Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Bulan Madu Part 3


__ADS_3

Amel menoleh seketika dan terkejut saat merasa ada memeluknya dari belakang. “Kau mengangetkanku, Kak.”


Rendi tersenyum tipis. “Kenapa kau tidak membangunkan aku sayang?” Rendi mencium pipi istrinya dari belakang.


“Aku tidak mau mengganggumu Kak. Kau terlihat lelah sekali.” Amel memegang tangan Rendi yang ada di perutnya.


Rendi mulai mencium leher istrinya. “Kau seksi sekali sayang pagi ini. Aku suka sekali melihatmu mengenakan pakaian ini.”


Baju itu sebenarnya dipilihkan oleh Olive. Awalanya Amel menolak keras karena dia merasa malu untuk mengenakan pakaian renang tersebut. Dia belum pernah mengenakan pakaian renang seterbuka itu lago semenjak Rendi memarahinya karena memakai baju renang terbuka saat berenang di rumahnya.


Setelah dibujuk dan dipaksa oleh teman-temannya yang lain akhirnya Amel membelinya. Teman-temannya meyakinkan dirinya bahwa tidak apa jika dia memakai pakaian renang itu karena dia sudah menikah dengan Rendi apalagi dia ke Bali dalam rangka untuk berbulan madu. Hal lumrah kalau suaminya melihatnya memakai baju renang terbuka, selagi dia tidak mempertontonkan kepada orang lain.


Amel berbalik lalu mengalungkan tangannya ke leher suaminya. “Bukankah Kakak tidak suka melihatku memakai baju renang yang terbuka? Kakak bahkan marah saat aku memakai baju renang yang terbuka ketika aku berenang dengan Sofi waktu itu,” ucap Amel sambil memandang wajah suaminya.


Rendi membelai wajah istrinya. “Itu karena aku takut tidak bisa menahan diriku. Apa kau tahu saat itu, aku berusaha keras untuk menahan hasratku? Apalagi saat kau memeluk erat tubuhku di dalam kolam renang dengan pakaian renang yang terbuka. Kepalaku langsung mendidih saat itu. Aku sungguh tidak bisa menahan diriku jika berdekatan denganmu telalu lama dengan posisi kau memeluk erat tubuhku,” jelas Rendi sambil mengingat kejadian saat Amel berenang dengan Sofi di rumahnya.


“Lagi pula, aku juga tidak suka kalau ada orang lain yang melihat tubuhmu.”


“Benarkah? Tapi kenapa kakak terlihat sangat marah saat itu?”


“Itu karena aku selalu berusaha keras untuk menjagamu. Aku mati-matian untuk tidak menyentuhmu, tetapi kau justru memancing hasratku dengan memakai baju renang terbuka di rumahku.”


“Jadi seperti itu?” Amel menelusuri dada bidang suaminya dengan tangan kanannya.


“Jangan memancingku sayang, ini masih pagi. Kau tahu kita sudah menikah. Aku tidak akan menahan diri lagi, seperti yang pernah aku lakukan dulu,” ucap Rendi dengan suara berat ketika Amel sengaja membelai dadanya dengan jemarinya yang lembut. Tubuhnya langsung berdesir hebat.


Amel sengaja menggoda Rendi. Dia ingin mengetahui kebenaran ucapan Rendi yang mengatakan kalau dia sulit untuk menahan diri jika berdekatan dengannya. “Kenapa? Aku hanya ingin menyentuh tubuh suamiku yang bagus ini. Apakah tidak boleh?” tanya Amel sambil menampilkan wajah polosnya.

__ADS_1


Rendi tertawa kecil sambil membuang wajahnya ke samping. Dia tidak menyangka kalau Amel sedang mencoba untuk menggodanya dengan wajah lugunya.


“Berhenti sayang... Lebih baik kita naik ke atas, kita sarapan dulu. Jangan memancingku.” Rendi masih berusaha menahan dirinya dengan membujuk Amel agar tidak melanjutkannya keusilannya


Amel sengaja menampilkan wajah sedihnya. “Kenapa? Apa Kakak sudah mulai bosan padaku?” Amel kembali mengalungkan tangannya pada leher Rendi.


"Bukan begitu, Sayang."


Amel mendekatkan wajahnya ke leher suaminya lalu menyesapnya dengan kuat. “Waaah aku sudah bisa ternyata,” ucap Amel melompat kegirangan di dalam air. Dia tampak bahagia ketika melihat tanda merah yang dia buat di leher suaminya.


“Aku akan membuatnya lagi.”


Amel kembali menyesap leher Rendi, kali ini di bagian kanan atas lehernya. Setelah Amel meninggalkan 2 tanda merah di leher suaminya. Amel kemudian merabanya perlahan. Dia merasa bangga karena sudah bisa memberikan tanda itu pada leher Rendi. Sebelumnya dia pernah mencobanya tetapi tidak semerah sekarang.


Rendi tampak memejamkan matanya sebentar lalu membuka matanya sambil menghembuskan napas halus. Tubuh Rendi meremang ketika bibir Amel menyentuh lehernya lagi. “Jangan sayang.” Rendi berusaha untuk menjauhkan lehernya dari Amel.


Rendi mengusap lembut pipi Amel. “Bukan seperti itu, Sayang. Kau salah paham. Kau bisa memberikan banyak tanda tapi jangan sekarang.”


Amel tidak tahu kalau saat ini Rendi sedang menahan hasratnya. Dia berusaha menghindari Amel karena takut tidak bisa menahan dirinya jika dia terus membiarkan Amel menyentuh tubuhnya.


Sorot mata Amel berbinar. “Benarkah aku boleh memberikan banyak tanda?” tanya Amel dengan wajah senang.


Rendi mengangguk pelan. Dia merasa gemas melihat tingkah manja istrinya. “Iyaa sayang, tapi nanti malam saja ya?”


“Aku tidak mau... Aku maunya sekarang,” tolak Amel cepat. “Aku akan memberikan banyak tanda supaya tidak ada pelakor yang berani mendekatimu.”


Amel kembali mendekatkan bibirnya ke leher Rendi. Amel menyesap kuat lalu melepaskannya. Terlihat leher bagian depan Rendi berwarna merah keuanguan. “Waah baguuus warnanya,” ucap Amel senang.

__ADS_1


Rendi menunduk menatap wajah Amel. “Kau akan menyesal nanti sayang karena sengaja memancing hasratku.” Rendi tahu kalau Amel sengaja melakukannya untuk membangkitkan gairahnya.


Amel menatap leher dan dada suaminya. “Untuk apa menyesal? Ternyata menyenangkan membuat tanda seperti ini. Aku akan membuat tanda di mana lagi ya?”


Amel sedang mencari bagian tubuh Rendi yang akan dia beri tanda lagi olehnya. Amel tidak menghiraukan tatapan Rendi yang menyiratkan gelora api yang sudah membara dan Rendi nampak hanya membiarkan Amel melakukan yang dia mau tanpa melepaskan tangannya yang melingkarkan di tubuh Amel.


“Aaaa, Sepertinya di sini bagus.” Amel menunjuk bahu Rendi yang dekat dengan lehernya. Dia kembali meninggalkan tanda di beberapa tempat termasuk di dada suaminya.


“Apakah sudah selesai?” tanya Rendi ketika Amel sudah berhenti membuat tanda di tubuhnya.


Amel langsung mengalungkan tangannya ke leher suaminya. “Sudaaah," jawab Amel sambil tersenyum lebar.


Rendi menunduk untuk melihat ke bagian tubuhnya yang diberi tanda oleh istrinya. Dia hanya bisa melihat tanda yang ada di dadanya sementara yang di leher tidak terjangkau oleh matanya. “Kalau sudah selesai, sekarang giliranku.” Rendi langsung mengangkat tubuh Amel di dalam air.


“Kak, kita mau ke mana? Turunkan aku! Aku masih mau berenang.” Amel berusaha untuk memberontak.


Rendi terus berjalan menuju pinggir kolam lalu menaiki tangga untuk naik ke atas. “Tidaak. Kau sudah berani memancing hasratku. Tidak akan kubiarkan kau lolos begitu saja. Aku akan mengurungmu hari ini. Persiapkan dirimu sayang karena aku tidak akan berhenti sampai aku lelah,” ucap Rendi sambil menyeringai.


Tubuh Amel menegang ketika mendengar ucapan Rendi. “Ampuni aku Kak! Aku tidak akan melakukannya lagi. Tolong turunkan aku. Aku mohon.”


Amel berusaha membujuk Rendi agar melepaskannya. Wajahnya mulai panik. Dia takut kalau Rendi akan menepati ucapannya tadi. Dia tidak bisa membayangkan kalau sampai Rendi benar melakukan sesuai perkataannya.


Rendi hanya diam sambil membawa tubuh Amel menuju kamarnya. “Kak, aku memang salah. Aku minta maaf. Aku mohon turunkan aku. Aku hanya bercanda tadi. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku janji.” Amel menyatukan kedua telapak tangannya sambil menampilkan wajah panik.


“Aku tidak akan melepaskanmu Mel. Aku tahu, kau sengaja memacingku tadi. Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya, tetapi kau mengabaikan ucapanku.” Rendi mulai memasuki area kamar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2