
"Raka...!" pekik Sofi seraya menutup matanya dengan kedua tangannya, ketika melihat Raka keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang dililit di pinggangnya.
Raka terlihat berjalan dengan santai menuju lemari pakaian, seolah di kamarnya tidak ada orang selain dirinya. Raka menutup kedua telingannya dengan tangan, ketika mendengar suara teriakan Sofi. "Kau bisa mengundang tetangga ke sini, jika kau berteriak seperti itu," sindir Raka seraya menoleh pada Sofi.
"Kenapa kau tidak memakai bajumu di dalam? Apa kau tidak malu dilihat olehku?" Sofi tampak merasa kesal dengan Raka yang seolah tidak menganggapnya ada.
"Aku tidak peduli. Ini adalah kamarku, terserah aku mau berganti di mana," jawab Raka acuh. Dia melepaskan handuk yang dililit di pinggangnya dengan santainya. Sofi masih belum berani membuka matanya. Sebenarnya Raka sudah memakai celana santai di dalam kamar mandi, hanya saja dia berniat mengejai Sofi dengan melilitkan kembali handuk di pinggangnya seolah-oleh dia belum memakai apa-apa.
"Dasar tidak tahu malu. Aku akan mengadukannmu pada mama nanti," ancam Sofi.
Raka menyunggingkan salah satu sudut bibirnya seraya berjalan mendekait Sofi. "Buka matamu." Raka menunduk tepat di samping Sofi.
"Tidak mau," tolak Sofi cepat seraya menggelengkan kepalanya dengan kuat.
"Jika kau tidak membuka matamu, aku akan melepaskan handuk yang ada di pinggangku sekarang juga."
Sofi yang takut dengan ancaman Raka, seketika langsung menyingkirkan tangannya seraya membuka matanya secara perlahan.
"Kau mengerjaiku?" Sofi tampak kesal saat melihat Raka sudah mengenakan pakaian yang lengakp seraya tersenyum jahil padanya.
Raka terlihat acuh melihat wajah kesal Sofi. "Apa kau sudah meminum obatmu?"
"Belum. Aku tidak mau minum obat."
Raka duduk di kursi yang ada di samping Sofi. "Kau ingin minum sendiri atau aku bantu?" Tawaran Raka terdengar sedikit memaksa. "Tapi aku sarankan kau meminum sendiri karena kau akan menyesal jika aku yang membantumu."
"Memangnya kau mau apa jika aku tidak mau meminum obat?" tantang Sofi.
Raka menyeringai. "Aku akan memasukkan obat ke mulutmu menggunakan mulutku." Raka terlihat serius dengan perkataannya, sehingga membuat nyali Sofi menciut.
"Apa kau pikir aku tidak berani melakukannya?" sambung Raka lagi ketika melihat Sofi tidak bergeming.
Sofi seketika langsung meraih obat yang ada di atas nakas dan buru-buru menelannya, setelah itu meminum air putih dengan sekali teguk.
"Anak pintar." Raka mengacak rambut Sofi seraya tersenyum.
Sofi terlihat bertambah kesal pada Raka. "Aku bukan anak kecil, kenapa kau suka sekali menyentuh kepalaku?"
Raka terkekeh. "Bagiku, kau masih anak-anak," jawab Raka enteng.
Sofi langsung mengerucutkan bibirnya dengan lirikan tajam yang mengarah pada Raka. "Lebih baik kau istirahat lagi. Tubuhmu masih hangat," ujar Raka. Dengan santainya Raka berbaring di sebelah Sofi.
Sofi menatap heran pada Raka, saat melihanya mulai memejamkan matanya. "Kenapa kau tidur di sini?"
Raka kembali membuka matanya. "Lalu, aku harus tidur di mana, jika bukan di sini? Ini adalah kamarku, lagi pula, aku masih mengantuk karena menjagamu semalam."
Sofi tampak tidak bisa berbuat apa-apa. Memang benar yang dikatakan oleh Raka kalau itu adalah kamarnya, jadi dia tidak butuh ijin siapapun jika ingin tidur di kamarnya sendiri.
__ADS_1
"Baiklah. Tidurlah. Maafkan aku karena sudah merepotkanmu," ucap Sofi dengan wajah menyesal.
"Jangan banyak bicara. Berbaringlah. Kau jangan khawatir. Aku tidak akan melakukan apa-apa kepadamu." Raka terlihat berbicara seraya memejamkan matanya. Dia sudah tidak bisa menahan kantuk yang mulai menderanya.
Akhirnya Sofi juga ikut berbring karena kantuk juga mulai menderanya akibat dari obat yang dia minum.
******
Siang harinya Sofi dan Raka keluar dari kamar. Sofi sudah terlihat sudah mulai sehat. Mereka berjalan menuju ruang makan untuk makan siang. Di sana sudah ada Tamara yang sedang menunggu mereka turun.
Tamara langsung tersenyum senang melihat anak dan calon menantu idamannya memasuki ruang makan. "Kalian terlihat serasi sekali, seperti pengantin baru yang baru saja menikah," goda Tamara dengan senyum lebarnya.
Sofi tampak merasa canggung dan malu. "Jangan menggodanya terus Ma."
Tamara menarik kursi di sampingnya. "Duduk di sini sayang." Tamara meminta Sofi untuk duduk di sebelahnya. ""Terima kasih Ma," ucap Sofi lembut.
Raka terlihat acuh. Dia mulai mengambil piring dan memasukkan nasi dan beberapa lauk ke dalam piringnya, tanpa memperdulikan dua wanita yang ada di depannya, dia menyantap makan siangnya dengan cepat.
"Bang, tadi Nita menelpon ke rumah. Katanya dia tidak bisa menghubungi ponselmu. Dia bilang kangen denganmu," ucap Ibu Raka di sela-sela acara makan siang mereka.
"Uhuk.Uhuk." Raka langsung terbatuk mendengar penuturan ibunya. Dia menatap ibunya dengan tajam. Raka tahu, kalau ibunya hanya ingin mengerjainya. Ibu Raka mengenal Nita karena beberapa kali Nita datang ke rumahnya untuk mengantarkannya berkas penting untuk anaknya.
"Ma, bisa tidak jika berbicaranya nanti," ujar Raka dengan wajah kesal.
"Mama takutnya lupa menyampaikannya. Dia bilang ingin bertemu denganmu."
"Maaf bang. Mama hanya bercanda, tapi dia memang mencarimu karena kau tidak masuk kantor hari ini tanpa memberitahukan padanya," terang Tamara.
"Aku akan menghubunginya nanti."
Mereka lalu makan dengan tenang. Tidak ada pembicaraan lagi selama makan. Setelah makan mereka duduk di ruang keluarga. Raka tampak sibuk dengan laptopnya, sementara Sofi dan Tamara terlihat mengobrol banyak hal. Sampai tiba waktunya sore hari. Sofi berpamitan untuk pulang.
"Sayang sering-sering ke mari ya? Kasihan Raka kesepian kalau kamu nggak ada," ucap Ibu Raka enteng.
"Mama... Jangan mengatakan omong kosong."
"Kalau begitu Sofi pamit Ma," sela Sofi. Dia tidak ingin melihat Raka dan ibunya kembali berdebat.
"Iyaa sayang hati-hati di jalan."
Sofi mengangguk, lalu mengikuti langkah Raka menuju mobil.
Jarak apartemen baru Rendi dan rumah Raka memang tidak jauh, sehingga mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di sana. Sofi langsung membuka pintu dengan kartu akses yang diberikan oleh Amel. "Masuklah." Raka berjalan masuk mengikut Sofi dari belakang.
"Kaaak, Kak Amel," teriak Sofi dengan suara lantang, ketika melihat suasana apartemen mereka tampak sepi. Sofi beberapa kali memanggil Rendi dan Amel dengan suara keras.
"Kau tunggu di sini dulu. Aku ingin mengganti bajuku dulu."
__ADS_1
"Hhhmm," gumam Raka seraya mengangguk. Tidak lama kemudian Rendi dan Amel terlihat berjalan ke arahnya.
"Sofi ke mana bang?" tanya Amel seraya duduk di samping Rendi.
"Di kamar, sedang ganti baju," jawab Raka jujur.
Amel menoleh pada suaminya. "Kak, aku ke kamar Sofi dulu untuk mengecek keadaanya." Amel merasa khawatir pada Sofi setelah mendengar dari Rendi kalau adiknya sedang sakit sehingga harus menginap di rumah Raka.
Rendi mengangguk. Setelah Amel tidak terlihat, Rendi terlihat menatap Raka. "Apa kalian memutuskan untuk kembali bersama lagi?" tanya Rendi pada Raka.
Raka mengglengkan kepalanya. "Tidak."
"Kenapa? Apa kau sedang mempermainkan adikku?" Sebenarnya Rendi tidak ingin ikut campur masalah adiknya dan Raka, hanya saja melihat adiknya sampai jatuh sakit membuatnya berubah pikiran.
"Tidak. Aku rasa kami tidak memiliki kecocokan satu sama lain."
"Apa kau tidak mencintai adikku?"
"Bukan seperti itu... Aku.."
"Kalau kau masih mencintainya, kenapa kau tidak memperbaiki hubungan kalian?" tanya Rendi dengan wajah heran.
"Aku tidak ingin menyakiti adikmu. Dia tidak akan bahagia, jika bersamaku," jelas Raka.
"Jadi, kau sudah bertekad untuk melepaskan adikku?" Rendi masih terlihat tenang saat berbicara dengan Raka.
"Akan lebih baik kalau dia bersama dengan orang lain dari pada bersamaku."
Rendi mencibir. "Raka... Raka... Ternyata kau belum berubah juga," ucap Rendi seraya menggelengkan kepalanya.
Raka menatap bingung pada Rendi. "Apa maksudmu?"
"Kau tidak akan mendapatkan kebahagiaan dengan mengalah dan memendam perasanmu terus. Itulah yang membuatmu kalah dariku, bahkan ketika aku tidak ada, kau juga tidak bisa membuat Amel jatuh cinta padamu karean sikap diammu itu," cibir Rendi dengan senyum mengejek.
"Dulu kau tidak berani mengungkapkan perasaanmu pada Amel. Kau memilih diam. Saat ini pun begitu. Jika kau tidak merubah sifatmu, kali ini, kau akan kehilangan lagi seseorang yang kau cintai. Kau akan kalah lagi dari pria lain, sama seperti dulu," tutur Rendi.
"Kalau kau melepaskan Sofi kali ini, maka kau tidak akan pernah bisa mendapatkannya kembali, karena apa?" Rendi tersenyum sinis. "Karena Willy sudah melamar Sofi kepada orang tuaku. Bukankah kau tahu, kalau perjodohan mereka belum dibatalkan sampai sekarang?"
Raka terlihat sedikit terkejut mendengar penuturan Rendi. "Acara lamaran resminya akan digelar di Jerman setelah acara pernikahanku selesai diadakan."
Ekspresi wajah Raka mengeras. "Dan, aku tidak akan bisa membantumu, jika acara lamaran mereka sudah digelar nanti, jadi sebelum itu terjadi, kau harus pikirankan kembali keputusanmu. Jangan sampai kau menyesal nantinya," sambung Rendi lagi dengan wajah serius.
"Apakah Sofi sudah menyetujui lamaran tersebut?"
"Dia tidak punya alasan tepak untuk menolaknya, jika kalian tidak kembali bersama lagi."
Bersambung.
__ADS_1