
Raka masih memegang lengan Amel untuk menahan tubuh Amel agar tidak jatuh lagi. Amel menoleh pada Raka. “Bang, dia sudah pergi! Amel harus menemui Rendi."
Amel melepaskan tangan Raka. “Dia nggak boleh pergi begitu aja! Nggak bisa, aku haru menyusulnya,” ucap Amel linglung, tatapannya tampak tidak fokus. Amel berjalan modar-mandir di depan mobil Raka, sambil terus bergumam.
“Ini semua salahku, harusnya aku tidak menyakiti hatinya dengan tingkah dan perkataanku. Ini tidak boleh terjadi. Dia tidak boleh meninggalkan aku tanpa berpamitan dulu. Aku bahkan belum meminta maaf padanya! Dia bilang sangat mencintaiku. Aku tidak bisa membiarkannya dia pergi.”
Amel terus meracau. Matanya terus bergerak kanan dan kiri sambil meremas kedua tangannya. Dia mulai berjalan tanpa arah.
Raka memegang lengan Amel yang terlihat sudah panik dan tidak bisa berpikir jernih. Rakan menahan tubuh Amel supaya tidak terus berjalan dengan gusar. “Mel, kamu mau kemana?”
Amel tidak lagi memperdulikan sekitarnya. Pikirannya sudah kacau saat mengetahui kalau Rendi tidak akan kembali lagi ke indonesia. “Bang, lepaskan aku. Aku harus segera menyusulnya. Ini salahku, aku harus meminta maaf padanya!” Amel menghempaskan tangan Raka dan mulai berjalan lagi sambil terus bergumam.
Raka mengejar Amel yang terlihat berjalan cepat meninggalkan rumah Rendi. “Tunggu Mel, kamu harus tenang dulu! Jangan panik. Kendalikan dirimu..!!” ucap dengan suara keras Raka saat melihat Amel sudah tidak bisa mengontrolnya dirinya.
Amel terus menangis. “Apa abang tidak dengar..?? pak Iyan bilang dia tidak akan pernah kembali lagi ke sini..!! Dia sudah pergi..!!” teriak Amel dengan emosi.
Raka meraih tubuh Amel dan memeluknya “Maafkan aku, kita akan menyusulnya, tapi kamu harus tenang dulu!” ucap Raka menenangkan Amel.
Amel menangis dengan suara keras. “Dia meninggalkan aku bang! Dia marah denganku! Pasti dia sangat mebenciku saat ini! Dia bahkan tidak memberiku kesempatan untuk meminta maaf. Aku juga belum mendengar penjelasannya bang, tapi dia sudah pergi. Bagaimana aku bisa melalui hari-hariku nanti, kalau dia tidak ada! Aku tidak bisa melupakannya bang, aku sangat mencintainya,” ujar Amel bercampur dengan suara tangis.
Raka mengelus kepala Amel. “Iyaa, aku mengerti.. tenanglah!”
“Kalau aku tahu dia akan pergi, aku akan menahannya semalam. Aku bahkan tidak mengabulkan permintaan terakhirnya untuk memelukku semalam. Harusnya aku sadar kalau dia akan pergi, ketika dia mengucapkan selamat tinggal. Pasti dia sangat kecewa denganku.”
Raka melepaskan pelukannya. Raka menatap wajah Amel yang terlihat sudah dibanjiri air mata. “Kita akan menyusulnya sekarang! Kau harus tenang dulu! Kamu tidak boleh panik! Bisa?” tanya Raka dengan lembut.
Amel mengangguk. “Baiklah kalau begitu! Ayyooo,” ajak Raka saat melihat Amel yang sudah tenang. Rakan dan Rendi berjalan mengahampiri pak Iyan yang terlihat sedari tadi memperhatikan mereka berdua.
“Pak, kita kira-kira jam berapa penerbangan mereka?” tanya Amel pada pak Iyan saat sudah berada di depannya.
“Kalau non Amel mau bertemu, kemungkinan masih sempat non kalau menyusul sekarang, penerbangan mereka pukul 2 siang” jelas pak Iyan saat melihat Amel yang tampak terlihat panik.
__ADS_1
Amel melihat jam tangannya, masih ada waktu 2 jam sebelum jadwal keberangkatan Rendi. Amel langsung menoleh pada Raka setelah mendengar perkataan pak Iyan. “Bang, ayo cepat bang, kita harus menyusul ke bandara!” Raka langsung mengangguk.
Mereka langsung berpamitan dengan pak Iyan dan pergi meninggalkan rumah Rendi. Dalam perjalan Amel terus saja melihat jam tangannya, bergantian melihat jalanan yang ada di depannya. Jarak rumah Rendi lumayan jauh, membutuhkan waktu 1 jam 40 menit untuk sampai di bandara. Itu artinya kalau Amel tiba tepat waktu dia masih memiliki waktu sekitar 20 menit untuk bertemu dengan Rendi.
“Bang, bagaimana kalau kita nggak berhasil menyusul, bagaimana kalau kita terlambat?” tanya Amel sambil terus meremas ke dua tangannya.
Raka menoleh sebentar pada Amel sambil terus menyetir, dia memgang tangan Amel dengan tangan kirinya. “Kamu tenang dulu, kita pasti bisa sampai tepat waktu!” ucap Raka menenangkan saat melihat wajah panik Amel.
“Apa dia marah dengan perkataan Amel ? Dia bahkan tidak mau kembali lagi ke sini?” ucap Amel dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.
“Jangan berkata seperti itu!” ucap Raka menenangkan.
Amel terus saja terlihat gelisah saat berada di pejalanan menuju bandara. Raka melajukan mobilnya sedikit cepat. Untung saja hari minggu jalanan tidak macet, sehingga masih ada kesempatan untuk bisa menyusul Rendi, sebelum jam keberangkatannya pesawatnya.
Amel langsung berlari saat Raka sudah berhasil memarkirkan mobilnya meninggalkan Raka yang baru saja turun dari mobil. Langkah Amel terhenti saat dia tidak bisa masuk ke pintu masuk bandara karena harus menunjukkan tiket untuk bisa masuk ke dalam bandara.
Amel langsung menoleh pada Raka saat sudah berada di sampingnya dengan napas terengah-engah. “Bang nggak bisa masuk, bagamana ini? Waktunya tinggal 25 menit lagi,” ucap Amel panik
Setelah berada di dalam bandara, Amel dan Raka terlihat berlari dengan cepat, waktu mereka tinggal 20 menit lagi. Mereka berlari menuju gate keberangkatan internasional, karena lokasinya cukup jauh dari gate kebrangkatan domestik. Mereka harus berlari agar bisa mengejar waktu.
******
“Kau pulanglah! Sebentar lagi aku akan masuk ke dalam! Sebentar lagi pesawatku akan lepas landas,” ucap Rendi pada Kenan yang ikut mengantar kepergiannya ke bandara.
“Baiklah, kau hati-hati di sana! nanti aku akan menyusulmu jika aku sudah selesai ujian sekolah,” ucap Kenan menepuk bahu Rendi.
“Aku bukan pacarmu! Untuk apa kau menyusulku!” ucap Rendi ketus.
“Aku masih normal, maksudku aku akan kesana sekalian liburan, nanti temani aku saat aku ke sana.”
“Kau ini gila ya..? aku ke sana untuk berjuang untuk hidup, bukan untuk bersenang-senang!”
__ADS_1
Kenan mengangguk-angguk. “Aku tahu, kau jangan terlalu serius! Kau bisa cepat tua nanti!”
“Lebih baik kau bersihkan otakmu agar bisa lebih berguna sedikit, berhentilah bermain-main!”
Kenan menghela napas. “Kenapa kau mengejekku? Jika saja kau tidak sakit sudah kupukul kepalamu itu!” ucap Kenan kesal “Sudah pergi sana! Aku tidak tahan melihat wajah jelekmu itu!”
“Aku juga tidak sudi melihat wajahmu lama-lama! Membuat hariku menjadi suram! Aku pergi!” ucap Rendi sambil berjalan menuju keluarganya, terlihat dari kejauhan ada Sofi, dokter Jhon, dokter Bianca, dan Lilian sedang menunggu di depan pos pemerikasaan terakhir saat akan memasuki pesawat.
“Hati-hati!” teriak Kenan saat melihat Rendi sudah berjalan meningalkannya. Rendi tampak mengangguk dari kejauhan.
Setelah itu Kenan berbalik meningglkan ruang tunggu tersebut.
“Ren..!! Ayyooo!” teriak Lilian saat melihat Rendi tampak berdiri dan terus saja menoleh ke arah pintu masuk gate 2. Dia seperti sedang menunggu seseorang datang.
“Rendi..!!” Rendi menoleh saat mendengar teriakan mamanya untuk yang kedua kalinya. Rendi mengangguk dan berjalan menghampiri mamanya. Rendi berhenti serelah berada tepat di depan mamanya sementara yang lain sudah memasuki pesawat.
“Ayo kita masuk, sebentar lagi peswat kita akan berangkat!” ucap Lilian saat mendengar panggilan terakhir untuk penumpang dengan nomor penerbangannya. Rendi mengangguk. “Iyaa Maa!”
Lilian tersenyum dan mulai berjalan lagi. Langkahnya terhenti saat menyadari kalau Rendi tidak ada di belakangnya. Dia kemudian menoleh dan melihat Rendi tampak diam saja sambil menoleh ke arah pintu masuk ruang tunggu gate 2. Lilian tampak memperhatikan anaknya sambil menghela napas.
Lilian kemudian berjalan menghampiri Rendi lagi. “Kamu menunggu siapa?” tanya Lilian saat melihat Rendi tampak mencari seseorang.
Rendi menoleh ke mamanya. “Nggak ada Ma!” ucap Rendi dengan senyum terpaksa.
Lilian memegang lengan Rendi lalu menatap wajah anaknya yang terlihat muram semenjak keberangkatannya menuju bandara. “Mama tahu kalau ini berat untuk kamu. Lupakan semua yang pernah terjadi di sini! Jangan pernah diingat lagi, Kita akan memulai hidup yang baru di sana!” ucap lilian dengan lembut. Ada rasa sedih saat melihat anaknya tampak tidak mempunyai semangat hidup lagi.
Rendi mengangguk. “Iyaa Ma..!”
“Ayyooo!” ajak Lilian sambil berjalan menuju pos pemeriksaan terakhir diikuti Rendi di belakangnya.
Setelah melewati pos terkahir Rendi berhenti sejenak. Dia menghembuskan napas panjang setelah itu menoleh ke belakang sebentar untuk yang terakhir kalinya sebelum dia masuk ke dalam pesawat.
__ADS_1
Bersambung....