Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Membuat Masalah


__ADS_3

“Dia duluan yang memancingku kak,” jawab Rendi menatap tajam pada kenan.


“Aku hanya bercanda. Kau itu kenapa serius sekali? Aku tidak akan merebutnya darimu.”


“Kenan! Kau jangan macam-macam ya! Kali ini kau tidak boleh membuat masalah lagi pada Rendi,” ancam Bianca.


“Iyaa, aku tahu.. Kau ini kenapa selalu membelanya? Yang jadi adikmu itu aku atau dia? Kenapa kau lebih sayang padanya?” ujar Kenan kesal saat melihat kakaknya melotot padanya.


“Kak Bianca itu sebenarnya tidak sudi punya adik sepertimu, dia hanya terpaksa. Tentu aja dia lebih menyayangiku, karena aku lebih berguna dari pada kau,” ujar Rendi sinis.


“Kau itu tidak tahu malu. Kau sama tidak bergunanya denganku, jangan terlalu bangga.”


“Sudaahlah, aku pusing mendengar kalian bertengkat terus." Bianca berdiri. “Aku akan pulang dulu ke rumah. Besok aku datang ke sini lagi,” ucap Bianca sambil menoleh ke Rendi.


“Baiklah, hati-hati kak,” ujar Rendi. Dia melihat Bianca berjalan keluar bersama Kenan setelah dia berpamitan dengan Amel juga.


Tinggallah sekarang Rendi dan Amel berdua. Suasana hening sesaat. “Kau kenapa?” tanya Rendi saat melihat Amel tampak diam saja sambil memandang lurus ke depan.


Lamunan Amel buyar saat mendengar suara Rendi. “Apa tidak ada yang akan kakak katakan padaku?”


“Masalah apa?”


“Sudah lupakan saja.” Amel merasa Rendi belum mau menjelaskannya sehingga dia memlilih untuk diam saja. Dia tahu kalau Rendi sedang tidak ingin menjelaskan pada Amel.


Rendi sebenarnya tahu maksud dari perkataan Amel. Dia hanya belum bisa menjelaskannya. Amel menemani Rendi sampai malam hari bersama Sofi dan mama Rendi.


Mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol.


*****


“Kau sedang apa?” tanya Devan saat melihat Amel sedang berdiri sambil menatap ke bawah. Dia sedang berada di lantai 2 sekolahnya, tepatnya di depan ruang praktek komputer. Dia baru saja menyelesaikan ujian praktek komputer.


Amel menoleh dan tersenyum saat melihat Devan berjalan menghampirinya. “Sedang berdiri saja kak.”


“Kau sedang ada masalah?” tanya Devan, yang saat ini sedang berdiri di samping Amel sambil menatap lurus ke depan.


“Tidak kak. Kakak nggak ngajar?” tanya Amel saat melihat Devan tampak tidak membawa tasnya.


“Sudah selesai.” Devan membalikkan badannya menghadap Amel. “Ini untukmu.” Devan menyodorkan sesuatu pada Amel.


“Ini apa?” tanya Amel saat melihat kertas putih yang dilipat oleh Devan. Mata Amel membelalak. “Kenapa Kakak kasih ke aku?” tanya Amel saat melihat isi dari kertas itu.


“Kau coba pelajari, itu adalah soal latihan. kemungkinan soal yang keluar tidak jauh berbeda dengan itu,” ucap Devan yang sudah mengalihkan pandangannya.


“Apa Kakak juga memberikan pada yang lain?” tanya Amel yang masih menatap kertas putih itu.


“Tidak, Itu bisa membantumu untuk ujian nanti. Kau harus pelajari dengan baik. Kulihat belakangan ini kau kurang fokus saat jam pelajaran, seperti sedang banyak pikiran.”


“Aku hanya lelah kak.”


“Apa karena karena kau sering menjaga pacarmu?”


“Iyaa, aku kurang tidur Kak. Saat jam pelajaran Kakak nanti, bolehkah aku ijin untuk istirahat di UKS? Aku sedikit tidak enak badan,” ujar Amel pelan saat melihat Devan tampak sedang berpikir.

__ADS_1


“Istirahatlah, kali aku ijinkan, tapi tidak lain kali. Dengar Mel, aku tidak suka melihatmu mengabaikan kesehatanmu demi menjaga pacarmu itu,” tatap Devan dengan wajah serius.


“Iya kak, itu tidak akan terjadi lagi,” ucap Amel dengan senyuman lebar.


“Sudah kubilang jangan tersenyum seperti itu. Kau ini mau menggoda siapa?” ujar Devan sambil mencubit pipi Amel.


“Kak, aku mau tanya.” Amel mengalihkan pembicaraan.


“Apa?”


“Pada saat kita pertama kali bertemu di sekolah ini, waktu aku tidak sengaja menabrak Kakak, kenapa Kakak tidak langsung memberitahuku? Apa Kakak tidak mengenaliku juga saat itu?”


“Tentu saja aku mengenalimu. Aku hanya tidak menyangka akan bertemu denganmu secepatnya itu. Aku sengaja tidak memberitahumu karena takut kau akan marah padaku karena dulu aku menghilang tanpa kabar, jadi aku harus mempersiapkan diri dulu,” jelas Devan tanpa menoleh pada Amel.


Pada saat itu Devan terkejut karena tidak menyangka kalau dia akan bertemu dengan Amel di sekolah milik keluarganya. Sekolah dan perguruang tinggi Dirgantara adalah milik keluarga Devan. Sementara Irga diambil dari nama Dirgantara. Devan sengaja tidak mencantumkan nama belakang keluarganya.


“Bukankah wanita yang bersama dengan Kakak waktu itu adalah bu Stefani?”


“Kenapa? Kau cemburu?”


“Bukan aku, tapi teman-temanku. Mereka yang menyukai kakak,” sanggah Amel cepat.


“Padahal aku berharap kalau kau cemburu,” ujar Devan menatap Amel penuh arti pada Amel. Ada guratan kecewa di dalam tatapannya.


“Aku hanya takut kakak mengabaikan aku nanti hanya karena perempuan lain. Kakak tahu sendiri dari dulu aku cuma memilikimu seorang,” ucap Amel.


“Apa kakak sudah memiliki pacar?” sambung Amel lagi.


Sebenarnya Amel juga tidak tahu bagaimana perasaannya nanti, saat dia melihat Devan bersama dengan perempuan lain karena dari kecil dia selalu bersama dengan Devan. Dia tidak pernah melihat Devan dengan perempuan lain selain dirinya.


Amel langsung menoleh. “Benarkah? Siapa?”


“Apa kau ingin tahu?”


Amel mengangguk cepat. “Tentu saja dirimu. Kaukan sudah berjanji untuk menikah denganku,” jawab Devan setengah bercanda.


“Aku ini serius Kak. Kau jangan main-main denganku,” ucap Amel kesal.


“Masuklah, bel sudah berbunyi,” ucap Devan mengalihkan pembicaraan. Dia mengelus pucuk kepala Amel sebelum Amel pergi.


“Baiklah."


"Apa kau nanti akan ke rumah sakit lagi?” tanya Devan saat melihat Amel sudah berjalan menuruni tangga.


Amel menghetikan langkahnya dan mengagguk. “Baiklah, nanti biar aku antar ke sana,” ucap Devan.


Dia tersenyum saat melihat Amel mengangguk lagi sambil melambaikan tangan padanya. Dia tampak terus menatap kepergian Amel, sampai sosoknya menghilang. Dia kemudian menghembuskan napas lalu berjalan pergi.


******


Sepulang sekolah Amel dan Devan langsung menuju rumah sakit. Sebelum ke kamar Rendi, Devan mengajak Amel untuk makan terlebih dahulu di kantin rumah sakit. Amel dan Devan tampak sedang menikmati makanan mereka.


“Ternyata begini kelakuanmu di belakang Rendi,” ucap Friska saat melihat Amel sedang makan dengan laki-laki lain.

__ADS_1


Amel dan Devan menoleh ke sumber suara. “Apa maksudmu?” tanya Amel saat Friska menatap Amel dengan tatapan mengejek.


“Apa Rendi tahu kalau kau berselingkuh dengan laki-laki lain di belakangnya?” Friska berjalan mendekati meja Amel. Devan menatap Friska yang tampak berjalan dengan angkuh.


“Aku tidak berselingkuhx” jawab Amel malasbketika Friska sudah berdiri di sampingnya.


Friska tersenyum sinis. “Kau pikir bisa membodohiku Aku akan memberitahu Rendi tentang kelakuanmu ini,” ujar Friska sebelum akhirnya berjalan untuk meninggalkan kantin.


“Tunggu.” langkah Friska terhenti saat Amel menahan tangannya. “Kau tidak bisa ikut campur masalahku dengan kak Rendi.”


Friska menoleh dan menghempaskan tangan Amel dengan kuat. “Berani sekali kau memegang tanganku.” Friska menatap Amel dengan marah.


Devan berdiri saat melihat Friska tampak mendekati Amel. “Lepaskan tanganku!” teriak Friska saat Devan memegang tangannya saat Friska berniat untuk menyiram Amel dengan minuman di atas meja. Devan sengaja berdiri di depan Amel supaya Friska tidak bisa menjangkau Amel. Devan mengambil gelas yang ada di tangan Friska dan meletakkan kembali ke meja.


Devan menyeringai. “Kau ini cantik. Jangan kau habiskan energimu untuk marah-marah tidak jelas. Kau harus berperilaku sesuai dengan wajahmu itu,” ucapnya menatap mata Friska tanpa melepaskan tangannya.


“Ini bukan urusanmu! Jangan ikut campur!” teriak Friska mencoba untuk melepaskan tangannya.


Devan mendekatkan wajahnya kepada Friska. “Selama ini menyangkut Amel, itu akan menjadi urusanku.”


“Kauu... Jauhkan wajahmu dariku,” pekik Friska saat merasa jarak di antara mereka sangat dekat. Dia merasa wajahnya memanas. Saat bertatapan langsung dengan mata Devan.


Devan menjauhkan wajahnya dari Friska. “Kenapa kau galak sekali? Bicaralah yang lembut,” ujar Devan tersenyum miring.


“Apa pedulimu. Kau jangan sok akrab denganku!” ujar Friska marah.


“Apa kita harus akrab dulu, baru kau akan bicara lembut padaku?”


“Aku tidak sudi akrab denganmu apalagi dengannya,” ucap Friska sambil menatap tajam pada Amel.


Devan membungkuk lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Friska. “Bisa tidak pelankan suaramu? Jika kau terus saja berteriak, aku akan menciummu di sini," bisik Devan. Devan beralih menatap wajah Friska. "Apa itu yang kau mau?”


“Kau...! Jangan macam-macam denganku. Menjauh dariku!” dorong Friska saat Devan sudah melepaskan tangannya.


Devan mundur berapa langkah. “Pergilah, sebelum aku berubah pikiran,” ujar Devan dengan wajah datar saat melihat wajah Friska tampak memerah.


“Dasar gila!” ucap Friska sambil menatap tajam Devan sebelum pergi meninggalkan kantin.


Devan terdiam sesaat memandangi kepergian Friska. Dia tersenyum miring, mengingat wajah gugup Friska saat dia menatapnya dari dekat. “Kau tidak apa-apa?” tanya Devan mendekati Amel saat Friska sudah tidak terlihat lagi. “Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Devan saat melihat Amel menatap heran padanya.


“Apa yang Kakak katakan padanya, sehingga dia pergi dengan wajah seperti itu?” Amel memicingkan matanya saat melihat Devan tampak menyembunyikan sesuatu darinya.


“Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya menyuruhnya diam saja,” ucap Devan berjalan menuju kursinya saat melihat Amel sudah duduk dan masih menatapnya.


“Memangnya dia siapa? Kenapa dia sangat membencimu?” lanjut Devan saat melihat Amel yang tampak menghela napas.


“Dia sainganku. Dia menyukai pacarku Kak.”


“Pantas saja.”


“Dia pasti sedang mengadu pada Rendi sekarang. Aku harus cepat-cepat ke sana sebelum Rendi salah paham denganku,” ucap Amel berdiri sambil meraih tas sekolahnya.


“Tunggu, aku ikut denganmu,” ucap Devan sambil berjalan mengikuti Amel dari belakang.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2