, makanya aku sedikit ragu tadi,” jelas Amel sambil menunduk.


Rendi tersenyum tipis. “Apa kau yakin akan melakukannya malam ini? Aku masih bisa sabar menunggu sampai kau siap Mel.”


Amel mengangguk cepat. “Aku yakin kak,” ucap Amel mantap.


“Pikirkan baik-baik dulu Mel.”


“Aku sudah pikirkan kak, jawabanku tetap sama. Aku siap melakukannya malam ini.”


“Dengar Mel. Aku tidak akan akan berhenti, jika aku sudah memulainya,”


“Lakukanlah kak.”


Rendi menatap Amel sejenak, dia tampak berpikir keras. "Katanya kau takut?"


"Iyaaa, tapi aku akan tetap merasakannya juga. sekarang atau nanti sama saja kak. Sakitnya akan sama. Tidak ada gunanya kalau aku menundanya kak."


"Apa kau tidak lelah?"


Amel menggeleng cepat. "Tidak kak."


Rendi duduk di depan Amel. Dia mulai mencium kening Amel, lalu turun ke mata, pipi, dan berhenti di hidung.


Rendi merapikan rambut halus di wajah Amel setelah itu menatap lekat mata Amel. "Aku tanya sekali lagi, apa yakin dengan keputusanmu?" Rendi menatap mata Amel secara bergantian.


Amel tersenyum lalu mengangguk mantap. "Aku sangat yakin kak. Lakukanlah," ucap Amel lembut.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2