
Sofi mulai panik. “Lepaskan aku Will, Aku mohon!”
Willy tidak menggubris teriakan Sofi. Dia meleparkan tubuh Sofi ke tempat tidur, lalu kemudian menindihnya. “Willy, Aku mohon lepaskan aku! Jangan seperti ini Will,” ucap Sofi dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.
Willu memegang kedua tangan Sofi agar dia tidak memberontak. “Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu. Aku mencintaimu Sofi. Aku hanya ingin kau menjadi milikku saja,” ucap Willy lembut.
“Kau gila Will. Aku membencimu Willy,” teriak Sofi ketika Willy mulai membuka baju Sofi. Sofi berusaha untuk memberontak. “Tenanglah sayang, jangan berteriak. Tidak akan ada mendengar suaramu di sini! Lebih baik kau menurut denganku!” Baju bagian atas Sofi sudah terbuka. “Willy berhenti!” teriak Sofi ketika Willy mulai meraba tubuh bagian atasnya.
Seketika Willy berhenti. “Selama ini aku sudah menjagamu Sof, tapi kau malah menghianatiku dan lebih memilih laki-laki itu dari pada aku. Kau harus jadi milikku!” Willy langsung membungkam mulut Sofi ketika dia akan berteriak. Willy mulai mencium bibir Sofi.
Terdengar suara gaduh dari luar. “Dubrak!” Pintu terbuka. Sofi dan Willy langsung menoleh. “Brengsek!” teriak Raka ketika melihat Willy sudah berada di atas Sofi dengan keadaan yang sudah berantakan. Terlihat ada 2 pegawai hotel yang datang bersama dengan Raka.
Raka menutup pintunya dengan cepat lalu langsung berjalan dan menarik Willy kemudian menghajarnya. “Dasar bajingan berani sekali kau menyentuh wanitaku!”
Willy jatuh tersungkur. Dia mengelap sudut bibirnya yang berdarah kemudian bangun. Dia menyeringai. “Wanitamu?” Willy tertawa dengan keras, lalu menatap Raka. “Dia itu milikku.”
Raka menghajar Willy lagi. Mereka saling pukul. Sementara Sofi meringkuk di bawah selimut menutupi tubuhnya sambil menangis. “Berhenti!” teriak Sofi. Mereka tidak ada yang menggubris teriakannya.
Mereka terus saling pukul hingga akhirnya Willy terkapar di lantai. Raka berjalan menuju Sofi. “Ayo kita pergi,” Raka melepaskan jaketnya menutupi tubuh bagian atas Sofi.
Willy berjalan cepat ke Raka lalu menghajarnya. Raka terjatuh. Willy kemudian meraih vas bunga yang terbuat dari kaca. “Rakaaa...!” teriak Sofi saat melihat Willy memukul kepala Raka dari belakang. Sofi turun dari tempat tidur lalu mendorong Willy. “Willy berhenti, kalau tidak, aku akan melaporkanmu kepada polisi,” ancam Sofi.
Dia kemudian menghampiri Raka. “Raka kepalamu...!” ucapan Sofi terpotong saat melihat darah mengalir dari kepala serta dahi Raka. “Aku tidak apa-apa,” ucap Raka menenagkan Sofi. Raka bangun dibantu oleh Sofi.
“Sofi. Kemarilah. Aku akan membiarkan dia hidup kalau kau pergi denganku,” ucap Willy.
Sofi menatap marah pada Willy. “Aku tidak mau..! Aku membencimu Will,” teriak Sofi sambil menangis.
Willy yang mulai tidak sabar lalu menhampiri Sofi dan menariknya. Melihat itu, Raka langsung menghajar Willy lagi. Kali ini dia tidak berhenti sampai Willy terluka parah dan tidak bisa bangun lagi. Sofi menghampiri mereka berdua. “Raka berhenti. Kau bisa membunuhnya.” Sofi memegang tangan Raka saat akan memukul Willy lagi.
Raka berhenti kemudian berdiri. “Aku peringatkan padamu, jangan pernah mencoba untuk menemuinya dan menganggunya. Dia adalah calon istriku. Kalau kau berani menyentuhnya lagi, akan kubuat kau tidak bisa melihat dunia ini lagi. Aku akan menghabisimu kalau kau masih berbuat nekat,“ ancam Raka dengan wajah yang dipenuhi oleh amarah. “Kali ini, aku tidak main dengan kata-kataku, jadi menjauhlah darinya.”
Raka kemudian menarik Sofi keluar dari kamar. Terlihat Dua pegawai hotel itu masih di sana. Raka berhenti sejenak. “Segera hubungi Polisi. Aku akan menyusul nanti.” Raka kemudian berjalan ke lift menuju loby. Sofi hanya diam, dia tidak berani berkata apa-apa. Mereka keluar dari hotel menuju parkiran
Raka melajukan mobil menuju apartemen Rendi. Dia tidak berani membawa Sofi ke hotel dengan keadaan seperti itu. Dia tidak mau merusak acara pernikahan Rendi dan Amel. Sesampainya di apartemen, Raka langsung menarik Amel ke dalam kamar Sofi.
Dai melepaskan tangannya kemudian menatap Sofi. “Apa kau gilaa haah! Kenapa kau ikut dengannya ke hotel itu!” bentak Raka dengan suara tinggi ketika mereka sudah berada di dalam kamar.
Mata Sofi berkaca-kaca saat Raka membentaknya. “Dia bilang akan bicara baik-baik,”
“Apa kau bodoh? Apa otakmu itu hanya pajangan saja! Bagaimana bisa kau dengan mudahnya pergi bajingan itu ke hotel,” ujar Raka dengan emosi. Matanya memerah karena terlampau emosi.
“Aku tidak tahu kalau Willy akan senekat itu!” ucap Sofi sambil menitikkan air mata.
“Apa kau tidak tahu bahaya apa yang mengintaimu kalau kau ikut dengannya? Kalau aku tidak datang tepat waktu, mungkin saja kau sudah dinodai oleh bajingan itu. Apa itu yang kau mau haaah,” teriak Raka lagi.
Dia sangat marah saat membuka pintu hotel dan melihat Willy sudah menindih Sofi. Emosinya langsung memuncak. Dia sudah tidak bisa berpikir jernih lagi.
__ADS_1
Sofi menunduk sambil menangis. “Maakan aku..!” Sofi mulai terisak.
Dia sangat menyesal karena sudah mengikuti permintaan Willy untuk ikut dengannya. Dia juga tidak menyangka kalau Willy berani melakukan itu padanya. Selama mereka berpacaran. Willy selalu menjaganya, dia hanya berani mencium pipi dan keningnya saja.
Melihat Sofi yang tampak menangis dan terisak, Raka muali melunak. Dia mendekati Sofi kemudian memeluknya. “Jangan menangis. Maafkan aku,” ucap Raka sambil mengelus kepala Sofi.
“Maafkan aku karena tidak bisa mengendalikan emosiku.” Sofi hanya diam sambil menangis dipelukan Raka. Raka tidak berkata apa-apa lagi, dia membiarkan Sofi tenang. Setelah Sofi tenang. Raka membimbing Sofi ke tempat tidur. Mereka duduk di tepi ranjang. “Gantilah bajumu! Setelah itu istirahatlah!” ucap Raka lembut.
Sofi meraih ujung baju Raka. “Kamu mau kemana?” tanya Sofi saat melihat Raka berdiri. “Aku akan menunggu diluar. Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan menjagamu,” ucap Raka ketika melihat wajah ketakutan dari Sofi. “Jangan pergi! Aku takut. Temani aku di sini!” Sofi masih trauma dengan kejadian tadi. Bayangan kejadian di hotel terus melintas di kepalanya.
Raka berbalik kemudian duduk kembali. “Baiklah. Tidurlah! Sudah malam.”
Sofi tampak ragu. “Jangan tinggalkan aku sendiri!” ucap Sofi dengan suara pelan.
“Hhmmmm,” gumam Raka sambil mengangguk.
Sofi naik ke tempat tidur dan kemudian berbaring lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. “Temani aku di sini! kau pasti lelah, berbaringlah di sini,” saran Sofi sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya.
“Tidak usah aku akan tidur di sofa,” tolak Raka. Dia takut tidak bisa mengendalikan diri jika berdekatan dengan Sofi. “Aku tidak akan tidur jika kau juga tidak tidur,” ucap Sofi. Dia tidak mungkin membiarkan Raka terus menjaganya sepanjang malam. Dia merasa sudah merepotkan Raka, apalagi Raka terluka karena sudah menolongnya. “Baiklah!” Raka berbaring di samping Sofi.
Sofi menghadap Raka kemudian memeluknya. “Jangan tinggalkan aku! Aku takut!" Sofi kembali menangis.
Raka memeluk erta Sofi. “Tenanglah ada aku di sini! Jangan takut. tidurlah!”
“Aku tidak bisa melupakannya!” ucap Sofi dengan suara bergetar.
Raka memegang wajah Sofi. “Sofi tatap mataku!” ucap Raka sambil menatap lekat mata Sofi. “Anggap saja itu mimpi buruk. Jangan pernah ingat lagi. Lupakan bajingan itu,” ucap Raka dengan wajah serius.
“Lupakan kejadian itu! dan ingatlah yang ini!” Raka menempelkan bibirnya pada Sofi, dia ******* lembut bibir Sofi.
Sofi tampak terkejut. Dia tampak diam sesaat. Raka menutup matanya sambil terus mel*mat dan menyes*p bibir mungil Sofi. Sofi yang awalnya hanya diam kemudian membalas ciuaman Raka. Mereka saling berpagutan. Sofi mulai memeluk Raka.
Raka berpindah ke atas Sofi, tanpa melepaskan pagutan mereka. Setelah beberapa saat Raka menghentikan pagutan mereka. Raka menjauhkan tubuhnya dari Sofi, kemudian berbaring di samping Sofi lalu memeluknya. “Maafkan aku karena tidak meminta ijinmu dulu!” ucap Raka sambil mengelus kepala Sofi.
Sofi mengangguk kemudian membenamkan wajahnya di dada Raka. “Tidurlah! Aku takut tidak bisa mengendalikan diriku,” ucap Raka dengan suara rendah. Sofi mengangguk lalu memejamkan matanya.
Setelah Sofi tertidur, Raka perlahan melepaskan pelukannya. Dia melangkah turun dari tempat tidur. Dia berjalan keluar kamar, kemudian meraih ponselnya, melihat jam yang ada di ponselnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Raka terlihat menghubungi seseorang. Setelah itu dia kembali ke kamar Sofi lalu tidur di sofa.
****
Sofi terbangun pukul 7 pagi. Dia mengedarkan pandangan saat tidak menemukan keberadaan Raka dikamarnya. Dia berjalan ke kamar mandi lalu membasuh wajahnya, setelah itu dia berjalan keluar dari kamar.
Sofi berjalan menuju ruangan keluarga. "Kau sudah bangun?" tanya Raka, saat dia melihat Sofi sedang berjalan ke arahnya.
"Hhmm," gumam Sofi. "Kau bangun jam berapa?" Sofi menghampiri Raka yang tampak sedang duduk di sofa ruang tamu dengan memainkan ponselnya.
"Jam 6, Mandilah! Aku akan mengantarmu setelah itu!"
__ADS_1
"Baiklah," Sofi berjalan masuk ke kamarnya. 20 menit kemudian keluar dengan baju yang sudah di ganti. Dia menghampiri Raka lagi dan duduk di sebelahnya. "Raka, bagaimana keadaan Willy?" ucap Sofi dengan hati-hati. Sofi mendengar Raka akan melaporkan Willy kepada polisi saat mereka baru sajankelaur dari kamar hotel. Sofi merasa tidak tega dengan Willy.
Raka langsung menoleh pada Sofi dengan tatapan tajam. "Kau masih mengkhawatirkannya?" tanya Raka dengan suara berat
"Bukan begitu, bagaimanapun dia pernah menjadi bagian dari hidupku. Aku hanya merasa kasihan padanya," jelas Sofi.
"Aku sudah menjebloskannya ke penjara," ucap Raka dingin.
"Bisakah kau melepaskannya kali ini?" pinta Sofi dengan wajah memohon.
Raut wajah Raka langsung berubah. Dia merasa emosinya mulai naik lagi. "Apa kau masih mencintainya?"
"Bukan, aku hanya ingin bertemu dengannya. Aku ingin menyelesaikan kesalah pahamanku dengannya."
"Setelah apa yang dia perbuat padamu, kau masih ingin menemuinya?"
"Aku tahu dia tidak berniat berbuat seperti itu. Aku mengenalnya dengan baik. Dia hanya terbawa emosi. Dia sebenarnya laki-laki baik. Aku juga sudah mendengar penjelasannya kalau dia tidak salah. Dia hanya dijebak. Dia tidak pernah menghianatiku."
Raka berdiri. "Jadi, setelah tahu kalau dia tidak menghianatimu, kau akan kembali lagi padanya?" Raka menatap dingin Sofi. Melihat Sofi tampak diam, Raka berkata lagi, "Aku tidak akan melepaskannya Sof, kalau sampai kau kembali padanya lagi," ujar Raka dengan tatapan mata yang berkilat.
"Kau memang sudah menolongku. Aku ucapkan terima kasih, tetapi kau tidak berhak ikut campur masalahku!"
"Jadi, kau akan tetap menemuinya?"
"Iyaaa..Aku harus menyelesaikan masalahku dengannya."
"Apa kau sungguh ingin melihatku berkelahi lagi dengannya?"
"Tolong mengerti Raka. Aku harus bertemu dengannya"
"Baiklah kalau memang itu maumu. Kau akan melihat aku atau dia yang terkapar nanti." Raka berjalan pergi meninggalkan Sofi.
Sofi berjalan cepat mengejar Raka lalu meraih tangannya. "Rakaa tunggu..! Tolong jangan begini!"
"Lepaskan!" ucap Raka dingin.
"Raka aku mohon jangan berkelahi lagi!"
Raka menoleh pada Sofi. "Apa kau takut kalau kekasihmu itu terluka?" Ada guratan kecewa di raut wajah Raka.
"Bukan.. Aku tidak ingin kalian berkelahi lagi,"
Raka melepaskan tangan Sofi. "Baiklah aku akan membebaskan dia. Pergilah! Temui dia. Aku tidak akan ikut campur lagi masalahmu. Apapun yang terjadi kepadamu nanti. Aku tidak akan peduli lagi padamu. Aku harap kita tidak pernah bertemu lagi." Raka pergi meninggalkan Sofi dengan wajah emosi.
Sofi hanya diam mematung. Dia tidak tau harus berbuat apalagi. Dia berusaha mencerna perkataan Raka.
Setelah beberapa saat Sofi kembali sadar. Dia berjalan keluar mengejar Raka. Malang saat tiba di bawah Mobil Raka sudah pergi. Sofi berusaha mencari taksi untuk menyusul Raka. Beberapa menit kemudian Sofi mendapatkan taksi, tetapi dia sudah kehilangan jejak Raka. Dia mencoba ke rumahnya, tetapi tidak ada. Sofi menunggu sampai siang tetapi Raka belum juga pulang. Sofi memutuskan untuk pulang ke hotelnya. Dia ingin meminta bantuan Amel.
__ADS_1
Flashback Off
Bersambung...